SANTRI PILIHAN

SANTRI PILIHAN
BAB . 40 . SUKMA YANG TERTAHAN


__ADS_3

Menjelang sore.. Seorang lelaki berjalan sambil melamun , ia membawa cangkul dan memakai topi caping . Lelaki bernama Jamal ini tinggal bersama seorang istri dan dua orang anak perempuan nya .


Tok took tokk ,


"Assalamualaikum .." ucap nya


" Waalaikumsalam " jawab seorang anak perempuan sambil membuka kan pintu


" Wuah bapak sudah pulang dari ladang " ucap nya sumringah , ia pun menggandeng tangan Jamal dan membawa nya masuk . Ia adalah Putri , anak bungsu Jamal.


Jamal pun mengikuti langkah anak bungsu nya masuk ke dalam rumah sambil senyum . Setelah bapak nya masuk , Putri kembali bermain di tengah rumah


Istri Jamal segera membuatkan secangkir kopi dan memberikan ke suami nya .


" Kopi nya ,pak " ucap Sartinah , istri Jamal .


Setelah meletakkan cangkul dan topi nya , ia segera menghampiri istri nya, kemudian menyeruput kopi dengan perlahan . Sementara anak sulung Jamal, Fitri sedang berada di kamar nya .


Jamal hanya lah seorang buruh tani lepas , ia tidak memiliki lahan . Rumah Jamal hanya sebuah gubuk tua yang beralaskan tanah . Sedangkan Sartinah , sehari - hari hanya sebagai buruh cuci . Dengan penghasilan mereka yang jauh dari kata cukup , membuat kedua anak perempuan nya belum bersekolah meski pun usia mereka sudah terbilang cukup .


Ketika malam tiba, Sartinah menyalakan lampu tempel . Karena listrik di rumah mereka sudah terputus akibat tidak sanggup membayar . Lampu tempel itu di isi sedikit minyak tanah ,api nya di tutup dengan tutup yang berbentuk seperti corong yang terbuat dari beling atau kaca . Sartinah harus hati - hati meletakkan nya agar tidak tersenggol . Karena jika tersenggol dan jatuh , maka kaca penutup akan pecah dan api akan langsung menyambar dengan cepat , apalagi rumah mereka terbuat dari bilik bambu .


Sartinah melihat Fitri sedang membaca sebuah buku yang sudah usang . Sartinah sangat miris dan sedih melihat nya . Setiap kali ada buku yang akan di buang oleh majikan nya , Sartinah meminta buku tersebut . Ia ingin anak nya dapat belajar meski pun hanya melalui buku - buku bekas .


Sartinah menghela nafas , kemudian mendekati suami nya yang sedang duduk bersila di ruang tamu . Rumah Jamal dan Sartinah hanya terdiri dari ruang tamu yang sedikit besar dan memanjang , di sekat dengan sebuah lemari bufet yang sudah rusak . Di balik bufet itu di jadikan ruang an tempat berkumpul atau makan bersama . Kemudian terdapat sekat bambu dan sebuah pintu menuju ke dapur dan kamar mandi . Di seberang ruang tamu dan ruangan di belakang bufet terdapat tiga buah kamar tidur yang berjajar , ukuran nya kecil - kecil . Di rumah itu tidak ada kursi tamu , hanya tikar - tikar butut yang di gelar di atas tanah . Perabotan nya pun sudah tua dan delapan puluh persen rusak di sana - sini .


Sartinah duduk di sebelah suami nya , Jamal ..


"Pak .." panggil nya , membuyarkan lamunan Jamal .


Jamal pun menoleh ke arah Sartinah ,


" Kenapa bu ?" tanya nya


" Anak - anak sudah waktu nya bersekolah , pak .. Kasian . Fitri harusnya kan sudah kelas tiga SD , tertahan tiga tahun . Sedangkan Putri juga tertahan , harus nya tahun ini naik ke kelas dua . Kita ga ada uang sama sekali , gimana pak ?" tanya Sartinah dengan sedih .


