Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
t u j u h


__ADS_3

"Anin, gimana sayang? kamu baik-baik ajakan disana? kamu yang betah ya. maaf papa gak sempet antar kamu, karena kamu tau sendiri gimana suamimu."


"Iya Pa, nggak papa kok, Papa tenang aja. Anin bakal baik-baik aja disini, Papa juga ya?" jawab Anin dengan senyumannya. Mengernyitkan keningnya, dirinya bingung saat mendengar suara bising dari sebrang telpon. "Pa? Papa lagi dimana?"


Adji langsung menjawab spontan, "di Bandara."


Anin terkaget, mengapa mendadak seperti ini? Papanya juga mau kemana. Tidak biasanya beliau mau bepergian nggak ngabarin dia. "Mau kemana, Pa.....?"


"Kok nggak bilang-bilang sih," rengeknya. yang langsung membuat Adji terkekeh. "Kok Papa malah ketawa? Papa mau liburan ya? kenapa nggak ngajak Anin..."


"Kamu udah punya suami nak, masa mau kamu tinggalkan. oh ya, kamu harus nurut berbakti sama dia ya? Nggak boleh ngebantah perkataanya." bukan Adji yang berbicara, melainkan Hanin— Mamanya Anin. "Jangan pernah durhaka pada suamimu, saat mengajak beribadah layaknya suami istri ya nak?"


"Maksud Mama?" Anin mengigit bibir bawahnya, bukannya dia tidak mengerti hanya saja rasanya belum siap untuk melayani seutuhnya untuk suaminya. apalagi dia nggak cinta sama sekali, andai Anindhita tahu. Kalau yang ia nikahi adalah bosnya sendiri. mungkinkah dia bakal? "kalau aku belum siap gimana, Ma?"


"Siap enggak siap, kalau suamimu minta. ya kamu harus menurutinya," ujar Hanin. menasehati putrinya sesuai ajaran agama yang ia ketahui. "Kamu ingetkan? dosanya nolak suami meminta haknya itu dosanya besar lho, dan kalau kamu inisiatif sendiri. maka sebaliknya, pahalanya besar buat kamu, Nin."


Gadis itu hanya mengangga, jadi membayangkan yang tidak-tidak. sebenarnya ia tidak siap, tapi ya yang dikatakan Mamanya ada benarnya juga. "Tapi Anin takut, Ma..."


"Nggak perlu takut, Nin. itu udah kewajiban kamu. Mandi, sholat tahajud, doa sama Allah, semoga di berikan kelancaran dan doa supaya pernikahan mu ini pernikahan satu kali seumur hidup, minta agar diberi ke ikhlas dan sabar menjalani hidup baru kamu, Nak, abis itu kamu tunggu suamimu pulang."


Anin menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya akan hari ini. menjadi hari dimana, di mulai hubungannya bersama pria yang tidak ia sukai. "Ma...! aku enggak siap!!!"


"Enggak boleh gitu sayang, emang kamu mau di laknat oleh Allah?"


"Ya enggaklah, Ma, tapi nggak mau ish!"


Hanin terkekeh sambil menghapus air matanya yang menetes, yang sedari tadi diusap oleh Adji. "Nggak papa sayang, harus dilakukan!"


Adji mengambil alih telponnya dari Hanin, istrinya sibuk mengusap air matanya yang menderai. dia memang sudah menangis sedari tadi setelah mendengar semua cerita dari sang suami. Yang harus menerima sebuah fakta, kalau anaknya menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Adji juga sebenarnya masih belum rela, tapi apalah daya. dia tidak bisa menolak dengan keadaan yang sulit untuk di deskripsikan beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Gamauuu ih, Papa... takut," rengek Anin.


"Awalnya doang kok yang sakit, lama-lama mah enggak."


"Ish Papa...!"


Setelah beberapa menit memutuskan telpon dengan anaknya yang merajuk. Adji sudah memenangkan Hanin yang kini sedang tiduran di kamar pesawat businessman VIP. ketiga anaknya yang lain sudah tertidur juga disebelah kamarnya.


Sekarang hampir pukul satu dini hari, Dia terjaga memikirkan nasib anaknya yang telah menikah dengan bisnisman dan yang ia ketahui, dia juga seorang keturunan darah hitam— atau kita kenal sebagai keturunan Mafia. Adji meratapi kebodohannya, yang membiarkan begitu saja anaknya dibawah oleh orang asing. dan dia harus merelakan pergi jauh dulu dari putrinya.


Ada satu hal yang harus ia selesai kan dan usut kebenaran tentang menantunya. yang tiba-tiba meminta anaknya menjadi istrinya. sungguh di luar akal sehatnya, dia memikirkan hal-hal buruk akan terjadi pada putrinya. saat ini juga ingin rasanya ia keluar dari situasi rumit semacam ini.


