
Wira Satriaji menggali sebuah lubang besar dan menjadikannya untuk makam gurunya. air mata tak berhenti mengalir dari mata pemuda yang baru tumbuh dewasa itu.
Sungguh memang malang nasib yang di alami oleh Wira Satriaji, jarang mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya, selalu dipayungi oleh kematian. Setiap yang dekat dengannya berakhir dengan kematian.
"Haaaaaaaaa!!" jerit Wira Satriaji sekuat tenaga tepat di nisan gurunya.
"Guru! Aku akan membalas semua dendammu. Aku tak akan mencari kebahagiaan sebelum aku mencapai puncak dunia persilatan. Dan aku akan membawa mu bersamaku kepuncak dunia. Lihat aku dari sana guru!!" kembali Wira Satriaji berteriak di makam guru nya.
Kembali sebuah janji telah di ucapkan oleh Wira Satriaji.
"Tenanglah di sana guru, aku tak akan melupakan semua jasa yang telah kau berikan pada ku. Aku akan mengikuti jalan dari jalan mu guru," bisik Wira Satriaji.
Wira Satriaji masih berbicara didepan nisan gurunya, bahkan sampai pagi hari Wira Satriaji tak beranjak dari nisan itu.
Dua hari dua malam Wira Satriaji menemani gurunya di peristirahatan terakhirnya, tapi itu tak mampu menghilangkan rasa sedih anak muda itu. Air matanya sudah tak ada lagi untuk menetes, semua sudah habis karena menangisi kepergian salah satu orang yang dicintai nya, Petapa muka dua.
Wira Satriaji mengingat semua pesan-pesan dari gurunya, dan dia pun tersadar jika dia harus berlatih demi mengangkat nama gurunya.
"Guru, aku akan berlatih sendiri, aku tak akan mengecewakan mu. Percaya padaku guru," ucap Wira Satriaji dan berdiri melangkah pergi.
Sebelum jauh Wira Satriaji menoleh kearah makam gurunya.
"Aku akan sering mengunjungimu guru, selamat tinggal, semoga guru damai di sana," ucap Wira Satriaji masih dengan wajah yang sedih dan mata yang masih bengkak.
Wira Satriaji yang sudah memiliki tenaga dalam memusatkan tenaga dalam dikakinya, dia terbang menuju gua tempat tinggal bersama gurunya, Petapa muka dua.
"Semua kenanganku bersama guru di mulai dari sini. Aku tak akan bisa melupakan tempat ini," ucap Wira Satriaji.
Wira Satriaji merogoh saku nya dan melihat kitab pemberian gurunya.
"Kitab pedang seribu." desis Wira Satriaji.
Wira Satriaji melompat kedalam jurang dan menghilang ditelan dalamnya jurang di gunung semeru.
Wira Satriaji duduk termenung tak jauh dari air mancur tempat biasa dia berlatih.
Wira membuka lembar demi lembar kitab didepannya, di kitab itu ada gambar-gambar yang memang jurus dari salah satu jurus tingkat tinggi yang paling dicari di dunia persilatan.
Wira Satriaji masih memandangi kitab di depan nya, dia memperhatikan semua pola pada gambar dan menyimpannya di memori otaknya.
Ada tujuh belas jurus yang di perlihatkan oleh gambar gambar itu. dan semuanya sangat
__ADS_1
sulit untuk dipelajari.
Wira Satriaji berdiri dan mengambil posisi pertama dalam berlatih jurus pedang, dia berdiri cukup tegak. Wira menarik nafas panjang,dan itu posisi utama dalam setiap jurus, pernafasan yang baik.
"Aku tak memiliki pedang, sebaiknya aku coba dengan menggunakan kayu." gumam Wira Satriaji.
Ditangan Wira Satriaji, sudah ada kayu bulat yang akan Wira jadikan sebagai pedang untuk mempelajari kitab pedang seribu.
"Jurus pertama!"
"Pedang ilusi!"
Wira Satriaji mencontoh gerakan yang di perlihatkan oleh gambar itu, tapi dengan belajar ortodoks tak semuda yang Wira bayangkan. Wira Satriaji sampai geleng kepala karena merasa sangat kesulitan mempelajari jurus itu.
