Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
s e m b i l a n


__ADS_3

Sebelum Anin terbangun, Griffin lebih dulu memutuskan pergi. Semalaman ia menahan mati-matian nafsunya. Saat dengan brutalnya Anin mencumbu dirinya.


Belum cukup sampai disitu. Pria itu juga harus terjaga semalaman, karena Anin yang terus memeluknya. Posisi Griffin berada disamping tubuh Anin yang terus memeluknya posesif. Sampai-sampai, untuk dia bergerak pun agak susah.


"Sialan kamu, Nin! bisa-bisanya kamu buat saya hampir gila semalam. untung saya punya kendali yang kuat."


"Kali ini mungkin kamu bisa lolos, tapi tidak untuk nanti!"


"Semalaman saya dibikin ngilu, adik saya minta di jinakkan terusss... sedangkan kamu malah enak-enakan bikin dia bangun tapi gamau tanggung jawab." Griffin terus menggerutu, sambil berjalan ke kamar mandi. Mencoba menetralkan lagi sesuatu dibawah sana yang selalu bangun menemaninya setiap pagi.


"Sabar ya adik kecil, akan ada waktunya kok!"


"Gini amat rasanya nikah tapi di rahasiain dari doi," guman Griffin sambil melepas celananya. "Padahal gue juga nikahin dia cuman karena satu misi, tapi kalau di sia-siakan tanpa gue gauli. Rasanya nggak akan nikmat, arghh! kok gue jadi mikir jorok gini sih."


"Nggak! Nggak boleh. Harus ingat pada tujuaan utama, saya nikahin dia karena satu hal. Jadi—"


"Enggak usah berharap banyak buat saya berhubungan lebih pada dia. Saya harus ingat kalau dia dan keluarganya, dalam tersangka atas suatu kasus."


"Tetap harus pada tujuan utama, Griffin! harus balas hal yang setimpal. Ingat itu!"


_____


Jam tujuh dua puluh lima menit, Anin baru terbangun dan menggeliat nikmat. Semalam tidurnya sangat nyenyak, saking nyenyak nya sampai tidak menyadari perbuatannya dan tingkahnya semalam.

__ADS_1


Seolah dirinya amnesia. Seorang Anindhita tidak memperdulikan kah kehadiran suaminya ataukah bagaimana? yang masih ia tahu sampe sekarang, dia adalah istrinya Austin tidak tahu bahwasanya dia tidak jadi menikah dengan Austin. Melainkan sudah menikah dengan atasannya sendiri.


Drttt... Drtttt...


Ponselnya yang berada di nakas, terus saja berdering. Tanpa Anin lihat pun dia sudah tahu siapa sang penelepon. Buru-buru ia mengambil ponselnya dan mengangkatnya.


"Halo, maaf, Pak--"


"Anindhita Rahma Kinara Cahyadi! Ini sudah siang! Kamu belum mempersiapkan pakaian saya, hah? Apa kamu lupa dengan tugasmu?"


Anin terdiam, mencerna situasi ini. Bukankah dia baru saja menikah dan semalaman dia harus melayani suaminya. Sangat tidak apik bukan kalau hari ini ia harus berangkat kerja? Dirinya juga sudah izin seingatnya.


Inget ya! Seingatnya! Jadi belum tentu juga dia udah izin atau enggak.


"Terus hubungannya sama saya apa? Kamu juga nggak ngundang saya kan," ujarnya, "buruan kamu ke apartemen saya Anin! Atau kalau nggak! Saya tidak akan terima surat pengunduranmu!"


"Tapi, Pak--"


"Ngada tawar menawar!"


Anin ini melupakan sesuatu sepertinya. Dalam kamus Griffin Vinza Lim Al-Ghifari. Tidak ada kata tawar-menawar. Mau bersikeras segi manapun. Kalau Griffin udah berucap memerintah. Ya harus dituruti.


"Bapak di apartemen yang mana?" tanyanya ramah. Berusaha tidak merasa jengkel dengan bosnya yang memang sifatnya yang begitu melekat menjengkelkannya.

__ADS_1


"Kayak biasanya! Saya tunggu 5 menit, buruan!"


"Pak!" rengek Anin diseberang telpon, begitu mengemaskan memang kalau suaranya lagi ngerengek gini tuh. Griffin pun mengakuinya. "Yang bener aja, masa cuman dikasih waktu 5 menit, nggak akan nyampe lah, Pak! Kasih toleransi 10 menit lagi lah, Pak, Tambahin!"


Griffin diseberang telpon nampak menahan senyumnya. Mendengar nada merengek yang terdengar cute di pendengarannya.


Setelah perdebatan diseberang telpon dengan bosnya. Akhirnya Anin sampe juga di gedung apartemen yang menjulang tinggi. Gedung itu tertulis jelas dengan nama Drystanzyyan. Gedung apartemen terelite di Jaksel.


Buru-buru Anin naik ke lantai 23. Unit yang ditempati oleh bosnya. Sesampainya didepan pintu. tiba-tiba telpon Anin berdering. Menampilkan siapa sang penelepon. Anin mengangkatnya dengan perasaan dongkol. Sebelum sampai disini, ada kali bosnya menelpon sudah puluhan kali.


"Hufft!" sebelum mengangkat telponnya. Anin membuang nafasnya yang ngos-ngosan. Ngejar waktu tadi, takut telat. "Halo, Pak-"


"Anin. Kamu ke apartemen Drystanzyyan?" sudah menjadi kebiasaan Griffin. Suka menyela perkataan Anin yang belum selesai, semakin membuat dongkol sang asisten yang selalu abdi padanya. "Mending kamu balik lagi."


"Lah? Ngapain saya balik lagi, Pak? Orang saya udah sampe didepan pintunya," Anin bingung. Memiliki firasat yang tidak enak.


"Saya ngada disitu!"


Dam!


Saat ini juga rasanya Anin ingin mengeram frustasi dan ngereog. Mendengar penuturan bosnya barusan. Sungguh menyiksa dan buang buang waktu. Dirinya mau marah, tapi dia ngga berhak karena dia hanyalah asiten bos yang super duper nyebelin.


"Terus bapak ada di apartemen yang mana?" dengan gigi yang mengerat gregetan. Anin masih mencoba sabar, untung stok sabarnya masih banyak. Jadi Griffin masih aman dari amukannya.

__ADS_1


"Di apartemen Davies Vlictyon."


__ADS_2