
Wira Satriaji menggerakkan seluruh tubuhnya, rasa penatnya hilang, biasanya pagi dia akan merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tapi kali ini berbeda, Wira Satriaji merasa memiliki semangat yang besar, dan memiliki perasaan yang berbeda.
"Nanti malam aku akan mencoba tehnik lain," gumam Wira Satriaji.
"Ibu!!" teriak Wira Satriaji.
Tak ada jawaban, Wira Satriaji pergi ke dapur dan makan pagi seperti biasa.
" Aku akan kehutan mencari kayu bakar, sepertinya ibu tak sadar jika kayu bakar telah habis," ucap Wira Satriaji saat melihat persediaan kayu bakar mereka telah habis.
Selesai makan Wira Satriaji pergi kehutan, dengan sebilah parang besar dia berjalan sendirian tanpa memiliki rasa takut, karena dia sangat mengenal hutan itu.
"Apa itu??" gumam Wira Satriaji saat melihat satu sosok putih berbaring di tanah.
"Apa dia hantu? Jika dia hantu kenapa hantu berbaring di hutan??" gumam berpikir sendirian.
Wira Satriaji memberanikan diri untuk mendekati sosok putih yang berbaring itu.
"Air!!" desis sosok itu pelan.
"Kau harus kakek tua??"
Wira Satriaji membuka bekal minumannya dan memberikannya dengan meneteskan ke mulut sosok berbaju putih yang
sudah ubanan.
Setelah minum beberapa tetes sosok tua itu membuka matanya.
"Apa kakek lapar??" tanya Wira Satriaji.
Kakek tua tak menjawab tapi menatap Wira Satriaji dengan tatapan tajam, tatapan yang penuh dengan intimidasi untuk membunuh.
Jiwa polos Wira Satriaji tak menyadarinya, malah dia membuka bekal makan siangnya.
"Ini kek, makanlah. Aku tahu kau lapar," ucap Wira Satriaji.
Kakek tua itu mencoba untuk duduk, tapi karena kondisinya yang lemas dia sangat kepayahan, Wira Satriaji membantu hingga kakek itu duduk dan bersandar di sebatang pohon.
"Makanlah kek!!" ucap Wira Satriaji.
Kakek tua itu memandang makanan depan nya dengan penuh kecurigaan.
"Kenapa kek? Apa kakek takut aku racuni??"
"Hahaha!!"
Wira Satriaji memakan bekalnya untuk menyakinkan kakek tua itu.
Kakek tua itu menunggu beberapa saat, setelah merasa bahwa Wira Satriaji tak mengalami apa-apa setelah makan, kakek tua itu pun makan dengan lahapnya.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja kek, ini minum dulu," kata Wira Satriaji geli karena melihat kakek tua itu makan sangat cepat.
Kakek tua itu merasa sangat malu.
"Seandainya orang lain, sudah aku pastikan kalau kepalanya terlepas dari tubuhnya, tapi anak ini lain! Dia sangat polos dan tak tau dengan seni silat. Sungguh percuma mengeluarkan tenaga membunuhnya," kata kakek tua itu dalam hatinya.
"Silahkan kakek lanjutkan makan nya, aku akan mengumpulkan kayu bakar, Aku juga harus cepat pulang, aku tau mau kelaparan seperti kakek!" ledek Wira Satriaji.
Kakek tua itu merah padam menahan amarah dan rasa malu, tapi belum sempat dia mengeluarkan amarahnya Wira Satriaji sudah meninggalkannya.
"Dasar bocah tak tahu diri, jika saja aku mau kau sudah mampus!"
Kakek tua itu bersungut-sungut sendiri karena menerima ledekan dari anak kecil. Selesai makan kakek itu duduk dalam posisi bersila, kakek itu sepertinya sedang memulihkan tenaga dalamnya.
Brukkkk!!
Suara kayu jatuh mengagetkan kakek tua itu, dia memang mendengar suara tapi tetap saja dia kaget karena kayu itu jatuh tak jauh dari tempat dia bersila.
"Kakek sudah baikan??" tanya Wira Satriaji berbicara sebelum Kakek tua itu bicara.
Hmmm!!
"Bocah sialan!" maki kakek itu dalam hatinya. Sungguh dia tak percaya jika anak kecil didepannya tak menghormatinya.
