Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Menemukan Mayat Di Sungai


__ADS_3

Desa Klari sunyi mencekam, mayat mayat berserakan tercabik senjata, genangan cairan berwarna merah membahasi jalanan di desa itu.


Puluhan serigala yang mencium bau anyir dari cairan merah itu mendekat dan mulai melahap mayat-mayat tanpa ada yang menghalanginya.


Seorang bocah berjalan keluar seperti


mencari sesuatu, tapi matanya terbelalak melihat pemandangan yang begitu membuat buluk kuduknya berdiri, ketakutan terpancar jelas dari mata bocah itu.


Grrrrrrrr!!


Erangan serigala menyeringai tertuju pada bocah itu, kawanan serigala itu seperti terganggu akan kehadiran bocah mungil itu.


Bocah itu mundur perlahan lahan, tapi sekor serigala berjalan pelan mendekati bocah malang itu.


Grrrrrrrr!!


kembali serigala itu mengerang memperlihatkan gigi nya yang tajam. Serigala itu melompat dan memberikan cakaran ke tubuh bocah itu.


Ahhhhhh.....!!!!!" Jerit bocah dengan jerit menyayat hati menahan sakit di punggung nya. Bocah itu terlempar jauh, luka bekas cakaran memanjang di punggung nya.


"Sakit....!!!" Jerit bocah itu mulai menangis.


Saat bocah itu berbalik, serigala itu sudah bersiap untuk menerkamnya.


Jledaarr!!


Suara dentuman keras dari langit mengagetkan bocah dan serigala itu.


Dentuman itu membuat langkah serigala terhenti, naluri dari bintang buas itu merasa jika bocah itu tak boleh untuk di bunuh.


Byurrr!!!"


Hujan mulai jatuh dan membasahi bumi, bocah itu mencoba untuk berdiri, tapi luka punggungnya memaksa nya untuk tetap berbaring.


"Ayah! ibu.!! Bocah itu berteriak sekeras kerasnya.


Bocah itu kembali mencoba berdiri, dia menatap ke arah serigala yang mulai menjauh karena deras nya hujan. Bocah itu pergi ke kumpulan mayat yang sebagian sudah tak


dikenali lagi.


Bocah itu memeriksa satu persatu, mencari apa salah satu dari mayat itu adalah mayat ayahnya, tapi bocah itu tak menemukan mayat ayahnya.


"Dimana ayah?! Apa ayah selamat atau sudah habis di makan oleh serigala itu??" Bocah itu bertanya pada diri sendiri.


"Sekarang aku harus kemana? Aku tak


mungkin terus disini"


"Aku akan pergi mencari ayah!!"


Bocah itu berjalan tanpa alas menelusuri desa, tapi tetap tak menemukan ayahnya, Bocah itu melihat tapak kaki yang mulai


terhapus oleh air hujan.


"Ini mungkin tapak kaki dari para penduduk yang melarikan diri, Aku akan mengikutinya,"


Bocah itu mengikuti bekas tapak kaki itu,

__ADS_1


tanpa dia sadar jika tapak kaki itu bekas tapak kaki dari kelompok jubah bertopeng.


"Kemana bekas langkah ini akan berakhir??"


Bocah itu melongo dan termenung, karena terus mengikuti langkah itu tanpa sadar bocah itu terpeleset.


"Argh!!!"


Bocah itu menjerit dan jatuh tak tertahan ke dalam sebuah jurang yang dalam. bocah itu terus jatuh tak ada satu pun yang menahan tubuhnya untuk jatuh.


Byurrr!!!"


Tubuh bocah itu kembali selamat karena dia jatuh ke sungai yang ada di dalam jurang itu.


Akhhhh!!!


Bocah itu masih sempat menjerit, tapi itu tak lama, tubuh bocah itu perlahan lahan kalah oleh derasnya air sungai, dan hanya sebentar bocah itu hanyut di permainkan derasnya air sungai.


***


Sungai Bangkala, Sungai besar di kota Jalak. Sungai itu salah satu sumber mata


pencaharian penduduk selain menjadi kuli panggul di pelabuhan.


"Hoho!!!"


"Sepertinya jalaku mendapat ikan besar," gumam seorang nelayan.


