
Tiga hari sudah Wira Satriaji berlatih di padang ilalang bersama Petapa muka dua, tepatnya Wira Satriaji berlatih sendiri, karena Petapa muka dua hanya menyuruhnya memukul tanah dan batu.
Meskipun Wira Satriaji tak tahu tujuan sebenarnya dia memukul batu, tapi tanpa membantah dia terus memukuli batu tanpa mengenal rasa sakit.
Luka ditangannya seperti bukan halangan baginya, menurutnya itu salah satu ujian untuk menjadi seorang pendekar hebat.
Lain lagi dengan Petapa muka dua, dia awalnya hanya ingin melihat kekerasan dan keteguhan hati Wira Satriaji, tapi dia sampai tak dapat bicara melihat semangat dari muridnya itu, Wira Satriaji tak akan berhenti jika tak ada perintah berhenti dari gurunya.
"Wira, sudah cukup! Latihanmu hari ini cukup. Kau sudah cukup kuat untuk menguasai tahap berikutnya." ucap Petapa muka dua.
Wira Satriaji berhenti dan berjalan kearah gurunya.
"Tapi guru, Wira Satriaji belum menggores sedikitpun batu itu, kata guru kalau Satriaji tak menggores batu itu maka Satriaji tak akan bisa menuju tahap berikut." kata Wira Satriaji dengan polosnya.
"Guru bilang cukup, ya cukup...!! Jangan membantah!" Petapa muka dua pura-pura marah dan bersuara keras.
"Baik guru, maafkan Wira Satriaji yang telah melawan perintah guru! Wira Satriaji hanya mengikuti semua ucapan guru." kata Wira Satriaji pelan dan menundukkan kepalanya.
Petapa muka dua diam dan tiba-tiba menarik baju Wira Satriaji dan membawa terbang kembali ke gua tempat tinggalnya.
Wira Satriaji ingin berteriak, tapi dia teringat saat pertama kali, saat dia berteriak dia langsung dimarahi oleh gurunya. Wira Satriaji akhirnya memilih untuk diam.
"Kemari agar guru obati lukamu," kata Petapa muka dua setelah mereka sampai di gua.
Wira Satriaji yang memang sudah mulai merasakan perih ditangannya memberikan tangannya, dengan sangat telaten Petapa muka dua mengobati luka ditangan Wira Satriaji.
"Kenapa guru begitu menyayangi aku??" tanya Wira tiba-tiba.
"Kenapa ya? Mungkin selama ini guru tak pernah memiliki kawan! Saat kau menolong ku dulu, guru sudah merasa sangat senang terhadap mu. Dan sekarang kau bersama guru, guru merasa memiliki kawan," jawab Petapa muka dua menjawab pertanyaan Wira Satriaji.
"Ohhhhh!!"
Wira Satriaji membulatkan mulutnya.
"Kapan Wira Satriaji akan mulai latihan jurus guru??" tanya Wira Satriaji.
"Besok! Mulai besok kau akan mempelajari jurus tangan kosong milik guru. Apa kau siap??" tanya Petapa muka dua.
"Siap guru! Kapan saja pun siap!"
Wajah Wira Satriaji sangat sumringah mendengar jawaban itu. Itu jawaban yang di tunggu oleh Wira Satriaji selama ini. Dia merasa latihan dan hasil saktinya akan segera terbayarkan.
__ADS_1
"Kau istirahat lah, guru akan menyiapkan makan untukmu"!."
"Wira Satriaji saja guru."
"Tak usah, guru tak mau makan cairan merah yang keluar dari lukamu. Meskipun kau hati-hati tapi guru yakin pasti akan jatuh juga meskipun hanya sedikit," kata Petapa muka dua.
Petapa muka dua bukan tak mau Wira Satriaji yang memasak tapi dia ingin muridnya itu istirahat setelah melalui latihan yang sangat keras.
Wira Satriaji tak membantah, tepatnya dia tak melawan perkataan dari gurunya. Wira Satriaji memilih untuk membaringkan tubuhnya menunggu gurunya kembali mencari makan untuk mereka, dan tanpa sadar Wira Satriaji tertidur.
Wismana kembali dan melihat muridnya tertidur sangat pulas.
"Kau memang butuh istirahat, kau sudah memaksa tubuhmu sampai batas maksimal. Kau memang lain Wira Satriaji!" puji Petapa muka dua.