" Iya aku juga tahu , bu .. Maka nya ini aku lagi mikir , cari jalan keluar nya " ucap Jamal


Hari terus berganti ,


peluh membasahi sekujur tubuh Jamal yang sedang duduk di pematang sambil mengibas - ngibaskan topi caping nya .. Hari ini cuaca begitu terik , Jamal yang sedang menggarap ladang nya pak Fatih mencoba beristirahat sejenak . Ia membuka perbekalan yang di siapkan oleh istri nya tadi pagi .. Air putih yang di taruh di botol besar dan sebuah rantang yang berisi nasi dan lauk pauk .


Perlahan Jamal mulai menyantap makan siang nya seorang diri, ia kurang berselera karena masih memikirkan cara untuk mendapatkan uang agar anak - anak nya bisa bersekolah .


Nurdin yang melihat Jamal segera menghampiri nya ,


" Haaii Mal , udah selesai ?" tanya Nurdin sambil duduk di samping Jamal


" Eehh kamu , sedikit lagi lah untuk hari ini .. Sisa nya besok , Din .


Kamu mau kemana , Din ?" tanya Jamal sambil meletakkan bekas makan yang sudah ia bereskan .


" Mau ke desa sebelah , kebetulan lihat kamu belum pulang " jawab nya sambil nyengir


" Oohh .. " ucap Jamal singkat sambil mengangguk - angguk dengan kepala tertunduk, tak bersemangat .


" Heeii Mal , kenapa .. kok malah nunduk dan bengong ?" tanya Nurdin sambil menepuk pundak Jamal


" Eh ah engga , eng .. Engga ada apa - apa kok , keluarga sehat Din ?" ucap Jamal mengalihkan pembicaraan


" Alhamdulilah sehat .. Keluarga kamu gimana , Sehat semua kan ? " ucap Nurdin


" Iya sehat , alhamdulilah , Din " jawab Jamal singkat


Nurdin yang melihat gelagat Jamal sedikit berbeda pun segera mendesak Adnan untuk bercerita


"Seperti nya kamu sedang ada pikiran banget ya , Mal ? Kalo mau cerita silahkan , Mal .. Di jamin aman rahasia nya, kamu kan sudah kenal saya . Ya kalo saya bisa bantu ya saya bantu , kalo saya ga bisa bantu minimal saya bantu doa , Mal .. hhehe " ucap Nurdin mencoba meledek Jamal


Nurdin dan Jamal sudah berteman sejak kecil , mereka berasal dari desa yang sama . Sejak sama - sama menikah , mereka jadi jarang bertemu. Selain kesibukkan mereka mencari nafkah , di karena kan juga tempat tinggal nya terpisah beberapa desa .


Setelah menghela nafas, akhir nya Jamal pun menceritakan masalah nya ke Nurdin .


" Begini Din .. Anak - anak saya sudah waktu nya masuk sekolah , kamu kan tahu lah kehidupan saya seperti apa . Saya bingung , apa lagi yang harus saya lakukan agar saya bisa membiayai anak - anak dan mencukupi kebutuhan rumahtangga " ucap Jamal panjang lebar


Nurdin pun menyimak ucapan Jamal, ia nampak berpikir serius .


" Kamu mau saya kenalin ke seseorang yang mungkin saja bisa membantu kamu , Mal ?" tanya Nurdin


" Boleh Din .. Siapa dan kapan ?" Jamal balik bertanya dengan antusias


"Nanti saya kenalkan langsung besok malam, Mal .. Saya ke rumah kamu dulu " ucap Nurdin setelah ia berpikir sejenak


" Baiklah, kalau begitu saya tunggu kamu besok ya " ucap Jamal


" Oke lah siipp , kalau begitu saya lanjut ya Mal " jawab Nurdin sambil beranjak dari duduk nya , ia menepuk celana nya yang kotor karena duduk di tanah bersama Jamal


" Iya Din , hati - hati di jalan .. Sampai ketemu besok ya " ucap Jamal tersenyum


Nurdin pun mengangguk dan melambaikan tangan nya sebelum melangkah pergi meninggalkan Jamal . Jamal segera melanjutkan pekerjaan nya di ladang .


