Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 3 Mungkinkah Kamu Merasa Aku Terlalu Terburu-Buru?


__ADS_3

Catherine mendongak, menatap pria itu, dan secara spontan menelan ludahnya.


"Itu..."


Pria itu berbalik dan memandangnya, dan berkata dengan suara yang hangat, "Namaku Henry Limantara."


Henry Limantara?


Catherine sadar, ini adalah nama pria ini, dan langsung mengubah perkataannya. "Pak Henry, aku…tidak terlalu mengerti..."


Henry memandangnya, sedikit menaikkan alisnya, dan berkata,


"Bukankah kita akan pergi untuk mendaftarkan pernikahan kita dan mengambil akta pernikahan? Jika kita tidak pergi sekarang, nanti Catatan Sipilnya tutup."


Kepala Catherine serasa berputar beberapa detik, dan langsung merasa tidak bisa memercayainya. Ketika barusan Henry menanyainya apakah dirinya membawa berkas-berkas, Catherine merasa mungkin dia salah paham, tetapi ternyata Henry setuju untuk menikah dengannya.


Alur cerita ini berubah begitu cepat, dan Catherine tidak bisa mengikutinya. "Maksudmu…kamu setuju?"


"Kenapa tidak?"


Terlihat senyuman yang tak bisa ditebak di wajah Henry.


Pikiran Catherine masih dalam keadaan bingung hingga mereka keluar dari Restoran Mawar.


Catherine memandang sosok tinggi yang berjalan di depannya. Setelah dalam keadaan bengong untuk beberapa saat, dia tersadar. "Tolong tunggu sebentar, aku akan membawa mobilku ke sini."

__ADS_1


Hari ini dia mengemudi menggunakan mobil stasiun televisi.


Henry mengangguk, dan matanya bertemu dengan mata Catherine. Catherine sedikit merasa tidak nyaman, lalu mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju garasi.


Henry menatap sosok kecil yang pergi meninggalkannya dalam keadaan panik, dan tersenyum.


Setelah Catherine pergi, Roni Cahyadi datang menghampiri Henry. Roni barusan melihat dari kejauhan Henry dan seorang wanita keluar dari restoran, dan wanita ini tampak familier.


Ketika Roni berjalan mendekat, dia baru ingat, bukankah wanita itu yang membantu seorang nenek menyeberang jalan sebelumnya?


Saat itu beberapa baris mobil berhenti di sana menunggu lampu merah. Hanya wanita itu seorang yang mempertaruhkan nyawanya keluar dari mobilnya dan membantu nenek yang berjalan dengan pelan itu di seberang jalan. Pada saat itu, mobil Pak Henry berhenti tepat di belakang mobil wanita itu, dan mereka menyaksikan semua kejadian itu.


Pantas saja Pak Henry yang selalu tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, mau membantu wanita itu untuk menyelesaikan urusan dengan polisi. Ternyata mereka saling mengenal.


Mungkinkah Pak Henry mengubah jadwalnya untuk sementara waktu juga karena dia?


"Pak Henry."


Henry menyipitkan matanya, dan pandangan matanya terlihat dingin. "Di mana berkas-berkasnya?"


"Sudah saya bawa." Roni menyerahkan berkas-berkas di tangannya kepada Henry. Ketika dia menerima SMS dari Pak Henry, dia masih tidak percaya bahwa Pak Henry akan mengirimkan SMS kepadanya untuk menyuruhnya mengantarkan Kartu Keluarga Pak Henry ke sini.


Tetapi, Roni lebih ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Pak Henry.


Henry mengambil berkas-berkas itu, dan matanya yang acuh tak acuh menyapu Roni.

__ADS_1


"Pergilah, kamu tidak usah mengikuti kami."


Roni sedikit tidak bisa percaya, apakah hari ini matahari terbit dari barat? Pak Henry tiba-tiba tidak memerlukan dirinya untuk mengikutinya.


Mungkinkah ada hubungannya dengan nona barusan itu?


"Pak Henry, Pak Ardi Gunawan sudah mengetahui mengenai kabar kepulangan Anda ke Lyra, dan barusan menelepon menanyakan kapan Anda akan pulang ke tempat beliau," kata Roni mengingatkan.


Mata Henry tiba-tiba menjadi dingin. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."


Melihat situasinya, Roni tidak berani berkata apa-apa lagi.


Catherine mengemudikan mobilnya hingga ke depan pintu gerbang di mana Henry menunggunya di sana.


Henry membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.


Catherine melihat sebuah folder di tangan Henry, dia merasa sedikit aneh. Dia ingat barusan di tangan Henry hanya ada sebuah ponsel.


Henry yang menyadari arah tatapan Catherine, lalu menjelaskan, "Aku meminta temanku mengirimkannya. Ini berkas-berkas yang diperlukan."


Catherine mengerti, lagi pula tidak ada seorang pun yang membawa dokumen penting seperti itu ke mana-mana seperti dirinya, yang sudah siap untuk menikah kapan saja.


Hal ini juga membuat Catherine merasa berterima kasih sekaligus malu atas kerja sama Henry.


"Mungkinkah kamu merasa aku terlalu terburu-buru?"

__ADS_1


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!


__ADS_2