
Setelah Wira Satriaji menguasai sepenuhnya jurus-jurus jari Petapa muka dua kembali memberikan jurus baru pada Wira Satriaji.
"Tapak api!"
"Tapak api juga terbagi tiga jurus!"
"Tapak kematian. Tapak suci dan tapak bara api!"
Petapa muka dua menjelaskan dan memperagakannya seperti saat memperagakan jurus jari api.
karena Wira Satriaji sudah menguasai jari api yang memang dasar dari jurus tangan api, jurus tapak api juga mampu Wira Satriaji kuasai dalam tiga hari.
"Hahaha!!"
"Belum sampai satu purnama kau belajar ilmu silat, tapi kau sudah menguasai jurus-jurus ku
Wira Satriaji. Guru sangat bangga padamu"!" ucap Petapa muka dua dengan wajah yang berseri.
"Terima kasih guru, semua itu bimbingan keras dari guru."
"Sekarang guru akan memberikanmu jurus pukulan api. Dan terakhir tendangan api." kata Petapa muka dua.
"Pukulan api merupakan pukulan jarak jauh. Tak akan di pergunakan untuk pertarungan jarak pendek. Pukulan api bisa kau gunakan saat musuhmu akan melarikan diri." Kata Petapa muka dua menjelaskan pada Wira Satriaji.
"Pa kau paham Wira??" tanya Petapa muka dua.
"Iya guru, Wira paham!"
"Sekarang kau pergilah ke air terjun di bawa sana. Kau berlatih di sana. Lawan air terjun itu!" perintah Petapa muka dua.
Satriaji turun dari gua dan menuju air terjun. Wira Satriaji memukul apa saja yang disekitar air terjun itu, batu kayu bahkan air bergejolak karena pukulan dari Wira Satriaji. itu pukulan yang masih menggunakan tenaga biasa, belum menggunakan tenaga dalam.
Sementara itu di gua tinggal sendirian Petapa muka dua.
"Aku merasa racun ini semakin menyiksaku. Rasanya aku tak mampu bertahan lama. Aku harus segera mengajarkan pada Wira dasar-dasar ilmu pedang. Setelah itu aku akan memberikan kitab pedang seribu. Dan aku bisa pergi dengan tenang." gumam Petapa muka dua.
"Uhukk ... uhukkk...!!"
Petapa muka dua batuk begitu keras, dari mulut nya menyembur cairan kental berwarna hitam pekat.
"Tak apa waktu lagi, aku harus mulai mengajari Satriaji besok pagi."
"Wira Satriaji! kembali lah!" suara itu di lembar dengan tenaga dalam.
"Guru memanggilku??"
Wira Satriaji bergegas kembali dengan baju yang sudah basah.
"Ada apa guru??" tanya Wira Satriaji.
"Duduk lah, guru akan bercerita sedikit dengan mu."
"Bercerita? Apa guru??" tanya Wira Satriaji.
"Sebenarnya hidup guru tak lama lagi, guru sudah diracuni oleh seseorang yang bernama Sardi, anak buah dari cadar hitam."
__ADS_1
"Tak lama lagi? Cadar hitam? Guru ... jangan tinggalkan Wira!!"
Tanpa sadar air mata Satriaji menetes tak tertahan.
"Ini guru berikan padamu."
Petapa muka dua memberikan kitab pedang seribu ke tangan Satriaji.
Wira Satriaji tak butuh semua ini guru, Wira ingin guru tetap bersama Wira." ucap Wira Satriaji.
"Diam dan dengarkan guru! Besok guru akan mengajari dasar-dasar dari bermain ilmu pedang. Setelah itu kau harus belajar sendiri, dengan kitab ini guru yakin kau akan menguasai dunia persilatan."
"Tidak guru, tidak! Wira hanya ingin bersama guru."
Air mata Wira Satriaji semakin membasahi lantai gua.
Petapa muka dua berdiri dan berjalan ke belakang Wira Satriaji.
"Tukkkkk!!"
Petapa muka dua menotok Wira Satriaji, setelah itu dia menempelkan telapak tangannya di punggung Wira Satriaji.
Wira Satriaji merasakan sesuatu yang lain masuk ke dalam tubuhnya, itu sangat hangat, tapi perlahan lahan berubah menjadi panas. Petapa muka dua memberikan hampir seluruh tenaga dalamnya kepada Wira Satriaji.
"Huakkkkkk!!"
Petapa muka dua kembali muntah cairan kental berwarna hitam.
"Guru!!!" Wira Satriaji.
"Guru!!"
