Sang Pendendam

Sang Pendendam
Tiara belajar [Boxing]


__ADS_3

Setelah Ivan meninggalkan Rumahnya, Ivan pun pergi ke taman, untuk menenangkan dirinya dan duduk di kursi taman, tanpa sengaja, Boy yang sedang kebetulan lewat taman itu, Boy yang ingin menuju ke warung Baksonya Tiara, dia melihat Ivan yang sedang galau sendirian di taman, Boy pun menghampiri Ivan. "Van ngapain lo sendirian di sini?"


"Gua lagi galau Boy," jawab Ivan, dengan raut wajah sedih dan mata yang merah, karna menahan air mata.


"Galau kenapa emang, Van?" Boy sambil menatap wajah Ivan, yang penuh dengan rasa frustasi dan sedih.


"Gua galau sama keluarga gua, apalagi bapak gua, yang keras & kasar sama keluarga, gua benci banget sama dia," wajah Ivanpun semakin memerah dan penuh amarah.


"Lo gak boleh gitu Van, bagai manapun bapak lo tetaplah bapak lo, lo masih mending masih punya ibu & Bapak, sedangkan gua?" Boypun memegang pundak Ivan, mencoba menenangkan Ivan.


"Alah..., percuma Boy, punya bapak juga, gua mending gak punya bapak sekalian," saut Ivan yang masih emosi dan rasa kesal.


"Ehk..., elo Van, gak Boleh gitu, bagaimanapun dia adalah orang tua lo sendiri, yang ngurusin lo dari lo lahir sampai sekarang," Boypun memegang kedua pundak Ivan dan menatap matanya.


"Tapi sikapnya gak seperti seorang bapak pada umumnya Boy, bapak gua itu keras dan kasar banget sama gua, maupun ibu gua, jadi mendiangan dia Mati sajahlah..., dari pada harus nyakitin gua & ibu gua," ucap Ivan sambil menunduk di hadapan Boy.


"Gak Boleh gitu Van, ucappan adalah Doa, sebaiknya lo tarik ucapan lo tadi, terus tenangin diri lo dulu, Van."


"Ahk..., bodoamat gua gak peduli, lu ngapain sih Boy, malah belain bapak gua daripada temen lo sendiri," Ivan pun menepis tangan Boy di bahunya, dan hanya menatap taman di kesenyuan malam.

__ADS_1


"Gua gak belain siapa-siapa Van, gua sebagai sahabat lo, gua cuman mengingatkan saja, lo boleh marah sama bapak lo, tapi lo gak boleh Benci sama dia, karna walau bagai manapun, dia itu bapak lo sendiri, jangan sampai nanti ketika bapak lo udah gak ada, lo baru nyesel Van," Boy mencoba mengingatkan Ivan, walau Ivan sedang memalingkan wajahnya, karna tak mau mendengar nasihat dari Boy.


Ivan pun berbalik menatap Boy, dengan air mata di pipinya, "Berisik lo Boy, kalo lo cuman mau ceramahin gua, lo boleh pergi sajah dari sini, tinggalin gua sendirian."


Boy yang melihat kesedihan yang mendalam di wajahnya Ivan, diapun memeluk Ivan sambil mencoba menenangkannya, "Kalo lo mau nangis, nangis ajah Van, gak usah malu sama gua, gua ini sahabat Baik lo, gua ngerti apa yang lo rasain Van, jadi lo boleh ceritain semuanya masalah lo sama gua, karna kitakan best Frand!."


Ivanpun menangis di hadapan Boy, lalu menceritakan apa yang terjadi kepada Boy, tentang dirinya dan keluarganya, yang sering kali berantem dirumah sama bapaknya.


Kembali pada Roy, yang sedang di Warung Bakso papahnya Tiara, dia sudah di obati oleh mamahnya Tiara, terlihat Roy sedang membantu Tiara melayani pembeli bakso, di Warung Baksonya!


"Roy..., sini om mau ngomong sama kamu!" panggil Pak Dody, di bekalang warungnya.


"Gini Roy, om mau ngomong sesuatu sama kamu Boleh?" tanya pak Dody, dengan tatapan serius kepada Roy.


"Iya om, Boleh..., silahkan saja, emang ada hal penting apayah om, yang mau di obrolin sama saya?" tanya balik Roy, dengan rasa canggung.


"Gini Roy, kan Tiara itu anak om satu-satunya, boleh gak Roy, kalo om nitip sama kamu, lain kali jika kamu ada masalah sama Kampung sebelah, om mohon sama Kamu, tolong jangan libatkan masalah kalian sama Tiara yah, karna Tiara itu anak kesayangan om satu-satunya," ucap pak Dody kepada Roy, yang sedang menunduk, karna rasa bersalahnya.


"Iya om..., ngomong-ngomong, om tau darimana kalau sebelumnya saya ada masalah sama kampung sebelah?" tanya Roy, sambil menatap pak Dody.

__ADS_1


"Pas Tiara di Culik tadi, om sempet lihat penculiknya, yang ternya Dika kan?


anak dari pak Hermansyah, yang dulunya pernah tinggal di Kampung kita?" jawab pak Dody.


"Iya om...," jawab Roy dengan kagetnya, dan menundukan kepalanya lagi, karna Roy malu kepada pak Dody.


Pak Dody pun memegang pundak Roy, "Karna itulah, om gak lapor sama polisi, karna om kenal sendiri penculiknya Tiara siapa, jadi lain kali Roy, om minta tolong sama kamu, tolong jangan libatkan Tiara di masalah kalian yah, apapun alesannya."


"Iya om, saya mengerti, saya mohon maaf sebelumnya, gara-gara saya, nyawa Tiara jadi sempat terancam,"


"Iya gapapa Roy, om percaya kok sama kamu, om yakin kamu bisa jagain Tiara, cuman om takut terjadi apa-apa sama anak om, jadi tolong yah, jagain baik-baik anak om, jika kamu bener-bener suka sama anak om," ucap Pak Dody sambil tersenyum menatap Roy!.


"Iyah om, iya saya janji, saya akan jagain Tiara apapun yang terjadi, walaupun nyawa saya yang jadi taruhannya," saut Roy sambil tersenyum menatap pak Dody!.


"Itu baru pemimpin Geng Warriors dari kampung Dukuh," puji pak Dody, sambil menepuk-nepuk pundak Roy.


"Iya om, makasih banyak atas kepercayaannya," saut Roy dengan senangnya, dan sudah mulai akrab dengan pak Dody.


"Makanya Pah, aku ingin belajar Boxing di sasana Tinju om herman, di Kampung Duren!" ucap Tiara yang sedari tadi menguping obrolan pak Dody & Roy.

__ADS_1


Roy dan pak Dody pun kaget, akan ucapan Tiara, yang ternyata sedari tadi Tiara menguping pembicaraan mereka!.


__ADS_2