
"Kamu balik kerja sama saya. saya gaji dua kali lipat," penawaran yang sungguh mengiurkan. Tapi sepertinya keputusan dari Anin sudah final, untuk resign dari pekerjaannya.
"Tetep, Pak, saya mau berhenti."
"Saya kasih mobil," desak Griffin.
Anin tetap kekeuh menggeleng, menolak penawaran dari bosnya. Lagian dia selama ini kerja karena gabut.
"Ada libur nanti selama seminggu," Griffin kembali mengajukan penawaran. dan lagi-lagi Anin menggeleng sebagai jawaban.
"Apartemen saya buat kamu, asal kamu jangan ngundurin diri," pintanya. Berharap kali ini penawarannya diterima, Griffin menatap lekat Anin. Menunggu jawabannya.
"Ya? Plis!"
Dam! Lagi dan lagi, Anin menolaknya. entah mengapa Anin kekeuh sekali untuk berhenti bekerja. di perusahaan yang begitu di impikan banyak orang yang ingin masuk ke perusahaan milik Griffin.
"Maaf, Pak, keputusan saya sudah bulat. saya sudah memutuskan mengundurkan diri, karna-"
"Humm, hufft..." Griffin menghela nafas, tatapannya kini mengunci tatapan Anin. yang sulit teralih, "dengerin saya."
Griffin mengengam tangan Anin, tatapannya masih lekat menatap manik indah Anin. "Will you marry me," ucapnya dengan gamblang.
Deg!
Anin membulatkan matanya, sambil memegangi jantungnya. yang berdetak begitu kencang, saat mendengar penuturan dari bosnya ini. yang memang hobinya membuat jantungan.
"P--ak? jangan bercanda, bapak ngantuk ya?"
Pria itu menggeleng dengan muka datar, senyum tipisnya begitu samar. sampe tak menampakkan dirinya yang tengah tersenyum. "Kapan saya pernah bercanda?"
Anin mengeser posisinya sampe keujung paling kiri. saat Griffin semakin memojokkan nya. "Pak! saya minta ngundurin diri, ya karena saya di jodohin sama anaknya temen papa saya," kali ini Anin harus mengatakan yang sebenarnya. Daripada harus membuat Griffin terlalu jauh mengambil kesimpulan dan terus nekat dengan ucapannya barusan.
"Tolak perjodohannya, nikah sama saya!"
Anin memejamkan matanya, ia dibuat bingung dengan situasi semacam ini. "Bagaimana saya nolaknya, Pak, itu permintaan papa saya, masa saya nolak."
"Dia ngga baik buat kamu," Griffin kembali mengengam tangan Anin yang tadi terlepas. "Namanya Austin Linando Daxkes, lulusan Australia, satu angkatan sama saya. Saya tau betul dia gimana," lanjutnya.
"Bapak udah tau siapa dia?"
"Kamu lupa saya ini siapa hm?"
Anin mengangguk mengerti. tatapannya masih terkunci menatap lekat mata hitam legam dari Griffin, yang seolah seperti magnet yang terus menariknya agar terus saking menatap.
"Kamu beneran nolak saya?!"
"Iyaaa."
"Liat saja nanti," ucapnya. dengan senyum mencurigakan yang tercetak jelas di wajahnya. membuat Anin berpikir keras, kalau bosnya udah kayak gini. pasti dalam pikirannya sudah merancang sebuah rencana.
__ADS_1
Beberapa waktu hening. hingga Griffin memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu ia menatap Anin yang masih kebingungan atas perlakuannya barusan.
Tubuhnya condong ke depan. membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu, "jika kamu tidak bisa saya miliki. Maka saya akan pastikan kamu terpaksa memilih berdarah atau mendesah!"
Tubuh Anin membeku, mendapat kalimat penuturan yang begitu ambigu dari Griffin. apalagi di akhiri dengan senyuman miringnya.
...*****...
Keluarga besar Cahyadi tengah mencari tanggal baik. Untuk pelaksanaan pernikahan putrinya, Anindhita Rahman Cahyadi yang akan segera ia jodohkan dengan Austin Linando Daxkes, putra dari rekan bisnisnya.
Perjodohan ini tentu dilatar belakangi adanya unsur kaitan bisnis didalamnya. sebenarnya Adji sendiri, selaku papanya Anin. Tak pernah sudi dengan perjodohan ini. Hanya karena sebuah alasan. Dia harus menerima perjodohan konyol seperti ini, merelakan putrinya harus jatuh ditangan orang yang salah.
