sebuah cinta

sebuah cinta
11 maret 2011 ego dan pendewasaan


__ADS_3

hari ini perutku sedang sangat tidak bersahabat. hampir dua botol obat pelancar menstruasi ku minum tapi masih saja rasa mules di perutku tidak hilang. membuat aku harus izin kerja hari ini. sebenarnya kalau masih bisa ku tahan maka pagi ini aku tetap berangkat ke kantor. hanya saja mulesnya tidak karuan , tulang panggulku juga terasa seperti diremuk, dua bantal sudah kuganjjal juga dibetisku yang sakitnya serasa habis ditinju.


hmm,, keputusanku untuk izin sakit hari ini sebenarnya keputusan yang berat broo,,.


aku tau betul efek dari tidak masuknya aku pagi ini akan berkepanjangan. selain berkasku yang menumpuk membuatku besok kewalahan lagi dan sudah pasti tertumpuk cantik dimeja kerjaku. juga beberapa drama romantis belakangan ini yang kembali memanas antara aku dan nyonya meener. cerita sakitku pagi ini akan menghangat, membuat topik teman-teman kantorku pagi ini tentunya menunya adalah aku dengan metode menggibahi aku. mungkin juga akan jadi trending topik saat mereka bermake up ria di kantor sebelum aktivitas wajib dimulai. rasa curiga mereka yang sangat berlebihan membuat namaku terus ternodai dikantor itu. ya,,ya,,ya bagaimana mungkin mau percaya, kalau semalam update statusku berada dicafe dan saat ini sakit. terus yang sebagian orang lainnya berpikir salah sendiri update status . intinya sudah pasti akan terus-terusan memunculkan fitnah yang memperuncing masalahku dengan admin berkedok tangan kanan bossku, siapa lagi kalau bukan nyonya meener alias cctv hidup ( cctv kedua dari cctv yang terpasang diruanganku, yaaanggg,, menurutku tidak berguna ! itu karna mulut lebih nista dan kejam ketimbang melihat sendiri pakai mata ).


hampir semua orang tau dikantor hubungan kami berdua rumit wkwk,, tetapi ada sebagian yang diam-diam sebenarnya mendukungku. aku maklumi mungkin takut diintimidasi juga sama si meener. tetapi ada pula yang cuek-cuek update perkembangan hehe,,. eh,,bagiku itu sangat tidak penting ! hidup ini harus bahagia ! kalau bukan menikmati masa sekarang, kapan lagi ?


sejak tamat SMA di tahun 2008 aku sudah memutuskan bekerja untuk memuaskan hasrat berbelanja kebutuhanku. jujur saja menjadi anak angkat membuatku tau diri untuk minta lebih pada mama. sehingga tamat sekolah adalah hal yang paling ku nantikan pertama kali dalam meraih kebebasanku secara finansial. memang ada yang berbeda dariku. ketika semua anak seusiaku berlomba mencari universitas terbaik aku justru ingin bekerja. bukan persoalan makan sebenarnya. kerja atau tidak uang mama dan papa lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. tetapi yang ku inginkan bebas secara finansial dengan kata lain aku tidak membebani orang tuaku sekaligus bisa mengambil keputusan sendiri untuk mengambil keputusan terkait kehidupanku. karna menurutku dengan sudah memiliki uang untuk memuaskan semuanya aku tidak perlu capek minta pendapat untuk ini juga itu. tapi sayangnya, pada akhirnya ada dua hal yang kusesali saat ini akibat sikapku di saat itu. pertama keputusanku untuk kerja saat itu mungkin ego terbesarku sebagai seorang anak yang notabene hidup dalam prinsip keras orang tuaku padahal kalau aku kuliah mungkin bisa saja saat ini aku sudah bekerja ditempat terbaik dengan posisi yang keren. gajinya juga pasti sangat keren. point keduanya kepergian papa yang sangat cepat membuatku sadar itu semua tidak ada artinya. papa hanyalah seorang ayah yang ingin ditemani anaknya dihari tua namun anaknya terlalu sibuk bekerja. sehingga canda dan gurau menjadi hal jarang yang kami berdua lakukan. saat itu masa dimana sisa hidupnya aku tumbuh menjadi gadis yang sedang mencari jati diri dan sibuk merubah image cupuku menjadi seorang wanita terkeren dizamannya ( bagian dari mimpiku). punya banyak teman dan juga pacar yang bisa dipamer sana sini tidak lupa berpakaian serta memiliki gadget terupdate dizaman itu. saat itu dunia benar-benar merasuki egoku. aku tidak perduli selama ada uang ditanganku bahkan mulut kasar orang pun bagiku bisa ku beli. ego inilah yang kutahan sejak aku duduk di bangku sekolah. kembali lagi karna tau jika terlalu banyak meminta akan membuat orang tuaku susah. sudah sangat bahagia sekali aku bisa hidup dikeluarga ini yg berkecukupan tapi manusiawi juga bila aku merasa tidak meminta akan membuat aku terlihat cupu ketinggalan zaman selama-lamanya. dan percayalah itu sangat menyedihkan bagiku di circle pergaulanku.


