Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Terhina


__ADS_3

Wira Satriaji kembali pulang dengan memanggul seikat kayu bakar dipundaknya, pekerjaan biasa yang di lakukan oleh Wira Satriaji, Semua dilakukan demi membantu orang tuanya.


"Hey ... bukankah itu Wira Satriaji, Ayo kita kerjain!"


Riski, salah satu orang yang selalu mengerjai Wira Satriaji, karena Wira Satriaji orang miskin


Riski mendekati Wira Satriaji, Wira Satriaji memandang, bukan takut tapi merasa malas meladeni Riski dan kawan-kawannya.


Riski langsung menendang Wira Satriaji hingga terjerembab, kayu yang dibawanya jatuh berantakan.


"Hahaha!!


"Lihatlah si bodoh ini? Jatuh seperti kuda pesakitan," ejek Riski membuat panas telinga Wira Satriaji.


Wira Satriaji menahan diri karena dia sadar melawan Riski hanya akan memberikan masalah untuk dia dan hidup keluarganya.


Wira menggumpulkan kembali kayu bakarnya yang berserakan, dan berjalan meninggalkan gerombolan Riski dan kawan-kawannya.


"Lihatlah lelaki yang tak punya harga diri itu. Sana kembali menyusu ibumu," kembali Riski mengejek Wira Satriaji.


Langkah Wira Satriaji terhenti mendengar ejekan yang sudah keterlaluan dari Riski. baginya separah apapun dari Riski masih bisa diterimanya, tapi jika sudah menyangkut ibunya, itu tak bisa lagi Wira biarkan.


Wira Satriaji berbalik dan berjalan mendekat ke arah Riski.


"Apa???" Bentak Riski.


"Kau boleh menghinaku sesuka hatimu Riski, tapi jangan coba merendahkan orang tua ku,"


Wira menghentikan sejenak ucapannya.


"Kalau tidak aku akan ...!!"


"Akan apa??" Riski memotong perkataan Wira dengan suara yang semakin keras. Tak hanya itu tangan Riski sudah terayun menempeleng kepala Wira.


"Plakkk!!"


Pukulan keras di kepala Wira Satriaji, membuat anak yang hampir tumbuh dewasa itu pusing.


"Aduh!!" Teriak Wira memegang kepalanya yang sakit.


"beri dia pelajaran, jangan kasih ampun," perintah Riski pada tiga kawan-kawannya.


Tanpa meminta komando dua kali 3 kawan Riski mengeroyok Wira, memberikan Bogeman mentah ditubuh Wira.


Wira Satriaji yang tidak tahu sedikit pun apa-apa soal ilmu silat, tak menghindar sehingga tubuhnya bagaikan samsak untuk tiga kawan Riski.


Wira Terjatuh dan tangannya memegang sepotong kayu, dalam emosi yang sudah meninggi Wira Satriaji mengayunkan kayu di tangannya.


"Bukk ... Bukk ...!!"


Tiga kawan Riski yang mengeroyoknya menjadi makanan bagi kayu ditangan


Wira Satriaji. Ketiganya menghindar ketakutan karena tenaga Wira Satriaji yang lebih kuat


dari mereka.


Wira Satriaji menatap Riski dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Apa kau akan lari juga??" desis Wira Satriaji.


"Apa kau pikir aku takut padamu? sedikitpun tidak!" kembali Riski membentak, dia mencoba mengintimidasi Wira Satriaji, padahal ketakutan jelas terlihat di matanya.


"Benarkah begitu??" tanya Wira Satriaji dan berjalan semakin dekat kearah Riski.


Riski mengambil posisi silat yang di pelajari nya. Wira Satriaji mengayunkan kayu


ditangannya, Riski yang merasa kalau pukulan itu hanya pukulan pelan menahan dengan lengannya.


"Bukk!!"


"Awww!!" jerit Riski menahan sakit di lengannya yang terkena hantaman kayu dari Wira Satriaji.


"Kenapa? Sakit??" ledek Wira Satriaji


Selesai ucapan itu Wira Satriaji kembali mengayunkan kayunya.


"Plakkk!!"


Kayu itu menghantam kepala Riski tanpa ada yang menghalangi pukulan itu.


"Awww!!" Riski menjerit sekeras mungkin


"Sssstttt!!" Riski juga meringis menahan sakit di kepalanya.


Luka di kepala Riski menganga dengan cairan berwarna merah mulai mengucur membasahi wajah dan bajunya.


