
Roni mengira dirinya sudah mengikuti mereka dengan hati-hati, tetapi tidak disangka masih ketahuan oleh Pak Henry.
Roni hanya bisa mengemudikan mobilnya ke sana.
"Pak Henry, saya melakukan ini demi keselamatan Anda," kata Roni dengan sedikit merasa bersalah.
Lagi pula Roni mengikuti Pak Henry atas inisiatifnya sendiri, tentu saja selain untuk melindungi Pak Henry, dia juga sedikit penasaran.
"Karena kamu tidak ketahuan olehnya, aku tidak akan mempermasalahkannya." Henry meliriknya dengan dingin, dan berjalan menuju ke samping mobil.
Roni akhirnya merasa lega, matanya secara tidak sengaja menatap beberapa lembar uang di tangan Henry, dan sejenak tertegun. Sejak kapan Pak Henry membawa uang tunai?
"Antarkan aku ke tempat ini." Setelah naik ke mobil, Henry memberikan ponselnya.
Roni melihat alamat di layar ponsel, dan tertegun sejenak. Apa yang akan dilakukan Pak Henry di tempat semacam ini?
Pak Henry biasanya tidak akan mungkin pergi ke tempat semacam ini. Sebelumnya ketika dia mengikuti dari belakang, dia sudah terkejut beberapa kali. Apa yang sedang dilakukan Pak Henry? Tetapi dia sudah tidak terkejut lagi ketika dia memikirkan Pak Henry yang bahkan melakukan hal seperti menikah.
Mobil dengan cepat tiba di depan sebuah apartemen tua. Henry turun dari mobil, matanya menyapu lingkungan sekitar, dan bertanya, "Aku ingat kamu belajar desain."
Roni yang sedang mengambil barang di bagasi mobil, ketika mendengar perkataan Henry, dia tidak mengerti kenapa Henry tiba-tiba menanyakan hal itu, dan menjawab, "Iya benar, Pak Henry."
__ADS_1
Henry tidak berbicara, dan berjalan masuk ke dalam.
Roni terdiam. "..."
Roni dengan cepat langsung mengerti kenapa Henry barusan bertanya seperti itu. Dia berdiri di kamar yang besarnya sama seperti kandang burung, dan tangannya memegang beberapa pita berwarna-warni yang terlihat murahan. Dia bertanya-tanya, dia adalah seorang doktor jurusan desain, bagaimana dia bisa menunjukkan kemampuannya hanya dengan menggunakan pita ini?
Dan Henry yang memberinya tugas ini hanya duduk di sofa sambil meminum kopinya dengan santai.
Roni ingin menangis.
Roni benar-benar tidak mengerti kenapa Pak Henry tidak tinggal di vila dekat bukit yang indah itu, kenapa harus tinggal di tempat semacam ini?
Ternyata Serina juga datang. Benar juga, ibu dan anak itu selalu suka menjadi orang yang berpura-pura baik dan satunya berpura-pura jahat. Jika salah satu dari mereka tidak ada, mana mungkin mereka bisa melanjutkan akting mereka.
Dia sudah belajar banyak dari mereka selama beberapa tahun ini.
Jika bukan karena Catherine bisa melihat sifat asli Serina, dia merasa dia akan menganggap Serina sebagai adik kandungnya hingga sekarang.
Catherine berjalan menghampiri mereka, dan duduk di depan Josep.
Wajah Josep terlihat normal, sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit.
__ADS_1
Tetapi Lilik terlihat sangat marah. Seperti yang diperkirakan, begitu Catherine duduk, dengan wajah penuh amarah, Lilik berkata,
"Catherine, kamu sekarang tidak tahu berterima kasih, papamu sakit dan ingin bertemu denganmu, tetapi kamu malah membiarkannya datang untuk mencarimu?"
Catherine mengernyitkan alisnya. Begitu dia datang, Lilik sudah tidak sabar untuk menyerangnya, tetapi dia harus tetap ikut berakting. Dia buru-buru berkata dengan nada memelas, "Bibi, aku ada tugas yang harus kulakukan. Bukan aku yang menentukan, aku tidak bisa berbuat apa-apa, 'kan?"
Lilik mendengus. "Catherine, kapan kamu dapat mengubah kebiasaan berbohongmu ini? Walaupun mamamu sudah pergi, tetapi aku akan menggantikannya untuk memberitahumu bahwa itu bukanlah hal yang baik untuk seorang anak perempuan yang suka berbohong. Aku sudah pergi ke stasiun televisimu, rekan kerjamu mengatakan kamu hari ini tidak ada wawancara ataupun tugas lainnya."
Lilik berbicara dengan sangat marah. Dia sudah menunggu Catherine cukup lama, tetapi Catherine tidak pulang ke rumah. Dia baru tahu Catherine hanya sibuk ke pekerjaannya tetapi tidak memikirkan urusan pribadinya setelah bertanya ke sana kemari. Lilik sangat pintar, dia langsung memanas-manasi Josep untuk mengejar Catherine ke Kota Rembulan.
"Iya benar, Catherine, papamu ini sakit dan ingin kamu pulang untuk menjengukku. Kamu tidak seharusnya membohongiku dan bibimu."
Josep juga ikut berbicara.
Siapa yang suka berbohong? Catherine mencibir di dalam hatinya. Catherine tersenyum kepada Josep dan Lilik yang berbohong di depannya dan masih terlihat tenang.
Jika memang benar ingin bertemu dengannya, apakah perlu sekeluarga juga ikut keluar?
"Pa, papa sakit apa? Aku lihat sekarang papa sudah sehat, loh," tanya Catherine dengan sengaja.
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!
__ADS_1