Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Jubah bertopeng


__ADS_3

Teriakan diluar rumah mengagetkan Wira Satriaji dan ibunya yang berada dalam rumah.


Mereka begitu kaget dengan teriakan keras itu.


"Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan disini? Apa kau berbuat masalah Wira??"


tanya ibunya.


Wira Satriaji diam tak berani untuk menjawab.


Lidahnya begitu kelu untuk menjawab pertanyaan ibunya itu.


"Brakkkkk!!"


Pintu rumah yang sudah kapuk, langsung hancur berantakan karena terkena tendangan


dari jubah bertopeng.


"Hanya bocah kecil dan wanita tua! keluar!!"


Jubah bertopeng menarik ibu Wira Satriaji memaksa untuk keluar dari rumah mereka.


Jubah bertopeng tanpa merasa sedikit pun kasihan menarik Bu Surti dan Wira Satriaji dengan paksa, menyeretnya bagaikan hewan yang tak berarti.


"Ibu ...!! jerit Wira Satriaji.


Wira Satriaji menjerit dan masih termangu melihat wajah tertutup Jubah bertopeng, Wira merasa mengenal wajah itu, tapi dia tak tahu dimana dia melihat wajah yang tertutup.


"Ampun ...!!" jerit ibu Wira Satriaji.


Teriakan itu menyadarkan Wira Satriaji, dia berlari ke arah ibunya.


"Jangan sakiti ibuku! Aku ... aku saja kau hajar!" teriak Wira Satriaji dan langsung memeluk ibunya yang terbaring di tanah. Tubuh Wira Satriaji menutupi tubuh ibunya dari pukulan demi pukulan yang diayunkan oleh jubah bertopeng.


"Hahaha!!"


"Sungguh menyenangkan ... sungguh menyenangkan!!" teriak jubah bertopeng yang terus saja menendang tubuh Wira Satriaji yang menutupi tubuh ibunya.


"Biadaaaab!!!"


Sebuah teriak dari samping tak membuat jubah bertopeng kaget, bahkan saat sebilah parang menyerang lehernya dia tetap membiarkannya.


"Taaangggg!!"


Parang itu seperti menghantam logam keras, padahal parang itu mengenai telak leher jubah bertopeng.


"Plakkkk!!!


Jubah bertopeng mengayunkan tangannya yang dialiri energi tenaga dalam, ayunan itu begitu cepat menghantam orang yang menyerangnya.


"Ahhhhhh!!"


Penyerang itu menjerit cukup keras, kepalanya seperti tertimpa batu besar, penyerang itu juga terjatuh tak jauh dari Wira Satriaji dan ibunya.


"Ayah ...!!" jerit Wira Satriaji dan berdiri melompat ke arah tubuh pak Yatno.


"Keluarga yang tak berguna,"


"Bammmm!!"


Kaki jubah bertopeng menendang tubuh


Wira Satriaji. Tubuh kecil itu terlempar dan terluka meskipun tak parah.


"Kalian sudah bermain main dengan juragan Hasan, sekarang terima lah akibat nya. Aku Jubah bertopeng akan membunuh kalian" ucap jubah bertopeng dengan suara yang serak penuh menakutkan.


"Jubah bertopeng??"


Telinga Wira Satriaji mendengar nama jubah bertopeng langsung mengenal nama itu, dan bayangan perempuan datang ke kepalanya.


"Ibu ...!!" jerit Wira Satriaji yang sepertinya sudah mendapatkan kembali ingatannya.


"Hahaha!!"

__ADS_1


"Bocah bodoh, kau sedikit pun tak berguna,"


Jubah bertopeng mengambil parang milik


pak Yatno yang tergeletak di tanah.


"Pertama aku akan membunuhmu dulu," ucap jubah bertopeng dan berjalan ke arah


pak Yatno.


Jubah bertopeng memperlihatkan amarah karena pak Yatno menyerang dirinya


dari belakang.


"Berani kau menyerang ku!" kata


jubah bertopeng dan duduk didekat tubuh


pak Yatno yang sudah terluka parah.


Parang ditangannya bergerak ke perut


pak Yatno, tanpa sedikitpun kasihan


jubah bertopeng menyayat tubuh pak Yatno


bagaikan menyayat hewan kurban.


"Aaawwwww!!" jerit pak Yatno yang merasakan sakit yang luar biasa"


"Hahaha!!"


"Lelaki tak boleh cengeng. Itu belum seberapa."


Jubah bertopeng kembali mengiris tubuh


pak Yatno, sungguh penyiksaan yang tak manusiawi. Cairan tubuh berwarna merah mulai keluar membasahi tubuh pak Yatno.


"Matilah .!!!" teriak jubah bertopeng dan menebas kepala pak Yatno, kepala


dari tubuhnya.


