
"ANINDHITA!"
Suara mengelegar bersumber dari ruangan bosnya. Seorang gadis sang pemilik nama itu pun segera berlari kecil mengapai kenop pintu masuk keruangan atasannya itu.
"AKKHH! SIH, BAPAK! KENAPA— mph--," teriakannya terputus. Saat tangan Griffin membekap mulutnya. "Mphhhhh-" berontak Anin.
"Diem, Anindhita! kamu kenapa berteriak?"
Anin memejam sambil menunjuk reselting celana yang terbuka. sebenarnya tadi saat masuk keruangan tersebut. Anin melihat Griffin yang baru keluar kamar mandi dan mungkin belum menutup itu. Dan mungkin, pandangan nakal gadis itu kearah sana.
"Oh shitt! hanya hal kecil. kamu berteriak sampe segitunya," gumamnya.
"Ya bapak, Ngapain tadi teriak-teriak juga?" tanyanya polos. Mengapa gadis yang berumur 23 tahun ini sangat semengemas kan seperti ini. Tapi kadang juga meresahkan. Ucapan lembut nan imut khas dari gadis itu selalu berhasil membuat siapapun meleleh. Tapi sepertinya tidak untuk bosnya. "Pak! Kok diem? Mikirin kecantikan saya? atau keimutan saya?"
Anin ketuluran bosnya...
Narsis abis [̲̅$̲̅(̲̅ ͡ಠ_ಠ)̲̅$̲̅]
Griffin mengeleng, sampe tidak habis pikir dengan ucapan sekretarisnya ini. Sikap gadis itu sekarang agak mengikuti dirinya yang terlalu pede dan narsis sepertinya.
"Masih lebih terbaik saya, kan? Nggak usah aneh-aneh. kamu udah selesain berkas yang saya minta?" tanyanya. terlihat tak minat akan ke narsisan Anin, "nanti ikut saya makan siang. katanya ada yang kamu mau omongin."
"Oke. Tuan!" ujarnya, memberi salam hormat seperti anak SD yang sedang upacara bendara tingkah gadis itu memang ada-ada saja. Hal itu tidak dipedulikan Griffin, yang kembali duduk di kursi kebesarannya. "Nanti abis makan siang kita ada pertemuan mendadak dari tuan Alok, Pak Bimo, Pak Bumi. dan terakhir sama kak Joseon."
"Kak? seakrab itu?" Griffin memicingkan mata. menatap penuh tanya. Setahu nya Anin tidak begitu dekat dengan Joseon. "deket banget kayaknya."
Joseon sendiri adalah rekan kerja Griffin sekaligus sahabatnya. Di jaman masa-masa kuliah dulu.
"Deket lah, Pak. Kan kita sama dia rekan bisnis," jawab Anin. dengan wajah polos balas menatap Griffin yang menatapnya tegas. Entah mengapa tatapan itu nampak seperti tatapan yang tidak suka. Dari sorot matanya. "Kenapa sih, Pak?"
"Kenapa apanya?" tanya balik Griffin yang menatap penuh tanya balik pada Anin. Nada bicara pria itu agak sensi. "Kamu juga sering kan pulang bareng dia?"
Sebelah alis gadis terangkat, bagaimana bisa bosnya tahu. Apakah bosnya itu mengawasi nya? Atau bagaimana?
"Bapak kok tau?"
"Kebetulan."
Anin memicingkan matanya, badannya agak mencondong membuat posisi keduanya berdekatan.
"Boong!"
"Ya udah," sahutnya. entah mengapa begitu mengemaskan terdengar ditelinga Anin.
__ADS_1
"Kok gemes sih, Pak?"
"Siapa?"
"Bapak."
"Baru nyadar, ya?"
Oke! Anin jadi nyesel usah berucap seperti tadi. Makin kegeeran aja nih bosnya, untung ganteng dan beneran imut. Batin Anin. Dengan ekspresi masamnya Anin membungkukkan badannya.
"Saya pamit undur diri, Pak. Ada pekerjaan—"
"Kerjakan disini," pintanya dengan tatapan dinginnya. Tidak mau memperulur waktu, Anin langsung mengangguk setuju.
(☞ ಠ_ಠ)☞
Cafe Sangern—
Jam makan siang cafe Sangern begitu ramai pengunjung. Terlebih banyak orang-orang penting yang makan di sana. Ada dari kalangan pejabat, Anak konglomerat, sampe bos-bos perusahaan yang biasa singgah di cafe itu. Cafe Sangern memang bukan cafe sembarangan. Karena pemiliknya juga bukan orang kaleng-kaleng, dia seorang model, Ceo, sekaligus bisnis influence yang terkenal.
Siapa lagi kalau bukan Joseon Wilgian Sangern. Anak sulung dari dua saudara, sukses di usia muda. Banyak yang mengilai dan di kagumi para kaum hawa.
"Sih Griffin mana sih cok? lama amat," celetuk Tay. Sedari tadi tidak bisa diam bringsutan di tempat. Okan, Arga dan Malvin yang melihat nya hanya menjululing kan matanya malas. "Gue jadi laper lagi nih. Okan, pesenin lagi dong."
"Bodo ah! Pesen sendiri sana," tolak Okan. Malas betul meladeni. padahal baru saja Tay selsai makan bento dan beberapa menu berat lainnya. Dan sekarang malah minta pesen lagi.
"Biarin! Biar cepet berangkat haji," balasnya.
"Emangnya lo islam?"
"Udah dari kemarin anjir, gue kan udah mualaf." tangan Okan sudah gemas menoyor kepala Tay. "Pikun nih aki-aki!"
