SANTRI PILIHAN

SANTRI PILIHAN
BAB . 33 . DI PAKSA MASUK KE RUMAHSAKIT JIWA


__ADS_3

Geng Danu sudah berkumpul di rumah Ervan, mereka mendengarkan cerita tentang kondisi Nindy dari Lita dan juga Sherly .


Semua terdiam sibuk memikirkan cara terbaik untuk menyelamatkan Nindy .


" Kalo begitu biar aku dan Sherly jenguk lagi ke rumah nya Nindy besok sepulang sekolah , gimana gaes ?" tanya Lita


"Iyaa boleh , nanti kita tunggu di rumah nya Ervan ya " ucap Ibnu


Danu , Ervan dan yang lain mengangguk setuju . Kemudian pulang ke rumah masing - masing .


☆☆☆☆☆


Sementara itu di kediaman Nindy ,


Nindy masih belum boleh keluar dari kamar , ia meringkuk di ranjang nya . Tatapan nya kosong , kepala nya menunduk , tubuh nya gemetar . Di lantai kamar nya di penuhi puluhan ular berseliweran . Nindy tidak berani bergerak , ia menutupi tubuhnya dengan selimut .


Ssstt.. Ssttt.. Ssssttt .. Sssstt .. Suara desisan ular - ular itu bersahutan .


"Tolong jangan kesini .. kalian di bawah aja ya .. " bisik Nindy yang sudah setengah mati menahan rasa takut nya


Nindy sudah kehilangan selera makan nya sejak gangguan ular - ular itu berdatangan , ia tak lagi menyentuh makanan yang di bawa oleh mbak Yum .


Nindy melirik ke arah tiga buah koper besar yang sudah terisi penuh oleh baju - baju dan semua kebutuhan Nindy , mbak Yum yang memasukkan semua nya . Koper - koper itu sudah siap angkut jika tiba saat nya Nindy ke rumahsakit . Airmata nya keluar lagi membasahi pipi nya yang tirus dan pucat . Ingin sekali ia turun dari ranjang dan keluar kamar tapi ia tidak tahu bagaimana melewati ular - ular ini .


"Ayoo nindy, berfikir .. " Nindy membatin sambil menguatkan diri nya . Tekad nya sudah bulat , ia akan kabur dari rumah nya .


Nindy mengumpulkan keberanian , ia mencoba untuk keluar dari jendela kamar nya .


Ular - ular itu seolah tahu rencana Nindy , beberapa dari mereka merayap naik ke atas meja belajar .


Nindy pun melompat dari atas ranjang menuju sofa yang terletak di bawah jendela . Ia harus tiba lebih dulu sebelum ular itu.


Hooooppp bruuk .. Nindy mendarat di sofa dengan posisi setengah badan merosot . Ia mengangkat kaki nya agar tidak menyentuh lantai , kemudian menarik setengah tubuh nya ke atas sofa sekuat tenaga . Kemudian merangkak meraih gagang jendela .


Ular - ular itu menatap tajam ke arah nya , beberapa dari mereka memiliki mata yang merah menyala .

__ADS_1


SSSSSttt SSSSStt .. Suara desisan mereka semakin kencang , seolah mereka sedang marah .


Dengan tubuh dan tangan yang gemetar hebat , keringat mengucur deras Nindy mendorong - dorong jendela .


Seekor ular sudah berada di atas meja belajar nya , ular itu berwarna hijau kuning dengan dua tanduk kecil di kepala nya . Mendesis - desis sambil terus merayap mengejar Nindy .


"Kenapa jadi susah begini sih .. Kok keras banget di buka nya " gumam Nindy sambil terus berusaha mendorong jendela nya sekuat tenaga agar segera terbuka


Graakk , jendela pun akhir nya terbuka . Nindy segera melompat keluar dan menutup jendela nya kembali dengan cepat .


Bersamaan dengan melesat nya ular tadi ke arah jendela . Namun terbentur karena keburu di tutup oleh Nindy .


Nindy merayap ke dinding , lalu lompat dan akhirnya nemplok di tiang rumah . Ia meluncur ke bawah , tidak di pedulikan tangan dan kaki yang nyeri dan perih karena kulit yang bergesekkan dengan tiang.


Sesampai nya di bawah ..


Plaakk plaakk .. Tamparan keras di kedua pipi nya . Nindy terkejut , ia tak menyangka begitu ia balik badan tiba - tiba saja papa nya sudah berada di belakang nya dengan tatapan marah.


"Papa .. Kenapa pa ?" isak Nindy sambil memegangi pipi nya yang kini juga terasa perih . Namun tidak seperih hati nya saat ini mendapatkan perlakuan kasar dari pria yang dia anggap sebagai ayah kandung nya.


"Mma maksud papa ?


