
Wira Satriaji terbangun dari pingsan nya dan melihat Petapa muka dua sedang duduk membakar dua ekor ayam.
"Petapa muka dua??" desis Wira Satriaji.
Mendengar suara Wira Petapa muka dua menoleh dan tersenyum hangat.
"Kau sudah bangun wira? Bagaimana kondisi mu??" tanya Petapa muka dua.
Wira mencoba menggerakkan badannya, dan kali ini sedikitpun dia tak merasakan rasa sakit lagi. Wira berdiri dan berjalan kerah Petapa muka dua.
"Makanlah! pulihkan kondisimu!" kata Petapa itu dan memberikan satu ekor ayam kepada Wira Satriaji.
Wira tanpa malu menerima ayam dan memakan dengan lahapnya.
"Aih ... aih.!!" Makannya yang pelan-pelan saja Wira. Memangnya sudah berapa hari kau tak makan? Sampai rakus itu??" tanya Petapa muka dua.
"Aku sudah tak makan sejak tiga hari yang lalu kek! Aku hanya minum air!" jawa Wira Satriaji.
"Pantaslah!!"
Petapa muka dua membiarkan Wira menikmati dan menghabiskan makanannya. setelah selesai makan, Petapa muka dua berjalan diikuti oleh Wira Satriaji.
Petapa muka dua nama aslinya Wismana, dia itu tak memandang hukum dunia persilatan, baginya hukumnya yang akan dia jalankan di dunia persilatan.
"Kemari lah Wira!" kata Wismana memanggil Wira untuk mendekat kepadanya.
Mereka berdua duduk disudut gua tempat tinggal Petapa muka dua.
"Apa tujuanmu kemari??" tanya Wismana
Wira terdiam dan berpikir sejenak. Tapi tiba-tiba Wira Satriaji berlutut tepat dihadapan Petapa muka dua.
"Angkat aku jadi muridmu, ajarkan aku menjadi seorang pendekar!" pinta Wira Satriaji dengan suara lantang.
"Hahaha!!"
"Itu yang aku tunggu. Seperti yang dulu aku katakan, aku akan menerimamu jadi murid ku meskipun harus menunggu ribuan tahun. Berdirilah! Aku menerimamu jadi murid ku!"
kata Wismana sangat senang.
Wira berdiri dari sujudnya dan terlihat sangat senang.
"Wira Satriaji apa yang membuatmu berubah pikiran dan ingin menjadi pendekar??" tanya Wismana tahu alasan Wira Satriaji.
"Aku ingin balas dendam" jawab Wira Satriaji dengan mata berapi-api penuh dendam.
Mendengar jawaban Wira Satriaji, Wismana kaget, dia tak menyangka jika itu yang akan jadi jawaban Wira Satriaji.
__ADS_1
"Kepada siapa kau ingin balas dendam??" tanya Wismana ingin memastikan.
"Jubah bertopeng! Juragan Hasan! Jubah bertopeng sudah membunuh ibu dan juga semua keluarga yang menyayangiku"
"Dan juragan Hasan yang memberikan perintah. Keduanya harus mati di tanganku," ucap Wira Satriaji yang telah menyimpan dendam kesumat begitu besar.
Petapa muka dua menelan ludahnya, dia melihat dendam dimata Wira Satriaji sangatlah besar.
"Baik! Jika memang keinginan dan tekadmu sudah bulat, aku akan melatih mu. Aku akan memberikan semua yang aku miliki untukmu." kata Wismana pada Wira Satriaji.
Melihat dendam Wira Satriaji, Wismana seolah melihat dirinya waktu muda. Wismana menimba ilmu Kanuragan karena rasa dendam, bedanya Wismana dendam karena seorang perempuan.
"Ulurkan tanganmu, aku ingin memeriksa tubuhmu," pinta Wismana.
Wira Satriaji tanpa membantah mengulurkan tangannya. Wismana menyentuh urat nadi di pergelangan tangan Wira Satriaji. Dia angguk-angguk kepala karena merasa unsur ditubuh Wira Satriaji tak buruk.
"Kau ingin jadi pendekar apa??" tanya Wismana.
Wira Satriaji dengan dahi berkerut diam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Aku tak mengerti guru!"
