
Dua tahun berlalu dengan cepat, semua berjalan tanpa terasa, semua berlalu tak terasa, hanya perubahan alam yang menunjukkan jika alam semakin gelap, gelap di tutupi oleh kejahatan dari golongan hitam.
"Ke kiri..."
"Ke kanan..."
"atas..."
Suara teriak seorang pemuda berambut panjang yang berlatih dengan kayu menggema di jurang di gunung semeru.
Keringat di tubuh pemuda itu membanjiri seluruh tubuhnya, gerakan gerakan nya begitu halus dan begitu lentur, tak ada yang tahu jika berlatih tanpa mengenal lelah di jurang itu sendirian, tanpa seorang guru. hanya kitab usang yang menjadi panduan pemuda itu.
Pemuda itu Wira Satriaji, Wajahnya telah berubah semakin gagah, kulit nya yang sawo matang berotot menambah ke gagahan dari pemuda itu.
"Hiat..."
"Hiattt..."
Wira Satriaji mengayunkan kayu di tangannya bagaikan memegang pedang, gerakan nya bagaikan penari yang membius menonton nya.
Dalam dua tahun Wira Satriaji sudah menguasai lima belas jurus dari tujuh belas jurus dari kitab pedang seribu. Dia sudah mencoba untuk mempelajari jurus ke enam belas dan jurus ke tujuh belas, tapi ada sesuatu yang membuat nya tak bisa mempelajari jurus itu.
"Sebenarnya apa yang kurang dengan ku??"
"Aku sudah mencoba semua yang tertulis, tapi gerakan ku tak bisa mengikutinya."
"Apa ada rahasia dari gerakan di jurus ini??" gumam Wira Satriaji.
Pemuda itu yang sudah berumur 18 tahun itu berpikir bagaimana cara menguasai dua jurus tersisa, tapi tak ada jalan menurut nya yang bisa dilakukan.
Wira Satriaji membaca lagi petunjuk di jurus ke enam belas.
"Hanya Orang Yang Memiliki Vida Yang Bisa Menguasai Jurus Ini"
"Berhati Hati Mempelajari Jurus Ini"
Itu lah bunyi tulisan ke enam belas.
"Vida??"
"Itu apa???" gumam Wira Satriaji.
__ADS_1
Di dunia persilatan selain tenaga dalam, pendekar kelas tinggi memiliki sesuatu yang membuat seorang pendekar menguasai teknik yang lebih kuat. dan itu namanya Vida.
Vida lebih kuat dari pada tenaga dalam, tapi untuk menguasai Vida tak semuda yang di bayangkan seorang pendekar, hanya pendekar dengan potensi tertentu yang dapat memiliki Vida.
Vida di bagi atas empat macam.
"Vida jiwa, penguasa akan jiwa dan penyatuan dengan jiwa."
"Vida senjata, penguasa tentang bagaimana bersatu dengan senjata yang di miliki oleh seorang pendekar."
"Vida jiwa senjata, penyatuan dari Vida jiwa dan Vida senjata."
Bisa terakhir sangatlah langka dan paling sulit di miliki oleh seorang pendekar, seorang yang sudah memiliki Vida pun belum tentu memiliki Vida ini.
"Vida mata."
Dan Vida ini juga berbagi dua, Vida dewa dan bisa Iblis.
Vida dewa akan di miliki yang golongan putih, dan bisa iblis untuk golongan hitam.
Vida ini memiliki keunggulan membuat lawan akan merasa sangat takut dan juga tunduk jika seorang pendekar menggunakan vida itu.
Tapi Vida mata tak akan berpengaruh pada seorang yang memiliki tenaga dalam tinggi, dan juga tak akan berpengaruh pada seorang yang memiliki vida jiwa tingkat tinggi.
"Vida??"
"Kepada siapa aku akan mencari tahu tentang Vida ya??" gumam Wira Satriaji.
"Guru tak pernah menceritakan tentang Vida kepada ku."
"Atau guru tak tahu??"
