
Pagi hari di gunung semeru. Di sebuah gua di jurang gunung itu. Seorang lelaki tua masih bersila dalam semedinya, sementara tak jauh dari nya seorang pemuda yang baru memasak air dan menyiapkan makan pagi.
Pemuda itu Wira Satriaji, Wira Satriaji begitu bersemangat karena pagi ini dia akan mulai latihan pertamanya, tapi melihat Petapa muka dua bersemedi cukup serius Wira Satriaji memutuskan untuk tak menggangunya.
Wira Satriaji tak tahu jika gurunya itu sedang berusaha terus melawan pengaruh dari racun kobra yang menggerogoti seluruh tubuhnya, menurut Wira Satriaji gurunya itu sedang tidur. Gerakan Wira Satriaji meskipun pelan ternyata terdengar di telinga Wismana.
Petapa muka dua membuka matanya, wajahnya masih pucat meskipun tak pucat tadi malam.
"Kau sudah bangun Satriaji, aku pikir masih malam." kata Wismana membuka percakapan.
"Hehehe!!"
"Iya guru, Satriaji sedang bersemangat karena guru akan melatih Satriaji hari ini." jawab Wira Satriaji sambil terkekeh.
"Hahaha!!"
"V
Bagus kalau kau bersemangat. Guru suka semangatmu!" kata Wismana.
Petapa muka dua berdiri dan meminum air masakan Wira Satriaji setelah itu keduanya makan.
"Ayo, ikut makan!" kata Wismana.
Petapa muka dua menarik kerah baju Wira Satriaji dan membawanya terbang.
"Guru...!!" jerit Wira Satriaji ketakutan, dia belum pernah terbang dan bukan hanya itu kecepatan terbang Petapa muka dua juga sangat menambah ketakutannya.
"Diam! Kau ini akan jadi pendekar, jadi kau tak boleh takut!" bentak Petapa muka dua.
Wira Satriaji diam dan menyembunyikan wajahnya di belakang gurunya.
Petapa muka dua menurunkan Wira Satriaji di sebuah padang ilalang yang cukup luas, hanya ada satu dua kayu yang tumbuh di padang ilalang itu.
Petapa muka dua berjalan dan berhenti di bawah pohon besar yang sangat rimbun.
"Kemari Wira!" panggil Wismana.
Wira mendekat kearah gurunya.
"Awalnya guru ingin melatih mu latihan fisik terlebih dahulu, guru ingin melatih otot pada tubuhmu. Tapi sepertinya otot dalam tubuhmu sudah tumbuh. Karena kau sudah bekerja di pelabuhan jadi itu menumbuhkan semua ototmu," kata Wismana yang ternyata sudah memperhatikan diri Wira Satriaji.
"Iya guru! Otot Wira Satriaji memang sudah tumbuh besar." jawa Wira dan menunjukkan ototnya yang sudah seperti otot orang dewasa.
"Karena itu guru akan memulai mengajari mu dasar dari ilmu Kanuragan. Kau harus mengikuti semua petunjuk dari guru."
"Paham!!"
"Wira akan mengikuti semua perkataan guru"
"Apapun itu." jawab Wira Satriaji.
"Yang pertama keseimbangan."
"Ambil batu itu." tunjuk Wismana pada sebuah batu sebesar bola kasti.
Wira Satriaji mengambil tak paham untuk apa batu itu.
__ADS_1
"Ini guru!" kata Wira Satriaji dan memberikan pda Wismana.
"Letakan di bawah." kata Wismana menunjuk kebawah.
Wira Satriaji menjatuhkan batu kecil itu, tak mengerti apa tujuan dari batu kecil itu.
Wismana naik keatas batu kecil itu dan berdiri dengan satu kaki. tubuh Wismana sedikit pun tak limbung, padahal batu kecil itu hanya menampung setengah dari kaki Wismana.
"Apa kau melihat yang guru lakukan???"
"Iya guru, Satriaji melihat nya."
"Lakukan sampai kau bisa berdiri seperti berdiri dengan kedua kaki." perintah Wismana.
Wira Satriaji mencoba berdiri di atas batu kecil itu, tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari keseimbangan untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Lakukan sampai kau melakukan keseimbangan mu."
Petapa muka dua kembali duduk bersemedi membiarkan Wira Satriaji berusaha untuk melatih keseimbangan tubuhnya.
Wira Satriaji terus berusaha dan berusaha. meskipun belum benar-benar menguasai tapi Wira sudah mampu menyeimbangkan tubuhnya di atas batu kecil itu.