"Baru pada jurus pertama sudah begitu sulit, apa lagi jurus berikut nya." gumam Wira Satriaji.
Wira Satriaji masih terus berusaha, meskipun belum sempurna dia mencoba dan terus mencoba.
***
a
Kediaman cadar hitam.
"Bagaimana tugas kalian??" tanya cadar hitam.
"Kami berhasil membunuh Petapa itu ketua, tapi kita tak ada padanya." jawab setan jelangkung ketakutan dan memberikan kepala Petapa muka dua pada cadar hitam.
"Apa? Tak ada??"
"Bodoh!" bentak cadar hitam dan menekan kepala Petapa muka dua sampai pecah.
"Bagaimana mungkin tak ada? atau kalian ingin memilikinya??" tuduh cadar hitam.
"Tidak ketua! kami tak berani!" ucap setan jelangkung dan berlutut ketakutan.
"Huhhhhh!!"
Cadar hitam berdiri dan berjalan tepat di dekat Wardi. Wardi bergetar karena gemetaran.
"Bagaimana bisa kalian sebodoh itu??"
__ADS_1
Tangan cadar hitam bergerak cepat ke batok kelapa Wardi.
"Prakkkkk ... krakkk!"
Suara berderak batok kepala pecah terdengar jelas. Dan batok kepala Wardi. Wardi langsung muntah cairan merah dan tewas tanpa melawan sedikitpun.
Setan jelangkung mundur ketakutan, begitu juga dengan kebo bungkuk, mereka tak mau menjadi sasaran berikutnya kemarahan cadar hitam.
Berbeda dengan Sardi yang emosi, dia tak terima jika saudaranya tewas mengenaskan didepan matanya. Dia mengeluarkan tenaga dalamnya dan memusatkan di tangannya.
"Biadab....!!" jerit Sardi tiba-tiba menyerang cadar hitam. Tapi lawannya bukan pendekar biasa, cadar hitam sudah malang melintang di dunia persilatan.
Tangan Sardi yang sudah terisi tenaga dalam hampir menyentuh bagian depan cadar hitam, tapi dengan kecepatan yang luar biasa cadar hitam menghindar dan malah menyerang balik.
Sardi kaget, karena itu sedang yang sangat cepat dan penuh dengan tenang dalam, belum hilang rasa terkejutnya tangan cadar hitam sudah sampai dilehernya.
Sardi mengayunkan pukulannya, tapi sebelum pukulannya sampai suara berderak kembali terdengar keras.
"Crakkkkkkk!!"
Suara leher yang patah, dan itu lehernya Sardi. Sardi tewas dengan mata melotot kearah cadar hitam.
"Bukkkk!"
"Mencoba menyerang ku!!" ucap cadar hitam sinis dan menendang mayat Sardi sampai ke pintu keluar.
"Apa kalian juga ingin melawanku?"
"Setan jelangkung! Kebo bungkuk!"
"Apa kalian ingin melawanku??" teriak cadar hitam yang sangat emosi.
"Tidak ketua! Tidak! kami tak berani!" ucap kebo bungkuk dan berlutut di kaki cadar hitam.
"Aku tak menyangka, kalian ternyata sangat bodoh, tugas semuda itu tak berhasil kalian laksanakan dengan baik. Dimana Wajahku akan aku letakkan jika dunia persilatan mengetahui aku telah kehilangan salah satu kitab terbaikku." kembali cadar hitam membentak.
"Maafkan kami ketua, kami salah." ucap setan jelangkung yang semakin gemetaran.
Setan jelangkung dan kebo bungkuk tak yakin akan bisa mempertahankan selembar nyawanya jika harus bertarung dengan cadar hitam, meskipun sudah menggunakan semua tenaga dalam yang mereka miliki, sedikit pun tak akan ada peluang untuk menang melawan salah satu orang terkuat di duni persilatan saat ini.
"Aku sangat percaya pada kalian, tapi kalian merusak kepercayaanku. Aku mengampuni kalian, tapi kalian harus tetap mencari kitab itu. Aku akan kembali memberikan kalian kepercayaan setelah kalian menemukan dan memberikan kitab itu padaku." kata cadar hitam pada dua orang itu.
__ADS_1
Setan jelangkung dan kebo bungkuk diam tak berani menjawab.
"Pergilah dari sini." usir cadar hitam.