Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Penghuni Gunung Semeru


__ADS_3

Keringat mulai membasahi baju hitam Wira Satriaji, saat matahari mulai tenggelam pemuda itu sampai di puncak gunung tapi dia tak menemukan apa-apa selain padang ilalang.


"Dimana kakek tua itu tinggal ya??" gumam Wira Satriaji.


"Petapa Muka Dua!!"


"Kau Dimana??" teriak Wira Satriaji


Wira Satriaji berteriak sekeras mungkin. Suaranya terbawa oleh angin kencang di puncak gunung.


"Aku akan istirahat disini malam ini!"


"Ada apa ini? kenapa tubuhku kembali terasa panas??" gumam Wira Satriaji.


Sensasi panas itu sudah pernah Wira Satriaji


rasakan, sensasi itu sensasi saat jubah bertopeng memberikan dia racun Kelabang.


"Sepertinya semuanya sudah terlambat. Aku tak akan mampu bertahan lagi. Tapi tak apa lah, mungkin usahaku memang hanya cukup sampai disini," ucap Wira mulai putus asa.


Wira Satriaji membaringkan tubuhnya menatap ke langit, dia seperti menghitung bintang yang ada di langit.


"Sungguh kematian yang indah, di temani oleh bintang malam. Aku sudah berusaha, jubah bertopeng mengatakan jika aku akan bertahan hanya dua hari. Dan hari ini adalah hari kedua."


Rasa panas itu kembali menjalar ke seluruh tubuh Wira Satriaji, tapi saat panas itu semakin menjalar, rasa dingin kembali datang entah dari mana seperti melawan racun itu menyebar.


"Aku tak tahu apa yang ada dalam tubuhku, setiap rasa panas itu menjalar kearah pusat tubuhku rasa dingin datang seperti mendorong rasa panas itu."


Wira Satriaji tak tahu jika mustika naga api berada dipusat tubuhnya, saat racun itu mendekat maka mustika naga api bereaksi memberikan penawar, tapi hanya sebatas menawarkan saja, tak bisa mengobatinya.


Racun di tubuh Wira Satriaji merupakan racun ganas, hanya bisa dikeluarkan oleh orang yang memiliki energi besar. Dan mustika naga api hanya memperpanjang sedikit hidup Wira Satriaji, jika Wira Satriaji tak mengeluarkan racun itu maka bisa di pastikan nyawanya tak tertolong.


Setelah hawa dingin itu mengusir hawa panas ditubuh Wira Satriaji, bocah itu kembali merasakan tubuhnya segar meskipun tak sesegar sebelumnya.


"Besok kalau aku masih hidup aku akan mencari Petapa muka dua. Semoga saja dia masih mau menerima aku jadi muridnya, aku juga akan memintanya untuk mengobati aku,"


ucap Wira Satriaji.


Malam itu Wira Satriaji seperti hewan pemakan rumput, memakan pangkal ilalang yang terasa sedikit manis, sungguh malah nasib bocah itu.


Setelah hari sebelum nya Wira Satriaji mendaki gunung semeru, pagi hari nya Wira Satriaji menelusuri berjalan turun.


Lebih sulit turun dari pada naik. Turun lebih melelahkan," gumam Wira Satriaji.

__ADS_1


Wira Satriaji kembali menguatkan hatinya demi mencari Petapa muka dua. kaki mungil bocah itu berjalan tanpa alas sudah penuh luka karena banyaknya diri yang terinjak oleh kakinya.


Semua itu tak menyurutkan sedikitpun semangat dari Wira Satriaji, api amarah dan api dendam membuat tekadnya menjadi kuat, sedikitpun tak ada niat untuk mundur.


Berkali-kali Wira Satriaji harus naik ke atas pohon karena bertemu dengan hewan buas yang membahayakan hidupnya.


"Selamat ... selamat ...!! ucap Wira Satriaji setelah selamat dari kejaran seekor serigala yang mengejarnya. Jika bukan karena rimbunnya hutan mungkin Wira Satriaji tak akan selamat dari kejaran serigala itu.


Wira Satriaji celingak-celinguk melihat ke kiri dan ke kanan, apakah serigala itu masih ada,


dengan senyum pahit Wira Satriaji turun dan meneruskan langkah mencari Petapa Muka Dua.


"Aku dari tadi tetap di sini saja! Apa aku tersesat??" ucap Wira.


Wira Satriaji memandang sekelilingnya.