"Baik! Guru apa menjelaskan padamu. Pendekar itu ada yang memakai tangan kosong, dan ada yang menggunakan senjata. Meskipun kau menginginkan ingin jadi pendekar tangan kosong jika kau berbakat di pendekar senjata maka kau akan menjadi pendekar senjata, begitulah sebaliknya. Tapi itu tergantung dari latihan dasar.
"Kau ingin jadi pendekar apa? Pendekar tangan kosong apa pendekar senjata??" tanya Wismana.
"Aku ingin pendekar yang memiliki senjata. Aku ingin memotong kepala jubah bertopeng, seperti dia memotong kepala ayah dan ibu," ucap Wira Satriaji.
Dimatanya sangat terlihat dendam yang membara.
"Itu artinya kau harus berlatih menjadi pendekar pedang"! Guru akan mengajarimu dasar-dasarnya saja. Guru bukan pendekar pedang, tapi guru memiliki dasarnya.
"Baik guru! Wira mengerti!" ucap Wira Satriaji.
"Selain itu guru akan mengajarimu jurus-jurus tangan kosong. Itu keahlian gurumu ini. Di dunia persilatan guru salah satu orang yang disegani dalam jurus-jurus tangan kosong." kata Petapa muka dua memuji diri sendiri.
"Murid siap menerima latihan dari guru! kapan pun akan selalu siap guru! kata Wira Satriaji.
"Bagus aku suka semangatmu!," puji Petapa muka dua.
Petapa muka dua tersenyum puas akan semangat Wira Satriaji.
"Wira, apa kau tahu di dunia persilatan ada golongan putih dan hitam??"
"Putih dan hitam? Baik dan buruk ya guru? Guru golongan apa??" tanya Wira Satriaji.
"Gurumu ini bukan hitam dan bukan putih, guru membunuh orang yang menurut guru pantas mati." jawab Wismana.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu guru??" tanya Wira Satriaji tak paham.
"Dunia persilatan penuh dengan tipu daya, putih belum tentu baik, hitam belum tentu jahat. Nanti kau akan tahu sendiri"
Wira Satriaji diam dan berpikir akan makna dari ucapan gurunya.
"Yang guru katakan sangat benar, juragan Hasan, terlihat baik di luar. Tapi ternyata hatinya sangat busuk," ucap Wira Satriaji.
Wismana cukup kaget dengan kecepatan menangkap dari otak Wira Satriaji.
"Hahaha!"
"kau cukup cepat menangkap maksud dari perkataan guru."
"Itu bukan hal yang membingungkan guru, itu sebuah kenyataan yang nyata. Guru bukan hitam bukan putih. Tapi seorang pendekar yang bebas! Bukankah begitu guru??" tanya Wira Satriaji.
"Iya kau benar! Guru memang pendekar yang bebas. Tapi asal kau tau guru memiliki banyak musuh, baik dari golongan putih, juga dari golongan hitam. Itulah mengapa orang-orang menjuluki guru Petapa muka dua. Tapi bukan julukan yang buruk bukan??"
kata Wismana.
"Petapa muka dua??" kata Wira Satriaji pelan.
"Kenapa? Apa kau heran dengan julukan gurumu ini??"
"Tidak guru, aku hanya heran kenapa harus ada julukan??" kata Wira Satriaji.
"Julukan itu termasuk hal yang membanggakan Wira. Jika kau belum memiliki julukan maka kau tak akan dikenal di dunia persilatan. Tapi julukan juga membawa bumerang untukmu." kata Petapa muka dua.
"Kenapa bisa begitu guru??" tanya Wira Satriaji.
"Semakin terkenalnya dirimu maka akan semangkin banyak yang ingin mentang duel. Semakin banyak yang ingin menguji kemampuanmu. Tapi julukan mu akan membuatmu disegani oleh dunia persilatan." kata Wismana menjelaskan.
"Begitu yang guru? Jadi siapa yang paling kuat di dunia persilatan guru??" tanya Wira Satriaji ingin tahu.
"Yang paling kuat? Sebenarnya yang paling kuat banyak Wira, hanya saja sekarang meraka mulai mengasingkan diri dunia persilatan. Menurut guru ada beberapa yang terkuat."
"Siapa saja guru??"
"Tinju maut, dengan jurus tangan kosongnya."
"golok kematian dengan jurus tombaknya."
"Tapi menurut guru yang terkuat adalah si raja pedang." ucap Wismana.
"Raja pedang??" gumam Wira Satriaji.
********
__ADS_1
"