
Diposisi lain, setelah Ivan mengantar Roy & Tiara, di depan warung Bakso milik ayahnya Tiara, Ivan pun lekas pulang ke Rumahnya.
"Assalamulaikum...," ucap Ivan yang baru sampai di depan pintu Rumahnya.
"Walaikum salam..., kamu dari mana ajah nak?" jawab tanya bu Winda, sambil menatap wajah Ivan yang penuh luka
(Winda suryati) nama lengkap ibunya Ivan.
"Aku habis maen mah, sama temen-temen aku," jawab Ivan, sambil menundukan kepalanya, karna ia malu, pulang kerumah dengan wajah penuh luka habis berantem.
Kemudian, datanglah bapak nya Ivan, sambil marah-marah, "Maen..., kamu abis maen, maen ajah trus, kapan kamu berubahnya Ivan?" Bentak bapaknya Ivan, sambil melotot.
(Mahesa Darman) nama lengkap orang tua Ivan.
"Kamu ini udah umur 20 tahun, kamu ini sudah beranjak Dewasa, malah maen, maen & maen ajah di otak kamu sama temen kamu, kamu itu harusnya berubah, cari pekerjaan buat masa depan kamu," bentak pak darman, sambil mencoba memberikan arahan kepada Ivan, walau agak sedikit kasar.
"Kamu gak usah lagi banyak maen Ivan, apa lagi maen sama temen kamu si Boy itu, mereka anak yang kurang pendidikan, ayah & ibu mereka juga sudah gak ada, kamu gak boleh seperti mereka, anak berandalan."
Pak Darman pun, melihat wajahnya Ivan yang penuh luka, sambil memegang dagunya "Apaan ini? pulang maen wajah kamu babak belur kaya gini, kamu ini mau jadi apa Ivan?"
Ivanpun malah melawan Bapaknya, "Bapak jangan sok bener deh..., coba bapak liat diri bapak sendiri, bapak cuman seorang pengangguran yang cuman bisanya numpang makan & Tidur sajah di Rumah, yang seharusnya bapak itu malu sama mamah, yang tiap hari kerja keras ngejahit baju tetangga demi memenuhi kebutuhan kita semua," Ivan membentak pak Darman, bahkan berani sambil melotot.
"Kamu gak boleh begitu Ivan..., bagai manapun, dia itu bapak kamu nak...," ucap bu Winda, mencoba menenangkan Ivan, sambil memegang anaknya, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"Biarian ajah mah, biar bapak bisa mikir dan gak cari-cari kesalahan aku sajah," saut Ivan, dengan penuh emosinya.
__ADS_1
Ayahnya Ivan ini adalah seorang penggangguran dari pensiunan sebagai Polisi. pak Darman ini dulunya adalah rekan kerjanya pak Bagas, ayahnya Roy & Boy, ia mengundurkan diri dari kepolisian, karna ia trauma melihat sahabat baiknya yang sekaligus patner kerjanya, harus meninggal secara tragis.
Pak Darmanpun marah besar kepada Ivan, yang sudah berani membentak bapaknya sendiri, pak Darmanpun menempar wajah Ivan, "Sudah berani yah, kamu ngebentak bapak?" ucap pak darman sambil melotot "Kamu ini mau jadi apa? mau jadi jagoan?."
"Sudah pak, sudah..., Ivan itu anak kita, kamu jangan kasar sama anak kamu sendiri," ucap bu Winda, yang menenangkan suami dan anaknya.
"Biarin saja..., biar si Ivan ini tau sopan satun kalo ngomong sama orang tuanya," bentak pak Darman, yang penuh emosi.
"Bapak tuh..., yang harusnya mikirin anak sama istrinya, bukan cuman bisa pulang malam sambil mabuk, abis maen judi," sindir Ivan, yang mulai semakin memancing emosi pak Darman.
"Berani..., berani sekali kamu ini ceramahi bapak?" pak Darman pun menghampiri Ivan, dan menamparnya lagi.
Ivanpun yang sudah kesal dengan sikap kasar bapaknya, iapun melawan bapaknya, Ivan & pak Darman pun berantem di Rumah.