"Apa itu semua kayu yang kau bawa??" tunjuk kakek itu ke arah kayu bakar yang sudah
dikumpulkan oleh Wira Satriaji.
"Tidak ada! Namamu siapa??
tanya kakek tua itu.
"Wira Satriaji kek, aku penduduk kota Jalak."
Kakek tua itu memegang pergelangan tangan Wira Satriaji.
"Sangat mentah, dan belum memiliki dasar bela diri," ucap kakek tua itu.
"Apa yang mentah kek? Kayu bakar ku sudah kering kek," kata Wira Satriaji dan menunjuk ke arah kayu bakar yang di bawa.
Kakek tua itu rasanya ingin tertawa sekeras kerasnya karena jiwa polos dari Wira Satriaji.
"Apa kau mau jadi murid ku??" tanya kakek tua itu. Entah mengapa kakek merasa sangat tertarik pada Wira Satriaji.
Kakek tau itu dalam dunia persilatan di kenal dengan julukan Petapa muka dua. Julukan itu bukan tanpa sebab, itu karena kakek itu orangnya uring-uring, tak jelas di golongan putih atau golongan hitam.
Kadang dia akan membunuh orang dari golongan putih, tapi dia juga bisa dengan muda membunuh para golongan hitam, baginya kalau dia tak suka maka orang itu tak pantas hidup di bumi.
"Murid? Murid apa kek??" tanya Wira Satriaji.
__ADS_1
"Yah murid! aku akan mendidik mu menjadi orang yang memiliki kemampuan berkelahi.
"Berkelahi? Aku tak mau berkelahi kek! Aku sudah puas dengan hidup ku yang sekarang.
Aku tak mau! tolak Wira Satriaji.
Petapa muka dua itu kaget mendengar penolakan Wira Satriaji, selama ini belum pernah ada orang yang menolaknya, lebih tepatnya dia yang selalu menolak orang yang ingin berguru kepadanya.
Wajahnya sangat kecewa karena penolakan dari Wira Satriaji.
"Apa kau yakin tau mau jadi murid ku bocah??" tanya Petapa muka dua tak percaya.
"Bukan hanya yakin, tapi sangat yakin kek. Aku tak ingin orang yang pandai berkelahi."
"Baiklah, tapi aku tak bisa kalau tak membalas budi mu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu??" tanya Petapa muka dua.
"Tak perlu kakek merasa hutang Budi padaku, itu sudah kewajibanku membantu manusia lain." kata Wira Satriaji.
"Tapi!!"
"Tidak ada tapi tapi kek, sudah hampir siang kek, aku harus kembali. Aku tak mau seperti kakek, kelaparan dan tidur memeluk rumput," ledek Wira Satriaji.
Pletok!!
Kepala Wira Satriaji kena pukulan kecil dari tangan Petapa muka dua.
"Coba kau ulangi lagi?? Kau ini! aku ini lebih tua darimu, dan kau harus menghormati aku," kata Petapa muka dua pura-pura marah.
Melihat kemarahan kakek tua itu wajah Wira Satriaji jadi pucat.
"Maafkan aku kek , maafkan aku yang tak menghormatimu. Sungguh, aku hanya ingin bercanda saja." kata Wira Satriaji dengan wajah penuh bersalah.
Hahaha!!
"Kau memang unik bocah. Seharusnya kau memang jadi murid ku," kata
Petapa muka dua.
Tuk ... Tuk ... Tuk!!
Kakek tua itu memberikan totokan di tubuh Wira Satriaji.
"Apa yang kakek lakukan??" tanya Wira Satriaji
"Kau akan mengetahuinya nanti!"
Wira Satriaji tak menyadari Jika Petapa muka dua membuka semua aliran urat dalam tubuhnya, dan itu membuka potensinya menjadi seorang pendekar.
"Bocah! aku akan menunggumu di gunung gede. Kapanpun kau ingin menjadi pendekar? Datanglah padaku. Aku akan selalu menerima mu menjadi murid ku. Ingat! gunung gede!!!"
__ADS_1
ucap Petapa muka dua. Setelah mengucap kata-kata itu Petapa muka dua hilang dari pandangan Wira Satriaji.
"Pendekar? Gunung Semeru???"