Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Buku Usang


__ADS_3

Sewindu berlalu dengan cepat, sampai saat ini usia Wira Satriaji sudah mencapai enam belas tahun, tapi ingatnya juga belum kembali, mungkin karena waktu kejadian itu terjadi ingatannya belum banyak, jadi tak ada yang bisa diingat bocah itu.


Wira Satriaji tumbuh menjadi pemuda yang gagah, dengan kulit sawo matang, pemuda yang gagah. meski usianya masih muda tapi kedewasaan sudah tubuh. di jiwanya, itu karena keadaan hidup keluarga barunya yang


memaksanya untuk bekerja keras.


Seperti ayahnya, Ki Yatno, Wira Satriaji juga ikut bekerja sebagai buruh panggul di pelabuhan. itu juga berpengaruh pada keadaan ototnya yang semakin atletis.


Seperti hari ini, Wira Satriaji sedang menunggu kapal saudagar yang berlabuh, jika ada yang berlabuh maka pekerjaan akan ada untuknya.


"Kapal mendekat!!" teriak tuan yang memperkerjakan Wira dan buruh panggul lainnya.


Wira Satriaji yang sedang rebahan dengan cepat berjalan ke pantai dan mempersiapkan dirinya untuk bekerja.


Dari kapal keluar seorang saudagar bersama dengan pengawalnya, saudagar kaya yang membawa berbagai macam barang-barang berharga, Dan pastinya barang dagangan dari negeri seberang.


"Ayo semuanya bekerja!!" teriak tuan para pekerja.


Mendengar komandan dari tuannya para buruh panggul mulai bekerja, dan dalam waktu singkat semua isi kapal sudah habis diangkat keluar, Saudagar itu puas dengan cara kerja dari buruh panggul itu.


"Anak buah mu bekerja dengan baik, apa ada yang bisa berkerja untukku??" tanya saudagar pada tuan yang memperkerjakan para buruh panggul.


"Buruhku mau tuan pakai? Mereka tak memiliki kemampuan apa-apa selain tenaga tuan, percuma!"


"Begitu ya??" kata saudagar itu kecewa.


Saudagar itu membayar untuk keringat para buruh panggul dan pergi berlalu karena permintaannya tak di tanggapi oleh tuan buruh panggul.


"Enak saja mau memakai anak buahku. Satu anak buah ku berkurang, uang untukku juga berkurang," gumam tuan dari buruh panggul.


"Hey ... kalian semua! kemari!!" teriaknya memanggil semua buruh panggul yang beristirahat.


Wira Satriaji dan kawan buruh panggul lainnya berkumpul, mereka tahu jika mereka akan dibayar.


Setelah menerima bayaran, meskipun sedikit para buruh panggul kembali, wajah mereka cukup kecewa, seperti biasa, tenaga mereka tak dibayar sebesar dari rasa capek mereka, tapi dari pada tidak makan mereka terus saja menjadi buruh panggul di pelabuhan.


"Kau sudah pulang Satriaji??" tanya Bu Surti


"Tumben cepat amat??" lanjut buk Surti bertanya.


"Iya Bu! Pelabuhan sepi. Hanya ini pendapatan Satriaji," jawab Wira Satriaji sambil memberikan semua hasil kerjanya untuk hari itu.


"Kau tak ingin memegang uang Satriaji??" ucap buk Surti sambil memegang uang pemberian Wira.


"Tidak Bu, Satriaji tak butuh uang, saat ini Satriaji lebih memilih makan saja," kata Wira Satriaji tersenyum.


"Hanya makan yang ada pikiranmu, itu ibu sudah siapkan di dapur."


Wira Satriaji berjalan ke dapur dan makan dengan lahapnya.

__ADS_1


Selesai makan Wira Satriaji duduk di tengah ruangan termenung sendiri.


Merenungkan apa??" tanya buk Surti mengagetkan Wira.


"Ibu? Bikin kaget saja!"


"Tak ada ibu!" Satriaji hanya capek." jawab Wira Satriaji


"Satriaji, ibu rasa kau sebaiknya tidur di belakang saja ya mulai nanti malam. kau sudah mulai dewasa, tak mungkin lagi kita tidur bertiga."


"Hehehe!!


"Iya buk, Satriaji pikir juga begitu Bu. Kalau begitu Satriaji bersihkan pondok belakang


ya Bu!"


Wira Satriaji tak menunggu jawaban dari ibunya, dia berjalan menuju pondok usang di belakang rumah mereka.