Maa .." Nindy menoleh ke Minna yang berdiri di belakang Ardi , mencoba mendapatkan perlindungan dan juga penjelasan dari mama nya , yang juga dia anggap sebagai ibu kandung nya . Namun Minna melengos tanpa peduli dengan Nindy .


Nindy menunduk terisak , kulitnya sudah mengelupas dan berdarah .


"Sudah jangan banyak tanya kamu " bentak Ardi sambil menyeret Nindy dan memasukkan nya ke dalam mobil . Dengan pakaian seadanya dan tanpa alas kaki Nindy duduk di jok belakang .


Didalam mobil hanya ada Ardi , Minna dan juga Nindy . Mobil melaju dengan kencang , tidak sampai dua jam tibalah mereka di sebuah gedung besar . Tertera tulisan besar RUMAH SAKIT JIWA "TERKASIH " di depan gedung yang berwarna putih itu .


Orangtua Nindy yaitu Ardi dan Minna, segera di sambut oleh petugas berseragam putih . Ardi membuka pintu mobil dan menyeret tangan Nindy . Nindy terjatuh ke aspal , ia segera bersujud di kedua kaki Ardi , papa nya.


"Papaa ..Hhuu huu .. Aku tidak mau di sini , pa .. Toloong pa , jangan masukkan aku ke sini pa .. Tooloong paa .. Hhuu huu huu ..


Mamaaa , aku tidak gila ma .. Hhuu huu huu .. Tooloong Nindy , ma .. Nindy ga sakit jiwa ma .. Hhu huu ..,Jangaann masukkan Nindy , maaa ..aaa ..aaa ..,Hhuu huu .." Tangis Nindy pecah . Ia memohon , mengiba kepada kedua orangtua nya .

__ADS_1


" DIAM KAMU ! " bentak Ardi sambil mengibaskan kaki nya untuk menyingkirkan tangan Nindy


"Sudah , tidak apa - apa , pak .. Nama nya juga orang sakit jiwa , pak " ucap seorang petugas


Nindy terus meronta - ronta ,ia menjerit dan berteriak menolak masuk ke dalam rumahsakit itu namun petugas - petugas rumahsakit sangat kuat memegang tangan Nindy .


Lalu Nindy pun merasakan sebuah jarum menusuk lengan nya , ketika ia menoleh seorang petugas sedang menyuntikkan sesuatu . Beberapa menit kemudian pandangan nya gelap , tubuh nya lemas . Nindy tidak tahu lagi apa yang terjadi .


☆☆☆☆☆


Entah berapa lama Nindy tidak sadarkan diri , begitu ia tersadar , ia berada di sebuah kamar yang lebih kecil dari kamar tidur nya di rumah.


Kamar ini hanya di lengkapi sebuah tempat tidur , meja kecil dan lemari kecil . Nindy pun beranjak dari ranjang nya . Dengan terhuyung - huyung karena kepala nya yang masih pusing ia mendekati lemari kecil . Setelah di buka , di dalam nya terdapat baju dan semua keperluan nya .


Ia pun memeriksa koper yang tergeletak di sudut kamar. Yang satu sudah kosong , yang satu nya lagi masih ada sebagian isi nya.


Ia kembali ke ranjang nya, merebahkan tubuh kurus nya sambil menatap langit - langit kamar . Airmata nya terasa kering , kini batin nya yang menangis .


☆☆☆☆☆


Keesokkan hari nya Sherly dan Lita kembali ke rumah Nindy , namun satpam rumah nya bilang kalau Nindy sudah di bawa ke rumahsakit . Setelah mendapatkan informasi dari satpam penjaga rumah Nindy , mereka langsung ke rumah Ervan kembali .


Mereka menyampaikan bahwa Nindy sudah berada di rumahsakit sejak kemarin . Dan untuk sementara belum boleh di jenguk sehingga pak satpam tidak di izinkan memberitahu di rumahsakit mana Nindy berada .


" Wuaduuhh celaka , terlambat kita gaes .. Jadi sekarang gimana nih ? " tanya Ibnu dengan wajah bingung sambil menatap ke semua teman nya . Yang lain terdiam , belum tahu harus bagaimana .


"Yah untuk sementara kita bantu doa aja dulu , nanti beberapa hari kedepan kita coba lagi ke rumah nya ya Lit .. Siapa tau udah boleh minta alamat rumahsakit nya jadi bisa di jenguk " ucap Sherly . Lita mengangguk setuju


Danu tahu harus bagaimana , namun Danu belum ingin mengatakan kepada teman - teman nya.


###############################


Haaii para readers terzeyeeng .. ini novel pertamaku , mohon maap jika banyak typo dan alurnya masih berantakan 🙏🙏😬


PLiiss bantu aqoh memperbaiki dengan saran2 kalian ya🤩 .. LIKE 👍 ,,, KOMEN 💕 ,,, VOTE ⚘ Terimakasiih 🙏🙏🤗 luv u all 🤗

__ADS_1


__ADS_2