"Kau akan menyesali ini! Aku akan laporkan pada ayahku," ancam Riski dan menatap Wira dengan tatapan penuh dendam.


Saat itulah Wira sadar jika dia sudah memberikan masalah untuk ayah dan ibunya, Wira Satriaji tahu siapa orang tua dari Riski,


Wira hanya terdiam lemas dan menatap perginya Riski dan kawan-kawannya.


"Maafkan aku Bu!" gumam Wira Satriaji.


Di tengah kota Jalak, dalam sebuah rumah yang paling besar dan paling mewah di kota itu. Ditengah ruangan duduk dua orang sedang berbincang begitu serius, itulah kediaman juragan Hasan.


"Kami akan melaksanakan dengan baik semua pekerjaan yang kau berikan juragan, percayalah, aku dan anak buah ku tak akan mengecewakanmu" Kata lelaki


jubah bertopeng.


"Aku menyewa mu memang karena percaya dengan reputasi mu di dunia persilatan jubah bertopeng, Aku yakin hanya kau yang mampu melaksanakan tugas yang aku berikan," kata juragan Hasan.


" Terima kasih kepercayaanmu juragan. Dengan bayaran sebesar ini nyawa pun akan aku pertaruhkan, aku pastikan barang itu akan


sampai ke tangan juragan Hasan," kata


jubah bertopeng.


"Hahaha!!"


"Aku juga akan memberikan bonus jika barang itu telah sampai ke tangan juragan Hasan, Jadi sebaiknya kalian bergerak cepat.


Aku tau banyak yang mengincar benda itu. Itu benda berharga untuk keluarga kami," ucap juragan Hasan.


"Baik juragan! Jangan ragukan kemampuan aku dan anak buahku juragan. Kami memang kelompok hitam, tapi kami juga memiliki sesuatu yang harus kami percayai, kami masih memiliki rasa untuk dipercayai," ucap jubah bertopeng.

__ADS_1


"Hahaha!!"


"Baiklah! Aku yakinkan kepadamu, besok pagi kalian berangkat, malam ini kalian akan aku jamu," ucap juragan Hasan.


"Tak perlu repot-repot juragan. Terima kasih."


ucap jubah bertopeng dengan mata binar.


Saat keduanya berbincang tertawa seorang anak berusia belasan masuk dengan luka di kepala, cairan merah di kepalanya masih terlihat walaupun sudah mulai mengering.


"Riski, ada apa denganmu? Siapa yang berani melukaimu??" bentak juragan Hasan.


"Wira Satriaji ayah, dia mencari masalah, tanpa sebab yang jelas dia memukuli aku dengan kayu." jawab Riski berbohong.


"Kurang ajar, orang miskin itu tak tahu diri, aku akan memberikan dia pelajaran"


Amarah juragan Hasan memenuhi seisi kepalanya.


"Pengawal..!!! Teriak juragan Hasan.


Dua pengawal juragan Hasan datang


tergopoh gopoh.


"Ada apa juragan??"


"Kalian pergi ke rumah miskin Yatno, berikan dia pelajaran, anak nya sudah berani melukai tuan muda kalian," perintah juragan Hasan.


Pengawal itu saling pandang, mereka tak berani untuk menolak meskipun hati mereka ingin menolak.


"Juragan! Tak perlu pengawalmu turun tangan. Biarkan saja aku yang memberikan mereka pelajaran."


"Bagaimana? Aku juga ingin menggerakkan otot-otot ku juragan," kata jubah bertopeng.


"Apa kau yakin jubah bertopeng??"


Juragan Hasan sedikit tak percaya dengan ucapan jubah bertopeng, dia sangat tahu sikap jubah bertopeng, setiap dia bergerak pasti akan ada korban yang jatuh di tangannya


"Tunjukkan rumahnya padaku!" kata


jubah bertopeng berteriak dan merasa jumawa.


Pengawal membawa jubah bertopeng ke rumah Wira Satriaji.


Sementara itu di rumah Wira Satriaji, ibunya heran saat melihat Wira kembali dengan luka yang banyak di tubuhnya.


"Ada apa denganmu Wira??" tanya Bu Surti.


"Tidak ada apa-apa Bu, hanya jatuh saja saat di hutan." jawab Wira Satriaji berbohong.


"Kau jang...!!"


Belum selesai ucapan Bu Surti teriakan keras sudah membuat mereka kaget dan ketakutan.


" Woy ... Wira Satriaji, keluar kau! Hari ini kau akan mati," teriak suara keras dari luar rumah.


*****

__ADS_1


.


__ADS_2