Wira Satriaji tak tahu jika Petapa muka dua tak memiliki Vida, itu di sebabkan karena sikap tak jelas dari gurunya, di tambah Petapa muka dua tak pernah belajar dan mempelajari vida.
Setiap pendekar pasti tahu Vida, dan setiap pendekar pasti menginginkan Vida, Vida dambaan setiap pendekar, itu lah mengapa banyak pendekar berlatih keras hanya demi memiliki vida.
Wira Satriaji menutup buku usang itu, dan di sampul terakhir kembali Wira Satriaji membaca sesuatu.
"Seorang Pendekar Pedang Akan Mampu Membuat Senjata Dari Benda Apa Pun"
"Meskipun Hanya Kayu Rapuh Jika Di Aliri Tenaga Dalam Dan Vida Maka Kayu Itu Akan Lebih Kuat Dari Pada Senjata Mana Pun"
__ADS_1
"Vida lagi??"
" Kepala ku sakit karena vida ini."
Wira Satriaji selama dua tahun sudah mampu menguasai dengan baik lima belas jurus dari kitab pedang seribu. Wira Satriaji juga sudah mampu menguasai tenaga dalam nya, dan mampu mengalirkan tenaga dalam ke kayu yang di jadikan nya senjata.
Selain itu Wira Satriaji juga terus mempelajari pernafasan langit dari kitab usang miliknya. itu semakin menambah tenaga dalam Wira Satriaji, dan itu sudah modal yang cukup untuk bertahan di dunia persilatan.
Dunia persilatan juga memiliki tingkat Kependekaran.
Pendekar bumi, pendekar yang paling dasar dan telah mempelajari jurus, kebanyakan pendekar bumi berada di perguruan dan memperdalam jurus jurusnya.
Pendekar awan, tingkat setelah pendekar bumi, pendekar awan kebanyakan para perampok kelas teri, mereka hanya hidup untuk merampok, sementara jika dia murid perguruan dia masih tetap dalam perguruan nya.
Pendekar langit, pendekar ini mulai malang melintang di dunia persilatan untuk mengasah kemampuan nya.
pendekar raja, pendekar ini juga seperti pendekar langit, terus mengasah kemampuan nya.
Pendekar raja langit, pendekar ini sudah memiliki julukan di dunia persilatan, nama nya sudah cukup terkenal di telinga pendekar.
Pendekar dewa, pendekar ini hanya bisa di hitung jari, saat ini hanya raja pedang dan cadar perak yang sampai ke pendekar dewa, itu di sebabkan Vida mereka memang mencapai tahap yang tinggi.
Pendekar dewa langit, pendekar seperti ini hanya ada dalam legenda saja, belum pernah di ketahui ada seorang pendekar dewa langit, tingkat Pendekar ini hanya ada dalam legenda. pernah ada tapi itu terjadi ratusan tahun yang lalu, juah sebelum Wira Satriaji lahir.
Saat ini di tingkat manakah Wira Satriaji??
Setelah pencapaiannya dalam ilmu pedang dan tenaga dalam dari guru serta menambah dari alam tingkat Kependekaran Wira Satriaji sudah cukup tinggi, dia berada pada tingkat pendekar raja langit.
Wira Satriaji sudah setingkat dengan cadar hitam dan ketua lorong lima lain nya, tapi Wira Satriaji pasti kalah dalam pengalaman bertarung.
Meskipun seseorang memiliki tingkat lebih tinggi, jika tak memiliki pengalaman bertarung, maka itu akan menjadi sebuah kesulitan bagi dirinya, apalagi menghadapi lawan yang banyak memiliki tipu muslihat.
Tapi perbedaan tingkat akan terlihat jika pertarungan sama sama sudah memiliki pengalaman bertarung. bagaimana dengan Wira Satriaji??
Wira Satriaji sedikit pun belum memiliki pengalaman bertarung, karena Wira Satriaji terus berlatih tanpa ada lawan tanding, hanya berlatih dan berlatih.
"Besok aku akan keluar dari gunung ini."
"Aku akan mulai petualangan ku."
"Dan mencari tahu, apa itu vida."
__ADS_1
"Selamat datang di dunia persilatan Wira Satriaji."
*******