"Ayah!!" jerit Wira Satriaji dan berlari kearah mayat ayahnya.


"Nanti giliranmu bodoh!!"


Kaki jubah bertopeng menendang tubuh


Wira Satriaji dan kembali terlempar jauh.


"Sekarang giliranmu nenek peot," ucap


jubah bertopeng dan menghampiri tubuh Bu Surti yang terbaring lemas di tanah.


"Plakkkk!!"


"Ajarin anakmu untuk sopan pada orang."


"Plakkkk!!"


"Sadar diri kau siapa, dan siapa yang pantas untuk kalian pandang."


"Plakkkk!!"


"Ini balasan dan hukuman untuk orang yang tak tahu diri seperti keluarga kalian."


Jubah bertopeng menampar sambil memberikan perkataan yang merendahkan kepada Bu Surti. Tubuh Bu Surti semakin lemas, apabila menerima tamparan demi tamparan keras dari jubah bertopeng.


"Ibu!!" kembali Wira Satriaji menjerit keras, tapi dia sudah tak mampu untuk berbuat apa-apa, tubuhnya sudah mengalami luka yang semakin parah.


"Matilah!!"


Seperti halnya suami Bu Surti, Bu Surti juga mengalami perlakuan yang sama.

__ADS_1


"Bless.!!"


Parang di tangan jubah bertopeng meluncur cepat dan memotong rapi dileher Bu Surti, kepalanya menggelinding terlepas dari tubuhnya.


Air mata dari mata Wira Satriaji yang sudah mengalir dari tadi semakin tak terbendung, kembali orang-orang yang didatanginya tewas


ditangan orang yang sama, ditangan jubah bertopeng.


Mata Wira Satriaji menatap jubah bertopeng dengan mata yang penuh dendam, matanya penuh dengan amarah yang membuncah.


"Aku akan membunuh mu ...!!" jerit Wira Satriaji


Hahaha!!"


"Membunuhku? Dengan apa bocah? sedangkan untuk berdiri kau sudah tak mampu!!"


Jubah bertopeng mendekati Wira Satriaji, Juba bertopeng memegang dagu Wira Satriaji


sangat keras.


"Kau tak akan mati semuda mereka" kata jubah bertopeng menunjuk pada mayat ayah dan ibu Wira Satriaji.


"Kau akan mengalami penderitaan sebelum kau mati!!"


"Hahaha!!"


Jubah bertopeng menempelkan tangannya


ditubuh Wira Satriaji.


Wira Satriaji merasakan tubuhnya sangat kepanasan, tubuh Wira Satriaji menggelepar bagaikan ayam disembelih.


"Hahaha!!"


"Selamat dua hari kau akan menderita sakit yang menyakitkan, aku sudah menanamkan racun kelabang di tubuhmu. Meskipun kau kuat, kau tak akan mampu bertahan. Hanya orang yang memiliki energi tinggi yang akan mampu menghilangkan racun itu."


"Hahaha!!"


"Selamat menikmati kematianmu bocah," ucap jubah bertopeng.


Jubah bertopeng berbalik meninggalkan Wira Satriaji yang menggelepar meronta menahan panas di sekujur tubuhnya.


"Arrgghh!!"


"Panassss ... sakit..!!" desis Wira Satriaji menahan semua siksaan ditubuhnya.


"Bakar rumah mereka, Dan bakar mayat mereka," perintah Jubah bertopeng kepada anak buahnya.


Anak buah jubah bertopeng menyeringai mendengar perintah dari ketua mereka. Anak buah jubah bertopeng melemparkan tubuh ibu dan ayah Wira Satriaji kedalam rumah.


"Bagaimana dengan bocah itu ketua??" tanya salah satu anak buah Jubah bertopeng.


"Biarkan saja, dia akan tewas dalam dua hari. Biarkan dia melihat pemakaman ayan dan ibunya," Jawab jubah bertopeng.


Tanpa menunggu perintah dua kali lagi anak buah Jubah bertopeng membakar rumah Wira Satriaji yang sudah rusak dan tak layak pakai. api dengan cepat membumbung tinggi.


"Ayahhhh ... Ibuuuuuuuuu!!" teriak Wira Satriaji sekuat tenaga yang dimilikinya.


Wira Satriaji ingin berlari kearah api itu, tapi kondisi tubuhnya memaksanya untuk diam karena tak mampu untuk bergerak.


Bau daging terbakar mulai terhirup di hidung


Wira Satriaji, air mata tak tertahan jatuh.


"Maafkan aku ibu ... ayah!!" ucap Wira Satriaji


lemas


Penduduk yang melihat kejadian itu tak ada satu pun yang berani untuk mendekat, apa lagi untuk menolong.


"Aku akan mengikuti kalian ke surga Bu!"


Tunggu aku.

__ADS_1


******


__ADS_2