ego ini pula yang mengingatku pada sosok almarhum papa dimalam terakhir kita. seumpama tau itu malam terakhir mungkin aku akan benar-benar berada di dalam rumahku mengikuti maunya papa. masih teringat sangat jelas perdebatan mama dan papa saat itu. ketika papa yang mulai mengeluh karna aku jarang dirumah dan mama yang menjelaskan bahwa aku baru diterima bekerja dan masih ditahap training. jadi mungkin akan sering lembur tapi jadwalnya akan berubah lagi menjadi normal. lantas setelah lepas training yang sebenarnya kesempatan bisa dirumah malah aku asik keluar dengan temanku. yang jelas-jelas papa saat itu sampai menahanku di depan pintu kamarku supaya tidak kemana-mana. egoku membuncah lalu aku membantah tetap pergi karna tidak enak sudah dijemput popon. lalu dengan nada suara yang meninggi pula ke papa. ahh,, aku sedih mengenangnya.

__ADS_1


hanya saja malam itu di sepanjang aku bersenda gurau dengan temanku ada yang aneh kurasakan. perasaan tidak enak entah datang dari mana. sepanjang malam itu tidak indah seperti biasanya, ada perasaan kosong. andai saja ku tau itu akhir dari malam terakhir dengan papa aku tidak akan pergi. malam itu semua orang yang mau keluar rumah pasti papa ceramahi dan papa tanyai mau kemana. sayanngnya tak satupun dari kami yang peduli. semua sibuk dengan urusan masing-masing.


lalu besoknya saat tengah asik bekerja aku kaget mendapati beberapa panggilan tak terjawab juga sms beruntun dari kakakku. kubaca satu persatu sms itu. di sms ketiga dari lima sms yang masuk di hpku inilah yang kubaca dan membuatku shock. saat aku baca kalimat perintah itu untuk segera pulang sebab ada duka dirumah. baru saja aku meluruskan otakku berpikir dan ingin membalas sms itu. menanyakan siapa yang meninggal ? malah kakakku muncul dengan mata sembab menjemput ku untuk pulang saat itu juga. mendapati kalimat papa meninggal dari mulut kakakku serta ajakan ayo kita pulang! rasanya lututku lemas, bukan persoalan semalam yang ku ingat justru kejadian kecil pagi tadi yang ku ingat . sepanjang perjalanan aku berpikir bagaimana bisa ? dengan kondisinya yang segar bugar itu. walaupun stroke badan tetapi kondisi nya sehat kok.


hatiku semakin hancur melihat rumah dalam keadaan seramai itu. papaku ditidurkan di ruang tamu dengan orang-orang disekitarnya yang datang melayat. menurut kronologi dari mama yang sayup ku dengar dari ruang tengah mama duduk bersebelahan dengan tanteku. sudah sejak ba'da asar kejadian itu hanya saja baru masuk isya aku dikabari dan dijemput. karna tidak tega. mama berbisik pada tanteku tetapi di telingaku seolah mendengar mama berteriak didalam otakku ini. tak ayal aku menangis sejadi-jadinya sampai rasanya kepalaku sakit padahal cuman ingin membuka mata. sakiit sekali. aku dibopong dan diistirahatkan mama dikamarku sekalian menggantikan baju kerjaku dengan baju biasa. malam itu bagiku seketika duniaku gelap. ini itu mirip sekali cerita dikemah yang dibuat seniorku saat aku dulu duduk dibangku smp . yang katanya bagaimana perasaanmu pulang lalu melihat mayat orang tuamu dirumah sudah dikelilingi orang banyak. dan itu kejadian dihidupku,,, rasanya ? jangan tanya, antara rasa tidak percaya dengan tidak ikhlas bersatu padu. senyum papa pagi itu kala menemani dia duduk menonton berita favoritnya di tv sebelum aku berangkat kerja, obrolan kita, uang yang dia berikan bekal pulsaku untuk beberapa hari karna gajian pertama pun belum aku rasa bahkan untuk mentraktir orang rumah termasuk papa saja belum. malam itu aku terhanyut dalam sedihku, tertidur dalam keadaan sedih juga terbangun dalam keadaan sedih . kenyataan ini bukan mimpi sebab jelas-jelas aku melihat papa tidur di ruang tamu bersamaku dalam keadaan menjadi mayat bukan seperti biasanya lagi. itu bukan mimpi, itu adalah nyata, kenyataan yang sangat pahit.