Besok malam , selepas magrib Nurdin menepati janji nya . Ia datang ke rumah Jamal . Setelah berbincang sebentar dengan Jamal dan istri nya, Nurdin dan Jamal pun segera pergi .


Menjelang tengah malam mereka sampai di sebuah rumah ,


tok tok tok


"Assalamualaikum " ucap Nurdin sambil mengetuk pintu dengan perlahan .


"Waalaikumsalam .. Siapa ?" sahut suara dari dalam


" Saya .. Nurdin , kang " jawab Nurdin


Tak berapa lama terdengar suara pintu di buka , lalu keluarlah seorang lelaki paruh baya .


" Oohh kamu , ayo masuk .. Masuk " ucap nya ramah sambil membuka pintu lebar - lebar dan mempersilahkan Nurdin dan Jamal untuk masuk


" Silahkan duduk " lanjut nya


Nurdin dan Jamal pun duduk bersebelahan di kursi yang terbuat dari bambu , sedangkan pria tersebut duduk di hadapan nya .


" Ada apa kamu ke sini malam - malam , Din ? Dan ini siapa ?" tanya nya sambil melihat ke arah Jamal


Jamal pun segera senyum dan menyalami pria tersebut


" Saya Jamal , temennya Nurdin , kang " jawab Jamal sopan


Pria itu mengangguk - angguk lalu menoleh ke arah Nurdin kembali ,


" Begini kang .. Maksud kedatangan saya adalah ingin meminta saran untuk temen saya ini " ucap Nurdin sambil menunjuk ke Jamal dengan sopan


" Nah Mal, ini kang Parman .. Mudah-mudahan kang Parman bisa membantu kamu " ucap Nurdin


Jamal pun mengangguk sambil tersenyum , ia benar - benar berharap kang Parman bisa membantu nya sesuai perkataan Nurdin


" Oohh begitu, memang nya kamu punya masalah apa , mas Jamal ?" tanya Parman sopan

__ADS_1


"Ehmm begini kang , mohon maaf kalo kedatangan saya dan Nurdin mengganggu akang .. Dan juga merepotkan kang Parman" ucap Jamal berbasa - basi


" Iyaa tidak apa - apa , silahkan cerita .. Apa yang nanti bisa saya bantu " ucap Parman


" Iya , baik kang ... " Jamal pun menceritakan keinginan nya untuk punya uang banyak agar bisa memenuhi kebutuhan rumahtangga nya


" Ya sudah , kalo kamu ingin punya uang besok ke sini lagi . Sendiri juga ga pa - pa , gimana ?" tanya Parman


" Baik kang " jawab Jamal senang


Lalu Jamal dan Nurdin pun pamit , mereka berjalan beriringan di gelap nya malam sambil berbincang untuk mengusir sepi .


" Din, besok kamu ikut ga ke rumah kang Parman ?" tanya Jamal


" Seperti nya saya tidak perlu ikut , Mal.. Kamu kesana sendiri aja ga pa pa kan ?" ucap Nurdin


" Iya ga pa pa , makasiih banyak ya, Din .. Kamu memang sahabat sejati , hehe .. " ucap Jamal , yang langsung di sambut tonjokkan pelan di bahu Jamal sambil terkekeh oleh Nurdin


Mereka berpisah di persimpangan , untuk menuju ke rumah nya masing - masing .


Keesokkan hari nya , setelah pulang dari ladang Jamal bersiap akan ke rumah kang Parman


Menjelang sore Jamal sudah sampai di rumah kang Parman .


Tok tok tok ,


" Assalamualaikum kang Parman , saya Jamal " ucap Jamal


Tak lama pintu pun terbuka ,


" Mari masuk , mas Jamal " ucap kang Parman yang ternyata memang sudah menunggu Jamal


Setelah kedua nya duduk ,


" Jadi kamu pengen punya uang banyak , mas Jamal ?" tanya Parman


" Iya kang, apa kang Parman bisa memberi pekerjaan atau apa ke saya ?" tanya Jamal sopan


Parman nampak berpikir , kemudian ia berkata " Sudah , gini aja .. Nanti kamu ikut saya ya, saya bersiap dulu " ucap nya


" Baik kang " jawab Jamal singkat


Jamal mengikuti kang Parman ke sebuah tempat yang belum ia ketahui , ia hanya mengekor di belakang kang Parman tanpa banyak bertanya .


