Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Terkena Racun


__ADS_3

Sosok hitam itu terbang tanpa rasa mengenal lelah, dalam waktu yang tak lama dia sudah keluar dari kota Daun. untuk sejenak dia beristirahat memulihkan tenaganya.


Sosok hitam itu merogoh kantongnya, dan memegang kitab yang dicurinya dihalaman depan kitab itu tertulis sebuah tulisan tebal.


"JURUS PEDANG SERIBU"


Dia tersenyum puas, karena merasa tak sia sia, semua usahanya membuahkan hasil meskipun dia terluka cukup parah.


"Aku harus segera kembali, kalau tidak racun ini akan menggerogoti seluruh urat nadi dalam tubuh ku."


Sosok hitam itu kembali meninggalkan tempat istirahat nya dan terbang menuju gunung semeru


Sosok hitam itu ternyata Petapa muka dua, karena Wira Satriaji ingin menjadi seorang pendekar pedang, Wismana memutuskan untuk mencuri salah satu kitab pedang terbaik.


Wismana terbang dan sampai di gua tempat tinggalnya saat hari telah larut, dia melihat Wira Satriaji telah tertidur pulas. Dia tersenyum bahagia. Karena akan memenuhi keinginan muridnya.


"Dengan ini aku akan membuatmu menjadikan salah satu pendekar terkuat di seluruh dunia persilatan. Besok kau akan mulai latihan berat mu. Aku harap kau mampu Wira Satriaji." gumam Petapa muka dua.


Petapa muka dua bersila memulihkan kondisi nya, tapi wajahnya menjadi pucat.


"Huak!!"


Cairan kental berwarna hitam langsung keluar dari mulutnya. Petapa muka dua tersenyum pahit.


"Sepertinya racun kobra sudah masuk ke pembuluh nadiku. Aku rasa aku tak akan mampu bertahan cukup lama. Tapi sebelumnya aku harus pastikan jika Wira Satriaji sudah mampu bertahan di Duni persilatan. Dengan begitu aku akan merasa nyaman di alam sana." ucap Wismana dengan wajah yang bersedih.


Racun dari racun milik Sardi memang telah masuk ke pembuluh nadi Petapa muka dua, itu terjadi karena dia memaksakan tenaga dalamnya waktu terbang, sehingga dia tak menekan pergerakan dari racun kobra milik Sardi.


Wira Satriaji terbangun karena merasa terganggu karena kehadiran Wismana.


"Guru sudah kembali? Apa guru sudah makan?" tanya Wira Satriaji


Wismana tersenyum mendengar pertanyaan dan perhatian dari muridnya itu.


"Guru sudah makan Wira" jawab Wismana dengan suara berat.


Wira melihat Wismana.


"Apa guru sakit??" tanya Wira


"Tidak! guru tak apa-apa! Kau istirahatlah, besok kau akan mulai latihan mu," kata Wismana.

__ADS_1


Wismana tak mau memberitahu kondisinya pada Wira, dia tak ingin pikiran Wira terbebani.


"Baik guru, aku akan istirahat." Wira Satriaji kembali berbaring dan tertidur.


Lain dengan Wismana, Wismana mencoba menekan pergerakan racun kobra yang ada dalam tubuhnya.


"Aku harus hidup, meskipun aku akan mati. Tapi aku harus memastikan penerusku." gumam Wismana seperti memiliki semangat baru untuk hidup.


Sementara di kota daun, keributan yang terjadi di rumah mewah itu menjadi buah bibir


di kota, penduduk tahu siap pemilik rumah itu, pemilik rumah itu salah satu orang yang disegani, penduduk tahu apa yang telah diambil dari rumah itu.


Penduduk kota juga tak menyangka jika akan ada orang yang berani masuk untuk mencuri kedalam rumah itu.


Seseorang lelaki memakai cadar terlihat duduk di kursi yang seperti singgasana. Di dunia persilatan dia di kenal dengan nama cadar hitam. Dia salah satu dedengkot dari golongan hitam.


"Apa ada yang hilang ketua??" tanya Wardi memberanikan diri.


Sorot mata cadar hitam menatap tajam ke arah Wardi. Cadar hitam menggerakkan tangannya, dan sungguh diluar dugaan tubuh Wardi melayang ke udara dari lehernya seperti dicekik sesuatu yang tak terlihat.