"Ya Allah, cobaan apalagi yang engkau berikan. mengapa semua ini terjadi pada hamba," Adji menghamparkan sajadahnya. mengadu pada sang penciptanya, memohon agar dipermudah kan segala cobaan yang tengah ia terima saat ini, "hamba tidak tahu harus berbuat apa saat ini. hamba saat ini disuruh menjauh dari putri hamba yang baru saja dinikahi oleh orang yang mungkin berniat jahat. tapi hamba sendiri tidak mampu melindungi dan menolak semuanya, dia terlalu berbahaya dan tindakannya tidak pernah segan-segan, Ya Allah... tunjukkan jalan yang benar dan permudah semuanya, lindungi anak hamba yang tengah berada bersama orang itu."


...*****...


Disisi lain. Griffin sendiri tengah sibuk berbincang dengan Okan– temannya sekaligus karyawan di perusahaan pusatnya. dia baru saja pindah dari perusahaan cabang lalu ke perusahaan pusat bersama Griffin.


Malvin sendiri yang sibuk cengengesan sendiri. tengah melakukan suatu rencana, yang diluar rencana yang dirancang oleh Okan dan Griffin yang masih sibuk dengan permasalahannya.


"Baiknya gimana?"


"Lo pulang aja sana. lo temui Anin. lakukan sesuai kewajiban lo, Lo nikmati malam ini sama istri lo." Okan berucap sambil menepuk bahu temannya. "Nanti berbagi ilmu ya, siapa tahu jodoh gue udah deket."


Griffin malah tertawa sarkas pada Okan yang langsung menatapnya tajam. "Jodoh udah deket? jodoh tuh di cari Bray, jangan cuman ditunggu. modal nunggu doang nggak bikin lo cepet nikah."


"Ya seenggaknya gue udah tahu teori sebelum praktek," sahut Okan.


Pria lawan bicaranya itu memicing, "tanpa gue kasih tahu. Lo kan emang tiap hari liat orang praktek buat debay."

__ADS_1


"Sialan lo, Fin, tahu aja yang gue lakuin."


"Woi!" teriak Malvin, terlihat girang bringsutan di atas sofa. matanya berbinar-binar, setelah mendapat kabar dari waiters dari Apartemen Griffin yang telah menjalankan misinya dengan baik. tanpa tanggung-tanggung. Dia juga memberikan tips yang lumayan besar untuk waiters, yang pelayanannya memuaskan. "Lo buruan pulang dah, Fin, buruan sana!!!"


"Dih ngapa lo?"


"Nggak papa, Lo pulang aja sana. ini hampir jam satu, lo belum pulang. rugi bego nggak lewatin malam pertama sama Anin istri lo."


Griffin mengernyit, mengapa dengan beraninya Malvin mengusir dia? ada yang aneh, Griffin jadi curiga. "Nggak! nggak akan semuanya terjadi, gue nggak akan ngelakuin itu."


"Ah yang bener???"


"Jangan boongggggg! yang bener??!!!" ejek Malvin, terlihat begitu mengesalkan bagi Griffin yang sudah mengepal kuat. "rugi lho, lewatin malam panjang yang indah sama Anin, Lo nggak pernah tertarik apa? Lo nggak pernah Ng*Ceng gitu setiap liat dia—"


"Dia apa, njir?"


Malvin bergidik ngeri, melihat tatapan tajam dari bosnya. dia sepertinya salah bicara nih.


"Nggak papa, nggak jadi. mending lo pulang, Lo nggak kasian. istri lo sendirian di apart."


Griffin berpikir sejenak, benar juga apa yang di katakan Malvin. masa iya meninggalkan istrinya sendirian di apartemen. tidak bagus juga kan, kalau bangun-bangun dia nyariin suaminya.


"Tapi gue belum siap, pas dia bangun, ngamuk-ngamuk sama gue."


"Heem," Okan mesem-mesem sendiri mendengar penuturan Griffin. Tidak seperti biasanya, mendengar ucapan yang membuat temannya gemetaran. "Lo takut Anin, nolak lo?"


Griffin menoleh ke Okan. "Nggak! nggak mungkin dia nolak gue. emang ada? yang meragukan aura dan pesona gue ini?!!"


Oke, sekarang Okan menyesal telah mengatakan itu. harus menelan ludah getir, mendengar penuturan yang begitu penuh percaya dirinya.

__ADS_1


"Gue pamit, jangan lupa ya! besok langsung kerja. Ngada kata libur, oke?!!"


__ADS_2