Wira Satriaji tak sepenuhnya mendengarkan semua perkataan gurunya, wajahnya sangat sedih dan tak tahu harus berbuat apa.
"Guru hanya minta padamu, lanjutkan dendam guru, bunuh cadar hitam untuk guru. Jika kau sudah melakukannya, maka kematian akan terasa akan damai."
"Guru tak akan mati, Wira akan mencari obat untuk guru. Guru harus tetap hidup. Guru harus melihat Wira berdiri di puncak dunia persilatan." ucap Wira Satriaji.
"Sudah! Guru ingin istirahat. Kau pun istirahat, staminamu harus kuat karena besok kau akan kembali berlatih." kata Petapa muka dua.
***
Di padang ilalang tempat biasa Wira Satriaji berlatih. di tangan Petapa muka dua sudah ada kayu panjang.
"Anggap ini sebuah pedang Wira," ucap Petapa muka dua, tapi itu tak terlalu didengarkan Wira Satriaji.
"Wira, fokus untuk berlatih" bentak Petapa muka dua.
"Iya guru! maaf!"
"Perhatikan! dasar dari ilmu pedang."
"Menebas, memotong dan mengiris. Setelah kau menguasai dasar dari ilmu pedang maka kau akan masuk ke seni pedang."
"Perhatikan guru akan peragakan!"
__ADS_1
Petapa muka dua memperagakan dasar ilmu pedang, meskipun tubuhnya sudah sangat lemas tapi dengan bantuan sisa tenaga dalamnya gerakannya tetap terlihat lentur dan memiliki seni dalam pedang.
"Apa kau melihatnya dan memperlihatkannya Wira??"
"Iya guru, Wira memperlihatkannya. Sekarang peragakan." perintah Petapa muka dua.
Wira Satriaji dengan malas memperagakan tapi semuanya serba tak jelas.
"Wira Satriaji!!"
"Apa kau ingin mengecewakan guru??" Bentak Petapa muka dua.
Wajah Wira Satriaji seperti kehilangan semangatnya.
"Berikan guru penghormatan mu, bersemangat lah. Apa kau tahu, guru bertahan hidup hanya demi kamu. Tapi sekarang kau mengecewakan aku." kata Petapa muka dua dengan sangat marah.
Wajah Satriaji menjadi pucat.
"Guru, maafkan Wira. Wira akan serius, Wira tak akan mengecewakan mu guru. Lihatlah guru, bagaimana Wira akan menguasai semua yang guru ajarkan?"
Wira Satriaji memperagakan semua gerakan dasar yang diajarkan oleh gurunya, meskipun masih banyak salah, tapi dengan adanya Petapa muka dua semua gerakan Satriaji yang salah di perbaiki oleh gurunya.
"Wira, kau memang selalu membanggakan guru. Guru benar-benar tak kecewa meskipun harus mati."
"Terima kasih guru," kata Wira Satriaji dan menghentikan latihannya.
"Wira! Ingat semua kata-kata guru. Tak ada putih dan tak ada hitam. Dan satu lagi jangan terlalu percaya pada perempuan. Perempuan hanya akan membuatmu lemah.
"Membuat lemah kenapa guru??" tanya Wira Satriaji.
"Kau akan tahu nanti, tapi tetap ingat, jangan terlalu percaya pada perempuan."
"Kau hanya ak.!!"
"Energi ini? Aku mengenalnya" Petapa muka dua diam dan wajahnya pucat karena merasakan energi yang sangat di kenalnya.
"Ini energi setan jelangkung" sepertinya mereka sudah menemukan keberadaan ku." kata Petapa muka dua dalam hatinya.
"Wira, apa kau membawa kitab itu bersamamu??"
"Bawa guru, ini! ada apa??" tanya Wira Satriaji dan menunjukkan kitab nya pada gurunya.
"Ada ap...?"
"Tuk ... tuk ... tuk...!!"
Tubuh Wira Satriaji langsung mati rasa saat gurunya menotok semua urat nadinya. Petapa muka dua mengangkat tubuh Wira Satriaji dan menyembunyikan di rimbunnya pepohonan. Setelah itu dia menyembunyikan hawa kehidupan dari Wira Satriaji.
"Guru ada apa??" tanya Wira Satriaji, tapi suaranya tak ada keluar sedikitpun.
Petapa muka dua pura-pura bersila, dan dari dua arah empat manusia berjalan kearahnya.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba!"
"Hahahaha!"
__ADS_1
"Kematianmu sudah dipastikan hari ini Petapa sialan!"