
"ANINDHITA!"
"ANINDHITA RAHMA KINARA!"
Sudah teriakan sekian kalinya dari Griffin yang tengah berkacak pinggang menunggu sekretarisnya yang tidak kunjung merespon teriakan. Memang kalau disaat yang dibutuh kan selalu seperti ini kan? Ngilang tiba-tiba.
"A9!!!"
"IYA PAK!" jawab Anin. Tidak kalah berteriak, dia langsung berlari keruangan bosnya. Sambil membawakan secangkir matcha untuk bos yang tidak sabarannya itu. Saat baru sampe di ambang pintu. Anin sudah disuguhi dengan tatapan tajam dari bosnya. "Pak..."
"Anin! Abis darimana aja, sih?" nada bicaranya lembut. Tidak seperti dugaan Anin yang tadi sudah berpikir kalau Griffin bakal ngamuk. "Kamu kenapa balik teriak ke saya sih?" tanyanya posesif, Saat gadis itu mendekat. Meletakkan secangkir matcha itu meja kerja bosnya.
"Ya bapak juga tadi teriak-teriak, kenapa coba? padahal saya bentaran doang buatin bapak minum." Anin mengerucutkan bibirnya kesal. Gadis itu memang tipe orang yang tidak bisa di bentak atau di teriaki orang begitu saja. Hatinya terlalu lembut mungkin. Padahal mah dia gitu sama Griffin doang. Entah mengapa kalau sama bosnya dia bawaannya sensitifan tapi coba ia tutupi.
"Masih ada staff. ngapain kamu repot-repot buat," ujarnya. Sambil menatap balik Anin yang tengah menatapnya. Beberapa detik keduanya saling tatap. Hingga sama-sama saling mengalihkan pandangannya saat sama-sama salting. "Ya udah, kamu balik kerja. Ambil berkas yang harus saya pelajari... kamu temani saya disini, bantu saya kerjain. kerjaan saya banyak banget lho," cerocosnya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya yang kini kembali menatap wajah cantik sekretarisnya.
Anin yang terus di tatap seperti itu pun tentu sadar. Sebisa mungkin ia biasa saja dan nggak gampang baper, takut dia kegeeran. "Pak... beneran saya di suruh ikut ngerjain? Itu kan kerjaan, bapak," ujarnya. Selalu sama dengan nada yang begitu mengemaskan. Sebenarnya Griffin meragukan, usia Anin itu 23 tahun. Apa 13 tahun sih? Kenapa selalu berucap layaknya seorang gadis yang tengah merengek.
"Jadi kamu gak mau bantuin saya?" tebaknya. yang mungkin tepat sasaran. Namun coba Anin sangkal dengan menggelengkan kepala. "Terus kenapa tanya gitu? kamu kan asisten saya. Jadi kalau saya banyak kerjaan, kamu bantuin saya dong." Griffin terduduk di kursi kebesarannya. Memerintahkan Anin agar duduk terlebih dahulu di kursi hadapannya.
"Saya juga banyak pekerjaan lain lho, Pak. bapak pikir saya ngada pekerjaan lain emangnya," katanya. Terlontarkan begitu saja dari mulut Anin. Terdengar agak gimana ya. yang langsung di notice oleh tatapan melongo dari bosnya. Bisa-bisanya berkata seperti tadi ya saudara Anindhita Rahma Kinara Cahyadi. -batin Griffin.
"Aduh, Pak, maaf Pak. Gak sengaja, kelepasan." Anin mati kutu di tatap oleh Griffin begitu mengintimidasi seperti saat ini. rasanya pengen buru-buru keluar aja dah dari ruangan terkutuk ini. "Maaf Pak..., saya lancang. ngomong kayak tadi sama bapak," lontarnya.
"Hm."
__ADS_1
"Bapak sakit tenggorokan?" tanyanya polos.
Griffin menatap malas kearah Anin yang tengah menatapnya dengan ekspresi polos dan cute nya. "Nggak usah boros ya, Nin."
"Apanya yang boros, Pak?"
"Kamu."
"Iya apanya?"
"Udah cantik, senyumnya manis, imut. Itu apa coba namanya kalau gak boros???"
ARGHHH! tolong ini mah, tahan Anin buat gak menjerit kegirangan. Tadi dia gak salah denger kan??? Bosnya muji dia. Anin jadi mensalting kalau gini caranya. Pipinya juga bersemu merah tuh.
"Ya kalau kamu nggak memenuhi kriteria itu. kamu juga nggak bakal jadi sekretaris saya kan? Yang genius dan multitalent ini. udah gitu ganteng banget kan saya???"
