Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Latihan Wira Satriaji Berikutnya


__ADS_3

Sampai sore mendekati malam Wira Satriaji masih terus berusaha, dia seperti melupakan rasa sakit pada jari-jarinya yang mulai ngilu karena terus dipaksa menusuk ketanah padat dan besar.


Petapa muka dua menghidupkan api, mereka memutuskan untuk bermalam di padang ilalang itu.


"Wira Satriaji! Kemari lah, kita makan dulu" panggil Wismana.


Wira Satriaji menghentikan latihannya dan berjalan kearah gurunya. Tubuh Wira sangat letih, itu terlihat dari wajahnya yang lemas.


"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil??" tanya Wismana.


"Seperti yang guru lihat, belum guru. Tapi Wira akan terus berusaha," jawab Wira Satriaji.


"Baik, silahkan terus berlatih. Guru akan menjaga mu." kata Wismana memberikan perhatian.


"Baik, terima kasih guru."


Tanpa banyak bicara lagi Wira Satriaji memakan hewan buruan yang dipanggang oleh gurunya.


Selesai makan Wira Satriaji istirahat sebentar, setelah itu meneruskan latihannya.


"Satriaji sudah cukup, tidurlah!" perintah Wismana.


"Wira Satriaji sedikit kecewa, tapi dia tak mau mengecewakan atau membantah perintah dari gurunya.


"Tidurlah!" Masih ada hari esok!"


Wira Satriaji kembali tak membantah, dia menutup matanya, dan tertidur karena merasa lelah.


Wismana menatap Wira Satriaji yang tertidur pulas.


"Kau memang bersemangat, tapi tanpa bantuan tenaga dalam sangat sulit untuk menusukkan jari ketanah keras itu." ucap Petapa muka dua dan berjalan ke arah tanah yang terus ditusuk oleh jari Wira Satriaji.


"Ini bagaimana mungkin??" Wajah Petapa muka dua kaget saat melihat lubang-lubang kecil di tanah keras itu.


"Dasar bocah nakal, dia berhasil meskipun sedikit. Apa jarinya tak terluka??" Wismana sedikit khawatir.


Wismana mendekati Wira Satriaji dan menempelkan telapak tangannya di punggung pemuda itu.


Energi merah masuk ke dalam tubuh Wira Satriaji, itu membuat Wira Satriaji merasakan kehangatan dan semakin pulas dalam tidurnya. Wira Satriaji tak tahu jika gurunya sudah membantu dengan memberikan sedikit tenaga dalam kepadanya.


"Besok kau akan merasakan perbedaannya. Aku tak mungkin mengatakan jika jari api berguna jika dengan tenaga dalam. Bagaimana juga kau harus memperkuat jarimu sekuat besi." gumam Wismana dan kembali bersila bersemedi melawan racun kobra.


Saat pajar menyingsing Wira Satriaji tak menemukan gurunya disampingnya.Wira merasa gurunya pasti pergi mencari makanan.


"Sebaiknya aku berlatih kembali. Aku tak ingin mengecewakan guru." gumam Wira Satriaji yang memang sangat bersemangat.


"Crussss!!!"


Saat percobaan pertama jari Wira Satriaji mampu masuk menusuk ke dalam tanah keras itu.


"Bagaimana mungkin? Apa aku sudah berhasil??" gumam Wira Satriaji.

__ADS_1


"Atau tanah ini semakin lembek??" ucap Wira tak percaya.


Wira Satriaji tak percaya dengan keberhasilan nya.


"Aku akan mencoba tanah main!"


Wira Satriaji kembali mengambil tanah keras. dan seperti pada tanah yang pertama untuk tanah baru itu pun jari Wira Satriaji dengan mudah menusuknya bagaikan menusuk lumpur.


Wira Satriaji melompat kegirangan, dia tak tahu bagaimana melukiskan kegembiraan hatinya.


"Kenapa denganmu? Apa kau kerasukan setan penghuni gunung ini??" tanya Petapa muka dua begitu sampai dia melihat Wira Satriaji melompat-lompat bagikan anak kecil.


"Guru ... guru!!" Aku berhasil! Aku berhasil guru!" teriak Wira Satriaji


"Berhasil?? Berhasil membuat apa??" tanya Petapa muka dua pura pura tak tahu, padahal dia tahu jika Wira Satriaji berhasil. itu semua karena bantuan dari nya.


Wira Satriaji tak menjawab tapi membawa tanah yang sudah berhasil dia lubangi.


"Kau berhasil? Sungguh tak percuma aku mengangkat mu jadi muridku." puji Wismana pura-pura kaget dan bangga.


