Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
25


__ADS_3

...******...


Setelah kejadian semalam membuat keduanya menjadi canggung. Saat Anin dan Griffin duduk berdampingan di meja makan pun rasanya aneh.  Tay yang melihat hal itu tentu langsung melontar kan pertanyaan.


"Jadi semalam udah buka-bukaan belum?"


Uhuk uhuk...


Anin terbatuk saat menyeruput secangkir tehnya. atas pertanyaan yang diberikan Tay.


Griffin yang melihat itupun langsung melirik tak enak pada Anin. sambil memegangi tengkuk Anin, "awww sakit, Pak!" rintihnya.


"Sakit kenapa?"


"Masih nanya lagi. Rudal lu pasti gede banget, Fin, sampe bikin Anin sakit."


Mendelik garang.


"Oh ok! maaf," nyali Tay menciut sejenak.


"Baik-baik aja kan kamu?"


"Heem," sahut Anin.


Berlanjut fokus dengan sarapan masing-masing, sampe tiba saatnya ada seorang pelayan yang tiba-tiba menghampiri meja mereka dengan berkata. "Pak, sudah siap!"


"Oke. 7 menit lagi saya kesana," jawab Griffin yang langsung mengerti.


"Sesuai rencana?"


"Sesuai," sahut Griffin. "Siapin aja jadwal Malvin suruh nyusul kesini. Okan, biarin dia bisa handle semua masalah di Indonesia. Dibantu Joss," lanjut Griffin. lalu menatap balik Anin yang sedang menatapnya. "butuh sesuatu?"


Anin menggeleng.


"Ya sudah, makan sarapannya segera, lalu ikut dengan saya."

__ADS_1


Baru juga 2 menit keduanya fokus kembali dengan makanan masing-masing. Aktivitas sarapan mereka harus terhenti. Dikarenakan kedatangan Malvin ditengah mereka yang tengah sarapan.


"Haiii, gabung dong. Enak banget kayaknya." Malvin. Masih dengan kebiasaannya, tanpa jaim jaim langsung duduk disebelah Tay. "Ini buat gua aja, lo udah banyak makan, kan? Gua dari semalam belum makan anjir, gua di jebak di pesawat yang salah."


"What??"


Secara berbarengan Griffin dan Anin kaget dengan penuturan Malvin. Kalo Tay si keliatan santai. Karena ia tau, semua ini bakalan terjadi. Karena Albert masih memiliki koneksi kuat di Indonesia. Di Bidang penerbangan. Albert pasti sudah merencanakan sesuatu.


"Abis makan kita langsung beli tiket ke Belanda, terus transit ke Swiss lanjut ke—"


"Hssttt!"


Griffin mengintruksikan Tay agar tak melanjutkan ucapannya. Griffin melihat ke kanan dan ke kiri, lalu berujar. "Buruan makannya, kita buru-buru. Ada yang perhatiin, sebisa mungkin harus bersikap senatural mungkin."


***


"Halo bosss, lapor. Mereka masih berada di hotel Phuket. Kabar terbarunya, ada Pak Malvin yang baru saja datang. Sepertinya ada rencana bisnis disini," lapor orang suruhan Albert.


Albert dan yang lain sudah tiba di Amerika. Ia akan langsung menuju ke Belanda. Tanpa mengetahui rencana dari Griffin yang akan membuatnya kehilangan sesuatu. Kehilangan kartu AS dan pion penyimpanan kejahatannya.


"Kamu awasin mereka terus, saya disini akan menjaga Agam dan Austin. Jangan sampe keduanya tertangkap, dan jatuh ke tangan mereka."


Albert mengangguk puas. Merasa puas akan kinerja anak buahnya ini. Cukup bisa diandalkan, daripada Andrew, Bible dan Vegas. "Oke. Saya percaya dengan kau, jangan sesekali kecewakan saya dan berkhianat. Maka kau akan tanggung sendiri akibatnya," tegasnya. Memberi peringatan keras pada anak buahnya ini.


Sepuluh menit kemudian. Albert menuju ke sebuah kapal, kapal laut yang sudah di design khusus. Di dalam sana sudah ada Agam, Austin yang tengah ditangani. Kondisi keduanya makin hari makin membaik. Kalau sampe Griffin tahu. Bakal bahaya.


"Dokter Ayman, bagaimana keadaan mereka? Apa saat tiba di Belanda. Keduanya akan sadar?"


Ayman yang tiba-tiba mendapat pertanyaan beruntun pun. Sontak berpikir sejenak. Kata-kata apa yang pas, untuk menyampaikan kondisi Agam dan Austin saat ini.


