Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Bertemu


__ADS_3

Nyai Sara menoleh kearah suara keras itu, di seberang dia melihat seorang lelaki berbaju putih.


"Petapa tak tahu malu rupanya" ejek nyai Sara.


"Apa hak mu mengatakan jika dia milikmu??" tanya nyai Sara tak suka.


"Banyak omong!!"


Petapa muka dua langsung melesat dan menyerang nyai Sara. Tangan Petapa muka dua sudah berubah merah karena dialiri energi besar.


Wajah nyai Sara kaget melihat serangan mendadak yang dilancarkan Petapa muka dua. Tapi nyak Sara tak tinggal diam, dia bersiap menahan serangan dari Petapa muka dua.


"Bammmmmm!!"


Dentuman keras terdengar saat dua energi bertemu di udara, tangan dari Petapa muka dua ditahan oleh nyai Sara.


"Akh!!"


Nyai Sara menjerit keras karena kalah dalam adu kekuatan tenaga. Tubuh nyai Sara terlempar jauh dan baru berhenti setelah menabrak sebatang pohon besar.


"Apa kau masih ingin mencoba? kalau masih penasaran, ayo kita lanjutkan!"" tantang Petapa muka dua.


"Bedebah! sial!" rungkut nyai Sara karena kesal mangsanya diambil orang.


Nyai Sara menyeka cairan merah yang keluar dari hidungnya. itu menandakan jika nyai Sara mengalami luka yang tak bisa dipandang remeh.


"Sebelum kau membawanya, apa alasan mu menolong bocah itu? Selama ini aku dan kau tak pernah ada silang sengketa," tanya nyai Sara tak.mengerti alasan Petapa muka dua membantu Wira Satriaji.


"Asal kau tahu, dia kemari untuk mencari ku, Dia akan jadi murid ku!" jawab Petapa muka dua.


"Apa? Kau akan mengangkat seorang murid?


Kabar yang cukup mengagetkan" desis nyai Sara yang tak menyangka jika Petapa muka dua akan mengangkat seorang murid.


"Baik, aku mengalah, aku akan memberi muka untukmu! Tapi aku harap setelah ini tak ada silang sengketa antara kita." pinta nyai Sara.


"Aku tak akan pernah berurusan dengan mu,tapi kau juga harus berjanji untuk tak mengganggu murid ku ini. Bagaimana??" tanya Petapa muka dua.

__ADS_1


"Aku janji tak akan pernah menganggu dia" Jawab nyai Sara yang jengah harus berhadapan dengan Petapa muka dua.


"Aku akan membawanya."


Petapa muka dua mengangkat tubuh Wira Satriaji dan membawa ketempat tinggalnya.


Petapa muka dua membawa Wira Satriaji kedalam sebuah gua ditengah tebing di sebuah jurang di gunung semeru, gua itu sangat tersembunyi, itulah penyebab utama Wira Satriaji tak menemukan keberadaan Petapa muka dua.


"Aku tak menyangka kau akan mencari ku bocah. Ternyata kita berjodoh juga."


Senyum mengambang terlihat di wajah Petapa muka dua.


Dia memeriksa tubuh Wira Satriaji, wajah muka Petapa muka dua berubah menjadi pucat saat mengetahui dalam tubuh Wira Satriaji telah tertanam sebuah racun ganas.


"Bagaimana mungkin? Racun ini milik Jubah bertopeng! Bagaimana mungkin bocah ini masih bertahan?"


Petapa muka dua bergerak cepat dan menotok aliran dalam tubuh Wira Satriaji, dia mendudukkan Wira Satriaji dan memberikan totokan di bagian tubuh vital Wira Satriaji.


Saat dia memeriksa perut Wira Satriaji kembali dia kaget bukan kepalang.


"Bocah ini sangat beruntung! Dari mana dia mendapatkan mustika naga api? Aku tak menyangka jika murid ku akan memiliki salah satu mustika paling di cari. Ternyata mustika itu yang membantunya bertahan hidup, tapi cahayanya semakin redup itu artinya racun itu semakin kuat.


Huak!!"


Wira Satriaji memuntahkan cairan kental berwarna hitam pekat.