Setelah berjalan hampir dua jam sampai lah mereka di sebuah rumah di tengah hutan . Di teras rumah tersebut duduk seorang pria yang sudah lanjut usia . Ia duduk di bale bambu yang sudah usang .


Saat ia melihat aku dan kang Parman datang , ia pun segera berdiri dari duduk nya kemudian berdiri di halaman rumah nya .


" Mbah .. " ucap Parman sambil mnyalami nya . Jamal pun mengikuti Parman , ia menyalami pria lanjut usia itu .


" Masuk " ucap pria tersebut


" Baik mbah " jawab Parman . Aku dan Parman pun masuk ke dalam rumah


Lelaki yang di panggil 'mbah' itu duduk beralaskan tikar . Di hadapan nya terdapat sebuah meja pendek yang di alasi kain hitam da berbagai macam keris juga bunga aneka rupa . Bau dupa pun tercium kuat .


Aku dan kang Parman duduk berdampingan di hadapan si mbah


" Ini mbah, yang nama nya Jamal .. Ingin minta bantuan " ucap kang Parman


" Kamu cerita sendiri sama mbah Sarman ya .. Beliau biasa membantu orang yang sedang kesulitan seperti kamu " lanjut kang Parman sambil menoleh ke arah Jamal


" Oiya baik , Din .. Begini kang.." jawab Jamal . Ia pun menceritakan keinginan dan juga kesulitan nya kepada mbah Sarman .


" Sanggup mbah " jawab Jamal .


Demi mendapatkan uang banyak untuk istri dan anak - anakku , pekerjaan apa pun akan ku lakukan , batin Jamal .


" Mulai besok malam ya .. Kamu langsung datang saja ke makam keramat yang tidak jauh dari sini . Ketika matahari terbenam kamu sudah di sana , begitu terus selama tiga hari . Baca mantra ini " ucap mbah Sarman , seraya memberikan secarik kertas bertuliskan kalimat yang sama sekali belum pernah Jamal dengar .


" Baik mbah " ucap Jamal sambil menerima kertas itu dan memasukkan ke saku nya .


Setelah mendapat arahan dari mbah Sarman serta lokasi makam mereka berdua pun kembali pulang .


☆☆☆☆☆


Selepas magrib , Jamal sudah berada di makam keramat yang telah di tunjukkan oleh mbah Sarman kemarin . Ia pun mulai mengambil posisi di sebelah makam, duduk bersila beralaskan tanah .


Kemudian Jamal mengeluarkan kertas dari mbah Sarman , lalu membaca tulisan itu perlahan . Ia melakukan itu sampai matahari mulai terbit . Dan Terus melakukan nya sampai tiga malam berturut - turut .


Setelah selesai , ia kembali ke rumah mbah Sarman .


" Ritual kamu udah selesai .. Kamu bener ingin kaya , punya uang banyak ?" tanya mbah Sarman


" iya mbah " jawab Jamal mantap


" bener ya .. Yakin ?" ulang mbah Sarman lagi


"Bener , yakin sekali mbah " jawab nya sambil senyum


Mbah Sarman mengangguk - angguk lalu mbah Sarman beranjak dari duduk nya meninggalkan Jamal sendiri. Tak lama kemudian ia keluar lagi sambil membawa sebuah nampan yang di tutupi sehelai kain . Nampan itu seperti nya kosong .


Nampan tersebut di letakkan di hadapan Jamal , mbah Sarman pun memejamkan mata nya sambil komat kamit . Entah apa yang di baca nya , sekitar sepuluh menit kemudian .. Jamal melihat seperti ada barang atau benda yang di tumpuk di atas nampan yang tertutupi sehelai kain tadi .


