
Tubuh Wira Satriaji tak jauh dari api dan melihat bagaikan api itu membara dan bagaimana api itu padam. Wira Satriaji hanya mampu untuk menangis tanpa mampu berbuat apa-apa.
Wira Satriaji merasakan aliran dalam tubuhnya menggelepar
"Huak!!"
Wira Satriaji muntah cairan berwarna hitam. Itu akibat dari racun kelabang milik Jubah bertopeng.
Setelah mengeluarkan cair berwarna hitam itu semuanya gelap, Wira Satriaji pingsan terbaring di tanah.
"Ada apa dengan tubuhku??" kenapa begitu ringan??" Wira Satriaji heran dengan kondisi tubuhnya begitu dia sadar dari pingsan.
Meskipun dengan luka dan racun Kelabang Wira Satriaji mampu untuk berdiri walaupun
dengan susah payah. Wira Satriaji berjalan menuju tumpukan puing rumahnya, dia mencari apakah masih ada sisa dari ayah dan ibunya.
Air mata Wira Satriaji jatuh menetes saat melihat dua tengkorak dan tulang belulang di antara puing rumahnya.
Wira Satriaji mengumpulkan semua tulang belulang yang tersisa yang sudah hampir menjadi debu, Wira membuka bajunya dan membungkusnya menjadi satu. kerangka itu menjadi buntalan kecil yang tinggal hanya segenggam tangan Wira Satriaji.
"Ayah ... Ibu! Aku tak akan mengubur kalian sebelum aku membunuh jubah bertopeng. Aku akan hidup Dan aku akan membalas dendam kematian kalian!"
"Itu janji anakmu!" desis Wira Satriaji dengan mata yang penuh dendam.
"Argh!!"
Jerit Wira Satriaji sekuat - kuatnya, seperti mengeluarkan seluruh kesedihan dalam hatinya.
Wira Satriaji berjalan tertatih menuju pondoknya, Wira Satriaji mengumpulkan bajunya. Mata Wira Satriaji menatap buku usang.
"Aku akan membawa ini, aku yakin ini bukan buku sembarangan" gumam Wira Satriaji.
Wira Satriaji juga mengambil mustika yang menurut Wira Satriaji buah.
"Aku akan memakan buah ini, jika aku akan mati biarlah"
"Aku sudah tak peduli apapun" gumam Wira Satriaji.
Wira Satriaji menguatkan hatinya, perlahan dia menelan mustika berwarna putih itu. tubuhnya menerima sesuatu yang baru itu. dan tak menunjukkan sesuatu hal yang berubah pada tubuhnya.
"Sebelum mereka menyadari aku akan pergi dari kota ini!!" Sebaiknya aku bersembunyi di hutan!" gumam Wira Satriaji.
Wira Satriaji berlari kearah hutan, dia tak tahu kalau dia memiliki kekuatan itu karen totokan
dari Petapa muka dua yang telah membuat urat ditubuhnya.
Sesaat sebelum Wira Satriaji masuk ke hutan, dia menatap kearah kota.
"Aku akan datang, dan membalas dendam atas ketidakadilan yang kalian perbuat padaku," jerit Wira Satriaji dan mengembalikan tangannya keatas.
__ADS_1
Begitu Wira Satriaji sampai di hutan, tubuhnya menjadi panas dingin, keringat dingin juga mulai membasahi bajunya.
"Argh!!"
"Panassss!!"
"Dinginnnnn!!"
Tubuh Wira Satriaji terkapar jatuh ketanah,
menggelepar menahan sakit yang terjadi di tubuhnya.
"Apa ini reaksi dari racun itu? Sakit ... sangat sakti!" rintih Wira Satriaji.
Wira Satriaji tak menyadari tapi tepatnya anak muda itu tak tahu jika mustika yang telannya
telah memberikan reaksi, mustika itu melawan racun yang ada di tubuh Wira Satriaji.
Wira Satriaji tak tahu jika mustika yang di sangkanya buah beracun merupakan mustika yang paling di cari di dunia persilatan. mustika iku bernama mustika naga api.
Wira Satriaji pingsan lagi untuk kesekian kalinya, kali ini pingsan karena dalam tubuhnya terjadi antara pertarungan antara racun dan penawar. tapi itu tak diketahui oleh Wira Satriaji, kalau menurutnya itu reaksi dari racun Kelabang milik Jubah bertopeng.
