
Begitu Henry sampai di klub, Mikael Kuncoro keluar menyambutnya.
"Loh, Henry, kamu kapan kembali?"
Mikael Kuncoro adalah teman Henry, sekaligus pemilik klub ini.
Begitu tahu Henry telah kembali, dia segera mengundang beberapa teman lainnya.
Tak lama, dua orang teman lain datang dan mereka berempat menyewa sebuah ruangan bermain kartu.
"Kamu sudah kembali tapi kenapa tidak mengabari kami? Kalau kami tahu, kami 'kan bisa membuat pesta sambutan untukmu."
Mikael berkata sambil melemparkan sepasang kartu King di tangannya.
Henry melirik kartu di tangannya, lalu menarik keluar dua lembar kartu sambil berkata, "Aku kembali bukan untuk mencari kalian."
Mikael tertawa, perkataan Henry sama sekali tidak memengaruhinya. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya mereka mengenang masa lalu.
Baru saja mereka selesai memainkan satu putaran, tiba-tiba terdengar suara berisik dari ruangan sebelah.
Samuel Harjanto mengerutkan kening. "Mikael, klubmu payah! Peredam suaranya sangat buruk, suara gerakan barusan di ruang sebelah bahkan bisa terdengar sampai sini."
Mikael mengerutkan kening. "Akan kusuruh orang melihat apa yang terjadi di sebelah."
Tanpa menunggu Mikael menghubungi seseorang, Samuel berkata lagi, "Tidak perlu, orang di ruang sebelah itu adalah Yanuar Efendi. Tadi aku bertemu dengannya di depan pintu masuk."
"Si Licik dari Keluarga Efendi itu?" Mikael mengerutkan kening.
__ADS_1
"Tepat sekali, Si Licik itu. Katanya dia ada janji dengan seseorang, tapi kulihat barang yang dibawanya bukanlah barang bagus. Kalian juga tahu, Si Tua Yanuar itu, selalu penuh dengan kejutan."
Mereka semua tertawa.
Tiba-tiba, terdengar suara yang lebih keras.
Suara yang benar-benar mengganggu.
Mikael segera memanggil manajer klub, wajahnya menunjukkan perasaan tidak senang.
"Apa yang terjadi di sebelah? Bukankah tempat kita ini tidak pernah ada kegiatan seperti itu?"
Wajah manajer itu berkeringat dingin. "Pak Mikael, tempat kita memang tidak ada kegiatan seperti itu, tapi tamu itu sendiri yang mengadakannya, dan kami juga tidak bisa menghentikannya."
"Tidak bisa menghentikannya? Kulihat sepertinya kamu sudah bosan karena telah menduduki jabatan manajer ini terlalu lama."
Manajer itu buru-buru meminta maaf.
"Sana, peringatkan tamu di ruang sebelah itu, jangan biarkan dia melanggar aturan di sini."
"Baik."
Manajer itu menurut dan pergi.
"Kalian bermain saja dulu, aku mau melihat-lihat keadaan."
Mikael merasa sangat malu, sudah susah payah mengumpulkan teman-temannya ini, tapi kebersamaan mereka malah terganggu seperti itu.
__ADS_1
Melihat Mikael berlalu, Samuel mengejarnya, dia ingin ikut memeriksa keributan itu.
Sedangkan Henry sama sekali tidak bergerak, dia hanya melihat jam dan berpikir, seharusnya Catherine sudah akan pulang sebentar lagi.
Dia meletakkan kartu di tangannya, dan ketika dia baru saja hendak menelepon, Samuel tiba-tiba kembali ke ruangan.
"Si Tua Yanuar itu, dia mau mengambil keuntungan dari seseorang. Tapi ternyata dia bertemu dengan orang yang tidak takut mati, sampai-sampai dia diguyur sup panas. Wanita itu juga sepertinya cukup kuat, dengar-dengar dia adalah seorang reporter dari stasiun televisi, reporter lapangan."
Mendengar kata 'reporter', Henry langsung mengambil ponselnya dan bergegas keluar tanpa pikir panjang.
Roni buru-buru mengikuti.
Samuel tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia mengikutinya juga.
Lorong-lorong di klub saat ini penuh sesak dengan orang-orang yang menonton keramaian, suara-suara teriakan dari orang-orang yang berkelahi terus terdengar.
"Mbak, tolong tenang dulu, jangan mempersulit kami."
"Bagaimana kalian bisa melakukan ini, jelas-jelas saya adalah korban, tapi kalian malah membantu orang itu. Tolong kalian kembalikan ponsel saya, siapa yang memberi kalian hak untuk menyita barang orang lain seenaknya."
Mendengar suara yang sangat dikenalnya, membuat Henry mempercepat langkahnya. Benar saja, dia melihat Catherine sedang berdiri di depan pintu ruang VIP sebelah, dengan rambut acak-acakan dan noda anggur merah besar di roknya, penampilannya terlihat menyedihkan.
Sedangkan penampilan Yanuar yang ada di hadapannya terlihat lebih buruk, dengan beberapa daun sayuran hijau di atas kepalanya, wajahnya yang berbintik-bintik tampak merah dan bengkak. Meskipun dia telah diolesi dengan salep untuk kulit melepuh, tapi masih saja terlihat sangat mengenaskan.
Henry awalnya sangat mengkhawatirkan Catherine. Tapi begitu dia melihat situasi ini, dia malah tidak panik lagi.
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!
__ADS_1