Mbah Sarman membuka mata nya lalu menatap Jamal ,


" Buka lah .." perintah nya kepada Jamal


Jamal pun menurut , ia segera membuka kain yang menutupi nampan tersebut dengan perlahan.


Betapa terkejut nya Jamal melihat isi nya , ia sungguh - sungguh takjub dengan apa yang ada di hadapan nya .


" Mmmbaah .." ucap Jamal terbata


" Itu untuk mu , punya mu .. Silahkan ambil " jawab mbah Sarman


" Be .. Bener buat saya, mbah ? Sebanyak ini , mbah ? " tanya nya tak percaya


" Iyaa buat kamu, bawa saja semua nya " jawab mbah Sarman dengan santai


" Bener , ga pa pa kalo saya bawa , mbah .. Ini bener punya saya ,, eehh maksud nya buat saya ?" Jamal masih tidak percaya , raut wajah nya bingung . Ia tidak pernah melihat tumpukkan uang sebanyak ini , belum lagi beberapa kalung dan gelang yang berada di antara nya .


Antara senang , takjub dan takut menyelimuti hati Jamal .


" Iya sudah, bawa sana " ucap mbah Sarman


" Baik ka..Kalau begitu mbah " ucap Jamal .


Ia pun segera memasukkan perhiasan - perhiasan kedalam tas ransel nya yang sudah butut namun selalu ia bawa kemana pun .


Lalu perlahan mulai beralih ke uang tersebut , ia mengambil satu tumpuk uang dan memasukkan nya dengan perlahan . Kemudian tumpukkan kedua , sambil menoleh dan tersenyum ke arah mbah Sarman . Ia melihat mbah Sarman duduk santai sambil menyalakan rokok nya . Mbah Sarman hanya mengangguk saja .


Ketika Jamal kembali menoleh ke arah tumpukkan uang yang ketiga , tiba - tiba di sana terpampang wajah anak sulung nya yaitu Fitri .


" HHHaaa .. " Jamal terlonjak kaget , ia mengurungkan untuk mengambil uang tersebut . Lalu mengucek mata nya , kemudian melihat kembali ke tumpukkan uang tersebut .

__ADS_1


Di sana masih terlihat anaksulung nya, Fitri memakai celana pendek biru dan kaos oblong putih gambar kartun sedang tidur .


Mbah Sarman yang melihat gelagat Jamal , segera mematikan rokok nya .


Jamal terdiam , wajah nya menunduk . Ia bingung , kenapa bisa ada wajah anak nya di atas tumpukkan uang itu .


" Kenapa diam .. masukan saja semua nya , ayoo " ucap mbah Sarman


" A..aanuu , mmbah .. Saya bingung , ke.. Kenapa ada bayangan anak saya di atas tumpukkan uang itu ? " ucap Jamal terbata


"Hhahhhaa.. Hhaahaa .. " mbah Sarman tertawa terbahak - terbahak


Sementara Jamal hanya melongo tidak mengerti


" Lha iyaa ,, kan kamu pengen uang banyak , pengen kaya .. ya ituu .. di tukar sama anak mu " jawab mbah Sarman dengan tenang , kemudian menyalakan kembali rokok nya


" Maksud nya apa ini , kenapa mesti di tukar .. apalagi di tukar dengan anak ku ? " tanya Jamal kebingungan


" Hhahaahaaa ... Dasar bodoh ,Yang kamu lakukan kemarin itu sama dengan nyugih hanya cara nya saja yang aku bedakan " jawab mbah Sarman


" Astagfirullahal aziimm " ucap Jamal terkejut , ia lemas mendengar nya .


Dan seketika itu juga uang dan perhiasan yang di hadapan nya hilang begitu saja .


" Oalaahh hilang, mbah " ucap Jamal dengan polos nya sambil melihat ke dalam tas nya


" Jangan kamu sebut kalimat itu di sini , kalo pun kamu sebut maka semua harta itu akan lenyap " jawab mbah Sarman dengan kesal


" Iya sudah ga pa pa , mbah .. Saya ingin uang dan harta itu untuk anak - anak saya dan istri saya . Kalo harus kehilangan mereka , buat apa harta saya ..Tidak ada artinya lagi " ucap Jamal sedih


"Baiklah, terserah .. Asal jangan kau ucapkan kalimat - kalimat tadi atau yang ada nama Tuhan di sini " ucap mbah Sarman dengan menahan emosi


" Baik mbah, terimakasih banyak .. Maaf kalo saya menolak , saya pamit mbah " ucap Jamal , segera keluar dari rumah Sarman .


