Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
d e l a p a n


__ADS_3

Pukul 00:59 Griffin pulang ke apartemen pribadinya. Ia masuk kedalam kamarnya, yang tengah berbaring Anindhita Rahma Kinara Cahyadi. Yang sudah sah menjadi istrinya, ia pandangi punggung putih gadis itu. Indra penciuman pria itu mencium bau apel dan mint secara bersamaan. ditambah dengan lilin aroma yang harumnya semerbak. Apalagi ada ciri khas aroma terapi dari gadis yang tengah berbaring di ranjang itu sungguh menyengat. Seakan-akan membangkitkan sesuatu dibawah sana.


"Aroma mu saja sudah membuatku gila. Apalagi tubuh yang nanti ku c*mbu, mungkin akan jadi candu."


Pria itu bergumam dengan parau menahan n*fsu ke lelakian nya.


Griffin mendekat kearah ranjang, sembari melepas kancing kemejanya. Melucuti satu persatu pakaiannya. Hanya menyisakan celananya. Griffin berpikir sejenak, soal bagaimana tanggapan Anin nantinya tentang dia? yang tiba-tiba pagi nanti terbangun dan mendapati dirinya tidur satu ranjang dengannya.


"Olahraga apa yang dilakukan di malam hari hm...?" pertanyaan konyol terlontar bersamaan dengan pemikirannya yang mengarah ke sana.


Persetan dengan pemikiran kotornya. Anin tiba-tiba menggeliat membuat tubuhnya terekspos tanpa selimut yang menutupi tubuhnya lagi.


"Oh shitt! Naughty girl!"


Mati-matian Griffin menahan bi*ahinya. saat sesuatu dibawah sana terpancing untuk di jinakkan. Griffin mendekat, duduk disebelah Anin yang masih berbaring. Pencerahan di kamar itu hanya didapat dari lilin yang tersedia. Tangan pria itu mengelus lembut pun*gung Anin.


Set!


Entah dorongan darimana, Griffin menarik lingerie Anin sampe terlepas. Membuat sang empu menggeliat dan terperangah akan kehadiran Griffin yang nampak gelagapan. Tanpa diduga, Anin menarik Griffin tepat menghadap pa*udara gadis yang masih setengah sadar. Entah setelah meminum air dari waiters tadi. Tubuh Anin merasa panas, seperti ada ra*gsangan dan n*fsu yang menjalar ditubuhnya. Meminta di puaskan.


Apakah minuman itu tercampur obat pe*angsang?


Entahlah, yang pasti kini Griffin tengah diuji saat dihadapkan langsung dengan sesuatu yang begitu meng*oda imannya.


"Ini siapa yang kasih dia baju kayak gini, sih?" dengus Griffin begitu kelimpungan, "tanpa dia pake pun sebenarnya dia udah begitu sexy sih," gumamnya mencoba bangkit dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Ingin buang hajat, tapi justru tak bisa karena dia sedang tegang. Ia pun memutuskan kembali keluar kamar mandi.


Deg!


Griffin memaku, saat melihat Anin berada dihadapannya. tengah meracau tidak jelas dihadapannya. Entah apa yang terjadi, Griffin tak mengetahuinya.


Dengan tiba-tiba juga, Gadis itu mendongak kearahnya. Mengalungkan tangannya di leher Griffin. Nafas Anin yang beraturan terhembus tepat di leher Griffin yang terpejam, yang lagi-lagi harus menahan sesuatu dibawah sana. Dalam benaknya, ada rasa ingin memasuki gadis yang kini malah memeluknya dengan erat dan bringsutan di pelukannya.


Dengan sengaja ataupun tidak. Anin terus mengubah posisinya di leher Griffin.

__ADS_1


"Dasar gadis nakal! kau mencoba menguji diriku, hah? jangan salahkan saya kalo nanti kamu nggak bisa jalan karena ku honey," bisiknya.


Griffin menuntun Anin kearah ranjang, merasakan suhu tubuh gadis itu memanas menahan g*irah.


Jika saja diijinkan, ia ingin sekali melihat manik indah Anin saat ini, yang tengah dirundung g*irah. Pastikan akan terlihat lebih indah, Pikir Griffin.


Karena pencahayaan remang-remang, di tambah obat peran*sang yang masih mempengaruhinya. Membuat matanya tidak bisa menangkap dengan sempurna. Griffin membaringkan tubuh Anin, dengan perasaan campur aduk menahan bi*ahinya yang ingin di tu*tas kan.


Melihat tubuh indah Anin, sudah menjadi incarannya sejak dulu. Apalagi sekarang dia sudah sah menjadi miliknya. Ditambah saat ini Anin hanya mengenakan lingerie tipis yang belakangnya kini sobek. Hanya menampakkan kaitan b*a berwarna hitam.


"Kamu sudah membangkitkan adik saya, maka bertanggungjawab lah untuk suatu saat nanti."


Griffin mengelus se*sual pin*gang ramping yang tidak terlalu berisi itu. Tangannya yang nakal terus meraba.


"Tubuhmu terlalu indah nona, sehingga saya tidak akan sabar menantikan hari dimana bisa me*jamahmu. Mendengar merdunya de*ahan, kau meneriaki namaku dalam k*ngkungan ku sendiri."