..........


mungkin tidak banyak yang tau tentang papa. beliau seorang taat ibadah dan jarang bergaul diluar rumah. beliau ketika bekerja langsung pulang ke rumah, tidak kemana-mana lagi. kalau pun ada temannya datang mereka hanya bersenda gurau diteras rumah sampai larut malam. di depan semua orang papa terlihat sangat ramah dan sopan. bahkan baik terhadap tetangga. namun papa merupakan sosok yang tegas dan disiplin cenderung ke arah keras. maklum didikannya dari kota kelahirannya di makassar membuatnya seperti itu. ditunjang pekerjaannya sebagai mandor bangunan yang kadang tidak pernah sungkan ikut turun lapangan kerja bersama tukangnya tanpa memandang panas dan hujan. membuat papa pembawaannya agak keras. iya,,tukang batu istilah nama pekerjaannya. kita akan menjadi pribadi sesuai apa yang kita kerjakan itu menurutku. pekerjaaannya itulah yang menata perawakan dan pembawaannya. kerasnya beliau di perparah dengan penyakit stroke ringan pada anggota tubuh sebelah bagian kiri. walaupun ringan, penyakit ini membuat dia tidak bisa lagi bekerja sebab anggota tubuh kirinya sulit digerakkan alias mati rasa. utamanya di tangan kiri dan kaki kiri. beliau jalannya agak menyeret kaki yang kiri. keadaan ini menjadi pencetus rasa tidak percaya dirinya. tentu saja bukan cuman pada dirinya sendiri tapi juga kepada kami, semua orang yang ada di dalam rumah. ketidak percayaan dirinya lah yang kami salah artikan menjadi cerewet dan mudah tersinggung. belum lagi kerasnya adat istiadat yang di anut papa di zaman yang menurutku sudah tidak sama dengan zamannya. membuat cek cok mulut sering terjadi di dalam rumah ini.


kepergian papa kala itu membuatku terpuruk lebih dalam. karna aku makin merasa tidak utuh (sudah bukan anak kandung eh,, saru-satunya orang yang menyayangiku tulus malah berpulang ke rumah Allah ). sedihnya lagi banyak perubahan sikap juga terjadi pada mama yang membuat aku tidak siap.

__ADS_1


11 maret 2011 berul-betul menjadi babak hidup baru bagiku. babak dimama keinginan baruku tumbuh (kelak aku ingin menikah dan pergi jauh dari mama). meskipun ada rasa sedih dihatiku tapi bagiku itu yang terbaik. hari-hari yang ku lalui cukup meletihkan. jarang pulang, menginap dirumah teman, jarang bicara dengan orang rumah. yang normal adalah jadwal ku bekerja itu saja. aku tetap tulus bekerja karna itu sudah menjadi part penting di hidupku. sampai akhirnya aku lelah dengan semua kekonyolan itu. aku sadar rumah adalah tempatku kembali. ku putuskan berhenti bekerja dan menemani mama walaupun tetap saja hatiku tidak nyaman.


