
"Ayah ... Ibu...!!!"
Suara lirih dari seorang bocah terbaring mengigau, mengagetkan Bu Surti yang menahan kantuknya.
"Kenapa nak? Bersabarlah
sebentar, suamiku sedang membeli obat untuk lukamu," bisik Bu Surti ke telinga bocah yang tak dikenalnya itu.
Wajah bocah itu pucat memutih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, panas mulai menyebar ke seluruh bagian badannya.
"Seperti nya anak ini juga demam, pasti akibat dari lukanya,"
"Mas Yatno ko bisa lama banget ya?! Apa ada yang menghalangi langkahnya?!" gumam
Bu Surti mulai gelisah.
Bu Surti berdiri dan mondar mandir di rumah yang didiami bersama suaminya.
"Akhirnya dia datang juga," gumam Bu Surti saat mendengar suara langkah kaki
diluar rumahnya.
Bu Surti membuka pintu dan menyambut suaminya.
"Bagaimana mana pak? Apa obatnya ada??" tanya Bu Surti.
"Ini Bu!!"
Pak Yatno memberikan obat untuk bocah yang dia temukan di dalam sungai.
Dengan telaten Bu Surti mengoles obat di punggung bocah itu. Rasa perih kembali membuat bocah itu merintih menahan sakit.
"Aduh ... aduh! sakit..!!!" Rintih bocah itu.
"Bersabarlah nak, tak lama lagi luka mu pasti akan mengering,"
"Aku akan merawat mu seperti anak ku sendiri, kau harus kuat," ucap Bu Surti lirih.
Pak Yatno datang dan menemani istrinya.
"Bagaimana keadaan nya??"
"Dia masih demam, mungkin karena lukanya itu," tunjuk Bu Surti ke arah punggung bocah itu.
"Bisa jadi mungkin iya, Bu."
Suami istri itu memandang pada bocah itu dengan tatapan iba, mereka tak mengetahui apa yang sudah dialami bocah itu.
"Menurut apa yang melukai bocah ini pak??"
"Seperti nya itu cakaran dari binatang buas Bu, tapi bagaimana bisa bocah sekecil ini berhadapan dengan binatang buas??"
Kedua suami istri itu memiliki pemikiran yang sama, siapa anak kecil yang di temukan oleh suaminya itu, bagaimana dia bisa hanyut dan tenggelam ke dalam sungai?.
"Sebaiknya kita tunggu saja dia sadar, semoga dia bisa mengingat semua yang telah dia alaminya, Sungguh nasib yang kurang beruntung." kata pak Yatno.
Bu Surti tak menanggapi perkataan suaminya, tapi dia membenarkan perkataan dari lelaki yang menemani hidupnya itu.
Kukuruyukk!!
Suara ayam jago menandakan jika hari telah pagi, suasana kota Jalak kembali ramai seperti biasanya.
__ADS_1
Kelopak mata seorang bocah terbuka dan memandang ke sekeliling tempat dia berbaring.
"Dimana aku??"
Mata bocah itu liar melihat ke segala arah.
"Siapa yang sudah menyelematkan aku??" Bocah itu mencoba untuk duduk, tapi luka di punggungnya menahannya untuk bergerak banyak.
Sssstttt!!
"Aduh ... punggung"ku!! bocah itu merintih menahan sakit.
"Kau sudah sadar nak??"
Bu Surti datang dengan wajah yang sumringah karena tahu bocah yang di rawatnya sudah sadar.
"Ibu siapa? Dan dimana aku sekarang??" tanya bocah itu.
"Panggil aja ibu bik Surti, suamiku menemukanmu tenggelam di sungai"
"Sungai???"
Mendengar cerita itu kepala bocah itu menjadi sakit tak tertahan.
"Kenapa? apa kau lupa??" tanya Bu Surti.
"Kepala ku sakit Bu!!" kata bocah malang itu dan memijit kepala nya.
"Sebaiknya kau istirahat saja, pulihkan dan sembuhkan saja dulu lukamu, nanti kita bicara lagi. Aku akan menyiapkan makan untuk mu," ucap Bu Surti dan meninggalkan bocah itu sendirian dikamar.
"Aku siapa ya? Bagaimana aku sampai di sini?
