Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
e n a m b e l a s


__ADS_3

📍 Kantor


Sekitar jam 21:27, harusnya jam segini udah pulang kantor. Tapi hari ini ada lembur, siang tadi ada teror yang engga masuk akal. Pas jam makan siang, secara bersamaan engga ada penjagaan yang seharusnya ada. Ada sebuah kesalahpahaman. Kata satpam tim A, yang menjaga gedung sebelah timur,  disuruh istirahat duluan, dan satpam S, yang jaga gedung selatan dia juga disuruh istirahat.


Gedung sebelah T, yang menjadi pusat ruangan CEO dan para pemimpinnya. Kini sedang disibukkan membereskan beberapa berkas yang berserakan. Tepat setelah jam makan siang tadi, seisi ruangan di gedung T semuanya berantakan. Mulai dari berkas, file, dokumen, alat printer, dan berbagai peralatan milik pribadi yang berada di ruangan karyawan disitu semuanya berantakan. Entah siapa orang yang membuatnya jadi seperti ini.


"Anin, kamu duduk aja kalau capek," seru Vian, yang menyuruh Anin untuk duduk di kursi yang ia tarik. Ia melihat raut pucat dari Anin. Ia merasa nalurinya begitu peduli pada Anin, Padahal tidak biasanya seorang Vian sebegitu nya dengan seorang cewek. Ia terbiasa dengan sikap bodoamat nya sama sekitar, tapi ini? Tidak berlaku untuk Anin. Akhir-akhir ini emang kabar keduanya dekat. Apalagi Vian itu suka banget nongkrong di alat printer buat ngeprint berkas-berkas yang ia kerjakan, dan Anin juga terkadang ngeprint berkas-berkas yang dibutuhkan oleh Griffin.


Jadi kesimpulannya mereka bisa dekat karena apa? Ya berawal dari sering ketemunya mereka di ruang printer. Sudah menjadi hal biasa memang, kalau akhir-akhir ini banyak perubahan sikap besar dari Vian yang tidak seperti biasanya. Ia sekarang sering menyapa karyawan lain, apalagi kalau karyawan tersebut sedang bersama Anin sekedar berbincang. Maka ia akan menyapanya sekalian dengan senyum tipisnya yang begitu manis. Yang jarang sekali di perlihatkan.


"Makasih ya, jadi ngerepotin." Anin tersenyum simpul mendapat perlakuan dari Vian, setelah menyuruhnya duduk. Pria itu juga sempat-sempatnya mengambilkan minum untuk Anin di lobby dan menyerahkannya untuk gadis yang sudah duduk manis di kursi.  "Anda balik kerja saja, saya nggak papa kok ditinggal sendiri."


"Bentar lagi juga selsai. Itu udah pada diberesin juga sama yang lain," tunjuknya dengan dagu mengarah pada sebagian karyawan dibawah naungannya yang membereskan kericuhan diruang tersebut. Anin jadi merasa tidak enak, yang lain sibuk bekerja. Masa iya enak-enakan duduk. Ia memutuskan untuk beranjak, tapi Vian menahannya untuk duduk kembali. "Kamu duduk aja, Nin, nggak usah bantu-bantu lagi. Kayaknya kamu kecapean banget, mau nanti kalau pulang aku antar?"


Dengan gelengan cepat Anin menolak. "Nggak. Nggak usah, ngerepotin." sebenarnya Anin peka, mengapa sikap yang ditunjukkan Vian akhir-akhir ini berbeda. Apalagi dengannya, ia tahu kalau pria itu sedang penasaran dengan dirinya. Atau bisa disebut ingin mengarah ke pendekatan. "Udah nanti saya pesen ****** aja."


"Serius nih? Udah malam bahaya naik ****** tuh." nampaknya pria itu masih berusaha membujuk Anin agar pulang bersamanya. Sekalian biar tahu alamat rumah, atau mungkin sekalian mampir ke rumah kedua orangtua gadis itu. Ingin sekalian berkenalan lah, entahlah, baru sekali ini Vian ingin mengenal lebih jauh seorang gadis. Ada ketertarikan yang begitu kentara untuk Anin. "Bentar lagi jam sepuluh malam lho, Nin, bener nggak papa, nggak aku mau anter?"

__ADS_1


"Nggak papa, Vian... Tenang aja, saya bakal baik-baik aja. Udah biasa juga pulang jam segitu naik taksi online. kenapa nawarinya baru-baru ini. Ada apa gerangan ya?" tanyanya iseng, hanya ingin melihat reaksi dan jawaban dari pria yang saat ditanya terlihat gelagapan. Tapi tetap stay cold. Anin menatap lekat pria yang mendongak di hadapannya ini, umurnya dibawah dia 2 tahun. Itu artinya pria yang bernama lengkap.


Viandra Putra Darmawansyah: pria berumur 21 tahun, yang berstatus masih mahasiswa baru wisuda dan sudah bisa menjadi karyawan tetap karena kinerja kerjanya yang bagus. Ia juga dikenal dengan lulusan termuda pada umur 19 tahun, sarjana menajemen, dan langsung mengambil jurusan komunikasi setelah hampir skripsi akhir pada waktu itu. Jadi sekarang dia bekerja sambil kuliah S2 nya.