"Belum ... Ini belum cukup.Aku harus mengeluarkan semua racun di tubuhnya, jika tidak itu akan membahayakan dan menganggu aktivitas tubuhnya,"


Ternyata batas kekuatan manusia tetap ada batasnya, Wira Satriaji sudah dalam batasnya, meskipun mustika naga api terus menahan racun kelabang tapi itu hanya sementara.


"Aku harus secepatnya membuat penawar racun itu." ucap Petapa muka dua.


Petapa muka dua menotok aliran di tubuh Wira Satriaji, membuat pergerakan racun kelabang berhenti.


Petapa muka dua keluar dan mencari bahan untuk obat bagi Wira Satriaji, dia bergegas melawan waktu, jika terlambat maka nyawa Wira Satriaji akan dalam bahaya. Tak akan ada yang mampu menyelamatkan nyawa Wira Satriaji jika terlambat.


Petapa muka dua kembali dan di tangannya telah ada sebuah bubung bambu berisi ramuan obat untuk mengobati Wira Satriaji. Petapa muka dua mendudukkan Wira Satriaji, dia meminumkan ramuan itu, dan mendesak membantu dengan energinya, semua ramuan obati itu masuk ke tubuh Wira Satriaji.

__ADS_1


Racun kelabang mulai beraksi Karena merasa ada sesuatu yang ingin memusnahkan nya. terjadilah hal yang tak lumrah di tubuh Wira Satriaji.


"Akkkk!" jerit Wira Satriaji.


"Bertahanlah bocah. Aku yakin kau bisa bertahan." ucap Petapa muka dua yang kasihan melihat kesakitan dari Wira Satriaji.


Untuk sementara tubuh Wira Satriaji sedikit tenang. Petapa muka dua membalut leher Wira Satriaji yang terluka karena cakaran dari nyai Sara.


Tubuh Wira Satriaji tiba-tiba bergetar hebat, seperti terjadi benturan keras di tubuhnya, secara perlahan keringat mulai keluar dari pori-pori pemuda malang itu. Tapi keringat yang keluar itu bukan keringat biasa, tapi keringat bercampur warna hitam.


Ramuan buatan Petapa muka dua mendesak racun Kelabang untuk keluar, dan racun itu keluar melalui pori-pori di seluruh tubuh Wira Satriaji.


Dengan penuh kasih sayang Petapa muka dua membersihkan semua cairan yang keluar dari tubuh Wira Satriaji, cairan hitam itu keluar cukup banyak.


"Aku tak menyangka jubah bertopeng meracuni bocah sekecil ini! Apa masalah bocah ini dengan jubah bertopeng ya? Aku yakin jubah bertopeng ingin menyiksa bocah ini sampai mati," gumam Petapa muka dua.


"Akkkkk!!"


Rintihan Wira Satriaji menahan sakit. Bagaimana tak sakit, sesuatu yang di paksa keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya.


Setelah tak ada lagi cairan hitam yang keluar Petapa muka dua kembali meriksa tubuh Wira Satriaji, dan kali ini senyum yang mengembang terlihat di wajahnya.


"Kau sebaiknya istrahat, setelah beristirahat beberapa saat tubuhmu pasti akan pulih. Setelah itu aku akan melatih mu. Meskipun aku bukan guru yang baik, tapi kau akan jadi penerus semua jurus jurus ku," gumam Petapa muka dua dan menatap wajah Wira Satriaji yang mulai berwarna.


"Kau pasti mengalami hal yang berat, hingga kau memutuskan untuk mencari ku kemari seorang diri. Aku akan menunggumu sadar, barulah aku menanyakan apa yang kau inginkan. Tapi sebelumnya aku akan memberimu makan.


Pertapa muka dua keluar dari gua dan terbang mencari makanan, makanan untuknya dan untuk Wira Satriaji.


Bau dari daging yabg di bakar membangunkan Wira Satriaji.


"Aku dimana??" gumam Wira Satriaji dalam hatinya.


Wira menoleh arah bau makanan itu, di sana duduk seorang lelaki berbaju putih.


" Kau sudah bangun rupanya." kata orang itu dengan senyum hangat kearah Wira Satriaji.


"Petapa muka dua!!" desis Wira Satriaji.

__ADS_1


******


__ADS_2