Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 9 Malam Pertama Kita Sangat Berharga


__ADS_3

Rasa sakit menjalar di dahinya. Ketika dia menyadari dirinya menabrak dada Henry, wajahnya memerah dan ingin mundur, tetapi pinggangnya dirangkul oleh tangan yang besar, membuat badannya condong ke depan dan menempel ke badan Henry.


"Ah…" Catherine berteriak karena terkejut, dan jantungnya berdebar kencang.


"Apakah sakit?" tanya Henry dengan cemas.


Belum sempat Catherine menjawab, dia melihat Henry menjulurkan tangan yang lentik dan indah itu untuk mengusap dahinya.


Ya ampun, bagaimana bisa tangan seorang pria bisa seindah dan sehalus ini? Seakan setelah diusap oleh Henry seperti ini, dahinya sudah tidak terasa sakit lagi, malah merasa sangat menenangkan dan nyaman.


Catherine mengerjapkan matanya dengan sedikit terpesona, dan kebetulan matanya bertemu dengan mata Henry. Catherine buru-buru mengalihkan pandangannya takut perasaannya diketahui oleh Henry.


Tidak bagus seperti ini. Dia baru saja menikah, dan sudah terpesona dengan pria ini, dia harus lebih menahan dirinya.


Ya, harus lebih menahan dirinya!


Catherine buru-buru melepaskan dirinya dari pelukan Henry, lalu menepuk-nepuk wajahnya yang memanas, dan berkata dengan gagap, "Ti…tidak sakit, hmm…tempat ini sedikit kecil."


Catherine sedikit canggung. Ini aneh, biasanya ketika dia sendirian di sini, dia tidak merasa tempat ini kecil, tetapi sekarang karena ada Henry, sepertinya dalam sekejap ruangannya mengecil.


Henry menarik tangannya kembali, matanya masih menatap Catherine yang masih tidak nyaman, dan terlintas rasa ingin menggoda Catherine di matanya,


Tak tahu kenapa, tetapi tiba-tiba suasananya menjadi canggung dan tak bisa diungkapkan.


Catherine merasa tidak nyaman, lalu setelah beberapa saat dia berbicara untuk memecahkan keheningan.


"Itu, sekarang sudah malam, kamu mandi saja dulu. Aku masih harus menyelesaikan naskahku."

__ADS_1


Catherine berbicara sambil membalikkan badannya untuk meletakkan laptopnya di atas meja dan bersiap untuk membukanya. Sebuah tangan menghentikan gerakannya.


Catherine tertegun sejenak, dan badannya dengan cepat diselimuti oleh aura yang kuat.


Henry berdiri di belakang Catherine, dan menyilangkan kedua tangannya di bahu Catherine, seolah memeluknya dari belakang. Dagu Henry sedikit menempel di dekat telinga Catherine, dan suaranya yang rendah seperti bisa memabukkan orang.


"Malam pertama kita sangat berharga, apa kamu tidak berpikir kita harus melakukan sesuatu di saat ini?"


Catherine merasa telinganya memanas, jantungnya berdebar sangat cepat. Dia bukanlah seorang gadis yang tidak tahu apa-apa, dan tidak mungkin dia tidak mengerti isyarat Henry.


Tetapi mendengar Henry yang mengatakannya secara terang-terangan seperti ini, Catherine merasa sedikit malu.


"Itu…aku belum mandi, jika tidak…kamu mandi saja dulu…"


"Akan membuang-buang waktu jika kita mandi satu per satu, hm?"


Wajah Catherine hingga lehernya memerah, dan lidahnya juga seperti terikat. Dia tidak tahu harus berkata apa, tidak bagus untuk segila ini di awal, kan?


"Kamu malu?"


Henry menatap telinga Catherine yang memerah, dan merasa semakin tertarik.


Catherine begitu malu dan ingin mencari lubang untuk bersembunyi. Lagi pula dia sudah menikah, dia seharusnya sudah mempertimbangkan mengenai masalah ini sejak awal.


Tetapi saat itu suasana hatinya begitu rumit sehingga dia tidak memikirkan hal ini, dan dia tidak terlalu mempersiapkan mentalnya saat ini. Hal ini membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.


Jika dia menolaknya saat ini juga terlalu tidak masuk akal.

__ADS_1


Sudahlah, lagi pula dia juga sudah menikah, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi, dia harus berani melakukannya.


Catherine sudah membulatkan tekadnya, lalu berbalik, dan berdeham, "Itu…kamu mandi saja dulu, aku akan merapikan kamar tidur."


Catherine benar-benar tidak bisa membayangkan pemandangan memalukan mereka berdua di kamar mandi…


Henry menatap wajah kecil Catherine yang merah seperti buah ceri. Barusan dia melihat Catherine sangat manis, makanya dia tidak bisa menahan dirinya untuk menggoda Catherine.


Henry tidak menyangka Catherine mudah malu saat digoda sehingga Henry berhenti bercanda.


"Aku bisa mandi dulu, tapi kamu tidak boleh bekerja!"


Nada bicara Henry terdengar mendominasi.


Catherine hanya bisa menurutinya. "Iya, aku janji aku tidak akan bekerja."


Setelah itu Henry baru berbalik dan pergi ke kamar mandi, dan Catherine akhirnya menghela napas lega.


Tetapi, nanti harus bagaimana?


Catherine merasa sekujur tubuhnya tidak nyaman ketika memikirkan apa yang akan terjadi nanti.


"Kamu sudah mandi setengah jam."


Ini adalah peringatan kedua Henry.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!

__ADS_1


__ADS_2