
ahhh,,,enaknya tidur ya Allah,,,
rasanya sejak pindahan ke tempat baru. aku tidak pernah lagi bisa tidur sepulas ini. selalu saja ada hal yang membuatku susah untuk tidur enak,,
penghasilan dari pengantaran online juga lumayan hari ini. alhamdulillah,,,
sebentar bisa ngajak anak-anak main dan jajan di taman kota.
ku lirik jam dinding di kantor. ternyata sudah menunjukkan pukul 7 pagi. aku segera pulang menuju rumah.
umi hari ini bisa masak makanan enak. heheh,,
aku mempercepat menarik gas motorku. aku tidak sabar lagi menuju ke rumah bertemu anak dan istriku.
tapi tumben yah tidak ada kabar dari umi,,
biasanya kan dia selalu mengirimi ku pesan atau tidak menelpon.
..........
hhh,,, tidur di kantor lagi, tidak pulang lagi,,
begitu saja terus. sementara aku ? aku harus menjaga zio dan zhea siang malam !
ku lirik jam di hp ku dengan kesal
semalam kan dia bilang mau pulang. tapi buktinya dia tidak datang ! tidak pernah bisa di pegang janjinya.
tiba-tiba zio menangis karna di pukuli zhea
zheaaa,, jangan nak,,
adik mu tidak tau apa-apa itu ,,,
jangan suka mukulin adik nak,
iooo akal mama,,
zhea mulai merengek karna ku marahi
belum 5 menit ku ceramahi zhea. sekali lagi suaranya zio memekik. dia di pukuli zhea lagi menggunakan botol bedak tabur di bagian kepalanya
sontak saja aku kaget. ku cubit zhea di bagian tangannya
zhea menangis sejadi-jadinya sampai muntah di atas tempat tidur. membuat batas kesabaran ku makin hilang kendali. ku pukul makin keras lagi pada tangan zhea. aku juga terus mengomel sambil membersihkan muntahannya.
rasa kesal padaku sebenarnya bukan cuman karna tingkah anak-anak. pikiranku mulai buntu. keuangan yang menipis, abi yang semakin jarang pulang, aku yang mulai lelah karna tiap malam sulit istirahat. apalagi zio sekarang sudah mulai masuk ke fase tantrum. dia lebih sering menangis tidak jelas di saat tengah malam.
lalu zhea ! dia berubah semenjak adiknya lahir. dia kini mulai sering kali bertingkah nakal.
rasanya seluruh kepalaku ingin meledak. aku harus menampung semua beban ini sendiri. tanpa ada teman yang bisa ku ajak berbicara. aku memang bersyukur punya suami yang bertanggung jawab. tapi keseringannya tidur di kantor membuat timbul perasaan jengkel ku padanya.
oke,, kalau sebentar dia pulang aku ingin bicara padanya.
........
malam jam 8 anak-anak sengaja ku tidurkan cepat. aku juga terus memperhatikan gerak gerik abi. aku memastikan kalau situasi sudah agak tenang. agar bisa aku berbicara padanya dengan kepala dingin. mumpung anak-anak sudah tidur di kamar. jadi kita berdua bisa konsentrasi berbicara nantinya.
kalau pun sampai harus bertengkar nantinya. anak-anak tidak makin memperusuh keadaan. apa lagi si zhea, anak itu kalau sama abinya sudah kayak cacing kepanasan. selalu merengek dan minta di gendong terus.
abi,,
ku dekati abi yang sedang asik bermain game di hp nya.
hmm,,
__ADS_1
jawabnya singkat tanpa memandang wajahku
abi,,
aku mau bicara. coba hpnya di lepas dulu,,
aku mulai bernada ketus berbicara pada abi
abi mengangkat mukanya dengan respon yang datar.
kenapa lagi ?
abi melepaskan hp di tangannya.
aku menarik tangan abi untuk pindah duduk di ruang tamu. biar suara kami berbicara tidak terdengar orang. duduk berbicara hal penting di teras luar sama saja memancing tetangga untuk tau tentang urusan rumah tangga kita.
