
Setelah menangis lumayan lama, membuat tubuh gadis itu lemas dan memutuskan untuk membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang begitu luas dan mewah itu. Matanya terus saja berair, masih belum bisa menerima kenyataan yang tidak pernah ada di bayangannya sedikitpun.
Tangan mungilnya terus menggigil, merasakan suhu ruangan yang nampaknya sengaja begitu tinggi tekanan suhu dinginnya. Tubuhnya terselimuti dengan selimut yang meringkus tubuh menggigilnya. Baju yang Anin kenakan pun lumayan tipis. Persetan dengan itu, dia tidak peduli. Dia sedang merenungi nasibnya. Kedepannya akan bagaimana dengan seorang Griffin?
Apakah dia akan bercerai?
Meminta talak?
Ataukah pernikahan ini, hanya pernikahan kontrak? kayaknya novel-novel yang sering ia baca dan kisahnya sudah ia hafal. Dan endingnya akan bagaimana. Namun yang ia alami sekarang nyata, bukan kehidupan novel dari khayalan author saja.
Lamunan dan bayangannya tiba-tiba buyar, saat seseorang masuk kedalam kamarnya. "Permisi nyoya. Tuan menyuruh saya mengantarkan pakaian ini untuk nyonya."
Anin tidak berbalik sedikitpun. Mengabaikan kehadiran seorang maid yang mengantarkan pakaian ganti untuknya. "Nyonya, saya akan siapkan airnya dulu. Anda mau air dingin atau hangat?"
"Tuan juga sudah menunggu anda di meja makan."
Bukannya menjawab, Anin justru termangu dan terduduk bersandar di sandaran kasur. "Tidak usah, kau keluar saja. Saya bisa sendiri."
"Tapi nyoya. Tuan menyuruh saya —"
"Saya tahu. Suruh saja Tuanmu kesini, tidak perlu banyak tingkah!"
Maid itu membungkukkan badannya, berpamitan. "Saya pamit undur diri nyonya."
Sepeninggalan maid tadi. Membawa Anin kembali merenungi nasib SIALAN nya ini.
"Tuan-tuan... Nyoya menolak untuk di siapkan air untuknya mandi. Dia juga tidak mau makan," maid itu memberi laporan saat melihat Tuannya tengah berbincang dengan Okan. "Nyoya nampak tidak baik-baik saja sepertinya."
"Memangnya dia kenapa?"
Okan yang sedang fokus dengan sebuah pesan misterius tiba-tiba mengernyit heran. "Anin disini?!!"
__ADS_1
Griffin menggerjap polos sekaligus terkaget, kembali menatap Okan sambil mengangguk.
"Lo cari mati!"
"Ngapain lo bawah dia kesini?!"
"Emangnya kenapa?"
Okan menggode lewat tatapan mata sipit khasnya dengan saling tatap beberapa saat seolah memberi petuah pada Griffin. "Cuman hari ini, Lo tenang aja."
"Sebaiknya besok lo kerja seperti biasa sama Anin, dan waspada."
"Gue paham." Griffin beranjak dari duduknya, setelah memberi isyarat pada maid nya untuk kembali bekerja. "Ini udah malam, sebaiknya lo pulang."
Okan juga ikut beranjak berdiri, melenggang kearah Griffin dan seolah memberi isyarat lewat tatapannya dia pergi setelahnya.
...***...
Semerbak lilin aroma terapi. khas dengan bau memikat mampu membangkitkan gairah. Mawar merah juga bertebaran disekitar ranjang. Penerangan ruangan itu cukup minim, hanya di bantu lilin. Anin tidak ada niat untuk menyambut kedatangan Griffin.
Pria itu tersenyum devil, menatap nakal punggung mulus Anin. Tampaknya gadis itu sudah mandi, terlihat jelas dari pakaian formal yang sudah ganti menjadi lingerie.
"Kenapa nggak bilang dari awal?"
"Emang kamu bakal nerima? kamu saja menolak lamaran saya."
"Tapi nggak gini caranya. Cara bapak itu kotor!!"
"Menurutmu ini hal kotor??! seharusnya kamu berterimakasih, tidak jadi menikah dengan Austin. Dia tidak pantas untuk kamu. dia tidak sebaik yang kamu kira," ujarnya memojokkan. Menatap manik indah milik Anin. Sialnya tatapan itu turun ke bibir gadis itu. Dengan susah payah ia menelan ludahnya, lagi-lagi harus menahan hasratnya.
"Terus? Menurut bapak. Bapak baik buat saya?!"
__ADS_1
Damn! Anin ditatap nyalang oleh Griffin yang kini mengepalkan tangannya. Mendengar penuturan Anin yang menjatuhkannya. Rahang pria itu mengeras, tapi lagi-lagi tatapan Griffin mengarah pada bibir menggoda Anin. dia juga tidak mungkin kan marah pada Anin? dan berprilaku kasar pada gadis itu.
"Tentu saya baik." Griffin mendekat, ikut naik keatas ranjang. Bergabung disebelah Anin yang langsung bergeser. jantung gadis itu mendadak berdetak tak karuan. "Saya sudah sah jadi suami kamu, tidak ada niat kah untuk?—"
Sebelah alis Anin ikut terangkat saat melihat Griffin mengangkat alisnya. Matanya seolah memberi kode. dia tentu paham, tapi dia mencoba untuk tidak memahaminya. "Apa?"
"Hak saya."
"Pak! Bisa kan? Nggak usah bertele-tele," kesalnya yang membuat Griffin semakin mendongakkan wajahnya tepat dihadapan Anin. Jantung Anin mendadak alay, berdetak tidak beraturan dari sebelumnya. Apalagi saat tangan pria itu terulur mengelus tengkuknya. "Bapak mau ngapain...?"
"Menurutmu."
"Pak. Udah malam nggak ngantuk?"
"Besok ada meeting, rapat, sama ketemu klien lho Pak."
"Sebaiknya kita tidur," Anin mencoba menghindar mencari cela. Dia itu paham betul, situasi apa yang sedang ia hadapi sekarang. Apalagi saat matanya menangkap tatapan lapar sekaligus sendu dari pria yang masih menatapnya seperti itu. Dia cukup dibuat merinding dengan tangan Griffin yang terus mengelus tengkuknya. "Pak. Bapak udah mandi? Pak?! Bapak!"
"Udah."
"Tadi Pak Okan dari sini? abis ngapain dia?"
"Mau urus surat cerai kita? atau gimana?"
"Pernikahan kita cuman sementara kan Pak? Nggak mungkin bertahan, ya kan?!!"
"Diem!"
Satu kalimat itu mampu membungkamnya. Nafas gadis itu tertahan, disaat deru nafas Griffin yang juga tak beraturan itu membuat pipinya panas menahan rasa gugup sekaligus salting tingkat akhir. Telinga dan hidungnya kembang kempis, semakin dibuat deg-degan saat pria itu memiringkan wajahnya. Membuat posisi kedua bibir mereka sejajar, hanya tinggal satu pergerakan saja mungkin bibir mereka akan bersentuhan.
"Apa mau bapak?"
__ADS_1
"Kamu."