Satriaji membersihkan karena itu akan jadi kamar baru untuknya.


Bukkkk!!


Sesuatu jatuh dan menimpa kepala Satriaji.


"Aduh ... apa itu??" Seru Wira Satriaji dan melihat sesuatu yang jatuh itu.


"Apa ini??" Satriaji menjemput sesuatu yang ternyata buku usang.


"Bagaimana bisa buku usang ini ada di atas?? Siapa yang menaruh benda ini di sana??"


Wira Satriaji masih menatap keatas, dan mata nya melihat sebuah peti kecil yang sudah kapuk.


"Sepertinya buku usang ini tersimpan di peti itu, karena termakan usia peti itu habis di makan rayap." gumam Wira Satriaji dan menjolok peti usang itu dengan sapu ditangannya.


Brukkkk!!


Peti itu langsung pecah berkeping karena jatuh di tambah sudah tua termakan usia.


Wira Satriaji memperhatikan ada sesuatu yang bercahaya seperti buah.


"Apa ini??" Wira Satriaji heran.


"Sebaiknya aku letak disini saja, siapa tahu ini buah beracun."


Wira Satriaji membalut benda bercahaya yang menurut Satriaji itu buah beracun dan meletakkannya begitu saja.


Wira Satriaji membuka buku usang yang ada di dekatnya, Wira melihat gambar-gambar seseorang yang sedang mempraktekkan berbagai macam tehnik pernafasan.


Wira Satriaji memiringkan kepala kiri dan kanan, seperti tak mengerti apa maksud dari gambar-gambar yang dilihatnya

__ADS_1


dibuku usang itu.


"Apa ini?? Masa bernafas ada caranya? Buku ini tak berguna," ucap Wira tak peduli dengan buku usang itu. Wira Satriaji membuang buku usang itu seperti tak berguna.


"Siapa yang menulis buku itu ya?


Apa dia tak ada kerjaan?"


"Bernafas seperti ini!"


Wira Satriaji menghirup nafas dan melepasnya, seperti mencemooh gambar dan penulis buku usang itu.


Setelah selesai membersihkan kamar barunya Wira Satriaji mulai rebahan, tapi matanya kembali tertuju pada buku usang itu.


"Tapi tak mungkin digambar kalau tak berguna. Pasti ada sesuatu yang tersimpan di buku ini," gumam Wira Satriaji dan kembali


meraih buku usang itu.


Wira duduk dan membolak-balik


buku usang itu.


"Tak ada sedikit pun rahasia di buku ini.


Benar-benar buku tak berguna. Hanya gambar dan gambar saja. Sungguh percuma!" gerutu Wira Satriaji.


Satriaji kembali merebahkan tubuhnya, tapi anehnya dia tak merasa tenang, pikiran kembali pada gambar dalam buku usang itu.


Jiwa kecerdasan Wira Satriaji memberontak,


dia ingin mengetahui rahasia apa yang terkandung dibuku usang itu.


Argghhh!!


"kenapa denganku? Seharusnya aku tak memikirkan buku itu. Tapi malah datang ke pikiran ku."


"Baik! Aku akan mencoba mencari lagi, ayo kita cari rahasia apa yang kau simpan?" gumam Wira Satriaji dan seperti dari awal Wira Satriaji membolak-balik buku usang itu.


"Percuma, sungguh percuma! Tak ada yang istimewa," gumam Wira Satriaji.


Ide iseng datang di kepala Wira Satriaji.


"Baik, ku akan mencoba nya,"


Wira Satriaji melihat gambar pertama dan memposisikan dirinya seperti pada posisi dalam gambar itu.


Wira merasakan kehangatan dari posisi itu, bahkan kehangatan itu menjalar hingga ke seluruh tubuh Wira Satriaji, dan itu membuat Wira merasa tenang.


Wira Satriaji melatih tehnik pernafasan dalam gambar itu, Wira Satriaji mengambil nafas dan kedamaian terasa sampai ke semua pembuluh tubuhnya. Wira Satriaji merasakan tubuhnya sangat ringan bagaikan kapas. Dan tanpa sadar Wira ketiduran.

__ADS_1


"Eh ada apa ini? Bagaimana mungkin ini terjadi!" kata Wira saat di bangun dari tidurnya.


"Mungkinkah ini karena teknik pernafasan yang aku coba tadi malam??"


__ADS_2