"Gimana keputusannya, tuan Adji Cahyadi?" tanya Austin, dengan senyum devilnya. nampak merasa menang telak dari orang yang tengah berhadapannya. "Mau seluruh keluarga anda selamat? nikahkan saya segera dengan putri anda."
"Saya akan menyetujuinya jika putri saya mau menerima anda sebagai suaminya. Tapi sejujurnya, saya ngga rela, anak saya harus bersanding dengan orang selicik anda."
Austin meraup wajahnya, sambil tertawa mengejek dihadapan Adji. "Perlu apa? Persetujuan dari, Anin, hah? Azal ada didepan mata, kenapa harus memperulur waktu seperti ini, hm?" Austin memang sudah gila. Pria itu terlalu terobsesi pada Anin. Sampe segila ini, mengancam papa dari orang yang dia puja sampe segini nya.
Beberapa anak buahnya bahkan menodongkan pistol tepat dikepala Adji, yang sulit sekali bergerak bebas. karena kedua sisinya dijaga oleh anak buah Austin yang masih menodong kan pistolnya.
"Hanya dengan satu tembakan, peluru itu bisa langsung masuk ke kepala anda dan mengenai saraf anda, apakah perlu seperti itu? hidup anda berakhir mengenaskan, nantinya!"
Adji nampak geram, namun coba ia tahan. Tidak baik melawan, itu hanya akan membahayakan seluruh anggota keluarganya yang sengaja ia kirim ketempat aman dulu yaitu ke mall. Sedangkan ia berada dirumah, ruang tamunya diselimuti ketegangan. Saat orang gila dihadapannya datang bersama anteknya.
"Kalo saya boleh nolak, saya akan dengan lantang mengatakannya," tegasnya, "sampai kapanpun sebenarnya saya ngga akan rela anak saya nikah sama orang gila kaya anda."
Plak!
Semua pandangan mata tertuju pada seorang yang berdiri diambang pintu. Tengah menatap tajam orang yang menampar papanya. Gadis itu mendekat dan langsung melayangkan tamparan begitu keras.
PLAK!!
"Keparat! berani-beraninya anda tampar papa saya!" sentak Anin. tak ada rasa takut sedikit pun pada Austin yang menatapnya tajam. dan para bodyguard dari Austin menodongkan pistol ke Anin, "apa? Anda kan udah janji, buat ngga sakitin papa saya. Maka saya akan menyetujui perjodohan ini. Tapi anda melanggarnya," sambungnya.
"Papa kamu yang mulai duluan, Anindhita! Dia kebanyakan bertele-tele, padahal akhirnya juga kamu harus tetap menikah dengan saya!" Austin berujar masih memegangi pipinya yang merasa perih atas tamparan dari Anin.
Sedangkan gadis itu, tengah mengkhawatirkan papanya. "Pa, Papa gapapa kan?"
"Gapapa, Nin, Kamu kenapa udah pulang? katanya lagi sibuk di kantor," ujar Adji. sambil menyisihkan rambut Anin kebelakang telinga nya.
"APA??? ANIN MASIH KERJA?!! Bagaimana bisa? Kan disurat perjanjian—"
"Iya! kenapa?" nyolotnya, "mau larang saya?"
Austin ciut saat Anin menatapnya seperti ini. ia paling tak bisa ditatap seperti itu oleh orang di kasihnya, ditatap dengan tatapan kosong dan kecewa. entahlah, ia paling lemah dan tak akan bisa kasar kalau gadisnya sudah seperti ini. dia rela bertarung dengan siapapun, mempertaruhkan apapun bahkan dengan cara licik pun rela ia lakukan demi mendapatkan Anin.
Gadis pujaannya.
Austin mengintruksikan seluruh bodyguardnya keluar dari rumah. "Tunggu saya diluar, saya akan segera menyusul."
__ADS_1
Setelah tujuh bodyguardnya keluar. Austin menghampiri Anin, menatap gadis itu hangat.
"Dengerin saya! cepet risaint dari pekerjaan kamu! kamu ngga perlu kerja. saya akan jamin semua kebutuhan kamu tercukupi," katanya angkuh, "black cards, mobil, mansion, aset pribadi saya akan jadi milik kamu secepatnya, besok malam adalah hari pernikahan kita!"