abi,,
boleh umi minta tolong ?
abi bisa kan tidur malam nya di rumah.
umi capek, umi capek jaga anak-anak sendiri.
umur zio sekarang sudah masuk delapan bulan. tapi apa pernah abi menina bobokkan zio seperti zhea dulu ? semua umi,,
jangankan mandi ! menyisir rambut saja rasanya tidak pernah sempat.
aku mulai menunduk dan meneteskan air mataku
abi hanya memberi respon ucapan ku tadi dengan menatap dingin. dia hanya melihat dinding tembok ruang tamu. dia tak sedikit pun menatap juga mengeluarkan kalimat untukku. baik itu menyanggah atau mengiyakan ucapanku.
bi,,,,
jawaab,,
abi bisa tidak ! sehari saja di rumah. keluar terus, di kantor terus ! umi malu sama orang kantor.
malu bi,,
karna suamiku lebih senang di kantor ketimbang tidur sama anak istrinya.
tiba-tiba abi menatapku tajam karna mendengar ucapanku barusan. dia mulai bersuara. suaranya bergetar bahkan terasa sekali bagiku dia berusaha menahan emosinya.
ok,,
umi mau abi di rumah ?
siapa yang mau kasih kita uang ? umi punya uang ? pikir mi,, pikiirr,,
loh kenapa abi bicara begitu. umi kan cuman minta waktu abi supaya bisa menemani aku dan anak-anak. liat zhea !
ketemu abi sudah kayak cacing kepanasan. karna apa? karna abi jarang di sini. abi jarang berinteraksi sama anak-anak. apa lagi sama zio ! semuanya umi dari a sampai z.
mana tahan abi jaga zio lama-lama. paling baru jaga sedikit anak. eh,,, abi sudah ngeluh ,,
ohh,, oke,,
abi di rumah ! tapi jangan mengeluh kalau kita tidak ada apa-apa
sia-sia mi,,
abi cari uang mengambil pekerjaan sana sini. hanya supaya kita bisa makan ! sia-sia abi tadi kerja ikut orang. hanya supaya mau cari uang seribu dua ribu rupiah !
umi tidak bersyukur kah ? hah ?
__ADS_1
abi mau sekali di rumah. tapi setiap kali abi di rumah perasaan abi tidak pernah tenang. itu habis, ini habis ,, semuanya habis,,
abi kerja ! semua di kerjakan yang penting ada bayarannya. untuk apa malu ! toh bukan pada orang lain kita berharap hidup.
umi yang cuman jaga anak di rumah saja selalu mengeluh. kalau abi mau ngeluh ! abi tidak akan perduli tentang semuanya. abi juga bisa mengeluh,,
abi menjelaskan panjang lebar dengan suara yang bergetar. tapi pada akhirnya air matanya yang dia tahan tumpah juga di pelupuk matanya.
melihat abi menangis dan setelah berbicara pada abi. ada rasa sakit yang menusuk di dadaku. aku merasa bersalah karna sudah melukai hatinya dengan perkataanku. aku tau seorang lelaki memang tidak mudah menangis. tapi ketika semua jerih payah yang dia usahakan tidak di anggap oleh istrinya maka dia merasa tidak berharga.
aku pun segera meminta maaf pada abi , aku memeluk dan menghapus air mata di pipinya.
aku menangis tersedu-sedu. menangisi takdir kami berdua.
bi,,, maaf,,
umi minta maaf jika ada kata-kata umi yang menyinggung abi.
hmm,,
abi tau umi capek. abi juga sadar banyak hal yang abi lewatkan pada anak-anak. tapi, ini bukan maunya abi. seandainya kita orang banyak uang untuk apa abi susah payah kerja sana sini.
abi memang malu mi,,
abi malu sama teman kantor abi. di suruh ini di suruh itu. tapi abi berpikir kalau abi terus memupuk rasa malu. apa kita bisa makan ? apa anak-anak bisa minum susu ? makanya sudah sejak lama abi membuang rasa malu abi.
sudah umi jangan nangis,,
abi menghapus air mataku dan memelukku.
sana umi ke kamar tenangkan zio,,
kayaknya suara zio yang menangis itu.
abi mencium keningku dan aku segera beranjak pergi ke kamar untuk meredakan tangisan zio.
