Sang Wira Satriaji

Sang Wira Satriaji
Dunia persilatan


__ADS_3

"Guru akan menceritakan dunia persilatan sebelum kau memulai latihanmu esok hari. Guru harap kau bertambah semangat setelah mendengar cerita guru." kata Wismana.


"Iya ceritakan guru, Wira ingin tahu." kata Wira Satriaji kegirangan.


"Dunia persilatan, dunia, dimana yang kuat akan menjadi raja, seorang yang lemah akan ditindas Saat dunia persilatan dalam kekacauan, itulah saatnya golongan putih bertindak. Selalu begitu, golongan hitam selalu mencari cara untuk memusnahkan golongan putih." kata Wismana mulai ceritanya.


"Kenapa begitu guru??"


"Golongan hitam selalu ingin menguasai dunia, itu karena mereka menurutkan semua keinginan jahat mereka. Pada hakikatnya tak ada manusia yang benar-benar jahat, dan tak ada manusia yang benar-benar baik."


Wira diam dan terus mendengarkan.


"Ada beberapa perguruan besar yang saat ini menjadi patokan bagi dunia persilatan."


"Perguruan jalak putih, di kota Jalak.


"Perguruan harimau di kota daun dan perguruan gagak hitam di kota kematian.


"Dari tiga perguruan besar itu, hanya perguruan gagak hitam yang dari golongan hitam, sementara perguruan harimau itu perguruan yang tak jelas."


Guru peringatkan jangan pernah cari masalah dengan tiga perguruan itu. Kau ingat itu." kata Petapa muka dua.


" Iya guru! Wira akan selalu mengingatnya," jawab Wira Satriaji.


"Perguruan gagak hitam memiliki banyak mata-mata di seluruh kota. Mereka selalu menjadi ancaman didunia persilatan."


"Sementara perguruan jalak putih, mereka terlalu putih, sehingga mereka mementingkan ummat dari pada hal lain. Dan sikap itu kadang dimanfaatkan oleh para golongan hitam," kata Wismana terus menjelaskan pada Wira Satriaji.


"Begitu ya guru!"


"Ya? Itulah kenapa guru tak mengikuti aturan dunia persilatan. Golongan hitam selalu menggunakan itu menjadi akal bulus untuk mengalahkan para golongan putih." kata Petapa muka dua dan berdiri dari tempat duduk nya.


"Raja pedang itu dari golongan mana guru??" tanya Wira ternyata masih penasaran dengan orang terkuat didunia persilatan, raja pedang.


"Dia dari golongan putih, tapi dia sudah lama menghilang. Jurus pedang nya sangat luar biasa. Tak ada satu pun yang mampu mengimbanginya dalam jurus-jurus pedang." kata Wismana terus menerus memuji raja pedang.


"Apa guru pernah bertarung dengannya??" tanya Wira Satriaji.


"Tidak! Tapi guru pernah melihatnya bertarung dengan salah satu Datuk dari golongan hitam. Datuk pulau iblis lawan dari raja pedang tak berkutik saat raja pedang mengeluarkan jurus pedang simpanannya. Sungguh indah dan mengagumkan." puji Petapa muka dua.


"Sehebat itukah??" gumam Wira Satriaji dengan mata yang berbinar.


"Ya Wira! Raja pedang mengedepankan keindahan seni dalam jurus pedangnya, dia bermain pedang seperti seorang penari. Sangat indah." kata Wismana dan mengingatkan kembali pertarungan yang terlihat oleh matanya.

__ADS_1


"Aku ingin seperti itu guru, aku ingin menjadi ahli pedang" ucap Wira bersemangat.


"Guru akan mengajarimu dasar dari ilmu pedang. Untuk jurusnya guru akan memberikanmu sebuah kitab pedang."


"Kitab??"


Wira Satriaji berdiri dan membuka buntalan nya.


"Apa guru mengenal kitab ini??" tanya Wira Satriaji.


Petapa muka dua dengan dahi berkerut menerima kitab dari Wira, saat membuka kitab itu wajahnya berubah menjadi berbinar.


"Ini kitab pernafasan langit, kau beruntung memilikinya. Kau harus mempelajari semua pernafasan di kitab ini. Kitab ini akan membuatmu menambah kekuatan bathin pada dirimu," kata Wismana.


"Kekuatan bathin? Apa lagi itu guru??" tanya Wira.


"Haduh!" Wismana menepuk dahinya sendiri.