"Guru! guru...! Aku sudah berhasil!" teriak Wira Satriaji dan itu mengganggu semedi Wismana.
Petapa muka dua membuka mata karena jeritan Wira Satriaji.
"Secepat itu??" gumam Petapa muka dua.
"Coba kau perlihatkan!" pinta Wismana.
"Seandainya dia hidup di perguruan Wira pasti akan salah satu jenius di dunia persilatan.
"Lakukan sampai sempurna, gantian kaki kiri dan kaki kanan."
"Baik akan Wira laksanakan semuanya guru."
Petapa muka dua cukup kaget dengan kecepatan Wira Satriaji dari menerima semua latihan darinya.
"Aku rasa cukup" Kau akan melanjutkan ke tahap berikutnya."
"Ambil posisi setengah jongkok. Dan pertahanan posisi itu."
Wira Satriaji kembali tak membantah, melakukan semua yang di perintahkan oleh Petapa muka dua.
Petapa muka dua mengambil kayu yan cukup besar.
"Bukkkk!"
"Usahakan kakimu untuk tak bergetar." kayu besar itu menghantam kaki kanan Wira Satriaji.
"Aduh, sakit guru!"
"Diam dan jangan mengeluh. Ini termasuk hal dasar dari ilmu kanuragan"
Wira Satriaji kembali memposisikan seperti semula.
"Sepertinya hal yang paling mendasar sudah kau kuasai Wira. Guru sungguh senang memiliki murid berbakat sepertimu." puji Petapa muka dua.
__ADS_1
Bagaimana Petapa muka dua tak memuji, hanya dalam satu hari Wira Satriaji sudah menguasai dasar-dasar dari ilmu kanuragan, jika di perguruan besar Wira Satriaji akan di latih langsung oleh guru besar.
"Kapan Wira akan berlatih jurus guru??" tanya Wira Satriaji sangat antusias.
"Sepertinya kau sangat menginginkannya Wira? Baik, guru akan melatih mu jurus-jurus yang guru memiliki."
"Kemari dan ikuti guru." kata Petapa muka dua dan berjalan.
Petapa muka dua berjalan ke arah sebuah batu besar.
"Kau dan guru sama-sama memiliki elemen api. Jadi guru bisa memberikan mu jurus tangan kosong."
"Jurus tangan api."
"Perhatikan!"
Tangan Petapa muka dua memukul sebuah batu.
"Bammmmmm!"
Batu itu hancur berkeping keping. Wira Satriaji menelan ludah karena itu sangat mengagetkan bagi dirinya.
"Apa kau ingin mempelajarinya Satriaji??" tanya Petapa muka dua.
"Iya guru! Ajarkan Satriaji jurus itu guru." pinta Wira Satriaji dengan permintaan yang sangat antusias.
"Itu jurus pukulan api Satriaji. Sebelum ke jurus itu kau harus melewati beberapa tahap. kau kesana ambil tanah keras yang ada." perintah Wismana
Wira yang memang sangat antusias berlari dan kembali dengan menindak tanah keras yang cukup besar.
"Perhatikan lagi!"
Petapa muka dua merapatkan dua jarinya, dan menusuk tanah keras itu seperti menusuk menggunakan pedang.
"Itu jurus jari api."
"Jurus pertama dari jurus tangan api. Jika kau ingin menguasainya pertama kau harus berhasil menusukkan jarimu ketanah keras itu. Apa kau akan mau berusaha??" tanya Petapa muka dua.
"Pasti guru. Tapi apa tujuannya guru??" tanya Wira Satriaji.
"Jurus ini menggunakan jarimu sebagai tumpuan seranganmu, sebagai ahli tangan kosong seseorang harus memiliki sesuatu yang bisa dijadikan senjata,"
"Satriaji paham guru. Satriaji akan mencoba nya."
Wira Satriaji merapatkan jarinya.
"Aduh...!!" Wira Satriaji meringis sakit saat dia menusuk dengan keras menggunakan jari, jarinya mental karena tanah itu begitu keras.
"Hahaha!"
"Bagaimana Wira Satriaji??" tanya Petapa muka dua.
"Sakit guru...!!" jawab Wira Satriaji malu.
"Apa kau akan menyerah??"
"Tidak guru! Apa aku terlihat seperti orang yang akan menyerah??" kata Wira Satriaji tetap semangat.
__ADS_1