Sebuah Ikatan

Sebuah Ikatan
Sia sia


__ADS_3

Ketika bangun tidur amira melirik pada jam yang ada di atas nangkas. Masih jam 4. "Baiklah aku akan bangun dan melaksanakan sholat subuh." pikir amira


Setelah sholat amira mencari dimana keberadaan benda pipih setelah tadi malam. Ahh ternyata di atas nakas. Amira segera mengambil dan melihat pesan yang belum di baca. Nomor yang tidak dikenal.


"Kenapa dia mengganggu hidupku apa tak ada hal lain yang bisa dia lakukan"pikir amira


Dari pada penasaran amira langsung membuka pesan dari rehan.


"Gadis kecil apa kamu sudah tidur aku akan mengantarkanmu kesekolah besok jadi bersiaplah😙😙"


"Setelah ini aku tak akan hidup tenang" gumam amira dalam hati


Amira mondar mandir di depan kasur. jalan kekanan kekiri tak tentu. Dia berusaha berpikir apa yang harus dia lakukan. Ayo berpikir berpikir. Setelah tak menemukan ide amira merebahkan diri di kasur.


"Astaga apa yang harus aku lakukan" pikir amira


Amira segera turun kebawah menuju kedapur. Amira harus sarapan pagi dan berangkat lebih pagi dari biasanya supaya dia tidak bertemu dengan rehan. Sungguh laki laki yang menyebalkan.


"Loh non tumben udah kedapur. Nggak joging dulu?" tanya bibi


"Ia bi.. lagi buru buru. Boleh amira bantu bi biar cepet selesai" kata amira


"Nggak apa apa atu non"jawab bibi


"Soalnya nanti saya mau berangkat lebih awal soalnya ada jadwal" jawab amira sambil tersenyum yang dipaksakan


"Oh yaudah sini bantuin bibi nyuci sayurnya" jawab bibi


"Baiklah tunggu sebentar ya bi"kata amira


Amira selalu seperti itu. Bunda selalu mengajarkan amira mandiri dan melakukan hal hal yang dia bisa. kadang bunda yang mengajak amira melakukan pekerjaan rumah sendiri walaupun ada bibi dirumah.


Jadi tak heran kalau amira begitu akrab dengan pembantu di rumahnya.


"Sudah selesai bi"kata amira


"Masukin kepanci non" kata bibi


Amira menuruti apa yang di katakan bibi. Setelah hampir selesai dia bergegas untuk masuk ke kamar dan menyiapkan semua yang ia butuhkan.


"Bi mira mandi sama siap siap dulu ya" kata amira


" Ya non. Ini semua tinggal nunggu matang kok" jawab bibi


Akhirnya amira segera meluncur ke kamar mandi. Amira tak menghabisakan waktu lama seperti biasnya karena dia takut kalau rehan udah kesini duluan. Setelah selesai amira segera turun kebawah dan melakukan sarapan. Meja masih kosong berati ayah masih di kamar.


"Bi nanti kalau amira udah berangkat kalau ayah cari mira bilang kalau mira udah sarapan lalu berangkat lebih dulu" kata amira dari meja makan


"Baik non. Mau bibi siapin yang lain?" tanya bibi


"Nggak usah bi" jawab amira


Ketika amira sudah selesai makan terdengar suara kaki yang mendekat


ta.. tak.. tak.. tak..


Amira masih dim tak bergiming semakin mendekat baru amira menolehkan kepalanya.


"Tumben sayang udah di sini. Lho udah selesai sarapannya?" tanya ayah


"Iya yah.. amira lagi buru buru ada jam tambahan" jawab amira berbohong bukan itu sebenarnya


"Yah... hari ini ayah sarapan sendiri dong." kata ayah


"Maaf ya yah" jawab amira sambil menunduk

__ADS_1


"Sebenarnya amira nggak ada jam yah hanya menghindar dari rehan cowok yang ku rasa semakin hari akan semakin gila" batin amira


"Nggak papa sayang. Ya sudah sana cepat berangkat nanti kamu ketinggalan pelajaran" kata ayah


"Baiklah. Amira berangkat dulu ya yah" kata amira sambil mencium tangan ayah dan kedua pipinya


"Hati hati ya sayang" kata ayah


"Siap ndan" jawab amira


Setelah berpamitan dengan ayah amira berjalan keluar untuk menemui pak amin .


Saat tiba di depan pintu ia bertabrakan dengan rehan.


"Aaaa..." teriak amira


"Husttt.. kenapa harus teriak sih"kata rehan


"Sejak kapan kamu kesini?" tanya amira


"Baru aja nyampe. emang kenapa kamy udah kangen ya?" tanya rehan


"Ihh najis." jawab amira


"Dimana calon mertua?" tanya rehan


"Siapa yang kamu maksud calon mertua?" tanya amira


"Yah siapa lagi kalau bukan ayahmu. Masa ia pembantumu di depan" jawab rehan


Tak lama adira keluar dari dapur karna mendengar teriakan putri kesayangannya.


"Ada apa sayang?" tanya adira "Lho nak rehan sudah ada disini. Sejak kapan kok nggak di suruh masuk nak. Masa tamu hanya sampai pintu, nanti malaikat nggak mau masuk rumah kita lho" jelas adira


Amira tak menjawab pertanyaan dari rehan dan langsung keluar rumah lalu memasuki mobilnya sendiri. Sedang mang amin masih berada di pos.


