Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
d u a


__ADS_3

Suasana di ruangan yang begitu megah dengan situasi di selimuti ketegangan dan pertentangan yang kentara akan permintaan sang ayah pada anaknya.


Papanya yang tetep berusaha membujuk anaknya agar mau di jodohkan dan anaknya yang terus menolak, dengan alasan ia ingin terus berkarir sampe tiba waktunya sendiri untuk menikah dan menemukan cintanya. Tapi sepertinya angan-angan gadis itu harus di patahkan. Kalah sang ayah memohon agar menerima perjodohan yang menurutnya konyol.


"Papa mohon sama kamu, Nak, ini semua demi kebaikan kita bersama. kalau kamu menolak, imbasnya pada keluarga kita," lirihnya. dari tatapannya tulus. Tidak memancarkan sedikit pun kebohongan. Karena memang benar adanya dia terpaksa menerima perjodohan sepihak dari sang calon. "Papa juga nggak rela kamu nikah sama dia, Anin, cuman mau gimana lagi? Tidak ada pilihan lain."


Mata gadis itu sudah berkaca-kaca menahan tangis. Bundanya yang duduk disampingnya mengelus lembut bahunya. Mencoba menenangkan putri satu-satunya, dari empat bersaudara Anin anak sulung dan perempuan satu-satunya.


"Bunda juga nggak mau, Nin, cuman keadaan yang memaksa... Bunda mana mau menyetujui perjodohan yang jelas-jelas, anak bunda aja nggak pernah mau nikah sama orang itu."


Adji— papanya Anin. Menatap lekat putrinya, bergantian disisinya. Dia cukup merasa bersalah atas kejadian ini. Andai ia lebih berhati-hati dalam berbisnis. Dan memilih rekan bisnis yang benar. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Dirinya tidak mungkin terjebak dalam dua pilihan yang sama-sama menyudut kan.


"Maaf nak, ini semua salah papa," sesalnya beranjak dari duduknya dan menghampiri Anin.


Tanpa sadar Adji meneteskan air matanya juga saat melihat kedua wanita yang ia sayangi menangis.


"Maaf papa enggak bisa jadi orangtua yang baik buat kamu, papa tidak ada pilihan lain, Anin. Kalau bisa memilih papa juga gamau. karena keadaan yang menyudutkan, semua ini terjadi." disela-sela isakan nya Adji berucap. Tangannya mengelus lembut punggung putrinya.


Anin yang mendengarnya semakin terisak mendengar penuturan dari papanya. Kalau udah kayak gini. Dia gamau liat ayahnya seperti ini dan dia tidak mau mengecewakannya.


"Oke. Anin terima perjodohan ini. Tapi berhenti salahin diri ayah seperti ini, Anin nggak bisa liat ayah gini. Apalagi kalau liat sampe ayah nangis," lirihnya.


"Anin baik."


"Makasih ya nak," ucap bunda lembut.


"Iya bunda. Anin sayaaang papa bunda, Anin nggak bisa liat kalian kesusahan, kecewa dan sampe nangis kayak gini. Pokoknya semuanya akan baik-baik aja. Asal kalian selalu senyum buat Anin."


Anin memeluk kedua orangtuanya dan langsung di balas oleh keduanya. Penuh sayang dan kasih keduanya yang begitu menyayangi anak sulung perempuan satu-satunya.


╰(⸝⸝⸝´꒳`⸝⸝⸝)╯


"Gila ya! Ternyata sekretaris Lim itu holkay parah."


"Iya njir, gue aja sampe kaget."


"Gue sih udah feeling, kalau sekretaris Anin Lim Alghifarry itu emang anak sultan."


"Bisa-bisanya, lo rahasiain dari kita-kita ya, Okan!"


"Iya njir."


"Ya gue pikir lo pada udah tau, secara kan dari fashion aja udah fancy."


"Lah iya, gue baru ngeh."


"Jadi keinget tadi pagi. dia bayarin es teh transfer langsung ke penjualnya 25 juta. kebayang nggak saldo dia berapa?"

__ADS_1


"Kebayang sih. Paling lebih dari 100 juta, pastinya juga sih kang es teh itu capek, ngelayanin seluruh karyawan kantor yang ribuan buat antri pesen es teh gratis." Okan menatap lawan bicaranya Tay.


Malvin sih diem-diem bae, sampe dia kembali berucap.


"Menurut lo dia ada gelagat aneh nggak?"


"Aneh apa?" Tay bertanya terlalu penasaran.


"Bau-bau mau berhenti kerja."


"Uhuk... Uhuk!" sedaritadi Griffin hanya mendengar celotehan dari para sahabatnya. Sampe membuatnya tersedak. "Anjing! Ngomongnya kagak di filter, maksud lo apasih?"


"Iye nih sih Okan. Bisa-bisanya ya lo!" sungut Tay menyalahkan.


"Lo juga njir."


"Kenapa? Lo belum siap ya? Kalau semisal Anin berhenti jadi sekretaris lo?" Malvin mengamati gerak-gerik Griffin.


"Belum siap apanya?"