"Hhmm" hanya itu jawaban dari mbah Sarman. Ia membiarkan Jamal pergi dari kediaman nya .


☆☆☆☆☆


Sore itu ia di rumah , ia hanya mengatakan kalau ia belum mendapatkan rejeki kepada istri nya . Kemudian ia pun melihat kedua anak nya dengan lega .


Keesokkan pagi nya, Sartinah di buat heran dengan Fitri yang tak kunjung bangun dari tidur nya . Sartinah sudah membangunkan beberapa kali namun tetap tak bergeming .


"Pak, Fitri kok belum bangun - bangun .. Tumben , biasa nya dia selalu bangun pagi . kenapa ya pak ? Tapi aku pegang tubuh nya ga demam kok , pak " tanya Sartinah panik


Jamal pun segera berlari ke kamar anak nya , ia mencoba membangun kan dan mengecek suhu tubuh anak nya , normal .. Tidak demam .


Lalu ia pun teringat dengan peristiwa saat di rumah mbah Sarman ,


" Bu, kemarin Fitri pake baju apa ?" tanya Jamal hati - hati , jantung nya berdegup kencang menunggu jawaban istri nya


" Kemarin itu Fitri pake celana pendek biru sama kaos putih kartun , itu pakaian nya masih di jemur . Memang nya kenapa pak ?" tanya Sartinah bingung


Sementara itu Jamal tertunduk lemas , ia menutup wajah nya . Ini salah ku, batin Jamal . Ia berusaha menahan airmata di depan istri nya .


Sartinah yang berdiri di sebelah Jamal menatap bingung ,


" Ga pa pa bu ...Kita tunggu dulu , siapa tau nanti bangun " ucap Jamal sambil beranjak keluar dari kamar anak nya


Mereka pun menunggu berhari - hari , setelah hampir satu minggu tak kunjung ada tanda - tanda Fitri sadar . Jamal pun mendatangi sahabat, Nurdin . Ia menceritakan semua nya kepada Nurdin termasuk kondisi anak nya sekarang .


" Oalaahh Mal , setau saya mbah Sarman itu memang banyak menolong orang yang ingin naik jabatan , dapet kerjaan , usaha lancar dan lain nya . Cuma ya itu , saya ga tau kalo seperti itu . Saya pikir kalo sudah berhasil paling imbalan nya bayaran berupa uang . Bukan seperti ini .


Ya sudah nanti saya bantu cari orang yang bisa ngobatin anak mu ya " ucap Nurdin , ia merasa bersalah karena mengajak Jamal ke tempat mbah Sarman yang ia sendiri juga belum tahu dengan jelas seperti apa bantuan yang akan di berikan oleh mbah Sarman dan juga imbalan nya .


☆☆☆☆☆


Kebetulan ada seorang istri pengurus pesantren yang berasal dari desa yang sama dengan pak Jamal . Ia pun sedikit banyak nya kenal dengan keluarga pak Jamal . Ketika ia mendengar musibah itu , ia segera memberitahu suami nya agar meminta bantuan dari abah .


" Assalamualaikum bah " sapa Ahmad sambil menyalami abah ketika selesai sholat isya berjamaah .


Abah pun segera menjawab salam dengan lengkap.


" Maaf mengganggu bah , kalau boleh ada yang ingin saya sampaikan " lanjut Ahmad


" Boleh , mari kita duduk dulu di sini " ajak abah sambil mengambil posisi duduk di halaman masjid


" Ada apa , Mad ?" tanya abah


" Begini bah , di desa istri saya sedang ada warga yang mengalami kejadian aneh. Info nya anak sulung nya sudah beberapa hari ini tidak bangun - bangun. Sudah di panggil dokter puskesmas , kata nya baik - baik saja . Sudah ada beberapa kyai bahkan juga dukun tapi masih belum bisa mengobati nya .