(ノಠ益ಠ)ノ
Hampir 2 jam-an lebih Anin mengerjakan tugas tugasnya yang sempat tertunda dan terkendala. Mengatur pertemuan-pertemuan dengan berbagai investor, kolega dan rekan bisnis lainnya. yang diatur ulang jadwal pertemuannya. Karena akan ada perubahan yang signifikan terhadap keputusan besar yang akan diambil oleh Griffin selaku— CEO perubahan GV Guillotine.
Anin sedari tadi sempat curi-curi pandang ke kursi samping tempat duduk bosnya. yang tengah fokus dan serius bekerja. kalau lagi mode serius, fokus terus anteng gini. keliatannya adem banget Anin liat-liat. Dia aja sampe senyum-senyum sendiri. saking menikmati pahatan yang begitu indah. Tuhan menciptakan dirinya dalam keadaan tersenyum mungkin. Sampe bisa menciptakan hambanya setampan ini dan segenius ini.
Kalau dilihat-lihat. Anin jadi insecure sama bosnya. Dia bukan hanya ganteng, tapi juga cantik. Anin mengakui itu dari dirinya sendiri yang menampakkan bibir indah dan bentuk tubuh perfeksionis yang dimiliki bosnya. Tapi tetap saja, kadar ketampanan pria itu lebih menonjol karena dia kan cool abis.
"Ekhm! Udah puas liatin sayanya, hm?" Griffin mengalihkan sejenak fokusnya dari layar laptop bergulir menatap samping Anin yang tengah menyangga dagunya. Sedang berandai-andai mungkin. Sampe harus loading dulu mengetahui dirinya kepergok oleh Griffin.
__ADS_1
"Saya tau, saya emang ganteng. Tapi nggak gitu juga liatin nya," dengan songong nya pria itu berucap demikian.
Membuat Anin misuh-misuh dibuatnya. Jadi nyesel tadi muji bosnya yang baru di puji segitu doang udah pede nya langsung naik ke tingkat level yang udah-udah aja nih.
"Bapak pede banget sih," dengusnya. Beralih menatap pergelangan tangannya, menengok jam tangan yang menunjukkan jam setengah 2. "Udah waktunya makan siang lho, Pak. Bapak nggak mau makan nih?" alibinya.
Griffin ikut reflek melihat jam tangannya. "Kamu pesenin sana... bisa-bisanya biarin bos kamu kelaparan," suruhnya dibarengi dengan omelan seperti biasa. Anin mengelus dadanya sabar untuk sekian kalinya. Menghadapi bos yang selain genius, multitalent, ganteng, kang narsis abis. Ternyata juga nyeselinnya nauzubillah.
"Ya udah, Pak, saya pesenin. Pesen di kantin aja ya, Pak?" Griffin cuman ngangguk doang buat ngiyain. Anin pun beranjak dari duduknya bertujuan ke kantin kantor. "Permisi ya, Pak..."
Sudah sekitar 15 menitan Griffin menunggu. Perutnya udah laper banget. Belum sarapan dari pagi. Ini malah nunggu makan siang dari Anin lama banget. Griffin sampe berdiri dan berniat menghampiri Anin saja.
"Anin kemana, sih? Pesen makanan doang lama banget," gerutunya sambil menekan tombol lift ke lantai satu. Ada beberapa karyawan juga yang satu lift dengannya. tengah berbisik, desas-desus soal kantin kantor yang katanya lagi heboh.
Griffin mengerutkan keningnya, saat kabar heboh di kantin di kaitkan juga dengan nama sekretarisnya.
"Iya sih, katanya sekretaris Lim lagi jadi trending topik di kantin nih," ujar salah satu karyawan bagian HRD.
"Udah nggak heran sih, sekretaris Lim emang selalu bikin heboh," sahut temannya yang lain.
Griffin semakin mengerutkan keningnya. Ada apa ini?
...༼ **つ ◕‿◕ ༽つ...
segitu aja dulu ygy, mohon support saya dalam cerita ini. ramaikan dan majukan karya ini sampe di kenal banyak orang. mulai dlu dr vote, komen, ikuti akun ini dan bila berkenan mohon bantuannya untuk share cerita ini, rekomendasi jika kalian suka.
__ADS_1
oke segitu dlu. makasih yg udh berkenan baca mohon maklumi kekurangannya, saya baru pertama kali nulis di platform ini.
Mohon support dan bantuannya..... Jenooo**~