"Kau benar benar sangat lugu tentang dunia persilatan Wira!"


"Seorang pendekar akan memiliki tenaga dalam yang membantunya untuk meningkatkan setiap serangan."


"Tenaga dalam??" Wira semakin tak mengerti.


"Iya! Seperti ini!!!"


Sebongkah batu besar hancur tetap didekat Wira saat Wismana memukul batu itu dengan tinjunya.


"Seperti itulah jika seorang pendekar memiliki tenaga dalam." ucap Wismana.


Wira menelan ludahnya, dia sangat kaget dengan kekuatan yang dikeluarkan oleh Petapa muka dua.


"Apa aku akan memiliki tenaga dalam nanti guru??" tanya Wira.


"Seorang pendekar harus memiliki tenaga dalam. Jika tidak, kau hanya akan seperti manusia biasa."


"Berapa lama aku baru memiliki tenaga dalam??"


"Tergantung dari dirimu sendiri Wira. Tapi yang pasti guru akan mengajarimu menjadi seorang pendekar yang kuat. Kau akan menjadi salah satu orang yang disegani di dunia persilatan. Percaya pada guru," kata Wismana.


"Wira percaya guru, Wira akan berlatih dengan giat," kata Wira bersemangat.


"Aku sudah melihat keteguhan dan keinginanmu Wira. Apa percaya pada tekadmu," ucap Wismana.

__ADS_1


"Terima kasih guru," ucap Wira Satriaji.


"Hari sudah siang guru akan keluar, kau istirahatlah. Pulihkan dulu kondisimu. Besok kau akan memulai latihanmu!"


"Memangnya guru akan kemana??" tanya Wira Satriaji ingin tahu.


"Guru ada urusan, mungkin guru akan lama. Jika kau lapar makan saja ayam bakar yang tersisa.


"Baik guru aku akan menunggu disini," ucap Wira Satriaji.


Petapa muka dua menoleh ke arah Wira Satriaji sebelum pergi menghilang dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa.


"Cepat sekali gerakan guru, aku sampai tak melihat bayangannya." gumam Wira Satriaji.


Wira Satriaji tinggal sendiri di dalam gua, dia merasa sangat bosan, tapi dia takut untuk keluar karena dia takut untuk tersesat lagi.


"Aku akan menjadi pendekar yang hebat, aku akan membalas dendam ayah dan ibu. Jubah bertopeng! Juragan Hasan! Tunggu saja kedatanganku!" teriak Wira Satriaji keras.


Suara yang keras menggema sampai keluar gua.


*****


Sesosok bayangan berbaju hitam melesat terbang cepat turun dari gunung semeru, sosok itu seorang manusia yang memiliki janggut yang sudah memulai memutih.


Sosok itu terbang tak peduli akan rimbunnya hutan, dia seperti tak memperdulikan semua itu, dia pergi entah mau kemana.


Sosok hitam melesat dengan kecepatan yang sangat sukar diikuti, dia terbang terus menerus menebas panasnya siang hari.


Setelah terbang selama dua jam sosok itu sampai di kota Daun, kota indah yang menyimpan banyak misteri di dalamnya.


"Hahhhhhhhh!!"


"Cukup melelahkan, perjalanan ini memang tak panjang, tapi karena buru buru aku seperti nya tak memikirkan kondisiku. Sebaiknya aku istirahat sejenak disini." gumam sosok berbaju hitam itu.


Sosok baju hitam beristirahat dan memilih untuk tidur, bukan karena lelah tapi karena memang berniat tidur, hanya sebentar sudah terdengar suara ngorok dari tenggorokan sosok hitam itu.


Saat hari mendekati malam sosok hitam itu bangun dan terbang menuju arah kota daun, saat sampai di gerbang kota daun sosok itu berjalan pelan dan mencoba santai. dia mencoba membaur seperti penduduk.


Saat melihat sebuah rumah besar sosok hitam itu berhenti dan tersenyum penuh arti. Dia melihat suasana yang mulai sepi. Dari kantongnya dia mengeluarkan sebuah topeng hitam.


Sosok itu terbang dan mengendap-endap di atas atap rumah besar itu. Sosok itu turun dan masuk kedalam sebuah kamar mewah.


Sosok itu begitu mengenal seisi rumah dan membuka sebuah lemari, dia mengambil sebuah kitab.

__ADS_1


"Akhirnya aku memilikimu" gumam sosok itu. Tapi itu hanya sebentar.


"Perampok!!!!!!!"


__ADS_2