Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 2 Seperti Ada Pepatah Yang Mengatakan Sesuatu Yang Dipaksakan Tidak Akan Berbuah Manis


__ADS_3

Catherine tentunya tidak memerhatikan pandangan pria itu.


Dia tidak bisa percaya bahwa pria di depannya akan setuju menikah dadakan dengannya.


Bagi Catherine, penampilan luar pria ini sangat bagus. Walaupun kondisi keluarga kurang baik, tetapi tidak akan berpengaruh besar pada pria ini. Bagaimanapun juga ini adalah dunia di mana semua orang hanya melihat dari penampilan dan wajah.


Pria ini sama sekali tidak perlu terburu-buru seperti ini, mungkinkah pria ini mempunyai sesuatu yang susah diungkapkan seperti dirinya?


Tetapi karena Catherine sudah datang, dia harus mencoba, siapa tahu berhasil?


Oleh karena itu, Catherine menenangkan pikirannya dan berkata,


"Halo, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Catherine Saputra, tahun ini aku berusia 24 tahun, sekarang aku bekerja sebagai reporter lapangan di sebuah stasiun televisi. Aku yakin Bibi Tia sudah menceritakan situasiku padamu, 'kan? Aku benar-benar ingin menikah dengan cepat. Jika kamu setuju denganku, hari ini kita bisa ke Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita."


Selesai berbicara, Catherine menatap pria itu dengan gelisah. Lagi pula, kondisi pria ini tidak seburuk yang dikatakan oleh Bibi Tia.


Keterkejutan terlintas di mata tenang pria itu, lalu menatap Catherine selama beberapa detik, yang berarti dia tidak mengerti dan mengalihkan pandangannya, tetapi pria itu tidak ada niat untuk membuka mulutnya.


Catherine merasa sedikit malu, pria ini...dia ini setuju atau tidak.


Atau mungkin permintaannya ini membuat pria ini takut.


Tetapi perkataannya ini memang terdengar terlalu sembrono.


Lagi pula pernikahan adalah hal yang sangat penting di dalam kehidupan, tidak ada seorang pun yang begitu terburu-buru seperti dirinya. Jika bukan karena dia memahami cara licik ibu tirinya, dia juga tidak akan membuat keputusan yang tidak bijaksana seperti ini.


Catherine berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menunjukkan ketulusannya. "Aku tahu menikah dadakan seperti ini membutuhkan keberanian, lagi pula kita harus hidup bersama seumur hidup, dan kita tidak mengenal satu sama lain. Kita memang harus berhati-hati."

__ADS_1


Tetapi sejujurnya, aku tidak akan menikah dadakan jika bukan karena situasiku. Aku tak tahu seberapa banyak Bibi Tia sudah menceritakan padamu mengenai masalahku, tetapi kamu tenang saja, tidak peduli untuk apa tujuanku menikah, itu tidak akan menghilangkan rasa tanggung jawabku di pernikahan ini.


Dan juga, aku sudah memperhitungkan dengan baik mengenai kehidupan kita setelah menikah. Walaupun sekarang aku tinggal di rumah kontrakan, tetapi kamu jangan cemas, pekerjaanku saat ini sangat stabil, gaji bulananku dapat menutupi pengeluaran harian kita.


Aku dengar dari Bibi Tia sekarang kamu tidak mempunyai pekerjaan, tetapi tidak apa-apa, masalah pekerjaan kamu dapat mencarinya secara perlahan. Selama kamu mau berusaha keras, aku yakin tidak akan ada masalah. Tentu saja jika kamu bersedia menerima bantuanku, aku juga dengan senang hati membantumu mencarikan pekerjaan. Pendek kata, kita masih muda, walaupun kondisi sekarang sedikit susah, tetapi aku yakin selama kita mau berusaha dan rajin, kehidupan kita akan membaik nantinya.


Selesai berbicara, Catherine menatap pria itu dengan mata yang berbinar-binar. Dia merasa yang diucapkannya sudah lebih tulus.


Tetapi pria di depannya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun, yang berbeda hanyalah, pria itu mulai menunduk dan memainkan ponselnya.


"..."


Catherine sedikit merasa canggung, ini pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini. Sebelumnya, walaupun dia mewawancarai orang yang rumit dan susah dihadapi, dia juga tidak pernah merasa aneh seperti ini. Mungkinkah apa yang diucapkannya masih belum cukup jelas?


Catherine sedikit meragukan kemampuan menjelaskannya.


Catherine memandang pria itu dengan penuh harapan.


Tetapi selanjutnya, pria ini masih tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa, membuat keberanian Catherine untuk melanjutkan berbicara menghilang.


Tampaknya, pria ini sama sekali tidak mengetahui situasi Catherine melalui Bibi Tia.


Jadi ketika mendengar situasi sebenarnya mungkin pria ini tidak bisa menerimanya.


Harus bagaimana? Apakah dia harus tetap berusaha membujuk pria ini?


Catherine sedikit kecewa, sekarang dia sudah menurunkan persyaratannya ke titik yang paling rendah. Selama orang itu adalah pria itu tidak masalah, tetapi tak disangka walaupun persyaratan sudah diturunkan begitu rendah, pria ini juga masih tidak bersedia untuk menikahinya.

__ADS_1


Tampaknya, rencananya tidak akan bisa berjalan dengan lancar.


"Aku tahu keadaanku tidak terlalu bagus, tetapi jika kamu merasa tidak bisa menerima ini, ya sudah lupakan saja. Maaf aku mengganggumu."


Catherine mengatakannya dengan sedikit sedih.


Karena sudah seperti ini, ya sudah lupakan saja, dia tidak suka memohon kepada orang lain. Seperti ada pepatah yang mengatakan "Sesuatu yang dipaksakan tidak akan berbuah manis."


Catherine hendak berdiri untuk pergi.


"Catherine Saputra?"


Pria yang diam dari awal hingga akhir itu tiba-tiba berbicara.


Catherine sejenak terdiam dan tercengang memandangnya.


Mata hitam pria itu sedikit menyipit, dan tersenyum.


"Apakah kamu membawa berkas-berkasmu?"


Suara rendah dan enak didengar itu seperti bisa memabukkan orang. Catherine tertegun sejenak, dan langsung mengangguk. "Aku sudah membawa semuanya."


"Ayo pergi."


Pria itu berdiri dengan anggun, kakinya yang panjang dan perawakannya membuat orang terkesima itu menyelimuti Catherine dalam sekejap.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!

__ADS_1


__ADS_2