Sang Pendendam

Sang Pendendam
Kisah Hidup Bima


__ADS_3

Roy, yang merasa di diri Kenzo ada kesamaan dengannya, dia tau betul bagaimana rasanya menjadi seorang kaka yang dipaksa menjadi tulang punggung keluarga, dimasa mereka yang masih terbilang cukup muda.


Merekapun saling mensuport satu sama lain dan saling berbagi pengalaman Hidup mereka, untuk saling menguatkan sebagai sesama seorang kaka sekaligus tulang punggung keluarga mereka masing-masing.


Sedangkan di Posisi lain, terlihat Boy&Bima juga, sedang asik mengobrol tentang Cita-Cita mereka!


Setelah Boy mendengarkan suara merdu dari Keisya&Tiara, Boy pun bercita-cita ingin menjadi sorang Vokalis Band terkenal di masa depan.


Namun..., Bima yang penasaran dengan suaranya Boy itu seperti apa, diapun meminta Boy untuk menyayikan sebuah lagu, untuk Bima nilai suaranya.


Lalu Boy pun bernyanyi dengan kerasnya, sehingga kuping dari semua orang pun, yang berada di Basecamp Green Bull, harus di tutup telinganya.


Lalu Roy pun melemparkan sepatunya tepat terkena di wajahnya Boy. "Berisik tau Boy, kalo lo mau jadi penyanyi terkenal, makannya..., lo harus rajin les vokal dulu sana," ejek Roy, sambil berteriak kepada Boy.


"Apaan sih bang, gak tau apa, adeknya ini calon penyanyi terkenal masa depan, yang lagi latihan nyanyi," saut Boy.


"Calon penyanyi terkenal palalu peang, lo oprasi tenggorak ajah sanah..., baru bisa jadi penyanyi terkenal!" ejek Roy kepada adiknya.

__ADS_1


Semua orang yang berada di Basecamp Green Bull, ikut tertawa melihat tingkah lucu kaka beradik ini! "Kalo menurut lo..., suara gua dapet nilay berapa Bim?" tanya Boy kepada Bima.


"10 Boy," saut Bima, "10 dari 100" dalam hati Bima.


"Berarti suara gua bagus dong?" tanya Boy dengan senangnya!


"Terserah lu ajah deh Boy, sesuatu itu bisa tercapai karna kerja keras&ada kemauan, pasti cita-cita lo bakalan jadi kenyataan, Boy," jawab Bima, sambil dalam hatinya berkata, "Tapi jika cita-cita lo pengen jadi penyanyi terkenal, gua agak ragu Boy."


"Lalu..., cita-cita lo apa Bim?" tanya Boy.


"Gua pengen jadi petinju profesional, Boy!gua pengen seperti mendiang bapak gua," jawab Bima.


"Gua bisa tebak Bim..., bapak lo, pasti meninggalnya karna kalah dalam tarung tinjukan?" tanya Boy.


"Bukan Boy..., bapak gua meninggal karna penyakit rematik&anggin duduk, karna bapak gua doyan begadang jadi terkena penyakit angin duduk," jawab Bima, dengan polosnya.


Hayalan Boy pun sirnah dalam sekejap mata, yang takjub kepada bapaknya Bima, "Sialan..., gua kira bapaknya meninggal karna kalah dalam tarung Tinju, ternyata bapaknya meninggal cuman karna penyakit Rematik&anggin duduknya doang," grutu Boy dalam hatinya.

__ADS_1


"Walau begitu Boy, bapak gua pernah jadi juara 1 antar Kota kita, bapak gua mendapatkan rekor tak pernah kalah dalam bertarung, nama bapak gua Abimana Setya, petarung asal kota kita (Kota Army)," ucap Bima.


Boy dengan wajah malasnya, mendengar kisah bapaknya Bima ini, iapun berpikir, "Apa benar..., bapak si Bima ini pernah jadi juara 1 tingkat Kota, dalam olah raga Tinju?


kok gua kurang yakin yah...," dalam hati Boy, yang masih kecewa, bapaknya Bima meninggal karna penyakit angin duduknya dan rematiknya.


"Lalu ibu lo, kerja apa Bim?" tanya Boy.


"Ibu gua setelah kepergian bapak gua, dia menjadi seorang asisten rumah tangga untuk menghidupi keluarga kecilnya, tepatnya dari 8 tahun yang lalu, ibu gua kerja jadi asisten rumah tangga, di Rumah Kenzo, Kenzo, gua&Keisya, di besarkan oleh ibu gua, secara bersama-sama!" jawab Bima.


"Makannya gua sama Kenzo&Keisya sudah kaya sodara! dan Kenzo sudah anggap ibu gua sebagai pengganti ibunya sendiri, karna ibu gua juga, dulunya adalah temen baiknya ibunya Kenzo," jelas Bima.


"Oh..., jadi begitu yah, ceritanya Bim...," saut Boy dengan wajah masih kecewanya kepada bapaknya Bima.


"Iya Boy..., lo kenapa Boy? kok keliatannya lo jadi murung kaya gitu Boy?" tanya Bima, yang heran kepada Boy, yang tiba-tiba murung.


"Gapapa Bim, mungkin gua juga terkena penyakit angin duduk dan rematik," sindir Boy yang masih kecewa.

__ADS_1


"Hati-hati Boy, harus segera di obati, nanti kaya bapak gua lagi..., lo harus kurang-kurangin begadangnya, nanti kalo udah terkena rematik sama angin duduk baru tau rasa lo...," saran Bima.


"Iya..., iya..., Bim, gua ngerti," saut Boy dengan wajah malas dan kecewanya, sambil berkata dalam hatinya, "Seorang petinju Profesional yang tak pernah terkalahkan katanya, meninggalnya cuman karna penyakit Rematik dan angin duduknya ajah, kan Gila..., gak masuk di akal, walaupun namanya mati itu gak ada yang tau, tapi bagi seorang petinju mati karna penyakit rematik dan angin duduknya itu, seperti lelucon ajah di telinga gua, dasar ayahnya si Bima ini, bikin gua kecewa ajah."


__ADS_2