
Setelah tadi pagi dibikin kesal sama bosnya. Tapi siang ini seenggaknya tidak. Bosnya pengertian, mengajak Anin makan di restoran sushi. Mood Anin kembali membaik saat memasuki restoran terkenal enak di setiap menu sushi nya ini. Tentu terkenal enak, selain enak restoran ini juga terkenal elite dan mahal.
Tanpa hujan dan angin, Griffin tiba-tiba saja memesan tempat VVIP. Itu artinya hanya tempat private yang keduanya pesan. Entah ada tujuan apa, hanya saja dugaan Anin. Mungkin ini sekalian pertemuan dengan klien
"Ada janji sama investor atau rekan bisnis, ya, Pak?" tebak Anin. Tepat mendudukkan dirinya dihadapan Griffin yang sudah terduduk didepannya. Hanya meja yang menjadi pembatasnya.
Griffin hanya menggeleng. Anin perhatikan, daritadi pagi bosnya ini sikapnya lumayan aneh. Sering cengar-cengir sendiri sambil memegangi bibir, leher, tengkuk dan wajahnya yang tiba-tiba memerah. Anin pikir bosnya ini mulai gesrek deh. Tapi masa iya. ganteng ganteng sinting, Pikirnya.
"Pak," panggilnya. Mengalihkan perhatian Griffin yang tadi fokus dengan ponsel. "Kapan saya berhenti bekerja?"
"Setelah genap tiga tahun kamu kerja dengan saya," jawabnya. dengan ekspresi datarnya. Saat menerima pesan dari bodyguardnya.
Rio
Tuan, Austin masih hidup. Tapi nyawanya ada di ambang maut, sebaiknya saya langsung eksekusi atau dibiarkan terlebih dahulu?
Pesan itu yang membuat pikiran Griffin sedikit di lema, tapi dengan pemikiran yang kilat Griffin langsung mengambil keputusan...
Me
Biarkan dia hidup lebih lama dlm siksaan ku terlebih dahulu, setelah semua kebusukannya terungkap. Baru kita tembak tepat di kepala, mata, selangkangannya, jantung, dan berakhir kita tembak di bagian hatinya.
Tidak mau membuat gadisnya menunggu, Griffin lebih memilih menyudahi chatting nya dengan anak buahnya. Memilih fokus dengan Anin yang memanggilnya karena pesanan sudah datang.
"Pak? Bapak sibuk ya? Lagi banyak pekerjaan?"
"Nggak!"
"Tumben bapak main hape di jam makan siang. yang biasanya nggak mau sama sekali terganggu oleh hal kecil apapun, termasuk hape, kan, Pak?"
__ADS_1
Griffin mengangguk.
Tidak mau menimbulkan kecurigaan, Griffin bertanya sesuatu. "Gimana malam pertamanya?"
"Uhuk.. uhuk!"
Pertanyaan itu langsung membuat Anin tersedak, yang baru saja memakan sepotong sushi salmon mentai kesukaannya. Dengan gerakan sigap, Griffin menyodorkan segelas air untuk Anin.
"Minum," Anin menerimanya dan meneguknya hampir tak tersisa. Griffin jadi merasa bersalah saat melihat mata Anin sampe berkaca-kaca karena ulahnya. "Maaf," sesalnya.
Anin menggeleng, sambil mengelap bibirnya yang basah dan jika dilihat dengan seksama agak bengkak. Mungkin semalam Griffin ********** dengan gigitan manja, sampe membuatnya begitu.
"Nggak usah minta maaf, Pak. Buat apa coba?" Anin merasa tidak enak. Lagi-lagi pikirannya tertuju pada malam yang coba ia lupakan. Bahkan tanpa ia lupakan pun sebenarnya tidak akan teringat.
Melewati berbagai pertemuan dan berkutat dengan berbagai berkas dan dokumen penting. Griffin hari ini begitu sibuk dan padat pekerjaan nya. Dan tentu Anin yang selaku sekertaris dari Griffin ikut serta sibuk menyiapkan beberapa berkas dan file yang harus ditandatangani oleh bosnya.
Tepat 17:45. Anin tiba dirumah sakit, Vincent Davies. Rumah sakit swasta yang terkenal elite dan tidak orang sembarangan yang bisa masuk kerumah sakit yang benar-benar terpandang. Rumah sakit dengan bangunan yang megah, fasilitas memadai dan doktornya pun sudah profesional semua.
"PAK!"
"TUNGGUIN!" teriak Anin, Saat tertinggal jauh dibelakang Griffin yang meninggalkannya setiba di lantai 20 bagian kamar VVIP untuk ruang IGD. "Bapak main tinggal tinggal aja," dumelnya.
"Ya kamunya aja jalannya lambat," sentak Griffin. Mulai memberhentikan langkahnya dikamar nomor 1177, ruangan yang begitu ketat penjagaannya. Anin yang melihat beberapa bodyguard yang berjaga diluar ruangan merasa bingung. Sebenarnya siapa yang berada didalam ruangan tersebut?