diriku mulai tertata rapi kembali ketika aku direkomendasikan temanku untuk bekerja di salah satu kantor asuransi ternama di kota ku. posisi staff admin center office yang ku dapatkan membuatku benar-benar larut dengan situasiku saat itu. ternyata itu membuat aku menjadi disiplin bukan hanya pada waktu tapi pergaulan mulai ku batasi. aku hanya bergaul pada orang yang menurutku membawa faedah. kupilah lagi siapa-siapa orang yang bisa dijadikan teman atau menjadi sahabat yang kupercaya. ternyata aku tidak butuh orang baru. popon dan kanis masih orang yang sama namun tongkrongannya kita yang berbeda. lebih bisa dipandang oranglah menurutku. semenjak saat itu aku berubah menjadi diriku yang sekarang. sloganku cuman satu kemana pun kaki melangkah aku akan tetap tidur malam dirumah dan pagi hari bekerja mencari uang untuk bisa kupakai jalan-jalan. aku menemukan tahap pendewasaan dalam diriku yang tanpa ku sadari diatur dari pola kerjaanku sendiri juga sikapku menghadapi orang-orang yang karakternya berbeda-beda dikantor. aku sangat bahagia dengan apa yang ku jalani meski kadang orang-orang dikantorku itu ku sadari bermuka dua tetapi aku tidak perduli. selama aku terdaftar sebagai karyawan disitu dan bekerja masih digaji , sebodoh amat dengan apa kata orang. yang ku pastikan pekerjaanku harus sesuai agar jangan jadi bahan tambahan untuk mencemoohku. karna aku tau betul di lingkungan kerja nila setitik saja bisa jadi rusak sebelanga.


........


sekali lagi pagi ini aku merenung dikamarku. mengingat semuanya. mungkin bukan seperti kisah remaja lainnya yang seindah cerita-cerita dongeng. kenyataan pahit yang aku terima satu persatu dalam fase hidupku membuatku sadar bahwa aku orang yang ditunjuk Tuhan menjadi orang yang kuat. buktinya aku masih dikamar ini, merenung dan mengenang kenangan itu.


seandainya papa masih ada saat ini mungkin bisa saja aku traktir papa makan diluar sepuasnya. papa kan jarang keluar rumah, papa seorang sosok familyan. mengutamakan keluarga. aku yakin jika papa masih ada papa akan bangga meliatku tumbuh menjadi wanita karir. sayangnya papa tidak sampai ketitik ini, beliau berhenti di part dimana aku masih seegois itu. hmm,, mungkin saja Allah swt sengaja menjadikan ini semua di dalam takdirku agar hikmahnya aku menjadi perempuan kuat serta bertanggung jawab terhadap diriku sendiri.


sekali lagi ku tengadahkan tanganku walau cuman sebelah. karna sebelahnya memeluk bantal menahan rasa tidak karuan diperutku ini. aku berdoa untuk papaku tidak lupa untuk mamaku juga :

__ADS_1


ya Allah ampuni dosa papa , terimalah amal ibadahnya dan tempatkan beliau disyurgaMu. jauhkan beliaudari siksa kubur dan api neraka dan mama berikan beliau kelapangan rezeki, kesehatan, serta umut panjang , ampuni dosanya , kelak masukkan beliau kesyurgaMu dijauhkan dari siksa kubur juga siksa api neraka. mereka adalah orang-orang yang telah membesarku. hanya ini yang bisa ku beri pada mereka. maka, jabahlah doaku ya Rabb. aku tau hubunganku dengan mama tak pernah baik namun aku sungguh berterima kasih karna mama telah merawatku dan menyekolahkanku layaknya anaknya sendiri. semoga hidup mama selalu bahagia dengan atau tidak ada aku. aamiin yaa rabbal aalamiin..


setelah berdoa aku keluar kamar pergi mencari mama. ingin ku ajak bercerita ngalor ngidul saja. tapi batalkan niatku, ku lihat mama sedang asyik menonton di depan tv. enggan untuk mengganggu aku putuskan kembali ke kamar untuk tidur. seperti biasa aku selalu tutup pintu kamarku. kebiasaan itu juga membuatku tidak bisa tidur dalam keadaan pintu terbuka lebar. kamar ini adalah tempat ku mengadu dari segala emosi yang kurasakan baik itu senang maupun sedih yah,, hanya dikamar ini. bahkan tanpa ku sadari di beberapa bulan kedepan ada benih manusia di dalam kamar ini yang mulai kini mendengar kisahku . detak jantungku akan berbagi bersamanya mengiringi kisahku yang diam-diam dia dengarkan......


__ADS_2