"Tolong..., tolong..., tolongin saya..., anak dan suami saya sedang berantem...," teriak bu Winda di luar Rumah.
Tetanggapun ramai-ramai mendatangi Rumah Ivan, sambil mererai mereka yang sedang berantem, "Udah..., udah Van, sabar ajah dia itu bapak kamu," ucap tetangga yang mererai mereka.
"Udah pak Darman, yang sabar ajah sama anaknya sendiri...," ucap tetangga lain, yang ikut mererai Ivan & pak Darman.
Ivan sambil menangis, diapun akan pergi dari Rumahnya, namun bapaknya memanggil, "Ivan..., mau kemana kamu?dasar anak yang tak berguna, maen ajah sanah, jangan balik lagi."
"Udah pak, udah...," bu Winda sambil menangis, mencoba menenangkan pak Darman.
"Ivan..., kamu jangan pergi nak..., jangan tinggalin mamah sama bapak kamu..., maafin bapak kamu yang suka kasar sama kamu nak..," ucap bu Winda, sambil memandangi Ivan yang akan pergi.
__ADS_1
"Maaf mah, aku harus pergi, soalnya bapak ngusir aku, aku udah gak tahan sama sikap bapak yang sekarang," saut Ivan, sambil manaiki motornya.
"Pergi kamu sana, dasar anak berandalan yang gak tau di untung, pergi sana, jangan balik lagi...," pak Darman yang sangat emosi, malah trus mengusir Ivan.
"Ivan, Kamu jangan pergi nak..., kamu jangan dengerin Bapak kamu, kamu anak satu-satunya mamah, mamah mohon sama kamu, jangan pergi ninggalin mamah," panggil bu Winda, sambil berlutut di depan pintu Rumah, berharap Ivan tak jadi meninggalkan Rumahnya.
"Biarin..., jangan di tahan-tahan anak gak tau di untung itu," ucap pak Darman sambil membantu bu Winda untuk berdiri.
Ivan pun menyalakan Motornya, lalu pergi dari Rumahnya sambil menangis, karna di usir oleh bapaknya sendiri.
Warga pun yang gak mau ikut campur urusan Rumah tangga mereka, Warga pun membubarkan diri.
"Ivan..., Ivan anak mamah, kamu jangan pergi nak..., mamah sayang sama kamu," ucap bu Winda, sambil terlihat lemas dan menangis, melihat Ivan pergi.
"Sudahlah mah..., gak usah hawatirin Ivan, Ivan itu anak laki-laki, dia pasti bisa jaga dirinya sendiri," ucap pak Darman, mencoba menenangkan bu Winda.
"Ini semua salahnya bapak, yang suka kasar sama kita, emang salahnya kita, apa pak?jangan karna kamu trauma sama kematian sahabat kamu, kamu lampiasin semuanya ke keluarga kamu sendiri, kalo terus begini, aku mau minta...," sebelum bu Winda ini menyelesaikan perkataannya, bu Winda ini keburu pingsan, karna tak kuasa melihat keadaan Rumah tangganya yang selalu tidak akur.
Pak Darman pun memangku bu Winda, kedalam Rumahnya, kemudian membaringkan bu Winda di kasur, "Maafin aku Winda istriku, aku gak bisa jadi imam yang baik buat kamu dan anak kita Ivan, aku minta maaf, memang mukin aku ini gak pantas jadi pemimpin Rumah tangga," penyesalan pak Darman, sambil menatap wajah istrinya yang sedang pingsan, sambil mengelus rambutnya.
Yang sebenarnya pak Darman ini dulunya sangatlah menyayangi keluarganya, pak Darman ini dulunya orang yang sangat lembut & penyayang sama anak & istrinya,
pak Darman pun tak pernah kasar sebelumnya.
Namun..., semuanya itu berubah seketika, karna traumanya yang begitu mendalam kepada sahabatnya, saat dia melihat sahabat baiknya pak (Bagas Hermawan), harus meninggal dalam keadaan yang begitu tragis, diapun mulai berubah sifatnya menjadi lebih keras dan kasar, bahkan kepada keluarganya sendiri, karna kondisi mental yang agak sedikit terganggu, yang tak kuat mengingat masalalunya bersama pak Bagas.
__ADS_1