"Ayo mang" ajak amira


Mang amin berjalan mendekat kearah mobil namun kalah cepat sama rehan.


"Pak biar saya aja yang anterin amira" kata rehan lalu masuk kedalam


"Tapi bagaimana kalau..."


Belum selesai pam amin berbicara rehan sudah menutup pintu dan menjalankan mobilnya. Karena bingung dia langsung masuk untuk manemui tuannya.


"Pak maaf tadi neng mira diantar sama laki laki yang barusan datang paki mobil anda" kata mang amin sambil tertunduk


"Nggak papa man. Biarin aja nanti setelah selesai ngantar amira tuh mobil bakal balik lagi" kata adira


"Baik tuan" jawab mang amin


Setelah itu mang amin keluar membawa mobil yang lain untuk mengantar tuannya. karena biasanya amira dan adira selalu berangkat bersama. Tak pernah berangkat lebih dulu. Terkecuali hari ini.


"Silahkan tuan" kata mang amin sambil membukakan pintu


"Makasih mang" jawab adira


Didalam hati adira merasa begitu resah. Bagaimana tidak jika hal ini menyangkut putri kesayangannya itu. Hanya dia sekarang yang selalu ia prioritaskan. Dan kini menikah hah hal itu sungguh masih jauh dari pikirannya.


"Bun, andai kau masih ada di sini. Semua pasti tak seperti ini. andai waktu berjalan dengan tenang sesuai dengan harapan. Hah... biarlah" batin adira


Disisi lain amira berada di jalan denvan rehan. hening tak ada suara apapun.


"Ra, apa kamu coba menghindar dari ku?" tanya rehan

__ADS_1


"Kamu pikir aja sendiri" jawab amira dengan melihat kearah luar jendela


"Apa kamu udah nggak suka lagi sama aku? atau kamu udah punya pacar??" tanya rehan


"Sejak kapan aku suka sama kamu?" tanya amira dan kini ia menghadap rehan


"Kamu pernah mengatakan itu nona" jawab rehan sambil melirik amira


"Itu saat aku masih kecil apa kamu tahu itu cinta monyet" kata amira


"Aku nggak perduli itu ra? yang penting sekarang adalah aku mencintaimu dan ku harap kamu juga" jawab rehan


"Pemaksaan.. nggak ada yang tahu kapan hati dapat berubah?" kata amira


Rehan langsung menepikan mobilnya. dan menghadap pada amira menggenggam tangan amira.


"Ra beri aku waktu.. aku akan berusaha membuatmu senyaman mungkin bersamaku dan bisa mencintaiku dengan sendirinya. Biarkan aku berusaha untuk mendapatkanmu" kata rehan


"itu berlebihan rehan" kata amira sambil melepas genggaman tangan rehan.


"Kalau kamu selerti ini berarti tak ada kesempatan untukku ra" kata rehan sendu


"Bukan seperti itu rehan" kata amira


"Hah.. kenapa aku berucap seperti tadi.. kamu gila amira. Bodoh kenapa dipelihara sih.. huhh kalau dia mangkapnya aku ngasih dia kesempatan buat deketin kamu gimana.. a..a..a..a " teriak amira dalam hatinya " bodoh... bodoh.. bodoh" ia merytuki apa yang telah dia ucapkan barusan.


"Baiklah akan ku buktikan kalau kau tak salah jika telah memilihku" kata rehan sambil menggenggam tangan amira


"Singkirkan tahanmu rehan" kata amira


"Tentu apapun yang kau inginkan akan aku kabulkan gadis kecil" kata rehan


Amira tak merespon ucapan rehan dia hanya fokus pada jalan yang mereka lalui.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya rehan


"Emang kenapa?" tanya amira


"Nggak apa apa. cuma satu macam. aky mau jemput kamu" kata rehan


"Nggak usah repot repot aku bisa pulang sendiri" jawab amira


"Nggak akan merepotkan kalau itu kamu gadis kecil. Aku akan senang karna kau merepotkanku" jawab rehan


"Terserah apa katamu" jawab amira


Tak terasa mereka sudah sampai di depan kampus


"Mau aku antar sampai dalam?" tawar rehan


"Aku bukan anak kecil yang kenapun harus di antar" jawab amira


Tak mengengarkan apa kata amira, rehan langsung turun dan membukakan pintu untuk amira. Sedang amira berdumel kesal karna rehan. amira labgsung turun tanpa berkata apapu.


"Jangan lupa aku akan menjemputmu"


kata rehan


Amira hanya diam dan melanjutkan langkah kakinya. Yahhh.. sekarang dia jadi pusat perhatian untuk pertama kalinya dia diantar oleh laki laki.. Bukan itu yang membuat mereka bertanya tanya tapi bagaimana bisa seorang amira yang notabannya nggak pernah pacaran bisa diantar cowok ganteng lagi pikir mereka sudah kemana mana.


Amira segera pergi dari obrolan gosip itu menuju ke dalam kelas.. Sedang rehan segera kembali kerumah amira menukar mobil dan berangkat ke kantor papanya.


Sebenarnya dia sudah membuka usaha sendiri tapi papanya ngotot jadi ya gimana lagi pikir rehan.


Amira telah sampai dikelas dan menghempaskan tubuhnya dikursi. Kondisi kelas masih belum ramai jadi amira bisa meminimalisir rasa kesal yang sedang berkecamuk dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2