Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Turun Gunung


__ADS_3

seorang pemuda berambut gondrong dengan baju merah berjalan menuruni gunung semeru, tak ada yang mengenal pemuda itu, dia seperti seseorang yang baru turun gunung.


Sorot mata yang tajam berpadu dengan kulit yang sawo matang, otot lengan nya yang terlihat berisi membuat pemuda itu sangat gagah, apa lagi di mata para perempuan.


Perbawa dari pemuda itu sangat kuat, dia seperti memiliki tekanan seperti seorang perbawa bangsawan. sebuah kalung dari kain melingkar di lehernya, itu kalung berisi tulang belulang dari orang yang di sayangi nya.


Pemuda itu masih sangat muda, usianya ditaksir antara delapan belas tahun sampai sembilan belas tahunan, tapi dari sorot matanya tersimpan kesedihan yang mendalam, serta dendam begitu besar.


"Siapakah pemuda itu??"


Pemuda itu Wira Satriaji, setelah menuntaskan latihan nya di gunung semeru meskipun tak sempurna, Wira Satriaji memutuskan untuk turun untuk memperkuat diri dan menambah pengalaman.


Wira berjalan dengan pasti, tak ada sedikit pun keraguan terlihat di matanya, pemuda itu berjalan begitu santai, seperti menikmati alam yang sudah lama dia lihat.


Dua tahun mengurung diri tak membuat Wira lupa akan dunia, tapi Wira tak tahu perubahan yang terjadi di dunia persilatan, dia yang terkurung tak tahu jika golongan hitam sudah semakin berani membuat teror.


Golongan hitam dengan adanya lorong lima telah semakin memperkuat keberadaan mereka di seluruh dunia persilatan, golongan putih semakin tenggelam seperti kehilangan arah.


Golongan hitam, terutama cadar hitam sudah menghancurkan perguruan terbesar di wilayah Barat, tepatnya di kota Daun. setelah membunuh ketua dari perguruan itu, cadar hitam meneror semua murid dari perguruan itu.perguruan itu ada tapi mati suri.


Hampir semua perguruan meskipun tunduk pada cadar hitam tapi menyusun rencana untuk lepas dari genggaman cadar hitam, meskipun cadar hitam tahu tapi dengan tak ada nya kuat dari golongan putih, itu tak menjadi sebuah ketakutan bagi cadar hitam atau pun organisasi rahasia lorong lima.


"Aku akan ke kota Jalak terlebih dahulu, rasanya rindu dengan suasana kota ini."


"Sekalian untuk bertemu dengan juragan Hasan."


"Apa dia masih mengenal ku??"


"Meskipun begitu, orang pertama yang akan aku bunuh juragan keparat itu."


"Dia harus mati di tangan ku."


"akan aku pastikan semua keluarganya tewas di tangan ku." gumam Wira Satriaji yang telah memutuskan langkah awalnya di dunia persilatan.


Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup tinggi Wira Satriaji sampai di kota Jalak, dia sampai saat matahari hampir tenggelam.


"Dimana aku harus bermalam??"


"Sial..."


Wira Satriaji memutuskan bermalam di tepi hutan, menyalakan api unggun bukan pilihan yang salah seperti nya.


Wira Satriaji merebahkan tubuhnya bersandar di sebuah pohon besar.


"Di hutan ini pertama kali aku bertemu dengan guru."


"Saat itu guru pingsan karena kelaparan."


Wira Satriaji tersenyum karena mengingat pertemuan pertama dengan Petapa muka dua.


Tapi senyum itu hanya sebentar, setelah itu Wira teringat Kematian mengenaskan yang di alami oleh guru nya, tewas dengan kepala terpotong.


Wira tak tahu siapa nama dari yang telah membunuh gurunya, tapi dia sangat mengingat jelas siapa saja yang ada di tempat itu.


"Ke empat orang itu pun tak akan lolos dari tangan ku."

__ADS_1


"Jubah bertopeng..."


"Cadar hitam..."


"Kalian akan tewas di tangan ku"


Saat suara ayam berkokok Wira Satriaji kembali berjalan dan tujuan nya sudah pasti, menuju kota Jalak yang sudah ada di depan matanya.


Penjaga gerbang kota menghentikan langkah nya.


