
"Guru ... Ada apa???"
Suara dari Wira Satriaji terhenti di tenggorokannya. Wira Satriaji hanya bisa melihat gurunya bersila dan tak mengerti apa maksud dari gurunya.
"Hahahaha!!"
"Sungguh keberuntungan, akhirnya aku melihat dan menemukanmu juga." Suara itu dari suara serak milik setan jelangkung.
Petapa muka dua membuka matanya.
"Aku tak menyangka jika cadar hitam akan mengirim mu mencari ku? Dasar tak ada harga diri!" ejek Petapa muka dua.
"Huh, kau pikir aku peduli semua perkataan mu? Sedikitpun tidak!"
Setan jelangkung yang tahu kemampuan Petapa muka dua meloloskan senjata berbentuk clurit dari pinggangnya. Dia berjalan kearah Petapa muka dua.
Petapa muka dua yang sudah memang pasrah tak berniat untuk melawan, meskipun melawan sudah di pastikan dia kalah telak, selain racun sudah menyebar di seluruh nadinya,hampir semua tenaga dalam telah diberikan pada Wira Satriaji.
"Apa kau tak akan memberiku perlawanan? Atau kau memiliki rencana lain??" tanya setan jelangkung sedikit waspada.
Petapa muka dua hanya diam tak menjawab, dia sudah pasrah, dia hanya berharap kalau keberadaan Wira Satriaji tak diketahui oleh setan jelangkung dan rekan-rekannya.
"Aku mungkin akan memberimu kesempatan hidup, tapi itupun jika kau serahkan apa yang telah kau ambil! Bagaimana Petapa bodoh??"
tanya setan jelangkung mencoba merayu dengan memberikan pilihan.
"Hmmm, aku tak mungkin memberikan apa yang sudah aku ambil, dan aku juga tak percaya dengan kalian." jawab Petapa muka dua.
Kebo bungkuk yang juga sudah sampai melesat ke arah setan jelangkung.
"Apa dia membawa kitab itu??" tanya kebo bungkuk.
"Aku tak tahu, sebaiknya kita periksa saja sendiri." kata setan jelangkung.
"Aku atau kau yang akan membunuhnya??" tanya kebo bungkuk.
"Sebaiknya aku saja, tanganku sudah gatal ingin membunuhnya," jawab setan jelangkung.
Dalam satu gerakan cepat, setan jelangkung langsung melesat dengan senjata clurit di tangannya.
"Whutttttt!!"
Begitu cepat gerak dari setan jelangkung, clurit nya menebas tak tertahan. Petapa muka dua menutup matanya saat melihat gerakan cepat dari setan jelangkung.
"Selamat tinggal Wira Satriaji," gumam Petapa muka dua.
__ADS_1
"Crasssssss!!"
Tak ada jeritan kesakitan, tak ada sedikitpun perlawanan, kepala Petapa muka dua terlepas dari lehernya, tebasan dari setan jelangkung begitu rapi, setelah menggelepar sebentar tubuh Petapa muka dua diam untuk selamanya, kembali pada penciptaannya. Cairan berwarna merah membasahi rumput tempat Petapa muka dua tewas.
"Guru...!!!" Teriak Wira Satriaji yang di sembunyikan dibalik rimbunnya pohon. Tapi seperti dari awal, suaranya tak keluar dari tenggorokannya.
Air mata tak tertahan dari matanya, kedukaannya semakin bertambah, dia baru saja menemukan kasih sayang dari seorang guru, dari seorang kakek, tapi orang yang disayang nya harus tewas, dan kembali tewas didepan matanya.
Setan jelangkung merasa heran karena tak mendapatkan sedikit pun perlawanan, dia awalnya berharap akan mendapatkan perlawanan dari Petapa muka dua, tapi semua tak seperti yang diinginkan. Petapa muka dua tewas hanya satu kali tebasan.
"Kenapa dia tak melawan? Apa yang direncanakan Petapa muka dua sebenarnya??" gumam setan jelangkung tak mengerti.
Kebo bungkuk mendekati mayat Petapa muka dua, dia memeriksa semua tubuh yang mulai kaku itu.
"Bagaimana? Apa ada padanya??" tanya setan jelangkung.
Kebo bungkuk menggeleng lemas.
"Dimana keparat ini menyembunyikan kitab itu? kita harus menemukannya!" maki setan jelangkung.