Nelayan itu merasakan jalanya sangat berat, tapi wajah nya berubah pucat saat menarik jalanya naik ke atas. Bukan ikan yang di dapatkannya, tapi mayat bocah kecil yang sangat memilukan.


Nelayan itu mengangkat mayat itu dan


membaringkannya di sampan kecilnya.


"Eh ... dia masih hidup??" seru nelayan itu saat melihat nafas yang tersisa meskipun tak jelas.


"Aku harus membawanya kembali ke rumah,"


Nelayan itu mengambil dayung dan mendayung sampan nya dengan cepat,


sampai di tepi sungai nelayan itu langsung membawa bocah itu dalam gendongan nya.


"Aku harus cepat."


Langkah nelayan itu semakin cepat, gerimis hujan tak di pedulikannya, dia melangkah untuk sampai dengan cepat dirumahnya.


"Bu ... Bu! bukan pintu!!" teriak nelayan itu dari luar.


"Bapak? kenapa sudah kembali? Padahal baru saja berangkat!"


Dengan malas istrinya membuka pintu.


"Siapa dia pak??" tanya istrinya saat melihat suaminya membawa sesosok tubuh mungil.


"Jangan banyak tanya dulu, cepat ganti


pakaian nya agar tubuhnya hangat,Dan jangan lupa obati luka di punggungnya,"

__ADS_1


"Baik, pak!"


Perempuan yang sudah agak berumur yang juga istri dari nelayan itu tak melawan perintah suami nya, dia dengan telaten mengganti pakaian bocah yang di temukan oleh suaminya.


"Bapak menemukan anak ini dimana??" tanya istrinya.


"Bapak menemukannya tenggelam di sungai, bocah ini tersangkut di jala bapak, bapak kira tadi dia sudah jadi mayat. Tapi saat bapak melihat nafasnya masih ada bapak dengan


cepat membawanya kemari."


"Ganteng ya pak? Seandainya anak kita masih hidup mungkin sudah seumuran anak ini." tunjuk istrinya pada bocah yang di temukan oleh suaminya.


"Iya, Bu! sudah pasti itu Bu!"


Pak Yatno dan Bu Surti, suami istri yang tinggal di kota Jalak, kehidupan mereka sangatlah pas-pasan, pekerjaan pak Yatno


selain nelayan dia juga kuli panggul di pelabuhan.


Istrinya Bu Surti Juga bekerja sebagai


pembantu buruh cuci bagi orang kaya di kota Jalak.


Rumah yang mereka miliki tak pantas di sebut rumah, hanya tempat tinggal yang terbuat dari bambu dan atap dari ijuk aren, sungguh rumah yang tak pantas di sebut rumah.


Tanah sepetak yang mereka miliki, itu pun dulu peninggalan dari orang tua Bu Surti, di belakang ada pondok kecil yang tak terurus, yang biasa digunakan pak Yatno untuk istirahat siang.


"Namanya siapa ya pak??" tanya Bu Surti pada suaminya.


"Bapak mana tahu bu, asal nya saja bapak tak tahu, kita tunggu saja sampai dia sadar"


Bu Surti memilih diam, karena memang pertanyaan sangat bodoh, mana mungkin suami nya tahu siapa dan dari mana bocah itu berasal.


Akhhhhh!!!


Suara erangan dari bocah itu mengagetkan Bu Surti yang menjaga tidur bocah itu.


"Kenapa nak? Apa punggungmu perih??" tanya Bu Surti.


Bocah itu tak menjawab, bocah itu hanya mengerang dan belum membuka matanya.


" Seperti nya bocah ini belum sadar, dia pasti sangat kesakitan. Sungguh kasihan bocah ini."


"Pak, sebaiknya belikan obat untuk bocah ini, obat yang aku berikan tak mempan,"


"Uang dari mana Bu?? Untuk makan saja sulit"


"Simpanan kita saja pakai pak, nyawa bocah ini lebih penting."


"Ibu yakin??" tanya pak Yatno.


"Iya pak, ibu yakin, ibu sangat kasihan pada Bocah ini, Cepatlah pak." suruh Bu Surti.


Pak Yatno yang juga kasihan pada bocah itu pergi membeli obat untuk bocah yang tak di kenal nya itu.


"Bersabarlah sebentar ya, nak." bisik Bu Surti dan mengelus rambut bocah itu dengan kasih sayang.


*****

__ADS_1


__ADS_2