Salah Ranjang

Salah Ranjang
Bab 20 Sangat Menarik


__ADS_3

Mereka memasuki lift tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah sampai lantai yang dituju, mereka berdua langsung menuju sebuah unit apartemen dan masuk.


Catherine memperhatikan Henry dengan mudah menyalakan lampu, seakan dia sudah sangat familier dengan letak benda di rumah ini. Catherine bertanya-tanya, mungkinkah ini rumahnya?


Mustahil, bukankah dia dari keluarga miskin?


Bagaimana mungkin dia bisa tinggal di apartemen mewah seperti ini?


Henry tiba-tiba berkata kepada Catherine yang masih terlihat bingung. "Kamu mandilah dulu, di sini tidak ada pakaian yang bisa kamu pakai, pakailah ini dulu."


Tiba-tiba di tangannya sudah ada sehelai kemeja putih pria, tidak tahu kapan dia mengambilnya, tapi kelihatannya kemeja itu masih baru.


Catherine mengambilnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Saat Catherine tengah mandi, Henry mendapat sebuah panggilan telepon dari Roni. Dia memberitahu bahwa masalah tersebut telah diselesaikan.


Tepat saat Henry menutup telepon, pintu kamar mandi terbuka.


Catherine keluar dengan mengenakan kemeja putih. Meskipun kemeja putih itu cukup besar baginya dan menutupi semua bagian tubuhnya, dia masih merasa tidak nyaman.


Bagaimanapun, dia sama sekali tidak mengenakan pakaian dalam.


Kecerobohan sedikit saja bisa membuat bagian tubuhnya terlihat. Meskipun di hadapan Henry, tapi dia tetap merasa malu.


Henry berbalik dan dia melihat Catherine keluar dengan menggerak-gerakkan tubuh pertanda risi. Dia mengenakan kemeja putih lebar di tubuhnya. Meskipun lekuk tubuhnya tidak terlihat, tapi sepasang kaki ramping dan panjang yang tersembul dari bawah kemeja itu terlihat sangat menarik.


Membuat siapa pun yang melihatnya berimajinasi liar.

__ADS_1


Henry tiba-tiba merasa tenggorokannya agak sesak, dia melonggarkan dasinya, menahan hawa nafsu yang secara tidak sadar muncul di benaknya. Dia lalu duduk di sofa, dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.


"Kemarilah."


Catherine ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya dia berjalan mendekat. Saat duduk di sebelah Henry, dia bisa merasakan tatapan penuh gairah pria itu, dan ini membuatnya sedikit gugup.


Henry memandangi rambutnya yang basah, lalu dia mengambil handuk di sofa dan menyeka rambutnya. "Kenapa kamu tidak mengeringkan rambutmu?"


Catherine tidak berani menjawab. Toh, ini bukan rumahnya, mana berani dia menyentuh barang-barang di sini.


"Ngomong-ngomong, ini di mana?"


Dia baru ingat ingin menanyakan pertanyaan ini.


Sambil menyeka rambut Catherine, Henry menatap mata wanita itu dalam-dalam. "Menurutmu di mana?"


Ini adalah satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan.


Henry tidak menjawab, sebuah senyuman tersungging di sudut mulut yang tidak dapat terlihat oleh Catherine. Tampaknya dengan level IQ Catherine yang seperti ini, jika dia mengatakan kalau ini adalah rumahnya, Catherine juga tidak akan percaya. Lupakan saja, terserah dia mau berpikir apa.


Dia hanya berkata, "Kita akan tinggal di sini malam ini."


"Oh, baiklah."


Dalam hatinya Catherine sebenarnya masih merasa bersalah, tapi dia tidak berani mengatakan apa pun.


Henry masih saja diam seribu bahasa, membuat hati Catherine semakin gelisah. Dia berpikir keras dan akhirnya berinisiatif untuk memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa ada di klub itu tadi?"


Henry tidak menjawab.


"Apa kamu sedang mencari pekerjaan?" tanya Catherine dengan ragu-ragu.


Tangan Henry yang masih menyeka rambut tiba-tiba terhenti sesaat, matanya memandangi Catherine.


Catherine takut Henry akan salah paham, makanya dia buru-buru menjelaskan, "Tidak apa-apa, bekerja di klub juga cukup bagus. Kalau menurutmu itu cocok, ambil saja, jangan pedulikan aku."


Henry terdiam. "…"


Apa dia akan mengatakan sesuatu?


Tapi Henry hanya bangkit berdiri, lalu berjalan ke kamar mandi, mengambil pengering rambut, dan kembali ke sofa.


Melihat Henry masih belum juga menanyakan tentang kejadian tadi, Catherine berkata dengan ragu-ragu, "Apa kamu tidak ingin bertanya tentang kejadian malam ini?"


Tangan Henry yang sedang memegang pengering rambut tiba-tiba terhenti, lalu berkata, "Kamu ingin menjelaskannya?"


Catherine ragu-ragu sesaat, lalu berkata, "Sebenarnya, itu karena urusan keluarga. Alasan mengapa aku menikah dadakan denganmu adalah karena keluargaku ingin aku melakukan pernikahan bisnis, dan pria itu adalah orang yang sangat kubenci, jadi aku..."


"Tapi, ini adalah pilihan yang bijaksana, dan aku tulus melewati hari denganmu."


Takut Henry akan salah paham, Catherine buru-buru menjelaskan.


Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 200 bab di App F/izzo !!!

__ADS_1


__ADS_2