"Ente berasa muda?"
"Oh jelas!" balasnya songong.
"Okan!" seru Malvin, mengalihkan atensinya sang empu. "Pesenin aja udah, pengeng telinga gue denger dia berisik mulu!"
"Males ah," balasnya. yang langsung di toyor oleh Tay di sebelahnya. "Pesen sendiri ngapa sih? udah gede juga. Punya kaki kan? Punya tangan juga! Jangan nyuruh orang mulu!"
"Ya elah, baru juga di suruh segitu, Okan! Lo mah gitu banget sama temen sendiri," debat Tay.
Okan menghela nafas lelah. "Masalahnya lo kebiasaan, ANJENG!"
__ADS_1
Umpatan dari mulut Okan terdengar renyah dari beberapa pengunjung yang langsung menatapnya. Apalagi saat meja ketiga pria itu di datangi oleh seorang pria yang juga tidak kalah terkenal dan sukses seperti pemilik cafe ini. Apalagi kedatangannya diiringi langsung oleh sang pemilik cafe.
"Mulut lo! Nggak beradab banget!" seloroh Griffin yang langsung terduduk disebelah Malvin. "Lo di sini juga?"
Malvin mengangguk. "Sekalian abis nemenin Gracia," ujarnya.
Seorang gadis yang mendengar nama sahabat karibnya disebut pun menoleh. Melihat kearah Malvin— pacarnya Gracia— sahabat dari Anin.
"Gimana kabar, Gree, Vin?" Malvin balas menoleh siapa yang menanyakan hal itu. Bibirnya tertarik untuk mengutaskan senyuman tipisnya.
"Alhamdulilah baik. tadi juga dia nanyain kamu, sekalian titip salam katanya."
"Assalamualaikum. bilangin sama pacar kamu. kalau di ajak ketemu jangan banyak alesan," cetus Anin. Merasa gregetan setiap kali dia mengajak Gracia ketemu pasti ada aja alesan nya. Entah itu sibuk pekerjaan atau ada urusan keluarga.
"Iya nanti saya salamin."
"Bukannya Gracia shaloom ya bukan salam?" tanya Okan. Duduk bergeser saat pak bos mengisyaratkan untuk geser ke kursi sebelah.
"Nggak usah di perjelas juga, anjir!" sewot Malvin yang menolak sadar akan tembok tertinggi diantara dirinya dan Sania Gracia. wanita satu-satunya yang berhasil menaklukkan hati pria dingin sepertinya. Mengubah sih bodo amat soal perasaan cewek sering mainin perasaan cewek kalau gabut. Sekarang udah berubah jadi bucin sama Gracia sih wanita berwajah angun nan cantiknya yang tidak membosankan. "Kan gue berharapnya kita bakal sama-sama terus."
"Susah sih, Vin, dari awal aja udah tau konsekuensinya. kalian dari awal udah tau beda. masih maksa terus bersama sampe sekarang," cetus Griffin yang berada disebelahnya, "pilihannya ya cuman tiga. Lo ikut agama dia, atau dia yang ikut agama lo. atau mungkin perpisahan yang kalian pilih jalan terbaiknya."
Prok! Prok! Prok! Tay dan Okan bertepuk tangan mendengar penuturan yang begitu bijak dari bosnya barusan.
"Ck, ck, salut saya sama pak Griffin. Omongan nya benar-benar bijak," puji Tay yang langsung di sahuti Okan.
"Nggak nyangka saya. Orang kayak bapak bisa ngomong sebijak sana itu."
Griffin mendelik sebal ke keduanya. "Meragukan skil saya yang multitalent kalian?"
Ketiganya yang melihat ada tanda-tanda bahaya. Langsung memberi kode satu sama lain.
"OH! KITA LUPA! BAPAK KAN SI GENIUS! SI MULTITALENT PENUH DENGAN KEJUTAN," dengan kompak ketiganya berucap dengan semangat 46. Anin hanya ikut-ikutan aja. Daripada ntar bosnya ngamuk.
"Good!" Griffin mengacungkan jempol. kakinya bersilang sambil bersedakep dada. "Pesenin saya makanan, Anindhita."
"Udah, Pak," sahutnya. Begitu sigap mengurus segala kebutuhan bosnya. "Saya kan udah tiga tahun jadi sekretaris bapak, udah nggak di ragukan lagi tingkat ke pekaan nya, Pak."
"Nggak kebayang ya, kalau lo nanti beneran berhenti kerja ya, Nin," celetuk Tay. Berhasil membuat Griffin terpelonjok menatap Anin yang berada disebelahnya. "Bakal ada prahara kayaknya nih."
"Serius mau berhenti, Nin? Ntar siapa yang gantiin posisi kamu," ujar Okan. Memikirkan kedepannya. Akan seperti apa Griffin tanpa Anin yang begitu cekatan dan bisa diandalkan.
"Wah baru tau gue lo mau berhenti, Nin! Bisa bisanya dadakan gini," sahut Malvin ikut berkomentar. Sedari tadi sudah menangkap hawa hawa yang tidak mengenakkan saat menatap tatapan dari Griffin yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Maksud kamu ini, Nin? soal apa yang kamu mau omongin?" desak Griffin nampak seperti mengintrogasi Anin yang sudah terdesak. "Kenapa mendadak seperti ini, sih?"
"Saya udah ngajuin pengunduran diri dari seminggu yang lalu lho, Pak. Bapaknya aja yang belum baca suratnya. Saking sibuknya ngurus problem masalah di bagian keamanan," jelas Anin apa adanya.