Melihat keduanya yang sering dipindah-pindah kan, dan sering sekali beberapa alat tercabut. Tentu akan berpengaruh besar pada kesehatan keduanya. Yang seharusnya sembuh lebih awal, malah berangsur seperti sekarang. Sering juga, Griffin memberi obat perangsang untuk kedua. Obat perangsang yang dimaksud adalah. Obat rangsangan agar keduanya segera sadar.


"Pastikan, kalau mereka berdua sadar. Tak ada seorangpun yang tau. Dan tolong, kerahkan kinerja terbaik anda. Untuk keduanya, saya akan bayar dua kali lipat."


Mendengar ucapan Albert. Membuat Ayman bergumam dalam hati. "Ck, kalau segitu mah. Tuan Griffin juga bisa, bahkan dia bakal kasih lebih dari itu."

__ADS_1


"Kau mendengarkan, saya tidak?" tegur Albert saat Ayman termenung. "Segera beri penanganan khusus."


"Anda ini bagaimana, mereka berdua sudah di beri rangsangan untuk sadar. Tapi anda, malah meminta saya menyuntik obat bius untuk keduanya. Saya engga ngerti sama jalan pikiran anda, Tuan." Ayman mengatakan hal tersebut. Dengan terlampau jujur dan polosnya saat berucap.


Sedangkan disisi lain.


Orang suruhan Albert taunya Griffin masih ada di hotel Phuket. Tengah mengadakan rapat rekayasa. Yang direncanakan Griffin, Tay dan Malvin. Agar bisa mengelabui musuh. Dan hal itu tentu berhasil.


Griffin dan yang lain. Lengah dalam pengawasan. Membuat mereka, leluasa ingin melakukan hal yang mereka mau. Termasuk saat ini. Mereka tiba-tiba berada didalam pesawat lagi. Di pesawat penerbangan pertama menuju Belanda. Dengan tiket pesawat, perjalanan bisnis.


Mendapat fasilitas dan pelayanan khusus. Membuat mereka, semakin tak bisa dilacak keberadaannya.


Maka dari itu. Albert masih tenang-tenang saja. Karena yang dilaporkan terakhir kali oleh anak buahnya. Kalau musuhnya masih sibuk di Phuket. Padahal mah otw Belanda.


Albert bersantai sambil melihat Austin dan Agam yang tengah ditangani Ayman. Perlahan baik, dan semoga besok keduanya tersadar. Agar bisa melaksanakan rencana balas dendamnya. Albert begitu yakin sekali. Kalau keduanya bakal berpihak padanya. Tidak seperti Andrew, Bible dan Vegas. Yang nampak meragukan. Mengajak kerja sama Albert. Akan tetapi selalu pada ngilang saat dibutuhkan.


"Dasar, ketiganya sama-sama engga becus. Minta gabung, menang kontrak investor. Lewat bantuan saya sebagai batu loncatan. Ingin sama-sama menjatuhkan, Griffin, tapi saat saya butuh mereka. Mereka malah menghilang," keluhnya yang sudah mulai jengkel.


"Tau gitu. Entah bakal, saya bantu kalian bertiga."


"Tidak ada tau terimakasihnya sama sekali."


Tepat setelah ia mendumel kesal. Sebuah sering telpon mengusik fokusnya. Saat dilihatnya, siapa nama sa g penelpon. Dengan terburu-buru Albert mengangkat. Dan berbicara. "Kamu! Kemana aja? Ini saya lagi di incar sama Griffin. Kalian malah ngilang gitu aja, sengaja? Bikin saya keliatan pengecut. Dengan lari kesana kemari, mencari tempat persembunyian. Agar tempat penyanderaan Maneer tidak diketahui. Dasar bodoh! Mau enaknya doang."


"Anda dimana? Kalau mau saya bantu dan samperin, kasih tau." Andrew berusaha membodohi si tua bangka ini. Dan dengan cepat si bodoh ini menurut. "Oke. saya otw sana, bareng Vegas, Bible dan anak buah."


"Cepatlah. Saya menunggu anda, untuk ikut serta membantu. Jangan mau enaknya, kita harus saling merasakan. Tidak boleh ada kecurangan apalagi pengkhianatan."


"Siap. Gua amanat kok, tinggal anda kasih tau alamatnya. Serta orang yang ngawasin Griffin di Phuket. Gua mau konteks dia, supaya makin berwaspada dan teliti. Dengan siapa dia mau bermain-main."


"Dia tak terlalu menakutkan. Dia hanya pewaris yang tak bisa apa-apa," balas Albert dengan mendengus kesal.


"Gausah banggakan tim musuh didepan saya, saya paling malas."


"Oh okeii. Segera Sherlock tuan," kata Andrew penuh keseriusan. Sehingga siapapun tidak akan ngeh. Kalau seorang Andrew Kasmari bisa menipu juga. "Jangan lupa, kirim langsung tuan."

__ADS_1


"Saya kirim sekarang."


...*****...


__ADS_2