Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Bocah Di Dalam Tong


__ADS_3

Di pinggiran kaki gunung Ciremai, ada sebuah Desa klari yang damai.


"Waktu itu ada tiga bocah kecil bermain di tengah desa, salah satunya yang kecil bernama Gilang.


"lalu teman nya berkata, Gilang giliran mu sekarang main!"


"Gilang, anak yang memiliki semangat dan sorot mata yang tajam, wajah nya sudah gagah meskipun baru usia delapan tahun. Anak kecil itu sudah memiliki masa depan yang cerah jika dia memilih menjadi seorang pendekar.


Debu membumbung tinggi di kejauhan, ada puluhan kuda datang menyerbu Desa klari.


"Lari!!" teriak penjaga gerbang.


"Selamatkan diri kalian, kelompok


jubah bertopeng menyerang!!"


Teriakan itu membuat para penduduk menjadi ketakutan. Gilang dan Kawan nya tak tahu apa-apa meneruskan permainan mereka.


"Para kelompok jubah bertopeng tiba di pintu gerbang, dan melihat 3 bocah kecil itu sedang


asyik bermain.


"Hey ... bocah kecil ini akan kita jadikan budak. Tangkap!!" Teriak pemimpin kelompok itu.


Dua orang turun dari kuda ingin berniat menangkap Gilang dan Kawan nya. Gilang memungut sebongkah batu, anak kecil itu ingin mempertahankan dirinya.


Dua orang anak buah jubah bertopeng tersenyum melihat kelakuan Gilang.


"Bocah bodoh!"


Mereka datang dan menarik tangan Gilang, tapi Gilang melawan dan menggigit tangan orang yang menangkap tangannya itu. Setelah itu Gilang berlari sangat kencang, Gilang dengan sekuat tenaga melemparkan


batu yang ada di genggaman nya.


Batu itu melesat sangat kencang, seperti bukan di lempar anak kecil. Dua anak buah jubah bertopeng menghindar, tapi batu itu malah melesat ke arah jubah bertopeng.


"Bedebah!!" maki jubah bertopeng dan


meremukkan batu yang ditangkapnya.


"Tunggu! Biar aku yang akan menangkap bocah itu,"


Jubah bertopeng turun dari kuda nya dan berjalan menuju ke arah rumah, Gilang pun berlari.


"Gilang ... putra ku!" Winyatri ibu Gilang


langsung memeluk putranya.


"Winyatri, bawah lari putra kita! Aku akan membantu penduduk menahan kelompok tak berperikemanusiaan itu" ucap seorang lelaki muda kepada istrinya.


"Tapi kakang!!"


"Tak ada waktu untuk membantah! cepat! Perintah lelaki yang bernama Bayu Gatra


Winyatri menatap putranya sejenak sebelum membopongnya ke dalam pelukannya,


Winyatri ingin melangkah tapi semua sudah


terlambat, rombongan kelompok jubah bertopeng telah sampai di depan rumahnya.


Wajah Winyatri berubah rona, pucat bagaikan tak memiliki cairan, Winyatri menatap


putranya dengan wajah pilu. Dengan cepat winyatri memasukan putranya ke dalam sebuah tong kayu yang sudah kapuk.


"Kau tunggu disini, ibu akan menjemputmu," kata Winyatri pada putranya.


"Tapi bu??" Gilang ingin membantah, mata bocah itu sudah berkaca kaca menahan air mata.

__ADS_1


"Jangan menangis, seorang lelaki tak boleh mengalirkan air mata, kau harus kuat putra ku," ucap Winyatri.


Brukkkk!!


Pintu langsung jebol. Seorang lelaki masuki rumah Gilang.


Lelaki itu di dunia persilatan di kenal dengan nama jubah bertopeng, dia ketua dari kelompok kejam bernama kelompok jubah bertopeng, kelompok kejam yang selalu membuat resah penduduk desa. Setiap desa yang mereka datangi selalu meninggalkan


korban yang tidak sedikit, bahkan tak jarang kelompok itu membunuh semua penghuni kampung. Seperti itu lah saat ini yang alami desa klari.


Jubah bertopeng mendekat ke arah Winyatri.


"Kau sangat cantik, apa kau tak mau jadi pendamping ku cah ayu??" kata jubah bertopeng yang semakin dekat dengan Winyatri.


Winyatri berjalan mundur, sampai dia terpojok karena terbentur dinding rumahnya.


"Bagaimana tawaranku cah ayu??" tanya jubah bertopeng dengan tatapan membunuh yang sangat menakutkan.


Winyatri menunduk kepala karena ketakutan.


"Jawab bodoh!!" maki jubah bertopeng


yang tak suka di acuhkan oleh Winyatri.


"Ampun!!!"" jerit Winyatri.