"Kau siapa anak muda??"


"Aku merasa tak mengenal mu," tanya penjaga gerbang yang merasa curiga pada Wira Satriaji.


Wira Satriaji menatap penjaga gerbang itu. dia merasa mengenal penjaga itu.


"Paman Sandi...??"


"Paman pasti paman sandi" ucap Satriaji.


Orang yang bernama sandi itu menatap balik ke arah Wira Satriaji, dia sangat tak mengenali anak muda di depan nya.


"Kau siapa anak muda??"


"Dari mana kau mengetahui namaku??" tanya sandi jelas curiga.


"Apa paman tak mengenal ku??"


"Aku Satriaji paman, anak Bu Surti" jawab Satriaji dengan mata yang penuh harap.


"Satriaji??"


"Tak mungkin" ucap sandi tak percaya, tapi Satriaji menyebut Bu Surti membuat sandi tak bisa untuk tak mempercayai jika pemuda yang di depan nya Wira Satriaji.


"Sebaiknya kau ke rumah, temui bibi mu."


"Paman sedang bertugas."


"Baik, Satriaji segera ke sana paman" ucap


Satriaji.


Sandi kembali ke pos jaga dan di sana menunggu kawan nya yang berjaga pos gerbang kota.


"Siapa sandi??"


"Bukan siapa siapa, hanya pengembara yang ingin memasuki kota" jawab sandi berbohong.


Sandi berbohong demi menjaga keselamatan Wira Satriaji, dia tak ingin juragan Hasan tahu dan itu akan membahayakan nyawa keponakan nya, itu lah menurut sandi, dia tak tahu jika tujuan Wira Satriaji ingin membunuh juragan Hasan.


"Aku ke rumah sebentar ya" ucap pandu pada kawan pos penjaga nya.


Sandi tak merasa tenang dan memutuskan kembali ke rumah nya.


"Kau kembali secepatnya ya, aku tak akan bisa menjawab jika anak buah cadar hitam menanyakan keberadaan mu."

__ADS_1


"Tunggu saja, aku hanya sebentar."


Sandi berjalan cepat menuju rumah nya.


"Bu..., Bu..." ucap sandi setengah teriak.


"Ada apa mas, kenapa berteriak??" tanya istri sandi.


"Wira Satriaji mana??" langsung sandi menanyakan Wira Satriaji.


"Wira Satriaji??"


"Dia sudah tewas mas, jangan lagi menyebut namanya, itu sudah lama tak kau sebut"


"Dia baru saja sampai di kota ini"


"Aku menyuruh nya menuju ke rumah kita"


"Itu lah mengapa aku pulang"


"Apa??"


"Mas yakin jika itu Satriaji??"


"Berbahaya jika sampai juragan Hasan tahu" kata istri sandi gelisah.


"Sebaiknya mas mencari Satriaji, ibu tak mau terjadi sesuatu pada dia"


"Dia sudah sangat menderita dengan kematian ibu nya"


Sandi tak menjawab tapi keluar rumah setengah berlari, dia mencari keberadaan Wira Satriaji.


Sementara itu Wira Satriaji yang sudah memasuki kota, bukan nya menuju rumah seperti yang di suruh oleh sandi, tapi dia mengawasi rumah juragan Hasan, dia mengawasi rumah itu dari kejauhan.


"Kau semakin makmur rupa nya, tapi itu tak akan lama lagi"


"Aku akan membuat mu tak lagi menikmati udara di dunia ini"


"Tunggu saja" ucap Wira Satriaji dan mengepalkan tangannya ke atas.


Wira Satriaji memutuskan ke rumah sandi dan bertemu dengan paman nya.


"Kau dari mana??"


"Paman sudah mencari mu dari tadi." tanya sandi yang sudah gelisah.


"Satriaji salah arah paman, Satriaji ternyata sudah terlalu lama di luar kota, sehingga Satriaji lupa arah" jawab Satriaji berbohong.


"Lupa arah??"


"Bagaimana bisa??" tanya sandi tak percaya.


"Kenapa tak bis paman.."


"Pasti lah, aku lupa dan aku tersesat."

__ADS_1


"Untung aku bertemu dengan paman."


********


__ADS_2