Siang mendekat begitu cepat, bocah itu kembali bangun, dan kali ini didepannya telah ada dua suami istri yang sudah menunggunya dari tadi.
Matanya nanar menatap suami istri itu, seperti mencoba mengenali, tapi sedikit pun tak ada dalam gambaran nya siapa dua manusia berlainan jenis yang ada didekatnya.
"Bagaimana keadaanmu??" tanya Bu Surti
Bocah itu diam, dia masih tak tahu harus menjawab apa, sekujur tubuhnya masih merasakan sakit yang terus menggelitik seluruh badannya.
"Apa tubuhmu masih sakit??" lanjut Bu Surti
Bocah itu angguk kepala.
"Siapakah kalian ini? Apa kalian mengenal ku?
Dan siapakah diri ku ini??" bocah itu akhirnya membuka suara.
Bu Surti memandang suaminya tak tahu harus menjawab apa.
"Apa kau tak ingat apa yang terjadi dengan dirimu??" tanya pak Yatno.
"Tidak! sedikitpun aku tak ingat apa-apa. Aku tak tahu mengapa aku di sini, aku tak tahu mengapa aku mengalami luka di punggung ini." jawab bocah itu.
"Mungkin kau belum sembuh, jadi pikiranmu belum jernih!"
"Sebaiknya kau makan."
Bu Surti memberikan makan untuk bocah itu.
"Apa kau bisa untuk duduk??"
__ADS_1
"Sepertinya bisa, aku akan mencoba."
Bocah itu berusaha untuk menahan sakit di badannya, entah apa yang membuat bocah itu begitu tegar dalam menghadapi semua yang sudah dilaluinya.
Bu Surti keluar kamar dan memanggil suaminya.
"Pak! Dia tak ingat apa-apa, apa yang harus kita katakan padanya??" bisik Bu Surti.
"Aku juga bingung Bu, tak tahu harus mengatakan apa pada anak itu."
"Menurut ibu bagaimana??" pak Yatno
balik bertanya.
"Ibu juga bingung, Bagaimana kalau...??"
Bu Surti membisikan sesuatu ke telinga suaminya.
"Ibu yakin? Apa dia akan percaya??" tanya pak Yatno tak percaya dan tak yakin dengan apa yang dibisikkan istrinya.
"Kalau tidak kita coba bagaimana mungkin kita tahu pak. Lagian menurut ibu itu yang terbaik untuk anak itu. Aku yakin itu akan mengembalikan mentalnya," jawab Bu Surti.
"Baik! Terserah ibulah, bapak ikuti ide ibu saja,
Bapak yakin ibu sudah memikirkan dengan matang." kata pak Yatno setuju dengan ide istrinya.
Wajah Bu Surti sumringah karena suaminya menyetujui ide yang di akan laksanakan.
"Semoga saja anak itu percaya ya pak. Ibu sangat berharap," ucap Bu Surti.
" Iya, bapak juga berharap seperti itu. Bapak juga terlanjur menyukai kepolosan bocah itu."
Pak Yatno dan Bu Surti kembali masuk ke dalam kamar, mereka melihat bocah itu sudah selesai makan, dan sudah kembali berbaring.
"Bagaimana makannya nak? Enak??" tanya
Bu Surti.
" Terima kasih Bu, bisa ibu jelaskan siapa aku??" kembali bocah itu kembali bertanya tentang jati dirinya.
Bu Surti menatap suaminya, pak Yatno angguk kepala dan seperti menyuruh istrinya untuk membuka jati diri dari bocah itu.
"Sebenarnya kau itu anak kami. Kemarin kau tenggelam, jadi kau lupa akan siapa dirimu,"
jawab Bu Surti dengan senyum hangat.
"Ibu?" Seru bocah itu kaget.
"Jadi bapak ini ayahku??" tanya bocah itu.
"Iya nak, bapak ini ayahmu" jawab pak Yatno terharu karena ada yang memanggilnya dengan panggilan ayah.
"Ayah ... Ibu!!" bocah itu sangat bahagia karena merasa kembali ke rumah.
"Bu, namaku siapa??" tanya bocah itu.
"Wira Satriaji " ucap Bu Surti pendek.
"Wira Satriaji??"
"Tidak buruk!!" ucap bocah itu.
__ADS_1