"Sardi! Wardi.!!"
"Periksa semua sudut tempat ini, kalian harus menemukannya," perintah setan jelangkung.
Sardi dan Wardi bergerak menuju dua arah mata angin di sekitar gunung semeru.
"Aku tak habis pikir! Kenapa dia begitu pasrah? Apa yang membuatnya begini??"
"Aku sangat mengenalnya, dia orang yang tak mau kalah. Tapi kali ini aku tak melihat sedikitpun niat bertarung dalam dirinya. Ada apa dengan Petapa muka dua??" gumam setan jelangkung.
Pikiran setan jelangkung masih memikirkan semua yang baru terjadi.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Atau? Ahhhh ... sudahlah! Itu tak perlu aku pikirkan, sebaiknya aku membantu mencari kitab itu.
Setan jelangkung pergi ke arah lain untuk mencari kitab pedang seribu.
Saat sore mulai menutupi gunung semeru mereka berempat kembali bertemu ditempat dimana Petapa muka dua tewas, tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap mereka dari atas pohon. Mata yang penuh dendam.
"Aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri. Kalian tak akan selamat dari kematian!" desis sosok yang melihat itu dalam hatinya.
"Bagaimana langkah selanjutnya??" tanya kebo bungkuk pada setan jelangkung.
"Sebaiknya kita kembali, kepala Petapa muka dua sudah ada di tangan kita. Petunjuk tentang kitab itu juga tak ada kita dapatkan. Sebaiknya kita menunggu perintah selanjutnya." jawab setan jelangkung.
__ADS_1
"Aku ragu!" kata kebo bungkuk
"Ragu kenapa??" tanya setan jelangkung.
"Kau pasti tahu bagaimana ketua cadar hitam, dia pasti akan memberikan kita hukuman, pasti itu..!!" kata kebo bungkuk.
"Kau takut? Kita harus tetap kembali, kalau kita tak kembali malah kita akan jadi buronan golongan hitam. Sebaiknya kita menceritakan yang sebenarnya kepada ketua. Mungkin ketua akan memberikan kita keringanan." kata setan jelangkung.
"Apa kau yakin jelangkung??" tanya kebo bungkuk.
"Terus apa lagi? Apa kau ingin melarikan diri? Sampai kapan kau bisa bertahan dari kejaran golongan hitam??" jawab setan jelangkung.
"Kebo bungkuk diam, dia memang sudah takut untuk kembali. Kebo bungkuk takut mendapatkan hukuman dari ketua mereka, cadar hitam.
"Sardi, Wardi, kalian akan ikut aku atau ragu seperti kebo bungkuk??" tanya setan jelangkung.
"Aku akan kembali, dan aku yakin Wardi akan ikut denganku," jawab Sardi.
"Kau bagaimana kebo bungkuk? Apa akan di sini atau ikut kembali??"
"Jawab! Jangan ragu-ragu!!!" bentak setan jelangkung.
Baik, aku akan ikut saja, kita mungkin akan dapat hukuman, tapi itu tak lebih buruk dari pada jadi kejaran para golongan hitam" ucap kebo bungkuk memutuskan keputusannya untuk ikut kembali ke markas.
"Bagus kalau kau mengerti," kata setan jelangkung.
Setan jelangkung berjalan kearah terletak nya kepala Petapa muka dua, dia membungkus kepala itu dan menentengnya membawa sebagai bukti jika mereka sudah melaksanakan tugas dengan baik.
"Baik, ayo kita kembali!" ajak setan jelangkung
"Huppp!!"
Setan jelangkung mengempiskan tubuhnya dan terbang duluan menuruni gunung semeru.
Wira Satriaji yang masih dalam kondisi tertotok hanya bisa memandang dengan tatapan dendam, dia menangis karena tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu gurunya.
Tengah malam semakin dingin, barulah totokan itu terbuka sendiri, tubuh Wira Satriaji jatuh berdebar ketanah. Wira langsung berlari menuju tubuh gurunya.
"Guru...!!" teriak Wira Satriaji.
Wira Satriaji memeluk erat tubuh kaku guru nya yang telah tewas. Air matanya tak berhenti jatuh menetes.
"Aku pasti akan membalaskan dendammu guru."
"Cadar hitam kau tunggu kematianmu...!!"
__ADS_1
*****