"Belum siap kalau posisi dia di gantikan orang baru. Lo nggak akan gampang cocok dan gak akan mau kan kalau semua itu terjadi suatu saat nanti."


"Ya mangkanya gue mau perpanjang kontrak dia jadi sekretaris gue."


"Emang dia mau?"


"Iya juga sih. Dipikir-pikir, banyak lho dulu yang lebih berpengalaman dari sekretaris Anin. Buat daftarin diri di bagian sekretaris. Tapi yang di terima malah Anin. Parahnya waktu itu dia lagi masa-masa skripsi. yang ijasah lulusnya belum pasti dan dengan mudah tuan Lim Alghifarry nerima. Apa jangan-jangan—"


"Dia udah nge-crush-in Anin kali, ya?" Tay menambahi ucapan Malvin yang panjang kali lebar itu.


"OMAYGOOD! itu artinya lo jatuh cinta diam-diam ke sekretaris A9?! Ya nggak sih?"


"GAK!"


Tay terdiam saat mendapat sentakan sekaligus tatapan tajam dari Griffin.


"Kalau gak kenapa?—"


Malvin sengaja mengantung kata-katanya, dia gak berani berucap lagi pas liat tatapan tajam itu beralih padanya.


"Gue aja baru tau dia pas ngajuin diri buat jadi sekretaris," jelasnya gak jelas.


"Dari sekian banyak yang ngajuin, kenapa yang di terima dia?" desak Okan.


"Kebetulan."


"Kebetulan yang sangat di rencanakan ya gak sih?" cetus Tay yang diangguki setuju Malvin. Entah mengapa keduanya emang paling suka ceng-cengin Griffin sama sekretaris Anin.

__ADS_1


Ya mungkin dari tindakan dan sifat Griffin aja udah kentara banget. Kayak enggak biasa gitu kalau sama sekretaris Anin.


"Terserah lo pada. Gue capek."


Setelah semuanya terdiam cukup lama. Tiba saatnya Malvin berucap.


"Lo pada inget Austin gak sih?"


"AUSTIN SIAPA?"


Kompak ketiganya, sampe saling tatap. Ikatan persahabatan mereka udah erat. Sampe gitu aja barengan.


"Austin seangkatan dulu sama Griffin pas kuliah. Gue denger-denger dia balik ke Indo."


"Terus hubungannya sama gue?"


"Ya ngada sih. Tapi siapa tau lo mau reunian sama dia."


"Najis! Nggak banget. Gue punya dendam sama dia."


"Dendam apa?"


"Dulu kita kan tetanggaan tempat tinggal waktu kuliahnya. Nah dia masa ngejekin gue. yang jemur kolor Ironman di tengah-tengah raftoop, antara tempat tinggal gue sama dia. Dia hampir buang kolor itu, parah nggak sih?"


"BWAHAHH HAHAHAHA BWAHH." sedari tadi ketiganya menahan tawa. Dan sekarang mereka melepaskannya, sampe beberapa pengunjung cafe melihat kearah meja mereka. "Anjing! Kolor Ironman sampe Jepang! Bisa-bisanya, lo jemur kolor di roftop elite Jepang, bwahah, o asu!"


Kalau Malvin sama Okan masih bisa di kendalikan kalau ketawa. Tapi kalau Tay, dia mah sekali udah ketawa ya pasti udah bengek.


23:25 Pm.


Anin masih terjaga. Tidak bisa tidur, sudah beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk tertidur. Tapi tetap tidak bisa.


"ARGHHH! Pusing ihh. Nggak rela banget kalau berhenti kerja. Itu kan impian gue dari lama. Udah enak ke terimanya gampang, ya meskipun pas ke keterima kek di siksa."


"Bisa-bisanya tuh orang, baru juga mau jadi calon suami. Udah suruh-suruh gue buat berhenti kerja... Emang dia sekaya apa??!"


"Nanti Pak Lim gimana?"


Tiba-tiba dia jadi mengkhawatirkan Griffin yang sudah terbiasa dengan keberadaannya. Mulai dari memperhatikan setiap hal kecil seperti memilih Pakaian, Jas, dasi, kemeja, sepatu, vitamin, suasana ruangan kerja, potongan rambutnya dan bahkan sampe memilih makanannya tiap hari untuk Griffin.


Dari hal kecil sampe hal besar. Griffin selalu bertanya pada Anin, meminta pendapatnya. Ya meskipun nantinya Griffin juga yang memilih sesuai keinginannya. Tetap saja masukan dari Anin selalu ia pertimbangkan.


Entahlah, Griffin begitu pada Anin. Sedangkan ke yang lain dan sekretaris nya yang dulu-dulu gak sampe segitunya tuh.


"Semoga aja Pak Lim tidak mempermasalahkan soal ini. Dan semoga cepat mendapatkan pengganti," monolognya. Sedari tadi bicara sendiri sambil rebahan diatas ranjangnya.


"Nanti ada yang tahan nggak ya kira-kira, sama sifatnya Pak Lim?"

__ADS_1


__ADS_2