Deg!
Adji maupun Anin yang mendengarnya terkejut, bagaimana bisa? Austin sudah memutuskan hal tersebut secara sepihak dan tanpa persetujuan keluarganya.
"Mengapa secepat ini?"
Adji menatap tajam Austin yang bergerak menghampirinya, Anin memberi isyarat agar jangan mendekat selangkah lagi. Saat jarak tempatnya dan orang gila dihadapannya ini hanya beberapa lengkah saja.
"Mau seluruh keluargamu selamat?" sebelah alisnya terangkat, "maka turutin saya!"
"Saya nggak sudi--"
Adji tak meneruskan ucapannya, saat Anin memintanya agar terdiam. "Terserah apa mau anda! asal jangan hadang nanti mama sama adik-adik saya!"
Peringat Anin, sudah menebak jika dia berani menolak. Maka keselamatan keluarganya ada ditangan iblis dihadapannya ini, yang tengah tersenyum penuh kemenangan dihadapannya dan papanya.
"Silahkan pulang! Ini sudah malam!" usirnya, secara terang-terangan.
Sebelum melangkah untuk pulang, Austin tersenyum penuh kemenangan di hadapan Adji dan Anin. lalu berucap.
"Selamat malam papa mertua dan calon istri!"
Adji maupun Anin menyumpah serapahi dan tidak sudi mendengar kalimat itu dari mulut iblis yang bernama Austin.
Pria itu memang tidak pernah bosan mengejar cinta Anin yang tidak pernah ia dapatkan. sampai sampai melakukan hal kotor seperti ini. padahal cara ini malah semakin membuat Anin benci. hanya satatus mereka yang akan resmi. tapi cinta diantaranya apakah resmi?
Secarakan cintanya secara sepihak, tidak terbalas kan. hanya Austin disini yang egois mati-matian untuk mendapatkan Anin. Padahal udah jelas dari awal Anin tidak pernah memberi harapan pada Austin. tapi emang dasarnya aja tuh orang udah terobsesi. jadi susah buat gak ada niat memiliki Anin.
"Sekali lagi maafin, Papa, Anin, Papa belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu. tapi mengapa selalu rasa sakit yang selalu Papa beri ke kamu."
Anin menghampiri papanya dan berhambur memeluknya. "Papa gak boleh ngomong gitu. mungkin semua ini udah garisnya takdir, Anin gini. jadi ya udah, mau gimana lagi? Anin nolak juga bakal sia-sia. dia bakal tetap jerat keluarga kita dalam setiap jebakannya."
"Makasih dan maaf! hanya dua kata itu yang papa ucapnya, karena selain itu sulit untuk dikatakan. semua ini terjadi begitu cepat dan papa tidak bisa mengatasi masalah ini sampe merembet, berimbas pada putri satu-satunya kesayangan papa." isak kan tangis dari Adji terdengar pilu.
Bagiamana bisa dan gak akan pernah rela seorang ayah melihat putrinya sendiri harus menikah dengan orang yang sama sekali tak ia cinta dan malah sebaliknya. Dan dia sendiri yang mungkin melihat betapa hancurnya nanti saat menyaksikan putrinya harus bersanding dan terikat seumur hidup dalam pernikahan yang jelas-jelas tak di inginkan.
Adji hanya berdoa yang terbaik untuk kedepannya begitupula dengan Anin yang berharap kedepannya akan baik-baik saja dan mulus jalannya saat sudah menjalani istri seseorang yang tak pernah di inginkan.
...****...
***terimakasih semuanya. mohon dukungannya ya? vote kalian itu begitu berharga, komen kalian juga begitu penting dan pastinya follow akun ini adalah sebuah hal yang wajib. dalam bentuk dukungan supaya semakin membesar akun ini dan ceritanya di minati banyak orang.
Plis ya, jangan egois! jangan sampe dari hal kecil aja kalian lupa... vote itu harus ya, itu bentuk menghargai. komen itu bentuk support dan follow akunnya bentuk memajukan akun ini.
dah byee gays, makasih udah meladeni saya. semoga harimu menyenangkan, selalu di limpahi rezeki dan selalu dikuatkan imannya.
__ADS_1
tidur yg cukup! itu artinya kalian jangan begadang***!