"Kan ku pegang kendali, kepastian kau mendesah untukku sampai bagi hari." Griffin sengaja berbisik dan mengi*it manja telinga gadisnya.


Griffin membaringkan Anin dengan sangat hati-hati, berlalu menyelimuti tubuh Anin. Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan mungil yang menarik-nariknya. Karena keseimbangannya yang belum sepenuhnya didapat, saat kaki satunya berlutut berada diatas ranjang pun menjadi lurus. "****!"


Posisi Griffin sungguh membuat dirinya merasa sesak. Anin memeluknya a*resif sampai menghadapkan dirinya tepat di dua pa*udara dan lebih parahnya tangan mungil itu mengelus area sen*itifnya terus.


"Aku mau kamu malam ini," rengeknya. Tangan Anin melingkar di pin*gang Griffin yang tengah memejamkan matanya. Saat adiknya bersentuhan langsung dengan hangatnya suhu tubuh gadis yang tengah meracau tidak karuan. "Bby, malam ini tidak mau kah bermalam denganku?"


"Tubuhku merasa panas...! Arghhh!"


Anin yang mengerang Griffin yang terpejam mencoba agar tidak lepas kendali. Tangannya terkepal meremas sprei. Lehernya begitu merinding. Anin tidak sengaja bringsutan di area terl*rang titik ran*sangnya. Tangannya terus aktif mengabsen setiap inci leher Griffin dan berakhir gadis itu menyintil kuat jakun pria yang sudah dalam te*angan tinggi dibawahnya.


"Oh shitt! dasar gadis nakal. kalau tidak mau diam. Akan ku pastikan pagi hari nanti dirimuĀ akan terus diam sepanjang hari dikamar!"


"Merasakan are* intimu yang akan ku hajar habis-habisan." Anin hanya melenguh sambil tangannya yang terus aktif mengelus dada bidang dari Griffin. Tubuh mungilnya tiba-tiba bergerak kesana-kemari, entah apa maunya. Gadis itu terus melakukannya, sampai Griffin memeluknya begitu erat.


Dia tidak mau ambil resiko lepas kendali atas tingkah Anin. Anin diem sejenak merasa sesak, matanya mengerjap mencoba menatap dengan jelas wajah Griffin yang berada dalam dekapannya. "Oh bby... b*birmu sungguh men*goda!"

__ADS_1


Cup!


Griffin membelalak. Berbeda dengan Anin yang kini sibuk mencubit perut Griffin yang berbentuk beberapa kotak. Lagi dan lagi, Anin ini berhasil membangkitkan hor*on kelelakian Griffin yang sudah matang.


"Keras banget roti sobeknya, jadi pengen gigit."


"Ada berapa kotakan, Mas?"


Apa katanya tadi Mas? Ini Griffin nggak budek kan? Untuk pertama kali Anin memanggilnya seperti itu. apalagi dengan ekspresi yang mengemaskan. Ayolah, rasanya ia tidak tahan lagi. "Nin! tanganmu jangan nakal!"


Griffin mencoba melepas tangan Anin yang dengan erat memeluk pinggangnya dan tangan satunya yang tengah bermain dengan perut sixpack nya. Perlahan-lahan tangan gadis itu mulai mengarah kearah sensit*f yang tengah masa tegangan tinggi. Griffin sudah coba menyingkirkan tangan Anin yang merembet nakal menyentuh are* intinya. Dia sudah terpejam, mengeram dan mengumpat dalam hati. Sampai mengacak rambutnya frustasi.


Apa yang ia hindari dan coba jangan sampai terjadi. Akhirnya terjadi juga. "Kok ini lebih keras dari perut kamu sih, Mas? Garak-gerak lagi," ucapnya tanpa rasa bersalah. Padahal dia sendiri yang membuat adik kecil Griffin sampai memberontak seperti itu.


"Boleh liat?"


"Nggak! Nggak boleh!" jawab Griffin spontan merasa nyeri mil*knya yang terus men*gang.


"Kalau pegang?"


"Itu kamu udah pegang honey," lirihnya sudah tak kuasa menahan birahinya. "Saya per*wanin juga kamu lama-lama! banyak tingkahnya."


"Ya udah ayo!"


"Nggak!"


"Nggak asik ya?"


"Biarin." Griffin menuntun tangan Anin kembali mengelus lehernya. Setidaknya area itu tidak terlalu sensitif dari pada inti yang tadi di pegang oleh Anin. "Pegang ini aja sepuasnya, jangan nakal. Oke?" bisik Griffin tepat di telinga Anin. Memperbaiki posisinya menjadi berhadapan dan tangannya yang melingkar sempurna di pin*gang gadisnya.


Kepala gadis itu bergerak-gerak. B*birnya mencetak sebuah karya dan meninggalkan jejak di leher Griffin. Pria itu sudah tidak bisa mengendalikan tingkah agresif Anin. Jadi ya biarkan saja. Toh dia juga merasa nikmat, mendapat sentuhan dari istri sahnya yang sangat ingin ia jamah.


"Saya sudah coba sabar. Anda yang sat set," gumamnya sambil terpejam menahan d*sahan merdunya yang tertahan di tenggorokan. "Untung saja misi saya lebih penting daripada menuruti n*fsu sialan ini."

__ADS_1


__ADS_2