.......
ke esokkan harinya
abi membangunkanku pagi-pagi sekali. katanya dia pagi ini mau pergi mengerjakan instalasi di daerah XX. kalau sudah selesai abi juga katanya mau narik pengantaran online menghabiskan sisa waktu beberapa jam menunggu masuk jam piketnya. terus sekitar pukul 4 sore lanjut piket ke kantor. jadinya abi pamit padaku sekalian membawa baju ganti. karna mungkin dia bakal balik besok ke rumah
mi,,,
nanti kalau tiba-tiba ada keperluan mendadak. umi chat abi. nanti abi usahakan kemari,,
ohh iya,, popok anak-anak masih ada ?
haa ?? iya masih cukup sampai malam.
aku berusaha menjawab sambil mengingat jumlah popok anak di atas lemari
ohh ya sudah,,
nanti kalau dapat rezeki abi antar popok buat anak-anak kesini malam. chat abi biar abi tidak lupa.
abi mencium keningku dan aku membalas mencium tangan dan pipinya.
lelaki itu pun pergi berlalu mengendarai motornya. dia pergi untuk menjemput rezekiku juga rezeki anak-anakku. dan aku selalu mendoakan yang terbaik untuk dia. aku mendoakan di mana pun dia berada dia selalu di lindungi Allah swt. tak pernah sedikit pun aku mengeluh akan uang receh yang dia bawakan untuk aku. aku sudah pernah merasakan dia membawakan aku uang beratus-ratus bahkan mempercayakan uangnya berjuta-juta padaku. jadi kenapa hanya dengan uang receh tiga ribu atau sepuluh ribu membuatku sakit hati.
selama ini bahan pertengkaran yang selalu aku komplain padanya jika dia sibuk mencari uang hingga lupa pulang. sejak dulu bahan pertengkaran kami cuman itu saja. aku berusaha menghargai hasil jerih payahnya, menikmatinya dengan suka cita. kalaupun kami sampai sekarat aku tidak pernah seperti ibu-ibu lain membanting barang atau mengomel pada semua orang di rumah. tidak pernah masalah uang membuatku lepas kontrol kepada anak-anak. selalunya pasti hanya persoalan dia jarang di rumah.
aku juga sering memukul bukannya karna tidak sayang pada anak-anakku. aku sayang mereka berdua utamanya zhea. dia adalah anak pertamaku. anak yang ku perjuangkan. hanya saja seringnya aku sendiri membuat aku juga susah mengendalikan emosiku. terkadang jika tiba waktu malam hari. ketika anak-anak sudah tidur. aku sering menangis. menangisi anak-anak yang membesar tanpa sosok bapak yang full melihat tumbuh kembang mereka. menangisi zio yang tumbuh saat kami sedang di masa kritis. menangisi tanganku yang dengan kasar dan sengaja memukuli zhea. menangisi zhea yang menurutku agak dewasa sebelum waktunya. aku sering memperlakukan dia seperti orang seumuranku.
sebentar aku ingin memperjelas pembahasanku barusan. maksutku disini bukan menyiksa dia secara fisik ataupun mental !
__ADS_1
tapi kadang tanpa ku sadari aku sering mengajak dia berbicara selayaknya anak yang sudah paham tentang semuanya. tanpa ku sadari bahwa dia masih anak kecil usia 1 tahun. aku terlalu menuntut dia untuk mengerti tentang semuanya. aku lupa dia butuh waktu juga untuk mengerti bahwa kini dia bukan lagi anak tunggal. dia sudah memiliki adik yang harus berbagi bersamanya
kadang aku selalu merasa kami adalah orang tua yang gagal. jika melihat zhea bertingkah nakal dan meledak-ledak. aku masih belum sepenuhnya menerima anakku yang lucu berubah menjadi tantrum hanya karna kini sudah memiliki seorang adik..........