
...Happy reading guys jgn lupa vote, dukung cerita ini terus yak....
Dari jam makan siang sampe sekarang sudah petang. Tidak ada tanda-tanda kedatangan dari seorang Anindhita yang katanya tadi siang ia ingin pergi sebentar ke cafe Bulthon, tapi sampai sekarang tidak juga kunjung kembali. Griffin yang baru menyadari, dan mendapat laporan dari Vian mendadak jadi resah. Bisa-bisanya baru bilang sekarang.
Dan kalau diingat-ingat, ia tidak asing dengan cafe yang jadi pusat pemikirannya sedari tadi. Ia memejamkan matanya beberapa kali. Untuk mengingat-ingat kembali tentang cafe Bulthon.
Cafe Bulthon.
Cafe Bulthon.
Cafe Bulthon.
"Sialan!"
"Keparat. kenapa baru bilang sih?!"
Dengan mulut yang terus mengumpat Griffin beranjak dari tempat duduknya sambil tangannya yang terus mengotak-atik ponselnya. menghubungi Okan, dan Tay secara bersamaan dengan dua ponsel pribadinya. Dan yang mengangkat duluan adalah Tay.
__ADS_1
"Ini seriusan. Saya nungguin klayan sampe jam segini, seistimewa apa sih? Sampe harus ditungguin. Mana ngaret lagi," cibir Anin yang merasa sudah bosan menunggu. Dari jam makan siang sampe petang. Klayan yang katanya penting itu tak kunjung datang. Lagian inisiatif dari siapa coba dia datang sendirian, "demi Pak Griffin saya gini. Kalau nggak gini, saham perusahaan GV Guillotine turun drastis, gara-gara kebakaran kemarin! Pak Griffin mah enak, santai-santai aja. Heran saya mah."
"Ini klayan dari Dubai, apa bagiamana sih? Lama bener. Dikira saya ngada kerjaan apa, nunggu anda doang."
"Ayolah. sampe segininya—"
"Nona Anindhita?" tanya seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah perkasa. Dengan di dampingi dua bodyguardnya, yang memiliki badan kekar berisi. "Maaf membuat anda menunggu."
Anin segera beranjak dari duduknya. Memberi salam hormat membungkukkan badan di hadapan seorang pria itu. Terkekeh sinis, memperhatikan dari atas sampe bawah lekukan tubuh Anin. lantas pria itu seolah memberi isyarat mata pada para bodyguardnya yang langsung mengerti, dan menyusun sebuah strategi.
"Tuan Albert, anda sendiri saja kesini? bukankah seharusnya anda bersama anak anda, yang memegang kendali perusahaan bank swasta milik, Tuannn..." Anin mencari-cari keberadaan seseorang yang ia pertanyaan.
Tidak menaruh curiga sedikitpun. Anin mempersilahkan Albert untuk duduk. setelah beliau duduk, Anin berinisiatif untuk memesan makanan. yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Albert.
"Mengapa, Tuan? Apakah anda tidak lapar," Anin bertanya sambil menatap lawan bicaranya. Ada gelagat aneh yang mulai terbaca, tapi sesegera mungkin ia menggelengkan kepalanya agar menghilangkan pikiran buruknya. "Apakah, Tuan sebelumnya sudah makan."
Sungguh penuturan bodoh. Anin nampak basa-basi tak berguna, tidak biasanya ia melakukan hal tersebut. Tapi entah mengapa saat dihadapkan dengan Tuan Albert ada yang janggal menurutnya. Ataukah hanya prasangka nya saja.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya membuat anda menunggu, saya menolak karena tadi siang saya sudah menghadiri rapat dan masih merasa kenyang memakan hidangan disana." sebisa mungkin Albert harus terlihat tenang untuk menjalankan misinya, "apa nona merasa lapar?"
"Tidak. saya tadi sudah meminum kopi, dan makan. Menunggu kedatangan anda yang lumayan membuat saya muak." bukan sebuah jawaban tapi lebih tepatnya seperti sebuah sindiran halus. Ya gimana engga kesel coba? Dia nunggu dari jam satu siang, dan sampe sore hari. Orang yang di tunggu baru datang. "Jadi pada intinya, apakah kita bisa memulai kerjasama kita, tuan?"
"Tay..... Buruan ke cafe Bulthon, kerahkan beberapa bodyguard. Saya merasa ada yang tidak beres!"
"Oke! Laksanakan bos," tegas Tay. yang paham situasi, ia tahu kalau dalam mode serius Griffin paling engga suka di bercandain. Maka dari itu ia tidak berceloteh asal saat mengangkat telpon dari bosnya. "Apakah perlu menghubungi, Okan."
"Biarin dia ngurus masalah Agam sama Austin. biar kita-kita aja yang ke sana. Jangan hubungi Malvin! biar dia jaga kantor aja, oke? Paham kan?"
Tay diseberang telpon mengangguk paham sambil berjalan keluar ruangannya. Menuju lift. Griffin sendiri sudah menunggunya di parkiran sambil menekan tombol lift, ia menghubungi beberapa bodyguard kepercayaan, atau yang terpilih oleh Griffin. Untuk mengikuti mobil yang di tunggangan oleh bosnya.
Brakk!
Tay menutup pintu mobil dengan tergesa, dan langsung mendapat geplakan oleh Griffin. "Mobil kesayangan gue, Keparat! Main lo gebrak-gebrak aja!"
"Alah udahlah, buru kita ke cafe Bulthon, katanya ada sesuatu yang janggal." Tay membuka iPad nya dan membuka sesuatu informasi yang baru di dapat kemarin malam, "menurut info yang saya cari. Tuan Albert lagi ada di Indonesia. Kepulangannya mendadak, menurut anda ada apa?"
__ADS_1
...*****...