Bahkan setelah Petapa muka dua selesai memasak Wira Satriaji tetap tak bangun dari tidur nya.
"Biarkan saja dia istirahat, sebaiknya aku kembali menekan racun ini berjalan."
Petapa muka dua kembali bersemedi.
Wira Satriaji tidur dan terus saja tidur. Dia bangun setelah terdengar suara ayam hutan menandakan pagi telah datang. Seperti biasa Wira Satriaji akan melihat guru nya sedang duduk bersemedi.
"Sepertinya guru sudah terbiasa tidur sambil duduk. Sungguh lucu rupanya." ucap Wira Satriaji.
"Tak perlu lagi repot-repot Wira Satriaji, sebaiknya kau makan dulu. Dari tadi malam kau belum makan, apa perut mu tak meminta jatah apa??" tanya Petapa muka dua yang tahu jika Wira Satriaji sudah bangun.
"Hehehe!!"
"Baiklah guru."
Wira Satriaji dengan lahapnya makan dengan cepat.
"Baiklah Satriaji, sudah saat nya guru memberikan semua kemampuan guru kepadamu. Semua ilmu silat guru akan guru ajarkan kepadamu"
"Perhatikan baik-baik!!" ucap Petapa muka dua.
"Jurus jari api!!"
"Terdiri dari tiga jurus!"
"Jurus pertama, jari menghantam tanah!"
__ADS_1
"Jurus kedua, jari menembus langit!"
"Jurus ketiga jari menghujam awan!"
"Jurus kedua, jari menembus langit!"
"Jurus ketiga, jari menghujam awan!"
"Jurus ini sangat berguna dalam penyerangan terhadap musuh mu."
"Perhatikan! Guru akan memperlihatkan tiga jurus dari jari api." kata Petapa muka dua.
Petapa muka dua memperagakan tiga jurus yang disebutkannya. Wismana memperagakan sambil menyebutkan nama jurus-jurus itu, Wismana juga menunjukkan setiap perubahan pada jurus itu.
"Apa kau bisa melihatnya? Atau apa kau ingin mencobanya??" tanya Wismana.
Wira Satriaji mengangguk dan sangat antusias.
Wira Satriaji memperagakan gerakan yang baru saja di perlihatkan oleh gurunya.
Wajah Petapa muka dua cukup kaget karena melihat Wira Satriaji mampu mengingat meskipun baru satu kali di perlihatkan oleh Petapa muka dua.
"Dia sangat berbakat dalam jurus tangan kosong. Jika dia berbakat dalam ilmu pedang, akan dipastikan dia menguasai dunia persilatan." gumam Petapa muka dua yang puas akan pencapaiannya. Pencapaian memiliki murid jenius Wira Satriaji.
"Kakimu mundurkan sedikit kebelakang Wira Satriaji. Tenaga harus berfokus ke jarimu."
Petapa muka dua memberikan arahan jika melihat jurus yang Wira Satriaji peragakan sedikit melenceng.
"Bagus, seperti itu!
"Pertahankan gerakanmu itu. Jangan berubah lagi." ucap Petapa muka dua yang kembali memberikan arahan.
Wira Satriaji semakin bersemangat karena arahan dari gurunya yang membuatnya semakin mampu menguasai jurus-jurus dari jurus jari api.
Jari Wira Satriaji yang memang sudah seperti pisau terlihat memang memainkan bergerak bagaikan pisau yang berayun penuh dengan trik dan tipuan, itulah keistimewaan dari jurus jari api.
"Wira Satriaji, jika kau sudah menguasai dengan baik ketiga jurus itu, kau harus memadukan ketiganya menjadi satu jurus. Jika kau mampu memadukan dengan baik, pasti itu akan menjadi jurus yang lebih hebat." kata Petapa muka dua.
"Iya guru, Satriaji pasti akan berusaha untuk memadukannya. Tapi saat ini Wira Satriaji masih merasa belum puas karena Satriaji belum menguasai sepenuhnya." jawab Wira Satriaji.
"Iya, guru melihat, kau masih kaku dalam gerakanmu. Tapi pencapaianmu ini sangat membanggakan bagi guru. Guru memiliki murid yang jenius sepertimu." puji Petapa muka dua.
__ADS_1
"Terimakasih guru, Satriaji tak akan melupakan semua kebaikan guru ini. Wira Satriaji akan menjunjung tinggi nama guru. Wira Satriaji akan mengangkat tinggi semua yang guru ajarkan pada Satriaji."