Mohon maaf sebelum nya, apakah saya boleh minta tolong ke abah untuk membantu warga tersebut ?" tanya Ahmad dengan sopan


Abah nampak berpikir sejenak , kemudian ..


" Baik lah, abah coba jenguk dulu .. Berikan saja nama keluarga dan alamat nya , nanti abah kesana bersama Danu. Kamu bantu doa bersama para santri disini ya " ucap Abah


" Alhamdulilah terimakasih banyak , bah .. Baik bah " ucap Ahmad sumringah, lalu ia pun memberikan selembar kertas yang sudah ada nama Jamal dan alamat rumah nya .


Sebelum menemui abah, Ahmad memang sudah mempersiapkan nya . Ahmad sudah lama menjadi salah satu pengurus di pesantren abah , tugas utama nya menyusun jadwal para santri dan juga memberikan pengawasan secara menyeluruh .


Setelah berbincang sejenak, abah dan Ahmad pun kembali ke rumah nya masing - masing .


Esok hari nya abah meminta Danu untuk menemui keluarga pak Jamal bersama .


Setelah sampai di kediaman pak Jamal ,abah dan Danu pun memperkenalkan diri .


" Pak Jamal , apakah ada hal yang bapak lakukan sehingga mengakibatkan anak bapak seperti ini ?" tanya abah .


Karena dalam penglihatan abah , ada ritual yang di lakukan oleh pria yang di hadapan nya saat ini .


" Saya kurang tau apakah ini akibat yang saya telah lakukan .. Karena saat itu saya sudah membatalkan langsung saat terbayang wajah anak saya " ucap Jamal


Kemudian Jamal pun menjelaskan semua yang ia lakukan. Sartinah hanya bisa menangis mendengar penjelasan suami nya , ia tidak menyangka suami nya bisa terjerumus tanpa sadar .


Abah dan Danu mendengar kan dengan seksama sampai Jamal selesai bercerita . Kemudian abah bertanya kembali ke pada Jamal ..


" Apakah sudah ada yang mencoba menyelamatkan anak bapak ?"


" Sudah bah , tapi kata mereka tidak bisa . Mereka tidak bisa memutus perjanjian . Saya tidak mengerti maksud mereka, bah " ucap Jamal


" Jadi begini pak Jamal, anak bapak yang bernama Fitri itu saat ini sukma nya sedang di tahan . Pada saat pak Jamal mengiyakan , itu lah perjanjian mulai terikat . Meski pun pak Jamal tidak jadi mengambil harta tersebut , itu tidak membatalkan perjanjian pak Jamal . Apalagi pak Jamal sudah melakukan ritual nya sampai selesai .


Mungkin itu lah sebab nya orang - orang yang menolong anak bapak tidak bisa melanjutkan , karena mereka harus membuat jin atau iblis itu tunduk . Sedangkan menundukkan mereka itu tidaklah mudah .


Ritual di makam itu hanya lah sarana perantara yang di buat - buat saja , bukan orang yang meninggal itu yang mengabulkan permintaan pak Jamal . Iblis atau jin lah yang membuat itu dengan mengkambing hitamkan makam keramat tersebut " ucap abah menjelaskan


Tangis pak Jamal pecah, ia sangat menyesali kebodohan nya .


Ia khawatir dengan nasib anak nya , saat ini ia berharap abah dan santri nya dapat menyelamatkan sukma Fitri yang tertahan di alam gaib akibat dari kesalahan nya .


###############################


Haaii para readers terzeyeeng .. ini novel pertama ku , mohon maap jika banyak typo dan alur nya masih berantakkan 🙏🙏😬


PLiiss bantu aqoh memperbaiki dengan saran2 kalian ya🤩 .. LIKE 👍 tp jgn di bom ya😁🙏 ,,, KOMEN 💕 ,,, VOTE ⚘ Terimakasiih 🙏🙏🤗 luv u all 🤗

__ADS_1


__ADS_2