Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 16 Jangan Kotori Tempat Ini


__ADS_3

"Kalau begitu, aku mungkin tidak akan mau menikah denganmu."


Menurutnya perbedaan itu terlalu besar. Selain itu, Catherine merasa karakternya tidak cocok dengan keluarga yang rumit, lebih baik yang sederhana saja.


Jawaban Catherine membuat Henry mengerutkan kening, ternyata wanita ini tidak suka dengan keturunan orang kaya.


Keesokan paginya, Catherine pergi bekerja. Sebelum berangkat, tiba-tiba dia teringat telepon Lilik waktu itu dan berkata kepada Henry,


"Oh ya, ingat, hari ini kamu tidak boleh membukakan Lilik pintu. Dia pasti punya cara lain untuk mencari masalah denganmu lagi. Atau, kamu sembunyi saja dulu, kita tidak perlu mengurusi hal ini sekarang."


Henry terdiam. Tak disangka seorang pria besar dengan tinggi sekitar 1.8 meter seperti dirinya, bisa diperintah oleh wanita yang sering dianggap remeh ini. Istrinya ini benar-benar…


Tapi, dia tidak membantah, hanya mengiakan.


Kekhawatiran Catherine ternyata benar terjadi. Setelah dia pergi, sekelompok preman utusan Lilik benar-benar datang.


Mereka menggedor-gedor pintu.


Henry sama sekali tidak menghiraukannya, dia bahkan masih bisa menjawab telepon dari Roni dengan tenang.


"Pak Henry, Anda tetaplah di dalam. Urusan di luar akan saya bereskan dengan segera."


"Baiklah." Henry mengangkat alisnya, wajahnya menunjukkan ekspresi kesombongan. "Jangan sampai mengotori tempat ini."


Sementara itu, di luar rumah.


Para preman utusan Lilik dapat dengan cepat dibereskan oleh Roni.

__ADS_1


"Pak Henry, sudah beres."


Roni masuk dan melapor.


"Bagus sekali."


Ada rasa kagum dalam pancaran mata Henry.


Di tempat lain, Lilik sedang menunggu kabar baik. Tapi para preman yang baru kembali malah mengatakan bahwa mereka sudah kapok ke tempat itu lagi, berapa pun bayarannya.


Lilik tidak percaya apa yang terjadi, masa mengurus satu orang saja tidak bisa.


"Ma, apa yang harus kulakukan sekarang, aku tidak ingin menikah dengan pemerkosa dari Keluarga Kusuma itu."


Tangis Serina pecah begitu mendengar berita itu.


Lilik menghiburnya.


Pekerjaan Catherine di stasiun televisi akhir-akhir ini terbilang lancar. Meskipun dia baru saja menikah dan seharusnya pergi berbulan madu, tapi begitu teringat saat ini dia adalah tulang punggung keluarga, mau tidak mau dia menundanya.


Tepat setelah dia selesai menulis naskah berita, ponselnya berdering, panggilan dari rumah. Awalnya, Catherine tidak ingin menjawabnya, tapi karena ponselnya terus-menerus berdering, akhirnya dia pun menjawabnya karena takut mengganggu rekan kerja lain.


"Catherine, papamu pingsan, sekarang beliau di rumah sakit."


Bibi Mira, bibinya di rumah yang meneleponnya.


Catherine tahu bahwa Bibi Mira tidak akan berbohong, jadi dia langsung mengajukan cuti dan bergegas ke rumah sakit.

__ADS_1


Saat Catherine tiba di rumah sakit, Serina dan Lilik sudah ada di sana. Mereka berpapasan dengan Catherine di lorong, wajah kedua orang itu menunjukkan ekspresi tidak bersahabat.


Serina bahkan sampai mencegat Catherine di depan pintu kamar.


"Apa yang kamu lakukan di sini, bukannya kamu hanya peduli dengan kesenanganmu sendiri, tanpa peduli hidup matinya papa?"


Serina mencegatnya dan bertanya.


Catherine tidak ingin berdebat dengan Serina saat ini, dia hanya ingin tahu kondisi papanya sekarang.


"Minggir!"


Tapi Serina tetap tidak membiarkannya lewat.


Ingin rasanya Catherine menerobos masuk. Tapi dia ingat ini adalah rumah sakit, tidak baik kalau dia membuat keributan di sini. Dia pun terpaksa meladeni Serina. "Serina, bisakah kamu membahas ini nanti? Sekarang papa sedang terbaring sakit di dalam."


"Apa pedulimu?"


Serina mencibir. "Catherine, bukankah kamu hanya peduli dengan dirimu sendiri? Kamu begitu mencintai suamimu, kenapa tiba-tiba kamu jadi peduli lagi dengan hidup dan mati papa?"


Kata-kata Serina penuh dengan sindiran.


Tapi saat ini, Catherine sedang tidak ingin berurusan dengannya,


"Serina, kalau kamu ingin cari ribut denganku, bisa tidak di lain waktu? Sekarang papa sedang sakit dan sedang dirawat di rumah sakit, bisakah kamu tutup dulu mulutmu?"


"Memang siapa yang cari ribut? Apa kamu tahu, papa terbaring di sini itu karena kamu. Karena kamulah Keluarga Kusuma menarik investasinya dari Grup Saputra, papa jadi sangat kesal sampai-sampai dia jatuh sakit."

__ADS_1


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!


__ADS_2