Saat pajar datang Wira Satriaji kembali terbangun dari pingsannya, Wira Satriaji tak sadar jika dia sudah sehat meskipun dalam tubuhnya masih tersimpan racun dari racun Kelabang. wajahnya sudah mulai merona meskipun terlihat masih ada kepucatan di wajah mungil itu.
"Aku akan pergi ke gunung semeru. Tak ada lagi yang menerimaku selain lelaki itu. Aku harus jadi pendekar untuk membalaskan kematian ayah dan ibuku," ucap Wira Satriaji.
Wira Satriaji berdiri dan mulai berjalan menelusuri hutan.
Saat Wira Satriaji keluar dari hutan itu, dia menemukan sebuah kampung kecil.
"Bu, apakah aku boleh minta sedikit air??" pinta Wira Satriaji.
Pemilik rumah itu menatap Wira Satriaji dari atas sampai ke bawah, setelah melihat kalau Wira Satriaji tak membahayakan perempuan paruh baya itu memberikan Wira Satriaji secangkir air.
"Kau mau kemana nak??"
"Aku mau ke gunung semeru bibi, apa masih jauh??" tanya Wira Satriaji.
"Gunung semeru? Apa yang akan kau lakukan ke gunung angker itu??" tanya perempuan itu kaget.
"Aku mencari hidupku di sana bi, apa masih jauh??" kembali Wira Satriaji bertanya.
Perempuan itu tak mengerti dari jawaban Wira Satriaji.
"Itu gunung tinggi menjulang itu! Itulah gunung semeru." jawab perempuan itu menuju ke arah sebuah gunung tinggi.
"Terima kasih Bik!" kata Wira Satriaji tak lupa mengucapkan rasa hormatnya pada perempuan tua itu
Wira Satriaji tak lagi berucap apa-apa tapi mulai melanjutkan perjalanannya mencari tempat Petapa muka dua.
__ADS_1
Saat Wira Satriaji mulai mendaki dia mendengar suara raungan.
"Grrrrr!"
Itu raungan dari serigala lapar.
"Ayo makan aku, aku tak takut mati!" teriak Wira Satriaji yang memang sudah pasrah jika harus mati.
Wira Satriaji meneruskan langkahnya, dia tak memperdulikan apapun meskipun raungan serigala lapar terdengar semakin dekat.
"Hari mulai gelap, sebaiknya aku istirahat." gumam Wira Satriaji dalam hatinya.
Wira Satriaji menaiki sebatang pohon besar dan memilih tidur di pohon itu.
"Aku bukan takut mati, tapi aku tak ingin mati tanpa aku tahu apa yang membunuhku," ucap Wira Satriaji.
"Dimana ya tempat tinggalnya Petapa muka dua itu? Aku harus mencari di seluruh gunung ini? Tapi aku yakin dia pasti tinggal di puncak sana."
Wira Satriaji kembali teringat akan jubah bertopeng.
"Dua ibu sudah dibunuh olehnya, aku tak akan tenang sebelum aku balas dendam. Juragan Hasan! kau yang pertama akan mati." Kau tak boleh mati sebelum aku membunuhmu. Aku pastikan jika keluargamu tak akan tersisa di atas bumi ini," desis Wira Satriaji.
Amarah dan dendam telah menyatu dipikiran Wira Satriaji, membuatnya melupakan hitam dan putih, dendam harus terbalaskan.
Wira Satriaji tertidur dalam damai setelah melewati perjalanan yang cukup jauh.
"Bukkkk!!"
"Aduh!!"
Wira Satriaji meringis menahan sakit karena jatuh dari pohon tempat dia tidur.
"Sial! aku terlalu banyak bergerak."
Untungnya sudah pagi, aku akan meneruskan perjalananku," gumam Wira Satriaji.
"Kriukkkk?!"
Wira Satriaji memegang perut yang kelaparan.
"Tunggu sebentar ya perut! Aku akan mencari sesuatu untuk mengisi mu."
Wira Satriaji berjalan dan mendengar suara arus air.
"Sepertinya minum sudah cukup mengenyangkan."
Wira Satriaji mencari arah suara air itu, saat melihat sungai kecil jernih Wira Satriaji membasuh muka dan minuman air sebanyaknya untuk mengisi penuh perutnya.
"Baik, kau sudah terisi. saat mencari keberadaan Petapa muka dua itu.
__ADS_1
.