"Aku akan mencoba lagi untuk berjalan!"


Wira Satriaji kembali mengayunkan kakinya, setelah berjalan cukup jauh dia kembali lagi ketempat awal dia berada.


"Apa-apaan ini? Aku berjalan di sini-sini saja dari tadi. Sialan!" maki Wira Satriaji kesal dengan keadaannya saat ini.


Wira Satriaji duduk berpikir apa yang harus diperbuatnya.


"Woy ... penghuni hutan keluarlah!!" teriak Wira Satriaji.


"Sial ... sungguh sialan!" teriak Wira Satriaji.


Wira Satriaji yang awalnya menurun kaki ini mencoba mendaki keatas, dia berpikir jika dia naik keatas maka dia akan selamat.


Rasa lelah tak dapat lagi berkompromi dengan Wira Satriaji. tapi demi keluar tempat itu Wira Satriaji menahan rasa lelah nya. dan terus saja naik mendaki.


"Apa apa ini? Tak mungkin!!" desis Wira Satriaji saat dia tetap kembali ketempat dimana dia menaiki pohon saat menyelamatkan diri dari serigala yang ingin memangsanya.


"Aku capek! Sebaiknya aku istirahat saja. Pasrahkan sajalah," ucap Wira Satriaji


Wira Satriaji menyerah untuk mencari jalan keluar dari tempat itu, dia memilih untuk membaringkan tubuhnya yang telah melewati batas rasa lelahnya, tanpa sadar Wira Satriaji tertidur pulas di atas tanah.


Saat Wira Satriaji tidur sesosok tubuh hitam keluar dari rimbun nya hutan dan menatap tubuh Wira Satriaji yang tertidur.


"Akhirnya aku dapat mangsa muda. Dagingnya pasti masih empuk," gumam bayang itu dan mulai mendekati Wira Satriaji.


"Hik ... hik ... hik ...!!"

__ADS_1


Suara cekikikan mengagetkan bayangan hitam itu, dia menatap kearah suara tawa itu.


"Nyai Sara??" ucap bayangan hitam itu kaget.


"Kenapa? Apa kau ingin mengambil mangsaku Lambo??" tanya perempuan yang bernama nyai Sara.


"Tidak nyai, aku akan pergi" Sosok hitam itu kembali menghilang kedalam rimbun nya pepohonan. Dia sungguh ketakutan pada sosok yang bernama nyai Sara itu.


"Hik ... hik ... hik ...!!"


Suara cekikikan itu makin keras dan mengganggu tidurnya Wira Satriaji. Bulu kuduknya langsung berdiri saat mendengar suara tawa yang menyeramkan itu.


Dia memandang ke kiri dan ke kanan, saat pandangannya mengarah ke atas wajahnya langsung pucat memutih, Wira Satriaji melihat seorang perempuan dengan taring memanjang diantara giginya.


"Kau ... kau siapa?!" tanya Wira Satriaji gugup sambil menunjuk kearah nyai Sara.


"Hik ... hik ... hik ...!!"


"Malam ini aku akan makan daging yang begitu muda," ucap nya Sara.


Nyai Sara turun dari atas pohon dan mendekati Wira Satriaji.


"Cah bagus! kau harusnya merasa terhormat karena bisa menjadi bagian dari nyai Sara yang terkenal," ucap nyai Sara yang berjalan semakin dekat kearah Wira Satriaji.


"Menjauh dariku, aku bukan makananmu," teriak Wira Satriaji yang semakin ketakutan.


Sedikitpun tak ada dalam pikiran Wira Satriaji akan mati di makan oleh seseorang pemakan manusia.


"Diam!!" Bentak nyai Sara dan mencengkram


leher Wira Satriaji.


"Kau tak memilih hak untuk menawar!"


Jari panjang nyai Sara mulai menusuk lehernya Wira Satriaji, cekikan itu sangat kuat membuat Wira Satriaji kehilangan nafas.


"Ahhhhh!!"


Suara Wira Satriaji yang mulai kehabisan nafas, setelah itu semuanya gelap. Wira Satriaji tak merasakan lagi tubuhnya.


Nyai Sara mendekati tubuh Wira Satriaji, nyai Sara membasahi mulutnya karena sangat selera akan tubuh muda Wira Satriaji.


"Lepaskan anak muda itu. Dia milikku!!"

__ADS_1


Suara dari seorang lelaki mengagetkan nyai Sara.


******


__ADS_2