"Akh!!"


Wardi hanya bisa menjerit menahan sakit. Jeritannya begitu keras melengking.


"Brukkkkk.!!"


Tubuh Wardi jatuh kelantai sedikitpun tak tertahan, Wardi memegangi lehernya yang terasa sakit.


"Cari orang itu sampai dapat. Bawa kepalanya ke hadapanku!!" perintah cadar hitam.


"Baik! kami mengerti ketuan!" jawab Sardi.


"Kebo bungkuk! setan jelangkung! kalian temani dua orang bodoh itu!" teriak cadar hitam.


Cadar hitam juga mengutus dua kepercayaannya untuk menemukan Petapa muka dua.


"Kami akan mencari dan pasti akan menemukannya ketua. Tapi apa yang hilang ketua??" tanya kebo bungkuk.


"Petapa bodoh itu telah mencuri kitab pedang seribu. Aku tak tahu apa maksudnya mencuri itu. Aku sangat yakin kalau dia itu tak menggunakan pedang," kata cadar hitam dengan suara yang tetap berat.


"Kitab pedang seribu!!" desis setan jelangkung.

__ADS_1


"Ingat! pastikan kepalanya kalian bawa bersama dengan kitab itu. Waktu kalian hanya sebentar. Aku tak mau menunggu lama," kembali cadar hitam memberikan perintahnya.


"Jangan kembali sebelum membawa kepalanya," lanjut cadar hitam.


"Baik, akan kami laksanakan ketua.


kebo bungkuk berdiri dan di punggungnya ada sebuah daging besar, sehingga dia berjalan seperti membungkuk itulah mengapa dia disebut kebo bungkuk.


Kebo bungkuk dan iblis jelangkung berjalan di depan, sementara sepasang maut ada di belakang mereka.


"Aku pikir kalian sudah bisa diandalkan Sardi, ternyata kalian masih bau kencur." ucap kebo bungkuk.


"Maafkan kami, kami memang bodoh dan selalu ceroboh"!" Jawab Sardi dengan wajah penuh bersalah.


"Kemana kita akan mencari nya? Apa kalian tahu dimana dia tinggal??" tanya setan jelangkung.


"Tak ada yang tahu dimana dia tinggal, dia selalu berpindah pindah." jawab kebo bungkuk.


"Jadi bagaimana cara kita menemukan dia? sungguh tugas yang memusingkan. Dan sebelum menemukan nya kita tak boleh kembali." kata setan jelangkung.


"Sebaiknya kita bagi tugas saja, Bagaimana??" tanya kebo bungkuk


"Bagi tugas! Aku tak mengerti, jelaskan!" pinta setan jelangkung.


"Aku dan Sardi mencari kearah Barat. Kau dan Wardi kearah Timur. Kita bertemu di gunung semeru." kata kebo bungkuk menjelaskan.


Setan jelangkung berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap Sardi dan Wardi.


"Baik, begitu pun jadi, dengan begitu kita memiliki peluang untuk menemukannya. Tapi ingat, siapa pun yang sudah menemukan atau membawa kepalanya kita tetap harus bertemu di sana. Apa pun yang terjadi, kita bertemu di sana." ucap setan jelangkung yang setuju dengan ide kebo bungkuk.


"Baik, kalau kau setuju aku dan Sardi akan berangkat sekarang juga."


"Ayo Sardi!!" ajak kebo bungkuk pada Sardi.


Sardi dan Wardi tak ada sedikit pun keberanian untuk menolak, padahal mereka biasanya bertarung bekerja sama, jurus-jurus mereka jurus yang saling melengkapi, tapi untuk kali ini mereka harus terpisah karena kebodohan dari mereka sendiri.


"Sudahlah Sardi, kau jangan bersedih. Aku tahu jurus mu akan melemah jika tak di padukan dengan Wardi, tapi kau harus berusaha untuk meningkatkan kemampuan mu sendiri. Tak selamanya kalian harus bertarung bersama." kata kebo bungkuk yang mengerti apa yang dipikiran Sardi.


Sardi diam dan mulai mencerna maksud dari kebo bungkuk.


"Baiklah, ayo!"

__ADS_1


Saat matahari mulai meninggi empat manusia dari golongan hitam itu berpencar menjadi dua kelompok. Mencari keberadaan Petapa muka dua.


__ADS_2