
"Masih ada ini."
Roni menyerahkan kantong berisi pakaian di tangannya.
Catherine menerimanya dengan ragu-ragu, tapi setelah dia melihat isi kantong itu adalah pakaian wanita, dia terkejut, apa sekarang toko pakaian bahkan memiliki jasa pengiriman?
"Terima kasih."
Catherine merasa agak malu karena ada pakaian dalam wanita juga di kantong itu, dia menutup pintu tanpa berani mengatakan apa-apa.
"..." Sekali lagi Roni terkunci di luar.
Catherine masuk sambil membawa kantong berisi pakaian. Tepat saat itu Henry muncul setelah selesai menelepon, Catherine berkata, "Kamu memesankan makanan dan membelikanku pakaian?"
Henry mengangguk.
"Terima kasih. Tapi, bagaimana kamu tahu ukuran yang kupakai?"
Mengingat Henry telah membelikannya barang-barang pribadi seperti itu dengan tepat, pipinya memerah sampai ke telinganya.
Henry menyipitkan matanya. "Aku punya caraku sendiri."
Dia melirik tubuh Catherine dengan sengaja.
Catherine menjadi lebih malu.
Setelah sarapan, mereka berdua keluar bersama. Begitu mereka membuka pintu, ternyata Roni masih berdiri di sana.
Catherine bingung.
"Loh, kenapa mas belum pergi?"
__ADS_1
Roni terdiam. "..."
Henry melirik Roni, "Dia ke sini mencariku."
"Oh, ternyata dia temanmu. Maaf, aku salah sangka."
Catherine merasa malu.
Henry melihat sebuah kesempatan bagus lalu berkata, "Rumah ini miliknya. Kita akan pindah ke sini nanti."
Mendengar perkataan Henry, Catherine terkejut. "Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, kebetulan di sini juga kosong."
Henry mengedipkan mata kepada Roni memberi kode.
Roni menangkap kode dari Henry, dia lalu buru-buru membantu Henry berbohong.
Selesai berkata demikian, Roni bertanya-tanya dalam hati, 'Apa yang dilakukan Pak Henry? Jelas-jelas ini adalah rumahnya sendiri, tapi kenapa dia mengatakan itu milikku, aku benar-benar tidak mengerti.'
Meskipun Roni berkata seperti itu, tapi Catherine masih tidak habis pikir. Bagaimanapun, itu adalah rumah orang lain, mana bisa seenaknya mereka tinggal di situ?
Tapi begitu teringat tempat yang dia sewa sekarang sangat kecil, sampai pria sebesar Henry harus tidur di sofa setiap hari, dipikir-pikir memang tidak pantas.
Setelah Roni pergi, Catherine menggertakkan giginya lalu berkata, "Kalau begitu, tanyakan kepada temanmu berapa harga sewanya, kita akan membayarnya. Tentu saja, kalau bisa dapat harga teman akan lebih baik. "
Bagaimanapun, tidak boleh tinggal di rumah orang lain secara cuma-cuma.
Henry memandang Catherine tidak berdaya. Wanita ini benar-benar tidak mau mengambil keuntungan dari orang lain sama sekali.
Dia berkata, "Aku akan membayarnya."
__ADS_1
Mendengar perkataan Henry, Catherine tidak berkata apa-apa lagi.
Malam hari setelah selesai pindahan, Catherine pergi ke stasiun televisi untuk bekerja, sementara Henry pergi ke klub Mikael.
Di sebuah ruangan VIP yang mewah, Mikael melirik Henry yang duduk di seberangnya. Dia teringat kejadian kemarin malam, wajahnya penuh dengan gosip.
"Apa yang terjadi kemarin malam? Beri tahu aku siapa wanita itu?"
Sambil menatap mata Mikael yang penuh dengan gosip, Henry mengerutkan kening.
"Aku butuh bantuanmu."
Begitu Mikael mendengar nada bicaranya, dia langsung menyingkirkan niat bergosipnya, lalu mengerutkan kening.
"Henry, sejak kapan kamu jadi begitu sungkan padaku? Katakan, kita adalah saudara, sudah seharusnya saling membantu."
Mikael memang selalu bersikap lugas, maka Henry juga tidak berbasa-basi. "Apa kamu tahu Keluarga Saputra?"
"Keluarga Saputra yang mana?"
Mikael bingung.
Henry, "Josep Saputra."
Mikael tertegun selama dua detik, tapi akhirnya dia bisa mengingatnya. "Sepertinya aku pernah mendengarnya, untuk apa kamu menanyakan itu?"
Henry berkata,
"Aku harap kamu bisa menyuntikkan modal ke mereka atas namamu."
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!
__ADS_1