
Begitu mendengar perkataan Serina, seketika dada Catherine merasa sesak. Kalau perkataan Serina memang benar, dia memang tidak bisa mengelak lagi. Tapi ini bukan waktunya untuk menyelidiki hal itu.
Dia menjawab, "Serina, ini bukan waktunya untuk membahas hal ini. Papa masih terbaring sakit di dalam, yang harus kita khawatirkan sekarang adalah kondisi papa."
"Enteng sekali kamu bicara! Banyak masalah yang masih menumpuk, bahkan kalau papa ingin sembuh dia mungkin juga tidak bisa sembuh, itu semua karena keegoisanmu."
Catherine awalnya tidak ingin beradu mulut dengan Serina, tapi kata-katanya ini terlalu kejam. Apa maksudnya menyebut dirinya egois? Apa dia memang ditakdirkan untuk menikah dengan orang seperti itu?
"Serina, karena kamu adalah adikku, aku tidak akan memperpanjang hal ini lagi. Tapi, kamu tidak mengerti masalahnya. Jangan lupa, bahwa sejak awal seharusnya pernikahan itu memang milikmu."
"Kamu..." Serina terdiam, tatapan matanya penuh kebencian.
Lilik yang awalnya menyaksikan kakak beradik itu berdebat, begitu melihat putrinya mati kutu oleh perkataan Catherine, langsung menyahut,
"Catherine, bukannya bibi mau mencelamu, tapi kamu ini terlalu perhitungan. Mana ada punyamu atau punya Serina. Kalian ini 'kan kakak adik, kamu sebagai kakak harus mendengarkan perkataan orang tua. Keluarga Kusuma walaupun mereka tidak baik, tapi mereka masih punya aset. Sedangkan kamu, lihat saja pria yang kamu nikahi, begitu miskin!"
Lilik mencibir beberapa kali, menunjukkan rasa jijik.
Catherine mendengus. "Apa masalahnya kalau suamiku miskin? Kami juga tidak minta makan padamu, jadi bibi tidak perlu mengurusinya."
Lilik tidak bisa berkata-kata.
Catherine tidak ingin meladeni ibu dan anak itu lebih lama lagi. Dia mendorong Serina dan masuk ke kamar pasien.
Di belakangnya, Serina menghentakkan kakinya dengan marah.
__ADS_1
"Mama lihat 'kan, betapa sombongnya dia."
Lilik menghiburnya. "Jangan khawatir, kita temui papamu dulu."
Mereka berdua pun ikut masuk ke kamar pasien.
Ketika Catherine masuk, Josep sudah bangun. Melihat Catherine datang menjenguknya, dia berkata, "Catherine, kamu sudah datang."
Melihat Josep hendak bangkit duduk, Catherine bergegas menghampiri. "Pa, papa berbaring saja."
"Aku baik-baik saja, hanya tekanan darah yang sedikit tinggi." Josep duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
Catherine melihat botol infus yang tergantung di atas kepalanya, matanya memerah. "Pa, maaf, aku…"
Meskipun waktu itu dia mengatakannya dengan kejam, tapi melihat hal ini terjadi, terlebih yang terbaring di tempat tidur adalah ayahnya sendiri, membuat hatinya tidak tahan dan merasa sangat bersalah.
"Tapi, bagaimana dengan perusahaan?"
Mendengar perkataan Josep, Catherine menjadi lebih sedih.
Dia tahu bahwa ayahnya berhati lembut, dia hanya tidak tahan dengan hasutan ibu dan anak itu. Tapi sebenarnya Josep memang tidak benar-benar ingin menikahkan Catherine dengan Keluarga Kusuma.
Untuk masalah ini, dia tidak menyalahkan ayahnya.
Apalagi perusahaan tersebut didirikan oleh kedua orang tuanya yang berjuang bersama dari nol. Meskipun ibunya sudah tiada, tapi dia tidak mau melihat usaha ibunya sia-sia.
__ADS_1
"Masalah ini, nanti saja kita bicarakan lagi."
Wajah Josep tampak kelelahan.
Pada saat yang bersamaan, Serina dan Lilik juga masuk. Catherine tahu bahwa dia pasti akan berdebat lagi dengan mereka, jadi dia memilih untuk pergi.
Setelah keluar dari rumah sakit, hati Catherine merasa sangat tidak nyaman. Sebenarnya, perlakuan ayahnya terhadapnya selama ini tidaklah buruk. Tapi sepertinya setelah kejadian tiga tahun lalu, jarak di antara ayah dan anak itu mulai muncul.
Sesampainya di stasiun televisi, dia masih memikirkan perkataan ayahnya di rumah sakit tadi, akhirnya dia memutuskan untuk tetap membantu ayahnya.
Bagaimanapun juga, dia masih anggota keluarga Saputra, tentu saja dia harus ikut menanggungnya.
Catherine lalu memilih-milih beberapa kartu nama dari para pengusaha yang sempat diwawancarainya dulu.
Bagaimanapun, dia harus mencobanya.
Sepulang kerja, Catherine langsung menuju klub yang telah disepakati.
Walaupun tadi dia sudah mencoba menghubungi beberapa pengusaha, tapi hanya satu orang yang berhasil diajak bertemu.
Catherine berpikir, anggap saja ini adalah suatu kesempatan bagus yang akan membawa keberuntungan.
Dalam perjalanan ke klub, dia mengirim pesan teks ke Henry, mengabari bahwa dia akan pulang terlambat.
Henry awalnya ingin pulang lebih awal untuk menemani Catherine. Tapi setelah membaca pesan dari Catherine, dia berubah pikiran dan memerintahkan Roni, "Kita pergi ke klub."
__ADS_1
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!