Plakkkk!!!


Tamparan keras mendarat di pipi perempuan manis berkulit sawo matang itu.


"Ampun tuan, ampun!" kata Winyatri


lirih.


"Kemari kua!"


Jubah bertopeng memeluk erat tubuh


Winyatri. Winyatri yang tau jika jubah bertopeng ingin berbuat senonoh kepada nya tak tinggal diam.


Plakkkk!!!


Cuiiihhhhh.


Tamparan yang dilanjutkan ludah bersarang di wajah jubah bertopeng.


"Bedebah! perempuan tak tau diri" kau mau milih di paksa rupa nya?"


Jubah bertopeng mendorong Winyatri hingga terjerembab jatuh tak tertahan.


"Aku sudah baik meminta mu jadi istriku, tapi kau minta di paksa! Baik! kau akan ku paksa jadi istriku,"


Jubah bertopeng menatap Winyatri dengan tatapan yang sangat menyeramkan, tatapan itu seperti ingin menelan tubuh Winyatri bulat


bulat.


"Lebih baik aku mati dari pada jadi istrimu!"


Jbbbbb!!!


Sebilah pisau dapur tertancap dalam, masuk ke perut Winyatri, cairan berwarna merah keluar dari perut perempuan cantik itu. Winyatri menatap jubah bertopeng dengan senyum kemenangan, merasa menang karena jubah bertopeng tak berhasil berbuat senonoh terhadap diri nya.


Mata Gilang memerah saat melihat ibunya menusuk dirinya sendiri. Ingin rasanya Gilang keluar dari dalam tok itu.


Bodoh!!


Plakkkk!!!

__ADS_1


Tangan jubah hitam menghantam kepala Winyatri.


Kraaakkk!!


Suara Batok pecah terdengar keras.


Gilang mengintip orang yang telah membunuh ibunya.


"Aku pastikan kau akan mati di tanganku, Suatu saat aku akan datang mencari mu! kau akan aku buat lebih menderita dari apa yang kau lakukan pada ibuku!" gumam Gilang dan


menatap nanar pada jubah bertopeng.


"Kau minta kematian, aku sudah


memberikannya!"


"Bodoh!!" maki jubah bertopeng dan pergi meninggalkan Winyatri yang masih bernafas meskipun itu menunggu kematian nya. Jubah bertopeng seperti sudah melupakan Gilang.


Winyatri merangkak ke arah tong tempat putranya bersembunyi.


"Putraku ... jangan simpan sedikit pun dendam di hati mu!"


"Jauhi dunia persilatan! itu hanya akan membawamu ke sebuah persoalan yang tiada berakhir!"


"Ibu akan merindukan mu, kau harus hidup!" Bisik Winyatri sebelum menghembuskan nafas terakhir.


Bocah kecil dalam tong itu ingin menjerit menangis, tapi pesan dari ibunya menahan jeritan dan air matanya. tapi matanya tak lepas dari tubuh ibunya yang sudah kaku


menjadi mayat.


Suara ringkikan kuda terdengar semakin jauh, dan itu menandakan jika kelompok jubah bertopeng sudah meninggalkan Desa klari,


meninggalkan tanpa menyisakan satu


manusia hidup.


Longlongan serigala bersahutan, seperti menandakan alam berkabung, tapi itu bukan longlongan biasa, itu longlongan kelaparan.


Bocah kecil tong dalam merangkak keluar.


"Ibu!" Bisik bocah itu pelan.


Bocah kecil itu hanya sedikit mengetahui dunia, tapi dia tahu jika ibunya telah tewas, Bocah itu menyaksikan sendiri bagaimana


ibunya tewas, tewas bunuh diri.


"Aku menuruti permintaan mu, Bu! Aku akan menjauhi yang semua yang kau katakan! Aku tak ingin jadi pendekar.


"Pendekar itu jahat," gumam bocah polos itu.


bocah itu keluar dari pintu belakang dan mengorek tanah untuk kuburan peristirahatan terakhir untuk ibunya.


Bocah itu menarik tubuh ibunya dengan paksa, menarik hingga sampai di lubang di gali nya. bocah itu mendorong tubuh ibunya hingga jatuh ke dalam lubang, setelah itu dia


menutupnya seperti sedia kala.


Meskipun wajahnya sedih tapi Bocah itu terlihat tegar, sebuah tanda jika bocah itu seorang lelaki sejati.


"Ayah kemana?? Aku harus mencarinya??"


Bocah itu keluar berjalan untuk mencari ayahnya, tapi sebuah pemandangan yang menakutkan ter pang pang di depan matanya.


Gggrrrr!!


Erangan serigala menatapnya nanar karena menganggap bocah itu sebuah ancaman.


"Aku akan mati!!"

__ADS_1


__ADS_2