"Terima kasih sudah mengajariku guru" ucap Wira Satriaji.


Wira sedikitpun tak memperlihatkan sikap jumawa apa lagi sikap sombong.


"Bagus, latihan pertama sudah kau lewati. sekarang latihan kedua."


"Pukulan api!"


"Baik guru!"


Wira Satriaji melangkah menuju batu yang ditunjuk gurunya.


"Hey ... tunggu!!"


"Nanti setelah kau makan." Larang Petapa muka dua dan menarik baju Wira Satriaji untuk menahan langkah pemuda itu.


Selesai makan Wira Satriaji istirahat sebentar, setelah itu berjalan ke arah batu.


"Bammmmm!"


Pukulan pertama langsung memecahkan tangan Wira Satriaji. Bukan batu yang pecah, tapi tangan yang terluka.


"Ihhhhh!!"


Pemuda itu meringis menahan sakit ditangannya yang telah terluka. tapi dia tak berhenti.


"Bammmm!!"


"Bammmmm!!"


"Bammmm..!!"

__ADS_1


Meskipun tangannya susah terluka dan telah berwarna merah Wira Satriaji tak berhenti, dia terus saja memukul batu keras itu. Sedikitpun tak ada goresan pada batu itu, yang ada warna merah yang semakin banyak menempel di batu itu.


Wajah kaget pada Wismana terlihat jelas melihat kekerasan hati Wira Satriaji. Dia tak menyangka jika muridnya itu akan melupakan rasa sakitnya demi mencapai tujuannya.


"Satriaji, istrahat dulu, dan kemari!" panggil Petapa muka dua.


Wira kaget karena dia sedang dalam konsentrasi tinggi, tapi dia tetap mendekat ke arah gurunya.


Petapa muka dua mengoleskan sesuatu yang lembut ke tangan Wira Satriaji. Petapa itu mengobati luka pada tangan Wira Satriaji.


Wira Satriaji merasakan jika lukanya seperti hilang rasa perihnya.


"Itu obat apa saja bahannya guru? Kenapa bisa seampuh itu??" tanya Wira Satriaji.


Wismana menerangkan apa saja bahan dari obat itu.


"Selain mengobati luka, semua bahan yang guru katakan juga mampu menetralkan racun, kecuali racun itu sudah sangat menggerogoti tubuh. Ingat semua itu, karena seorang pendekar juga juga harus memiliki kemampuan pengobatan. Paling tidak mengobati diri nya sendiri."


"Apa kau paham Wira Satriaji??"


"Iya guru! Wira Satriaji paham. Wira Satriaji lanjutkan latihan ya guru." ucap Wira.


"Apa kau yakin? Tanganmu sudah terluka begini." tanya Petapa muka dua tak percaya akan kekerasan hati Wira Satriaji.


"Yakin guru! Jika aku tak mampu aku tak mungkin belajar kanuragan dari guru, bukankah begitu guru??"


"Iya, Tapi kau harus pulihkan dulu tanganmu Wira Satriaji." ucap Petapa muka dua.


"Tidak guru! Wira Satriaji ingin berlatih. Meskipun cairan merah ini terus keluar, Wira Satriaji akan terus berlatih." kata Wira Satriaji memperlihatkan kekuatan tekadnya.


Wira Satriaji kembali berjalan ke arah batu, dan seperti seperti sebelumnya Wira Satriaji memukul batu keras itu tanpa menahan tenaganya. Kembali bercak merah mulai mengotori batu itu.


"Aku tak tahu sekuat apa nanti pukulan api di tangan Wira Satriaji. Pasti akan lebih kuat dari pukulan api milikku. Sungguh mengagumkan semangatnya." gumam Petapa muka dua yang terus memperhatikan latihan Wira Satriaji.


Wira Satriaji istirahat sebentar, tapi saat dia istirahat rasa perih di tangannya malah nyuruhnya untuk berhenti seterusnya.


"Tidak, aku belum mau berhenti! Rasa sakit ini tak akan aku pedulikan."


"Heat!!!"


Teriak Wira Satriaji sekeras suara nya.


"Bammmm!!"


"Bammmmm!!"


Lagi dan lagi pukulan Wira Satriaji menghantam batu besar itu.


Petapa muka dua geleng kepala karena melihat keseriusan muridnya.


"Seperti aku salah menyuruhnya melawan batu. Apa aku hentikan saja??" kata Petapa muka dua kasihan pada Wira Satriaji.

__ADS_1


__ADS_2