Wajar kan kalau pria itu banyak yang menggilai. Sejak kuliah pun memang, Vian sudah menjadi most wanted yang dikenal sulit untuk didekati. Tapi sekalinya akrab, dan Vian ada ketertarikan. Bisa buat patah hati, para pemuja pria itu. Sekarang aja nih di kantor, para karyawati lagi patah hati. Melihat kedekatan Vian yang gencar mendekati sekertaris Lim.


*****


Pukul 23:45, suasana mansion pribadi milik Griffin begitu berbeda. Ada hawa-hawa mencekam, Anin pulang pukul 22:10. Disusul dengan Griffin yang pulang 35 menit setelah gadisnya pulang. Menyambut kedatangan Griffin, dari raut wajah pria itu terlihat lesu. Bahkan sekalipun habis mandi, Griffin semakin suram setelah membuka pesan dari Malvin. Duduk di kursi panjang yang letaknya di sebelah kanan, matanya melirik dingin kearah Anin.


Anin sadar. di perhatikan oleh Griffin saat ini, tetapi ia coba mengabaikannya. Semenjak pernikahan yang tak terduga, dan di rahasiakan ini membuat keduanya menjadi secanggung ini. Padahal dulu sikap Griffin sangatlah menyenangkan, meskipun sedikit menjengkelkan dan ngeselin. Tapi jujur, Anin sangat menyukai sikap berbeda dari Griffin yang orang lain kenal bodoamat-an, sangat berwibawa dan tentu kalian tahu, kalau Griffin itu tergolong manusia narsisme yang selalu gila pujian. Dari sisi Anin, tentu Griffin memang begitu menyulitkan tapi juga begitu mengemaskan kalau melihat senyum manis dari pria itu.


Griffin tahu. Sangat tahu. kalau itu hanya basa-basi Anin, saat dirinya menghampiri gadis itu dan duduk disebelahnya. Bahkan nyaris tidak ada jarak, saat lengan Griffin bersentuhan langsung dengan tangan gadis itu yang mendadak gemetar.


Gimana enggak gemetar?


Orang tatapan Griffin kayak mau nerkam gitu. Apalagi saat tangan kiri dari pria itu kini sudah bertengger di pinggang ramping Anin, yang sempat bergeser menjauh. Hal itu disadari Griffin, membuatnya menarik lembut pinggang gadisnya. Ia tatap dalam wajah Anin. "Di kantor ngapain aja, hm?"

__ADS_1


"It—u, anu Pak... Saya ada beresin kericuhan di kantor, beresin berkas-berkas yang berserakan. Aduh Pak, di kantor tuh berantakan parah. Apalagi gedung T, yang berantakan banget." Gadis itu yang tadinya merasa gugup, kini bercerita dengan begitu cerianya. "Terus tadi, saya ngerasa pusing dikit. Gara-gara lupa makan siang. Untung tadi ada yang ngeh saya pusing. Terus..."


"Terus yang ngeh itu, Vian?"


"He'em. Dikasih minum sama obat," jawab Anin. "Baik banget kan, Pak? Biasanya ngada yang perhatiin saya lho, Pak. Bapak aja kalau saya bilang pusing dikit. Boro-boro dikasih minum, diperhatiin gitu. Ehh malah di marahin," keluhnya, tanpa sadar raut wajahnya mulai berubah merah padam. Itu tadi secara engga langsung Anin membandingkannya, bukan?


Ah, apakah Anin melupakan satu hal?


Kalau Griffin paling tidak suka dibandingkan, apalagi sama seseorang yang levelnya dibawah dia. Ternyata benar, atas laporan dari Malvin. yang melapor kalau Anin sedang dekat dengan bawahannya. Vian adalah tangan kanan dari Malvin. Jadi engga heran kan? kalau yang melapor dan peka akan sinyal-sinyal perasaan yang mulai di tunjukkan oleh Vian untuk Anin. Yang sudah sah menjadi istri sahabatnya.


Ada sedikit rasa nyeri dihati. Saat Griffin membayangkan seberapa satset-satsetnya Vian mendekati Anin. Pasalnya dalam bekerja saja ia itu tipe cekatan dan tidak suka menunda pekerjaan. tentu itu cerminan kehidupan sehari-hari nya. Jadi bisa disimpulkan, sudah sejauh mana usaha Vian.


"Udah berapa lama dia deketin kamu?"


Griffin memiringkan kepalanya dan mendekatkan posisinya diarea sensitif gadis yang menegang di tempat. efek hembusan nafas pria itu yang terasa di kulit lehernya. Griffin sengaja melakukan hal itu, sekalian mengendusnya. Cukup membuat merinding Anin yang merasa sensasi yang sulit diartikan itu.


"Kamu milik saya!"

__ADS_1


"Mphh-, Bapak! ahhh."


__ADS_2