Griffin berbicara dengan salah satu diantara nya. Yang Anin yakini, itu adalah ketua dari para bodyguard. Atau bisa disebut tangan kanan dari bosnya. Griffin tengah sibuk berbincang hal serius nampaknya, sampe harus menjauh beberapa langkah dari Anin yang mematung disebelah pintu.
"Anin!" panggilnya. Griffin mengisyaratkan agar Anin mendekat. "Ikut saya!"
Tanpa persetujuan dan ada kata sepatah pun tangan Anin diraih oleh Griffin yang menuntut nya menuju ruangan disebelahnya. Anehnya ruangan tersebut tidak ada keterangan nomor sama sekali. Persetan dengan pemikiran anehnya Anin hanya mengikuti saja bosnya membawanya kedalam kamar yang terkesan misterius. Apalagi saat dibuka.
__ADS_1
Ceklek! Pintu terbuka, pencerahan disekitar nya kurang penerangan. Anin mencengkeram kuat tangan yang menggenggam tangannya. Sejenak Griffin ikut terhenti saat Anin memaku menyiratkan rasa bingung sekaligus bertanya tanya. Terlihat jelas diwajah ayunya.
"Pak... Kita ngap--!"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Anin sudah dibuat bungkam oleh tatapan tajam yang menghanyutkannya. Ditambah kini jari telunjuk Griffin menyentuh bibir. Detak jantung Anin jadi tak karuan saat Griffin mencondongkan badannya tepat kearahnya.
"Apakah jika saya memberitahumu sekarang. Kamu akan membenci saya setelahnya?" parau Griffin yang berujar begitu lembut dengan suara berat, tegasnya, disusul dengan suara lirih, "tapi saya tidak peduli. kamu akan tetap harus ada disamping saya!"
Dan kamu sudah menjadi milik saya- batinnya.
Tanpa disadari tangan Anin bergerak membuka sedikit kera baju bosnya. Hari ini Griffin memang sengaja memakai kemeja yang kera nya panjang. Agar menutupi karya cetak dari istrinya semalam.
Tapi percuma saja, Anin sudah melihatnya. Dan langsung bergerak menjauh, tapi pinggangnya sigap direngkuh oleh pria yang kini tersenyum miring. Posisi keduanya tak luput dari tatapan para bodyguard yang ternyata ada di sekitarnya. Anin ingin sekali mendorong pria yang kini lancang menyentuh pinggangnya begitu posesif. Tapi niatnya urung ia tidak sekuat itu bisa mendorong tubuh kekar Griffin.
"Pak! Bisa saya menjauh dari bapak, sepertinya posisi ini membuat saya tidak nyaman," ungkap Anin. Dengan susah payah mengeluarkan kalimat yang mungkin terdengar lancang untuk memerintah bosnya. Permintaan Anin diabaikan. Griffin justru semakin mengeratkan tubuh gadis dihadapannya kedalam dekapannya.
Padahal keputusannya sudah benar-benar bulat. Ingin terus terang akan kejadian kemarin yang merumitkan jika dijelaskan. Kejadian itu berlalu begitu cepat, dengan berbagai kejadian yang singkat namun berat. Keberanian Griffin mendadak menipis, terlalu takut jika nantinya Anin membencinya. Dengan keputusan lancangnya yang kemarin menikahi gadis itu tanpa sepengetahuannya.
"Promise me! whatever happens and you find out later, don't hate me!" bisik Griffin tepat di telinga Anin. Dagunya bersandar pada bahu gadis itu, badannya yang agak mencondong karena perbedaan tinggi badan yang begitu jomplang. Desiran aneh dihati Anin mulai terasa jelas. Bersamaan dengan rasa bingung akan perkataan Griffin yang sulit dicerna olehnya.
(Berjanjilah padaku! apapun yang terjadi dan kamu tahu nanti, jangan membenciku.)
"Maksud bapak apa, ya?" cengonya. Terlepas dari itu. Tiba-tiba tirai yang tadi tertutup tepat didepannya terbuka. Menampakkan seseorang yang terbujur lemah di brangkarnya. Dengan berbagai selang yang menempel ditubuhnya serta alat bantu bernafas. Anin sedikit tertegun saat mengamati wajah orang tersebut. Yang lama kelamaan, sepertinya ia mengenali orang itu. Tirai tersebut terbuka karena Griffin menjentikkan jarinya, yang otomatis langsung terbuka. Dan betapa terkejutnya saat Anin sudah menyadari orang itu siapa.
Deg!
Detak jantungnya memacu tiga kali lipat lebih cepat dari biasanya. Dadanya sampe naik turun saat menerka-nerka, sebuah mimpi buruknya dan malam itu, yang menjadi malam yang tidak pernah ia bayangkan itu terjadi.
"AGAM!"
__ADS_1